
Suasana di dalam dimensi cermin milik Guntur begitu mencekam. Pertarungan antara seorang legenda jawara, Macan Merapi melawan seorang Sang Hyang Aksara.
Didalam dimensi cermin itu sendiri terasa getaran seperti terjadinya gempa vulkanik dari letusan gunung berapi.
Hal itu dikarenakan seorang legenda jawara yaitu Aji Samudra yang sedang mengamuk dan mengeluarkan semua kekuatannya dengan jurus sakral bagi dirinya sendiri.
Sebuah jurus yang bahkan sanggup menghancurkan sebuah kota besar dan juga area disekelilingnya termasuk bukit-bukit juga akan ikut hancur bila terkena jurus sakral ini.
Jurus sakral disini adalah jurus terlarang yaitu jurus Macan Kencana. Jurus yang bukan main kekuatannya itu pernah sekali dikeluarkan saat melawan para jawara asing yang menjajah bumi nusantara beberapa puluh tahun silam. Tentunya dengan mendapatkan bantuan dari rekan satu tim nya.
Sebuah pulau yang tidak berpenghuni yang mana sebagai markas utama dari para penjajah. Pulau yang awalnya nampak begitu asri dengan adanya flora dan faunanya yang cukup langka itu harus terkikis akibat ulah dari para penjajah dan digantikan dengan gedung yang tinggi beserta bangunan yang cukup banyak.
Aji Samudra beserta tim nya yaitu Sang Dom Menik, Sang Pepet dan juga Sang Cakra. Saat itu telah sampai di suatu daerah bukit di pinggir pantai. Dari lokasi itu, pulau yang dimaksudkan itu terlihat jelas dan hanya berjarak beberapa ratus kilometer saja dari tempat mereka berdiri saat itu.
" Aji... Aku merasa jika posisi kita sudah cukup untuk menghancurkan pulau itu, " ucap Mugiman sambil menatap pulau itu dengan tajam.
" Jika bukan karena mereka, aku tidak akan sudi untuk melakukannya, kang Man..., " ucap Aji sambil menatap Mugiman.
" Aku lebih tidak sudi lagi jika melihat anak cucu kita kelak akan terinjak oleh mereka para manusia serakah itu, " ucap Mugiman dengan tegas.
" Penuhi janji bakti kita sebagai anak-cucu dari bumi nusantara..., " ucap Sang Pepet.
" Kang mas... Mari kita akhiri semua ini, " ucap Lastri.
Mereka berempat segera bersiap dan mengeluarkan semua kekuatan mereka. Mugiman langsung membuat pola aksara raksasa 7 lapis yang berbaris lurus ke arah pulau tersebut.
Sang Pepet juga tengah bersiap untuk membuat array pelindung tingkat maha guru dimana array pelindung tingkatan yang tertinggi.
Sang Dom Menik juga telah bersiap mengeluarkan jutaan jarum yang sangatlah kecil yang nantinya akan digabungkan dengan jurus dari Sang Macan Merapi.
Ketika semua sudah siap, mereka langsung saja mengerahkan semuanya.
" SERAT KADEWATAN "
" PEPETING KASUWARGAN "
" DOM LINTANG SAMUDRA "
" MACAN KENCANA "
Dengan serempak, mereka semua mengeluarkan jurus terlarang mereka. Pola aksara 7 lapis yang dibuat oleh Sang Cakra langsung bersinar keemasan. Jutaan jarum langsung tercipta dari elemen anginnya yang telah berbaris rapi di sekitar pola aksara 7 lapis. Array pelindung transparan telah dibuat untuk melingkari pulau tersebut dan siluet seekor harimau yang cukup besar yang diselimuti api biru dan juga terdapat sebuah mahkota di kepalanya.
" SEKARANG "
Teriak Sang Cakra mengomando. Nampak siluet Harimau itu membuka mulutnya dengan lebar. Satu detik kemudian, nampak bola energi kecil berwarna biru itu tercipta. Semakin lama semakin membesar.
Disaat bola energi itu mencapai maksimalnya, bola energi yang tadinya kecil itu menjadi sebesar selayaknya sebuah mobil. Siluet harimau itu langsung seperti menarik nafas panjang, begitu juga Aji.
Setelah itu barulah bola energi itu ia lemparkan menggunakan jurus auman harimau merapi dengan sangat keras dan kencang.
" Ggrrruuuooooaaaaaaahhhhh "
Seketika bola energi itu melesat tepat ditengah pola aksara 7 tapis milik Sang Cakra. Begitu bola energi itu masuk ke dalam pola aksara 7 lapis barulah semua jarum yang dibuat oleh Sang Dom Menik itu masuk kedalam bola energi itu.
Setelah masuk dengan sempurna, bola energi itu berubah warna yang awalnya biru menjadi kuning keemasan.
" Mugiman.... SEKARANG "
Teriak Aji, Lastri dan juga Mbah Pahing dengan kencang.
Sementara Sang Cakra yang menahan dan mengontrol bola energi itu langsung mengarahkan ke arah pulau tersebut dengan tepat lalu melepas bola energi itu.
" SURYA KENCANA "
Teriak keempat orang itu dengan keras.
" Wung... Wung.... Wunnngg... Sssrrriiiiiinnggg.... Bllaaarrrrrrr..... "
" Wuuussshhhhhh... Nngggiiiiinnngggg.... "
__ADS_1
" Boooommmm "
Begitu bola energi itu meledak hebat, Sang Pepet langsung menutup pulau itu dengan jurusnya yang sudah ia keluarkan itu.
Ledakan hebat yang sangat besar bagai sebuah nuklir yang meledak dan juga, suara yang dihasilkan oleh ledakan itu sangatlah menggelegar bahkan sampai terdengar dalam radius ribuan kilometer.
Ledakan itu juga tertahan oleh array pelindung dari Sang Pepet. Hanya derasnya ombak laut yang menjulang cukup tinggi menyisir lautan bebas bahkan sampai ke bukit pinggir laut yang mereka tapaki saat ini.
Pertarungan yang memerlukan waktu cukup lama dengan para penjajah itu akhirnya selesai dengan hancurnya markas utama mereka.
Kini pulau itu sudah tidak tersisa lagi dan tidak terlihat lagi. Hanya lautan bebas yang terlihat tanpa adanya sebuah pulau.
***
Aji yang saat ini mengingat akhir dari para penjajah itu tidak bisa lagi membendung kesedihannya dan juga tidak bisa lagi untuk berfikir dengan jernih. Pikiran dan hatinya masih terngiang dalam masa lalu ketika mereka selalu bersama.
Langsung saja ketika jurus sakral miliknya itu telah sempurna, Aji menciptakan bola energi yang sama seperti dulu. Kecil yang semakin lama semakin membesar sampai batas maksimalnya yang seukuran dengan sebuah mobil.
Beberapa detik berikutnya, Aji menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya dengan jurus auman harimau merapinya.
Dengan cepat, bola energi itu melesat ke arah Guntur yang sedang melayang di udara sambil menatap kakeknya dengan senyuman kesedihan.
Lalu, Guntur menurunkan tangan kanannya itu untuk memerintahkan pedang kolosal tunggalnya untuk turun dan menghalau bola energi itu.
" Wusshh.... Ngiiiinngg.... Sraakkkk... "
Terlihat jurus aksara pedang tunggal kolosal itu tidak kuat untuk menahan bola energi milik Aji itu dan langsung hancur setelah bertabrakan.
Namun, Guntur nampak sangat tenang dikala bola energi itu masih terus melesat dengan cepat kearahnya.
Sementara itu setelah melemparkan bola energi itu, Aji langsung tersadar dengan apa yang ia lakukan. Melihat sebuah pedang raksasa itu hancur setelah bertabrakan dengan bola energi miliknya.
Aji melihat bola energi itu terus melesat dengan cepat ke arah Guntur itu merasa sangat bersalah dan ketakutan. Aji tidak ingin membunuh cucunya sendiri itu dengan bola energi itu apalagi dengan keadaannya yang sebelumnya. Dimana dirinya sedang dalam kemarahan yang memuncak.
" TI-TIDAAAAKKK.... GUNTUUUURRRRRR "
Teriak Aji dengan keras.
Lalu, Guntur juga melihat bola energi itu yang terus melesat dengan cepat ke arahnya. Dengan senyum senang, Guntur menunjuk bola energi itu, lalu dengan secepat kilat terlihat pola aksara tepat didepan jati telunjuknya yang mengarah ke bola energi itu.
Bola energi yang melesat cepat itu akhirnya menabrak pola aksara yang guntur buat, namun semua orang yang melihat itu langsung terkejut. Pasalnya, setelah menabrak pola aksara itu, bola energi sebesar mobil itu lenyap tanpa bekas sedikitpun.
" Eh... "
" A-apa yang sebenarnya terjadi? "
Aji, Lastri, Ragil dan juga Anisa terdiam mematung. Namun, beberapa detik berikutnya, diatas langit tepat diatas mereka, sebuah ledakan yang sangat kuat terlihat dengan jelas.
" Sssrrruummm.... Bblllaaaarrrrr.... "
Guntur yang melihat ledakan itu langsung takjub. Pasalnya, pola aksara yang Guntur buat sebelumnya di depan jari telunjuknya itu adalah pola aksara teleportasi. Guntur tahu dan sengaja melakukan itu untuk menghindari ledakan yang dihasilkan oleh bola energi itu.
Setelah bola energi itu masuk mengenai pola aksara itu, Guntur langsung memindahkan bola energi itu di atas langit.
Ledakan hebat yang terlihat dan terdengar seperti sebuah nuklir yang menggelegar hebat. Bahkan, awan yang berada di sekitar ledakan itu langsung hilang dan menyisakan awan yang terlihat berlubang sangat besar.
Daya kejut dari ledakan itu juga sampai terasa di tempat mereka berdiri. Menatap ledakan dengan kebingungan dan rasa takjub.
" Waaaahhhh... Kembang Api nya kereeennn.... Buuueeeesaaaaaarrrr... " ucap Guntur dengan mata yang berbinar.
Sementara itu, semua orang yang mendengar kata-kata Guntur itu langsung merasa sangat kesal. Namun, disisi lain mereka juga takjub dengan Guntur yang bisa melakukan apa yang mereka tidak bisa lakukan. Jangankan melakukannya bahkan terpikirkan di benak mereka saja tidak?!.
" Ha-... Ha-... Hahahahaa..... Wahahahahah.... "
Tiba-tiba saja Aji tertawa sangat lepas melihat semua ini. Perasaan kesal, sedih dan juga sakit di dalam hatinya lenyap entah kemana. Walaupun air matanya mengalir cukup deras namun hatinya sudah merasa lega.
Guntur yang masih melayang di udara itu langsung menoleh kepada kakeknya dibawah.
" Aku senang jika kakek sudah merasa lega sekarang, " ucap Guntur sambil tersenyum.
__ADS_1
" Wahahaha.... Dasar bocah sableng... Cepat turun..., "
" Turun? Kenapa?
" Kau tahu, tanganku gatal ingin segera memukulmu dengan ke-, "
Namun sebelum Aji menyelesaikan kata-katanya. Lastri langsung memukul dada Aji dengan keras.
" Dasar suami gila.... Apa kau ingin membunuh cucu kita dengan jurus sakral itu? "
" Ehh... Ee... A-anu... Anu nyimas... Aaa... Tadi-, "
" Tidak ada tapi-tapian... Kau akan aku hukum... Jangan tidur dirumah mulai malam ini selama satu minggu, " ucap Lastri dengan marah.
" Ehh... Ja-jangan..... Ma-maafkan aku nyimas... Maafkan aku...., "
Lastri tidak lagi menggubris kata-kata dari suaminya itu, lalu berjalan pergi ke dalam rumah. Namun....
" Guntur, keluarkan aku dari dimensi cermin.... Aku ingin istirahat..., " ucap Lastri sambil menengok ke arah Guntur yang masih melayang di atas mereka.
Guntur yang mendengar itu langsung menjentikkan jarinya dan seketika itu terlihat di area sekitar langsung terpecah seperti sebuah kaca yang sedang pecah.
Setelah itu semua orang keluar dari dimensi cerminnya. Lalu dengan berlahan, Guntur turun dari udara.
" Hahh... Aku merasa jika nenek belum tahu akan kabar itu, " ucap Guntur.
" Biarkan aku saja nanti yang menjelaskannya, " ucap Aji.
" Lah... Kakek kan baru kena hukuman, memangnya kakek berani dengan nenek? " tanya Guntur keheranan.
" Eh... Heehehe... "
" Hahhhh.... Aku saja yang akan menjelaskannya... Oh iya kek, bagaimana sekarang? Sudah lega? " tanya Guntur sambil menatap Aji dengan serius.
Aji langsung mengangguk " Terima kasih nak... Walaupun aku masih belum sepenuhnya ikhlas tapi aku merasa lebih baik..., " ucapnya sambil merangkul pundak Guntur.
" Alhamdulillah... Itu lebih baik... Oh iya kek... Hmm... Kakek mau tidur dimana selama satu minggu kedepan? " tanya Guntur penasaran.
" Hm... Mungkin di apartemen kakek atau di vila... Kenapa? " tanya Aji bingung.
" Tidak apa-apa..., " ucap Guntur sambil duduk bersila.
Setelah itu mereka berempat mengobrol dan membahas apa yang harus mereka lakukan untuk kedepannya.
Guntur juga meminta ijin kepada kakeknya untuk membuat sebuah tim yang akan dia buat untuk membantunya.
Aji dan juga Ragil sempat terkejut mendengar itu namun Guntur langsung menjelaskan semuanya.
Setelah mereka mendengar penjelasan Guntur, mereka langsung memahami dan juga merestui Guntur untuk membuat tim yang Guntur maksud. Namun dengan syarat dia sendiri yang mengurus dan melatih mereka semua.
Guntur menerima syarat dari kakeknya itu dengan senang. Lalu, tidak lama setelah itu, Guntur kembali ke padepokan bersama dengan Anisa. Sementara Ragil mengantarkan Aji ke apartemennya yang tidak jauh dari rumahnya itu.
Selanjutnya langkah mereka akan semakin berat dan juga rumit. Tentu mereka semua menyadari akan hal itu.
***
Sementara itu disebuah gedung kosong yang sudah tidak lagi dijamah oleh manusia. Seorang gadis cantik bernama Yanci sedang mengawasi 7 orang musuh yang dia anggap cukup berat.
Mereka semua terdiam dalam pemikiran masing-masing. Sebelumnya mereka membuat nama tim mereka dengan nama Kajin yang berarti jilmaan atau siluman.
Mereka tidak mengetahui jika sebenarnya mereka sedang dibawasi oleh Yanci yang menyamarkan dirinya menjadi seekor laba-laba disalah satu sudut ruangan tempat mereka berkumpul.
" Ketua, bagaimana langkah berikutnya? " tanya seseorang diantara mereka yang bernama Laki.
" Hm... Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mencari bala bantuan dari orang-orang yang mempunyai pengaruh di bumi nusantara ini, " ucap Sandang yang mana ketua dari kelompok mereka.
" Aku setuju dengan itu, dengan adanya mereka kita mereka akan kesulitan untuk mengetahui siapa kita, " ucap Arga.
" Hahhh... Terserah kalian, aku ikut saja..., " ucap Mandi.
__ADS_1
Sementara yang lainnya yang bernama Septi, Anggi dan juga Windi hanya mengangguk pertanda setuju dengan usul dari ketua mereka yaitu Sandang.
Dengan munculnya mereka, sudah dapat di pastikan jika Bumi Nusantara sekarang tidak sedang baik-baik saja.