
1 bulan sebelum turnamen...
" Kalian sudah berhasil untuk berpuasa senin-kamis selama 7 kali berturut-turut dan kalian juga menjalani pelatihan aksara... "
" Untuk kedepannya aku ingin kalian berpuasa daud untuk melengkapi dari tirakat kalian, " ucap Guntur yang tengah duduk didepan api unggun bersama Anisa dan juga Ridwan cs.
Dalam pelatihan mereka, Guntur menambah porsi latihan mereka yang bahkan hanya diberikan waktu 4 jam saja untuk mereka beristirahat setiap harinya.
Itu dilakukan untuk melatih fisik, mental dan kebatinan mereka karena mereka juga diberikan pelatihan aksara oleh Guntur.
Walaupun mereka bukan seorang aksara, namun harapan Guntur menjadi terwujud dari usaha dan kerja keras mereka yaitu mereka menjadi bisa untuk mengeluarkan dan mengendalikan elemen mereka.
Aura mereka pun juga semakin padat dan juga semakin kuat dari pada sebelumnya.
Ridwan dapat mengeluarkan api miliknya dan mengendalikannya sesuai dengan keinginannya seperti bola api, bahkan juga membentuk sebuah pion api yang menyerupai dirinya.
Walaupun tidak sekuat dan sesempurna aksara tapi itu bahkan sanggup untuk menghancurkan sebuah desa kecil untuk rata dengan tanah hanya dengan satu bola api miliknya.
Begitu juga dengan yang lainnya juga bisa untuk melakukan hal yang sama termasuk juga Roro yang memang Guntur dan Anisa latih untuk menjadi seorang pendukung yang kuat dan juga fleksibel.
Roro memiliki 2 elemen yaitu cahaya dan tumbuhan, jadi dari sanalah Guntur tahu pelatihan apa yang harus Guntur berikan kepada Roro.
Pelatihan Roro juga sedikit berbeda dengan yang lainnya karena Guntur ingin elemen cahaya milik Roro juga bisa untuk menyerang, bertahan bahkan memberikan pendukung untuk tim.
Oleh karena itu, Roro sedikit banyak dengan Guntur untuk beberapa waktu dari pada dengan Anisa apalagi dengan yang lainnya sebagai tim.
" Roro... Mulai besok, kau mulai berlatih secara tim bersama dengan mereka dan mulai besok juga kalian akan berlatih latih tanding guna untuk memperkuat tim... "
" Julian, kau adalah inti dari tim ini jadi kau harus banyak bekerja otak dari pada fisikmu, " jelas Guntur.
" Baik mas Gun..., " ucap Julian dan Roro.
" Mas Gun... Siapa yang akan menjadi lawan latih tanding kami? " tanya Umar penasaran.
" Lihat saja besok... Yang jelas kalian akan merasakan apa itu sebuah pertarungan yang sesungguhnya walaupun itu hanya latih tanding, " ucap Guntur sambil tersenyum penuh misteri.
" Yasudah... Lebih baik kalian segera beristirahat karena ini sudah jam 1 malam... Kalian akan berkumpul disini lagi jam 5 pagi nanti..., " ucap Anisa.
" Baik kak, " ucap mereka semua yang langsung kembali ke asrama mereka.
" Mas..., " ucap Anisa.
" Hmm... Ada apa Nisa? " tanya Guntur.
" Umm... Aku bosan, " ucap Anisa sambil menundukkan kepalanya.
Guntur yang mendengar itu langsung mengerutkan keningnya lalu tersenyum.
" Setelah selesai turnamen kita liburan, " ucap Guntur sambil tersenyum.
" Be-beneran mas? " tanya Anisa sumringah.
" Iya... Nanti aku juga akan bawa mereka juga," ucap Guntur.
" Tidak.... Tidak mau..., " ucap Anisa yang langsung menyahut ucapan Guntur.
" Lah kenapa? Kan enak rame-rame, " ucap Guntur.
" Tidak... Aku pengennya cuma kita berdua saja, titik! " ucap Anisa merajuk.
" Ehh... Hehehhee iya-iya Nisaku... Tadi hanya bercanda saja kok, " ucap Guntur sambil tersenyum.
" Hiss... Apaan sih..., " ucap Anisa malu-malu.
" Seorang Srikandi Bercadar bisa malu-malu eh..., " canda Guntur.
Anisa yang mendengar itu pun langsung berdiri lalu menghilang kembali ke gubuknya karena merasa kesal terhadap Guntur.
" Apaan sih mas... Uhhhh, " ucap Anisa setelah muncul didalam kamarnya lalu membenamkan mukanya ke bantal miliknya.
Sedangkan Guntur yang tahu semuanya langsung tersenyum mengetahui Anisa seperti anak kecil.
" Hmm... Lebih baik aku juga beristirahat, " gumam Guntur lalu memejamkan matanya untuk beristirahat dalam posisi terduduk walaupun Guntur sendiri selalu mengedarkan kesadarannya untuknya tetap waspada jikalau ingin tidur.
Sudah menjadi hal biasa untuk Guntur seperti itu karena memang latihan yang diberikan oleh Mbah Pahing seperti itu dan itu diterapkan juga oleh Guntur kepada Ridwan cs.
***
Anisa terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ayam berkokok itu berlahan duduk diatas ranjangnya.
" Jam 4 subuh... Sebentar lagi adzan... Lebih baik aku segera ke gubuk Guntur, " gumamnya dalam hati lalu menghilang dan muncul kembali dibelakang Guntur yang masih terduduk.
" Mas..., " ucap Anisa dengan pelan.
" Hmm... Kau sudah bangun Nisa... Yasudah kita ke masjid dulu yuk, " ucap Guntur sambil berdiri lalu berjalan masuk kedalam gubuk untuk berganti pakaian ibadahnya.
***
Setelah selesai semuanya, Guntur dan juga Anisa menunggu anak didik mereka didepan gubuk sambil mengobrol ringan.
" Mas... Kapan gaman mereka akan diberikan mas? " tanya Anisa.
" Nanti setelah mereka berhasil mengalahkan keempat saudara mereka sendiri, " ucap Guntur sambil tersenyum.
" maksudnya? " tanya Anisa bingung.
" Latih tanding kali ini adalah latih tanding terakhir sebelum turnamen, jika mereka berhasil mengalahkan lawan mereka nanti aku akan berikan gaman mereka dan aku juga akan bebaskan mereka sampai satu minggu sebelum turnamen... "
" Dan lawan mereka adalah empat saudara sejati mereka yang kita sebut dengan sedulur papat lima pancer, " ucap Guntur.
" Ehhh... I-itu kan? Mas... Apa tidak apa-apa? " tanya Anisa yang langsung khawatir kepada mereka.
" Selama mereka menekan nafsu angkara dan memberikan kepercayaan mereka kepada saudara-saudara mereka, mereka akan baik-baik saja... Aku percaya mereka akan berhasil, " ucap Guntur sambil tersenyum.
Sedulur papat lima pancer adalah sebuah persaudaraan yang melekat dalam diri semua manusia.
Mereka tidak akan bisa dipisahkan bahkan mereka juga berbagi semua rasa satu sama lain, saling mengisi, melengkapi dan juga melindungi.
Pembahasan dari sedulur papat lima pancer adalah,
Kakang kawang, dia adalah yang tertua dari sedulur papat lima pancer yang mana sebagai seorang pengasuh atau pengayom yang tercipta dari air ketuban si manusia itu sendiri saat terlahir didunia ini.
Adi ari-ari, dia sebenarnya adalah yang paling bungsu dari semuanya namun dia sendiri sangat berpengaruh karena ari-ari yang berarti adalah plasenta tempat atau sumber nutrisi saat masih berada didalam kandungan dan disebut paling bungsu karena keluar terakhir kali saat si manusia itu terlahir didunia ini.
Getih atau darah, dia adalah bagian utama dari diri manusia yang mana sebagai pokok dari kehidupan diri manusia.
__ADS_1
Pusar, dia adalah saluran penting yang berkaitan dengan ari-ari sebagai penghubung antara diri manusia dan ari-ari atau plasenta.
Dan yang terakhir adalah pancer yang berarti wadah atau diri manusia itu sendiri juga bisa disebut dengan kehidupan si manusia di dunia ini.
Jadi Guntur ingin semua muridnya bisa untuk melawan keempat saudaranya, bisa dibilang menakhlukkan sebagai ujian dari pada diri mereka sendiri.
Jika mereka sudah mendapatkan kepercayaan dan juga bersatu dengan sempurna maka mereka akan mendapatkan arti dari kehidupan mereka dan tumbuh menjadi manusia yang memiliki derajat tinggi.
Guntur melakukan itu karena untuk masa depan mereka yang mungkin akan menghadapi begitu banyak ujian dan mara bahaya entah apakah itu yang jelas akan mengalami dimana kondisi mereka antara hidup dan mati.
Terlahir sebagai seorang petarung atau pamong, sudah menjadi takdir mereka untuk merasakan itu semua.
Maka dari itu Guntur memikirkan semua itu untuk masa depan mereka guna menjadi orang yang tangguh dan juga kuat sebagai seorang manusia yang terlahir sebagai seorang petarung.
" Anisa... Apakah kau sudah melawan mereka dalam dirimu? " tanya Guntur.
Anisa yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
" Aku ingin kau juga melakukan itu setelah mereka nanti... Tenang saja semua akan baik-baik saja, " ucap Guntur.
" Tapi mas, jujur aku tahu masalah ini tapi aku belum pernah melihat seperti apa pertarungan ini? " ucap Anisa jujur.
" Nanti kau akan melihatnya dan kau juga bisa belajar saat pertarungan mereka dimulai, " ucap Guntur.
" Baik mas, " ucap Anisa sambil menganggukkan kepalanya.
" Ehh tu-tunggu dulu mas aku baru ingat, bukannya itu dilarang ya karena sangat berbahaya? " tanya Anisa.
" Memang benar itu sangat berbahaya tapi bagi mereka yang tidak tahu langkah dan caranya dan itu sebenarnya adalah mitode kuno sejak ribuan tahun yang lalu dan hanya orang tertentu saja yang bisa melakukannya dan juga harus ada yang mendampingi dan pembimbing yang sudah berhasil melakukan itu..., "
" Karena aku sudah pernah dan berhasil aku akan menerapkannya kepada mereka dan juga kau nantinya... Hmm... Aku rasa dia juga sudah melakukannya dan berhasil, " ucap Guntur.
" Apa?! Serius mas? " ucap Anisa sedikit berteriak karena terkejut.
" Iya, sebagai murid nenek Pahing, akan tidak mungkin kalau belum pernah melakukan itu dan berhasil karena nenek Pahing juga dulu melakukan hal yang sama dengan gurunya, " jelas Guntur.
" Mas..., " ucap Anisa sambil menundukkan kepalanya karena malu dan berkecil hati.
" Tidak usah begitu Nisa, aku kan sudah bilang nanti kau juga harus melakukan itu untuk lebih menyempurnakanmu, " ucap Guntur sambil mengelus kepala Anisa.
" Ba-baik mas, " ucap Anisa.
" Nah sekarang hanya tinggal menunggu mereka saja, " ucap Guntur.
Benar saja, tidak lama setelah itu, terlihat mereka semua berjalan menuju gubuk.
Setelah mereka sampai mereka langsung mengucapkan salam dan berbaris dideoan Guntur dan Anisa.
" Assalamualaikum..., " salam mereka.
" Waalaikum salam... Nah kita sarapan dulu tadi aku sudah memesan sarapan di kantin untuk kita semua, " ucap Guntur sambil mengambil kantung kresek yang berisikan sarapan.
Sepulangnya dari masjid, Guntur dan Anisa langsung memesan sarapan di kantin padepokan.
" Baik mas, " ucap mereka serentak.
***
Disaat mereka tengah sarapan, tiba-tiba dari kejauhan nampak 5 orang yang sedang berjalan kearah gubuk.
Ridwan yang melihat itu langsung mengerutkan keningnya.
Sontak saja semuanya menoleh ke arah pandangan Ridwan.
" Heh... Iya benar... Ada apa ya? " tanya Umar.
" Entahlah, " ucap Julian.
Setelah Panca Soka sampai, mereka pun juga langsung mengucapkan salam.
" Assalamualaikum... Wah baru sarapan nih, " ucap Warok sambil duduk dan bergabung dengan mereka begitu juga dengan yang lain.
" Waalaikum salam.... Iya nih kalian sudah sarapan? " tanya Guntur.
" Sudah kok mas..., " ucap Amir.
" Yasudah kita selesaikan sarapan dulu, " ucap Guntur.
" Baiklah, " ucap Imam.
Setelah selesai, mereka pun beristirahat sebentar namun tiba-tiba dari kejauhan nampak 3 orang yang sedang berjalan ke arah gubuk.
" Lah mereka..., " ucap Yuni terkejut.
" Ehh..., " ucap Ridwan dan yang lainnya.
" Assalamualaikum... Maaf kami terlambat, " ucap nenek Lastri.
Seketika itu juga semuanya bangkit lalu salim kepada Aji dan juga Lastri.
Setelah beberapa saat Ridwan cs pun berbaris dihadapan Guntur dan yang lainnnya lalu Guntur pun memulai memberikan intruksi kepada Ridwan cs.
" Begini, aku sengaja memanggil mereka untuk menyaksikan latih tanding kalian kali ini sebagai saksi dan juga melihat akan sejauh mana kalian berkembang..., "
" Dalam turnamen nanti, kalian akan berhadapan dengan padepokan dan perguruan besar maupun kecil yang sudah lulus seleksi dan yang sudah ikut dalam turnamen satu bulan kedepan itu ada 70 padepokan dan perguruan..., "
" Dalam turnamen kali ini kami berharap kalian untuk tampil dengan maksimal... Kami tidak mengharapkan untuk kalian bisa menang, namun kami khususnya aku hanya menargetkan kalian untuk bisa menjadi 10 besar dalam turnamen kali ini..., "
" Ingatlah, keselamatan kalian adalah yang utama dan jika kalian sudah tidak mampu lagi untuk melanjutkan maka lebih baik kalian untuk menyerah dan jangan memaksakan diri kalian untuk terus maju dengan kondisi yang tidak memungkinkan..., "
" Jelas? " ucap Guntur yang menerangkan turnamen.
" Jelas Mas! " ucap Ridwan cs serempak.
" Baiklah... Untuk latih tanding kali ini adalah latih tanding dan juga latihan terakhir kalian sebelum turnamen, setelah itu kalian akan aku bebaskan... Terserah kalian mau pulang atau bagaimana..., "
" Latih tanding ini dibagi menjadi 2 tahapan, pertama adalah individu, yang kedua adalah tim..., "
" Ini mungkin latih tanding terberat yang akan kalian terima dan juga kalian akan merasakan apa itu diambang kematian..., " jelas Guntur.
Deg...
Sontak tubuh dan hati Ridwan cs bergetar hebat.
Mereka tahu jika Guntur sudah berkata maka itulah yang akan terjadi dan mereka tidak bisa lagi untuk mundur ataupun lari dari hal ini.
__ADS_1
Begitu juga dengan Aji Samudra, Lastri, Ragil dan juga Panca Soka yang belum tahu akan latih tanding apa yang akan mereka terima dari Guntur.
" Baiklah latih tanding individu kita mulai saja dan ingat semua pesanku untuk semuanya... Kalian akan berhadapan dengan 4 orang dari saudara kalian setiap orangnya dan kalian akan bertarung dengan mereka secara terpisah jadi lakukan yang terbaik dan jaga diri kalian jangan sampai kalian membuat kesalahan fatal yang membuat kalian bisa terbunuh oleh mereka..., "
" Bahkan aku sendiri tidak bisa untuk menyelamatkan kalian..., " jelas Guntur.
" Baik, kita mulai..., " ucap Guntur yang langsung memisahkan mereka bertujuh di dimensi cermin secara terpisah.
Didalam dimensi cermin, mereka benar-benar sendiri untuk lingkup yang sangatlah luas dan berbeda.
Ridwan berada didalam gunung berapi dengan magma yang menyala-nyala dan sangat panas.
Umar berada disebuah gurun pasir yang gersang dan juga panas.
Yuni berada disebuah kota mati yang sangat mencengkam.
Julian berada disebuah lorong yang sangat lembab dan juga pengap.
Alisa berada disebuah goa yang sangat luas dan cukup gelap.
Putri berada disebuah lembah yang ditumbuhi berbagai macam bunga dan juga sangat luas.
Roro berada disebuah hutam belantara yang sangat rimbun, lembab dan tiada ujungnya.
Sontak semua orang yang melihat hal itu terkejut bukan main dan syok dengan apa yang mereka lihat.
" Guntur, apa maksudnya ini? " tanya Aji yang sangat penasaran.
" Guntur..., " ucap Lastri yang langsung memiliki perasaan tidak enak dan khawatir kepada Ridwan cs.
Sedangkan yang lainnya terutama Anisa hanya diam tidak tahu akan bagaimana.
Guntur tidak menjawab dan hanya terdiam namun tiba-tiba Guntur menggunakan kekuatan aksaranya lalu muncul semua roda inti elemen yang berada di punggungnya dan kedua pupil matanya pun berubah menjadi putih kebiruan.
Sampai-sampai tanda aksara di tangan kanannya mengeluarkan cahaya putih kebiruan yang cukup terang.
Semua orang nampak sangat terkejut dengan apa yang Guntur lakukan.
Lalu mengucapkan sesuatu yang membuat Aji, Lastri dan juga Ragil semakin terkejut dan juga bergetar diseluruh tubuh mereka.
"Marmarti Kakang Kawah Adi Ari-ari,
Getih Otot Puser, kadangingsun papat
kalimo pancer, Kadangingsun kang
kang katon lan kang ora katon,"
Setelah itu, Guntur melambaikan tangannya dan terlihat pada semua orang yang melihat hal itu jika masing-masing dari mereka yang berada didunia cermin tiba-tiba muncul 4 orang dari dalam diri mereka secara tiba-tiba.
" MULAI! " ucap Guntur dengan tegas dan keras.
Sontak Ridwan cs yang berada didalam dunia cermin terkejut melihat apa yang mereka lihat dengan munculnya 4 orang yang sama dengan mereka dari dalam diri mereka.
Aji yang melihat hal itu langsung naik pitam dan langsung berteriak kepada Guntur.
" Guntur! Apa maksudnya ini? Apa kau gila? menggunakan cara terlarang untuk melatih mereka? Mereka tidak akan kuat dengan hal ini dan kau memaksa mereka untuk melakukan ini? Astaghfirullah... GUNTUR! " teriak Aji yang langsung maju ke arah Guntur.
Namun belum juga melangkah, tiba-tiba muncul sebuah boneka yang sangat mirip dengan Anisa didepan Aji.
" Huh... Boneka siapa kau? Jangan halangi aku dan bagaimana kau bisa masuk kedalam padepokan? " ucap Aji dengan waspada.
" Namaku adalah Gea, aku datang kesini karena nonaku memintaku untuk menghentikanmu melakukan hal ceroboh terhadap Guntur, " ucao Gea sambil menatap Aji dengan tajam.
" Gea..., " ucap Anisa.
" Nona Nisa..., " ucap Gea yang langsung menoleh ke arah Anisa.
" Apa maksudmu? " tanya Aji yang semakin naik pitam.
" Saat ini Guntur sedang dalam mode aksaranya dan tidak bisa diganggu gugat... Hal itu dikarenakan Guntur sedang sangat fokus kepada mereka jadi jika kau mengganggunya sedikit saja akan sangat fatal terhadap mereka, " ucap Gea dengan tegas.
" Mas..., " ucap Lastri yang langsung meraih tangan suaminya itu.
" Tapi kenapa dia menggunakan cara terlarang hanya untuk melatih mereka? " tanya Aji.
" Cara terlarang jika tidak tahu langkah dan caranya... Sebagai orang yang pernah mengalami hal itu dan berhasil untuk menakhlukkannya, tentu Guntur tahu dan sangat berhati-hati untuk mereka jadi percayakan semuanya kepada Guntur...., " ucap Gea.
" Apa?! Jadi Guntur pernah melakukan itu dan berhasil? " tanya Aji terkejut.
" Benar bahkan nonaku pun juga berhasil melakukannya, " ucap Gea.
" Siapa nonamu dan gurunya? Lalu kenapa kau sangat mirip dengan muridku Anisa dan kenapa kau bisa masuk kedalam padepokan? " tanya Aji yang mulai mereda.
" Nonaku bernama Husna dan Gurunya bernama Pahing, aku bisa mirip dengan nona Anisa karena aku adalah boneka rambut yang tercipta dari rambutnya dan nonaku adalah salah satu bagian dari Guntur yang juga sangat mirip dengan nona Anisa... Aku memiliki caraku sendiri untuk masuk kedalam padepokan ini sesukaku, " ucap Gea lalu menatap Guntur dengan tatapan berbeda.
Sontak semua orang kecuali Anisa terkejut mendengar hal itu.
Sedangkan Anisa yang melihat tatapan Gea terhadap Guntur merasakan sakit didalam hatinya.
Hal itu diketahui oleh Gea tapi Gea tidak menghiraukan hal itu dan fokus terhadap Guntur.
" Lebih baik kalian menunggu dan percayakan semuanya kepadanya, " ucap Gea tanpa memalingkan pandangannya.
Setelah itu, mereka semua percaya dengan apa yang diucapkan oleh Gea dan percaya terhadap Guntur masalah itu.
Mereka berharap cemas dengan keselamatan Ridwan cs karena harus berlatih dengan cara terlarang namun jika mereka berhasil maka mereka akan mendapatkan hasil yang sangat tidak mereka duga dan kira terhadap kekuatan, mental, pikiran, batin dan spiritual mereka.
Latihan itu bernama Tunduking Sedulur Papat Lima Pancer yang sangat terlarang namun juga melegenda di Bumi Nusantara.
.
.
.
.
.
Hai guys maaf kalau ane lama update nya karena ane benar2 sibuk jadi mohon untuk dimaklumi...
Jika dalam pembahasan dari sedulur papat lima pancer yang ane terangkan di cerita ini kurang tepat atau salah ane mohon maaf dan langsung komen saja karena yang ane tahu pembahasannya kurang lebih seperti itu...
Dan tunggu update cerita ane ini yang pasti akan tambah seru dan juga bisa untuk menemani pembaca dikala gabut...
__ADS_1
Da.... Daaaaaaahhhh....
Sampai ketemu di up up berikutnya...