Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
KUBAH PELINDUNG ILUSI EMPAT ELEMEN


__ADS_3

Seorang murid senior padepokan pancanaka melesat dengan cepat menuju ke padepokan kerambit hitam. Murid senior itu bernama Amar, salah satu murid dari Ragil. Murid-murid Ragil sengaja di didik olehnya untuk menjadi seorang mata-mata dan seorang assasin. Semua muridnya memiliki elemen kegelapan.


Setiap murid baru yang berhasil lolos dari ujian masuk dan diterima di padepokan pancanaka pasti berharap untuk menjadi muridnya tapi Ragil sendiri sangat ketat dan sadis untuk melatih para muridnya. Hingga saat ini hanya ada 5 orang murid yang berhasil lolos dari seleksi Ragil dan mereka telah menjadi murid yang berkemampuan tinggi dan jenius. Bahkan mereka para murid Ragil tidak minat untuk mengejar peringkat ataupun karir di padepokan pancanaka. Hidup mereka hanya untuk misi dan berlatih. Maka dari itu sangat jarang murid-murid Ragil menampakan diri di padepokan pancanaka, kalaupun nampak mereka hanya sekedar beristirahat sejenak dan kembali untuk berlatih atau melakukan misi dan yang pasti akan ada kehebohan karena mereka terkenal dengan kecantikan dan ketampanannya.


Salah satunya adalah Amir, dia murid ke 2 dari semua murid Ragil. Amir memiliki ketampanan diatas rata-rata pribumi di negeri ini sehingga membuat murid wanita yang melihatnya akan langsung jatuh hati kepadanya. Maka dari itulah kenapa Amir sangat jarang sekali terlihat di padepokan pancanaka.


Saat ini Amir telah sampai di padepokan kerambit hitam tepat tengah malam. Nampak sangat sepi di padepokan itu. Tanpa membuang waktu lagi dia melesat dengan cepat untuk menemui sesepuh Daeng atau kakek dari Ridwan.


Sesepuh Daeng merasakan kehadiran orang asing pun menjadi waspada sambil terus berkonsentrasi mencari siapa orang asing tersebut.


Setelah beberapa saat orang asing itu telah sampai di belakang sesepuh Daeng yang berdiri menghadap jendela yang terbuka " Sesepuh... " Ucap Amir pelan.


Sesepuh Daeng melirik sebentar orang asing tersebut dan langsung tahu siapa orang asing itu " Amir si Burung Hantu... Beraninya padepokanmu mengirimmu kemari... Apa kalian belum puas dengan apa yang sudah kalian ambil dari padepokanku? " tanya sesepuh Daeng dengan pelan tapi mengintimidasi.


Amir menggelengkan kepalanya " Tidak sesepuh, aku kemari hanya ingin mengantarkan surat undangan untukmu, " ucap Amir dengan tegas namun pelan.


Sesepuh Daeng mendengar itu langsung berbalik menghadap ke arah Amir dibelakangnya namun sudah tidak terlihat lagi bahkan hawa keberadaanya pun lenyap tanpa jejak.


Lalu sesepuh Daeng pun mengambil surat undangan tersebut. Nampak sebuah amplop berwarna putih dengan lambang kuku pancanaka terlihat dengan jelas. Tidak ingin berlama-lama lagi sesepuh Daeng langsung membuka amplop tersebut dan mendapati sebuah surat yang isinya membuat dirinya sangat terkejut.


" Aku tidak menyangka jika dia masuk di padepokan itu dan telah lolos seleksi dalam turnamen yang aku tahu seleksi turnamen itu sangat ketat... Hahahaaa.. Aaahahahahahaa.... Ini kabar gembira.... Akhirnya... Aku bisa masuk ke dalam padepokan itu setelah 10 tahun.... Aji... Bersiaplah.... Waktunya untukku membalas dendam dan merebut kembali hartaku yang telah kalian ambil.... Ahahahaha... Hahahahahaaa...... " ucapnya dengan penuh misteri dan rencana jahatnya.

__ADS_1


Akan tetapi sesepuh Daeng tidak mengetahui bahwa Amir sebenarnya tidaklah lanhsung kembali ke padepokan pancanaka akan tetapi berdiri tepat dibelakang jendela yang menyamar sebagai burung hantu hitam. Setelah mendengar itu, Amir segera terbang dan lenyap di kegelapan malam kembali ke padepokan pancanaka dengan membawa informasi yang sangat penting.


***


Malam hari sebelum turnamen nampak padepokan pancanaka begitu ramai. Para murid dibebaskan untuk berlatih sedari pagi dan mereka tentu sangatlah senang dengan itu. Hingga malam hari sebelum tunamen pun mereka memadati halaman padepokan. Bahkan ada beberapa murid yang sengaja mencuri kesempatan hanya untuk berkencan.


Guntur yang saat itu masih berada di depan gubuknya " Sudah saatnya aku memulai rencanaku untuk melindungi padepokan, " ucap Guntur sambil melihat ke langit cerah yang dipenuhi dengan bintang dan bulan purnama.


Segera Guntur memejamkan matanya sambil merentangkan kedua tangannya " Bismillah... Maruto ganjil, geni ne obor uriping cahyo, gedhe ne banyu segoro, lemah teles lemah garing, sak kabehing unsur papat madeping papat kiblat ono ing madyo, dadio siji lan ngrungkuping sak jembare karepku..... "


Seketika empat unsur elemen yang mana itu adalah empat inti elemen yaitu angin, api, air dan tanah keluar dari empat pola aksara yang sebelumnya Guntur buat setelah merapalkan kalimat aksaranya.


Nampak empat unsur elemen itu berputar-putar diatas Guntur dengan sangat cepat. Elemen-elemen itu melayang dan terus melayang keatas. Sampai elemen-elemen itu menyentuh pelindung yang dibuat oleh Mbah Pahing seketika ke empat elemen itu menyebar ke empat penjuru padepokan dan membentuk suatu ruang yang mana ruang itu adalah ruang ilusi empat elemen.


" Alhamdulilah... Semoga dengan ini mereka yang memiliki niat jahat pada padepokan akan terjebak didalamnya, huhhhh.... Aku lelah, lebih baik aku segera istirahat, " ucap Guntur yang berjalan masuk ke dalam gubuknya untuk beristirahat.


Disamping itu bersamaan dengan munculnya ruang ilusi empat elemen yang dibuat oleh Guntur. Nampak semua orang yang ada di padepokan pancanaka merasakan dan melihat bagaimana terbentuknya ruang ilusi empat elemen itu.


Yang mereka lihat adalah empat cahaya yang berbeda warna itu terus melayang ke atas sambil berputar-putar, setelah itu cahaya yang berbeda warna tersebut menyebar ke empat penjuru padepokan. Sesaat setelah itu nampak seperti kubah raksasa yang menangkup seluruh padepokan dengan warna-warni. Hanya beberapa detik saja setelah itu kubah raksasa itu menghilang. Semua orang tidak tahu fenomena apa itu yang jelas mereka sangat kagum dengan kubah itu.


Disaat semua sedang melihat dengan kekaguman akan munculnya kubah warna-warni tersebut ada dua orang yang melihat itu dengan senyuman dan tahu kubah apa itu, dia adalah Aji dan Lastri yang saat ini sedang di depan kantor padepokan. Bahkan Ragil dan Anisa yang berada dibelakang mereka pun tidak tahu apa itu.

__ADS_1


" Indah sekali kubah ini, " ucap Anisa tanpa sadar.


" Aku baru melihat ini, sebenarnya apa ini? " tanya Ragil.


Aji melihat ini langsung menjelaskan semuanya " Tentu kalian tidak akan tahu kubah apa ini... Kubah ini bernama kubah pelindung ilusi empat elemen, pasti Guntur sudah memulai rencananya untuk melindungi padepokan dan kita semua, " ucap Aji yang dianggukkan oleh Lastri.


" Kubah pelindung ilusi empat elemen? " tanya Ragil penasaran.


Lastri mengangguk " Biasanya kubah ini dibuat untuk melindungi sebuah kerajaan dari musuh dimasa lalu, hanya para aksara yang berkemampuan tinggi yang dapat membuatnya dan biasanya membutuhkan empat orang aksara dengan elemen berbeda untuk membuat kubah ini tapi bukan hal yang sulit bagi Guntur untuk membuatnya mengingat dirinya adalah Syang Hyang Aksara, " jelas Lastri.


" Kubah ini berfungsi untuk melindungi dari mereka yang memiliki niat jahat dan mengancam akan kehancuran.... Mereka yang terkena ilusi ini akan terjebak dalam ilusi yang mana mereka akan disiksa atau harus melawan dirinya sendiri.... Hampir mustahil bagi siapapun orang yang terkena ilusi ini akan selamat, kebanyakan mereka akan mati dengan keadaan mengenaskan, jikalau ada orang yang selamat dari ini itu adalah mereka yang kemampuannya lebih tinggi dari si pembuat tapi siapa yang lebih tinggi dari Sang Hyang Aksara? Yang jelas jika Syang Hyang Tunggal kang Agung menginginkan orang itu selamat maka akan selamat walau dalam keadaan cacat tapi kalau berkehendak lain? " jelas Aji.


" Ingat satu hal ini, hidup dan mati itu adalah kehendak Sang Hyang Tunggal kang Agung, kita yang hanya seorang hamba harus tau dan mengimani akan hal itu, " ucap Lastri dengan senyuman.


" Aku mengerti, " ucap Ragil dan Anisa secara bersamaan.


" Kurasa Guntur sudah merasakan dan menyadari akan terjadi sesuatu mengingat padepokan kerambit hitam itu sangat licik dan yang pasti mereka juga meminta bantuan dari padepokan lain yang menyokongnya dari belakang, " ucap Aji sambil melihat kelangit malam.


***


" Apa kau sudah memberitahu padepokan gagak hitam untuk membantu kita besok, Wara? " ucap pria tua yang sedang duduk di kurai kebanggaanya.

__ADS_1


" Sudah sesepuh Daeng... Mereka akan tiba pagi ini pukul 3 pagi nanti, " ucap Wara yang mana dia adalah kaki tangan sesepuh Daeng.


" Bagus, hehehe.... Kehancuran padepokan pancanaka akan segera terlihat.... Hahahahha.... Hahahahaa.... " ucap sesepuh Daeng dengan tertawa jahat.


__ADS_2