
Keesokan harinya, Guntur bersiap untuk pergi ke rumah kakeknya, Aji Samudra bersama Anisa untuk membicarakan soal Ridwan cs kedepannya.
Guntur memiliki pemikiran sendiri tentang mereka selepas turnamen yang akan diadakan beberapa minggu lagi.
Semalam saat Guntur dan Anisa mengobrol tentang mereka, Anisa mengajukan permintaan kepada Guntur dan Guntur pun menyetujui menerima itu, tentu dengan pertimbangan yang matang.
Mereka hanya berjalan kaki saja untuk pergi ke tempat kakek mereka karena cukup dekat hanya beberapa ratus meter saja dari padepokan.
Sambil berjalan, mereka tidak henti-hentinya mengobrol ringan sambil tersenyum bersama.
Walau keadaan mereka belumlah reda dalam ketegangan akan turnamen namun mereka juga harus tetap menjaga pikiran mereka agar tetap tenang.
Disaat mereka telah sampai didepan gerbang perumahan khusus keluarga Samudra, mereka langsung dipersilahkan untuk masuk karena semua petugas di sana telah mengenal siapa mereka.
Langsung saja mereka menuju kediaman yang terlihat cukup megah dan besar karena ditempat itulah kakeknya tinggal.
Seperti sebelumnya mereka langsung dipersilahkan untuk masuk kedalam kediaman oleh petugas.
Sesampainya di halaman depan, mereka dikejutkan oleh bibi mereka yang bernama Jihan yang tengah menyirami tanaman.
Melihat Guntur dan Anisa yang hadir, Jihan seketika tersenyum dengan hangat.
" Assalamualaikum... Pagi bibi Jihan, " salam Guntur sambil tersenyum.
" Waalaikum salam... Wahhh sepasang dara datang pagi-pagi ada apa ini, " ucap Jihan sambil menyalami Guntur dan Anisa karena mereka tengah mencium tangan kanan Jihan.
" Helehh... Hehehe... Kami ingin bertemu kakek bi, apa kakek ada? " tanya Guntur penasaran.
" Ada kok, masuk saja..., " ucap Jihan.
" Siap..., " ucap Guntur sambil mengacungkan jempol tangannya.
Guntur dan Anisa pun bergegas untuk masuk namun disaat mereka sampai di depan pintu, Aji Samudra keluar dari dalam kediamannya dan langsung melihat Guntur dan Anisa didepan pintu.
" Elah... Kalian, " ucap Aji yang terkejut.
" Kakek..., " ucap Guntur yang langsung menyalami Aji, begitu juga dengan Anisa.
" Baru saja kakek mau ke padepokan... Yasudah masuk-masuk, " ucap Aji sambil menyuruh Guntur dan Anisa masuk kedalam rumah.
" Ada apa nak? " tanya Aji yang sudah duduk di sofa ruang tamu bersama Guntur dan juga Anisa.
" Begini kek ini soal mereka bertujuh, " ucap Guntur dengan serius.
Setelah itu Guntur pun menceritakan maksud kedatangannya itu dengan detil dan juga permintaannya.
***
Di puncak bukit...
" Husna... Apa kamu serius dengan keputusanmu? " tanya Mbah Pahing.
" Benar Husna, apa kau sudah yakin? " tanya Anjani dengan terkejut.
" Benar nek, ibu... Aku ingin mencari pengalaman di luar sana maka dari itu ijinkan aku untuk berkelana sebelum Guntur menjemputku, " ucap Husna dengan serius.
" Bukannya sudah ada Gea yang sudah mencarikan informasi di luar sana? " tanya Mbah Pahing yang khawatir.
" Gea hanya aku perintahkan untuk tetap berada di sisi Guntur dalam bayangan, nek... Walaupun informasi yang didapatkan oleh Gea selalu benar tapi aku ingin mencari pengalamanku sendiri d luar sana agar aku tidak menjadi beban Guntur kedepannya, " ucap Husna serius.
" Hmm... Baiklah tapi aku ingin kau juga menemui seseorang, " ucap Mbah Pahing yang menatap Husna dengan tatapan penuh arti.
Husna yang melihat tatapan Mbah Pahing merasakan jika Mbah Pahing merasakan kerinduan kepada seseorang.
" Baiklah... Siapa dia nek? " tanya Husna.
" Dia adalah..., "
***
Di Padepokan Keling Emas.
" Bagaimana, apa persiapannya sudah mulai disusun untuk turnamen? " ucap Wiranto, guru besar Padepokan Keling Emas.
" Lapor guru, saat ini sudah berjalan 30 persen dari total semuanya, " ucap Eman, salah satu pengurus Padepokan Keling Emas.
" Hmm, baiklah... Usahakan 3 hari sebelum turnamen dimulai sudah beres semuanya, kita tidak boleh membuat para padepokan lain meremehkan padepokan kita, " ucap Wiranto dengan tegas.
" Baik guru, " ucap Eman singkat.
Padepokan Keling Emas adalah Padepokan nomor 9 terbesar di Bumi Nusantara yang terletak di lereng Gunung Sumbing.
__ADS_1
Padepokan itu memiliki bangunan yang cukup besar dengan berbagai bangunan dan juga total murid melebihi 500 orang.
Padepokan itu tidak hanya melatih para jawara yang bersenjatakan Keling saja namun juga berbagai macam gaman lainnya.
Namun memang Padepokan itu memiliki kelebihan pada mereka yang bersenjatakan keling, dimana mereka menjadi jawara yang sangat kuat dan juga tangguh.
Kelebihan lainnyan adalah power pada lengan mereka yang sangat diakui oleh Tujuh Pilar Siswa dan juga padepikan lainnya.
Satu kali tinju mereka mengenai target, dapat dipastikan jika target akan langsung tumbang bahkan tewas dengan hancurnya bagian tubuh yang terkena tinju mereka.
Tak ayal jika murid-murid yang bersenjatakan keling akan memiliki tubuh yang kekar dan juga lebih besar.
" Lalu bagaimana dengan tim kita yang akan mewakili turnamen? " tanya Wiranto.
" Mereka semakin giat untuk berlatih guru dan juga semangat dan tekad mereka benar-benar tinggi, " ucap Eman.
" Tekad dan semangat belum cukup untuk menghadapi mereka, apalagi untuk menghadapi 7 monster Gunung Lumpeng, 7 monster Gending Ilahi dan 7 monster Mawar Hitam, " ucap Wiranto dengan serius mengingat ada beberapa padepokan besar lainnya yang tidak ikut dalam turnamen kali ini.
" Benar guru tapi bagaimana dengan Pancanaka? " tanya Eman yang juga memiliki penilaian khusus terhadap Padepokan Pancanaka karena turnamen sebelumnya Padepokan Pancanakalah yang menjadi juaranya.
" Aku tidak terlalu khawatir dengan mereka walaupun mereka menjadi juaranya di turnamen sebelumnya tapi padepokan itu telah melemah beberapa tahun terakhir karena belum lagi mendapatkan murid-murid abnormal lainnya kecuali Panca Soka yang sangat mengerikan dan juga Srikandi Bercadar, " jelas Wiranto.
" Eh... Sri-Srikandi Bercadar, ya..., " ucap Eman yang langsung merinding diseluruh tubuhnya.
" Kau tahu, jika gadis itu diijinkan untuk ikut dalam turnamen antar padepokan oleh Tujuh Pilar Siswa maka sudah dipastikan tidak ada yang bisa mengalahkannya entah itu individu maupun tim walaupun hanya gadis itu seorang yang mewakili padepokan itu, " jelas Wiranto.
" Gu-guru benar, Srikandi Bercadar sungguh mengerikan, " ucap Eman yang masih bergetar diseluruh tubuhnya.
" Tidak hanya mengerikan tapi lebih dari kata itu, bahkan aku sendiri akan berfikir dua kali jika menyinggung gadis itu apalagi melawannya, aku tidak mau jika akan bernasib sama dengan padepokan sesat yang dulu pernah dibumi hanguskan oleh gadis itu, " ucap Wiranto yang langsung merinding mengingat hal itu.
" Hiiii..., " ucap Eman ngeri.
" Sudahlah yang terpenting terus latih mereka dengan maksimal dan satu lagi... Jangan pernah ada kecurangan..., " ucap Wiranto dengan tegas dan serius.
" Baik guru, " ucap Eman lalu berjalan keluar dari ruangan Wiranto.
" Hmm... Sebenarnya aku juga khawatir dengan Pancanaka yang entah kenapa aku memiliki firasat jika padepokan itu akan menggebrak semua padepokan lainnya, walaupun sudah melemah, " gumam Wiranto dalam hati sambil menatap luar cendela di sampingnya.
***
Di Padepokan Gending Ilahi.
Padepokan Gending Ilahi merupakan satu-satunya padepokan yang mengkhususkan murid-muridnya untuk bersenjatakan alat musik.
Siapapun yang mendengar musik mereka, maka semua orang akan langsung hanyut dalam musik tersebut.
Padepokan itu tidaklah besar dan hanya ada puluhan murid saja tetapi tidak ada yang berani menyinggung mereka dikarenakan senjata sonik mereka.
Padepokan Gending Ilahi masuk dalam kategori jawara dikarenakan sebenarnya tidak hanya mempelajari tehnik dan juga jurus super sonik saja melainkan juga jurus-jurus jawara pada umumnya bahkan jurus non jawara pun mereka pelajari.
Akan tetapi, memanglah alat-alat musiklah yang menjadi utama mereka dalam pertarungan dan juga peperangan.
Disebuah kamar kecil yang terpisah dari kamar-kamar lainnya terdapat seorang gadis berhijab yang memiliki kecantikkan diatas rata-rata yang sedang terduduk tenang sambil memainkan alat musiknya yaitu sebuah Sasando.
Sasando adalah alat musik yang berasal dari NTT yang sangat khas dan juga sangat populer.
Petikan dan juga alunan musik dengan nada yang pas membuat suasana dikamar itu terasa sangat tentram dan juga damai.
Sambil memejamkan matanya, gadis itu terus memainkan Sasando kesayangannya dengan penuh perasaan.
Namun, ditengah permainannya gadis itu menghentikkan permainannya secara tiba-tiba lalu dirinya meneteskan air matanya.
Dirinya mengingat masa lalunya akan laki-laki yang sering menolongnya disaat dirinya merasa jatuh dan juga berada di titik nol nya sampai berada di titik sekarang ini.
Laki-laki itu sering kali membuat dirinya tidak kesepian lagi dengan tingkah konyolnya supaya terhibur dan juga memberikan nasehat-nasehat bahkan materi untuk dirinya kembali bersemangat.
Dirinya juga pernah bersumpah didalam hatinya jika dirinya sudah berada diatas, dirinya akan mencari laki-laki tersebut untuk membalas budi.
Disaat sedang larut dalam lamunannya, pintu kamar gadis itu terbuka lalu menampakkan 6 orang yang berjalan menghampiri gadis itu.
" Zaini..., " ucap salah satu dari mereka yang bernama Erik.
Gadis itu seketika menghapus air matanya lalu segera menoleh kebelakang untuk melihat 6 orang yang berdiri sambil tersenyum.
" Baiklah, " ucap gadis itu yang ternyata bernama Zaini.
" Turnamen tinggal beberapa minggu lagi, kita harus berlatih lebih keras lagi, " ucap salah satu dari mereka yang bernama Amira.
" Benar, kita harus bisa memenangkan turnamen kali ini, " ucap Santi, salah satu dari mereka.
" Benar, tapi masalahnya ada 3 monster padepokan yang sangat abnormal yang juga ikut dalam turnamen kali ini, " ucap Zainal satu satu dari mereka yang langsung melihat data dari sebuah kertas ditangannya.
__ADS_1
Kertas tersebut berisikan semua data dari berbagai padepokan yang akan ikut dalam turnamen antar padepokan.
" Bukankah kita 7 monster Gending Ilahi tidak kalah dari mereka? " tanya Dika salah satu dari mereka.
" Memang benar tapi kita juga tidak bisa meremehkan 7 monster padepokan lainnya terutama 7 monster Gunung Lumpeng, 7 monster Mawar Hitam dan 7 monster Keling Emas yang menjadi tuan rumah, " ucap Zainal dengan serius.
" Bagaimana dengan Pancanaka? " tanya Zaini yang entah kenapa memiliki firasat tentang 7 monster Pancanaka jika mereka akan memberikan sebuah kejutan kepada semua padepokan.
" Padepokan Pancanaka sudah melemah beberapa tahun kebelakang karena tidak mendapatkan murid abnormal lainnya dan hanya Panca Soka dan juga Srikandi Bercadar saja yang Pancanaka punya untuk saat ini dan mereka tidak mungkin ikut dalam turnamen kali ini karena Tujuh Pilar Siswa melarangnya, " ucap Zainal sambil membetulkan kacamatanya.
" Sudahlah jangan bahas tentang mereka apalagi Srikandi Bercadar, gadis berdarah dingin itu selalu membuatku ngeri, " ucap Tina sambil memeluk dirinya sendiri karena ngeri dengan Srikandi Bercadar.
" Jadi Padepokan Pancanaka hanya akan mengirim murid biasa saja untuk ikut dalam turnamen ini? " tanya Amira yang entah kenapa sangat senang mendengar hal tersebut.
" Besar kemungkinan seperti itu, " ucap Zainal sambil mengangguk.
Tiba-tiba Zaini langsung berdiri lalu berjalan ke arah jendela yang nampak pemandangan taman padepokan yang begitu asri dan juga tentram.
Sementara keenam lainnya menatap Zaini dengan tatapan penuh arti.
" Hahhhh.... Jika kalian menganggap Padepokan Pancanaka melemah itu tidaklah benar apalagi kalian meremehkan padepokan itu, " ucap Zaini sambil terus menatap keluar jendela.
" Maksudmu Zaini? " tanya Erik dengan kebingungan.
" Sebaliknya, padepokan itu sebenarnya tidaklah melemah hanya saja padepokan itu menutup sebagian informasi tentang semuanya dan menggantinya dengan keadaan yang kalian ketahui saat ini, " ucap Zaini yang masih menatap keluar jendela.
" I-itu tidak mungkin, ini adalah data yang diberikan oleh Tujuh Pilar Siswa untuk dipelajari kepada semua yang ikut dalam turnamen, " ucap Zainal tidak percaya.
" Tu-tunggu... Zaini, apa kau mengetahui sesuatu? " tanya Santi dengan serius.
Zaini tersenyum lalu berkata " Padepokan itu selalu mengadakan turnamen antar sesama muridnya disetiap tahunnya untuk mengetahui perkembangan dari murid-murid mereka dan itu sangatlah efisien..., "
" Dari hasil turnamen kemarin, aku mendapati beberapa orang yang sangatlah luar biasa dan kemungkinan orang-orang tersebutlah yang akan mewakili turnamen antar padepokan kali ini, " jelas Zaini panjang lebar.
" Tunggu... Bagaimana kau tahu tentang hal itu? " tanya Erik penasaran.
" Aku mendapatkan informasi itu saat aku menjalankan misi gabungan dan kebetulan aku mendengar dari murid-murid padepokan itu yang tengah mengobrol membahas turnamen itu, " ucap Zaini.
" Jadi kau tidak sengaja mendengar hal tersebut dari mereka saat menjalankan misi gabungan? " tanya Zainal mulai mengerti.
Zaini pun mengangguk " Namun, aku tidak tahu siapa saja mereka karena saat itu langsung terdengar suara ketua regu kami memanggil kami, " ucapnya.
" Lalu? " tanya Amira.
" Kita harus mewaspadai mereka karena firasatku mengatakan jika padepokan itu akan membuat sebuah kejutan yang tidak biasa kepada semuanya, " ucap Zaini sambil berjalan ke arah Sasando kesayangannya.
" Baiklah jika begitu, kalau begitu kita mulai saja latihan kita, " ucap Zainal sambil berdiri.
" Huum, " ucap mereka serempak.
***
" Bagaimana kek? " tanya Guntur dengan serius.
" Hah... Jika aku memikirkan mereka, aku sendiri tidak tahu lagi mau berkata apa, bahkan kekuatan mereka melebihi jawara sempurna padahal mereka masih di pintu ke 6 dan ke 5," ucap Aji Samudra yang juga kebingungan.
" Hanya kau dan istrimu saja yang sanggup melatih mereka, aku sudah tua nak dan juga sudah tidak lagi melatih, hanya istrimu saja murid terakhirku jadi jika kau mengajukan hal semacam itu aku hanya bisa menyetujuinya dan benar apa yang kau katakan jika saat ini padepokan tidak bisa lagi untuk melatih mereka, hanya pengalaman saja yang sanggup memberikan semuanya, " ucap Aji menyetujui usul dari cucunya itu.
" Baiklah kek, dengan begitu mereka akan lebih leluasa lagi untuk mencari pengalaman mereka, semua sudah aku ajarkan kepada mereka begitu juga dengan Anisa, tidak ada lagi yang bisa kami lakukan terhadap mereka, " ucap Guntur.
" Baiklah, kakek akan segera mengurus semuanya tapi apa tidak masalah denganmu nak tentang siapa guru mereka? " tanya Aji yang juga kebingungan dengan usul Guntur tentang siapa guru mereka.
Guntur pun menggelengkan kepalanya " Aku tidak masalah dengan itu, " ucapnya dengan serius.
" Baiklah, lalu siapa Guru yang akan kau ajukan nak? " tanya Aji Samudra.
" Guru Taufiq... Dialah yang pantas untuk hal tersebut, " ucap Guntur dengan serius.
" Ehh... Bukankah Taufiq adalah guru paling lemah diantara semuanya dan urutan terakhir? " ucap Aji terkejut.
" Memang benar kek tapi hanya beliaulah satu-satunya guru yang sanggup membawa beban ini, aku sudah mengujinya secara diam-diam dan beliau juga orang yang sangat jujur dan selalu rendah hati dari pada yang lainnya, " ucap Guntur.
" Dan juga beliau selalu mengutamakan murid-muridnya dari pada dirinya sendiri maka dari itulah aku mengakui beliau sebagai guru paling baik dari semua guru yang ada, " ucap Guntur kembali.
" Baiklah jika begitu, lalu apa rencana kalian selanjutnya? " tanya Aji.
" Setelah ini kami akan melalang buana kek untuk mencari pengalaman, " ucap Guntur.
" Hmm... Begitu ya... Yang jelas kalian harus bisa menjaga satu sama lain dan saling percaya satu sama lain, " ucap Aji menasehati.
" Siap kek, kalau begitu kami pamit, " ucap Guntur sambil berdiri.
__ADS_1
" Baiklah kakek juga akan mengurus semuanya, " ucap Aji.
Setelah itu mereka semua keluar dari kediaman Aji Samudra lalu berpisah karena Guntur dan Anisa ingin pergi ke suatu tempat untuk mereka sekedar menghibur diri dari penatnya perjalanan mereka.