
Boom
Boom
Boom
Boom
Boom
Ledakan beruntun yang mana dalam waktu 20 detik itu menghasilkan ratusan ledakan yang memekakan telinga dan juga menghancurkan kawasan sekitar hingga radius 500 meter.
Nampak kepulan asap tebal dan juga debu bertebaran menutupi pusat ledakan.
Pelaku ledakan itu nampak menatap tajam si korban ledakan yang dia sendiri merasa jika hal itu sangat percuma mengingat lawannya sendiri adalah manusia dengan kekuatan aksara terkuat dan etinitas tertinggi di dunia.
Tiba-tiba angin berhembus kencang menyingkirkan asap tebal itu hingga nampak sesosok pemuda yang berdiri kokoh tanpa cacat bahkan pakaiannya pun tidak sedikitpun tertempel setitik noda.
Sambil tersenyum pemuda itu menatap lawannya dengan mata putihnya, lalu berkata.
" Kau tahu, seranganmu itu hanya mainan untuk anak-anak berumur 3 tahun... Aku tidak menyangka seorang Raja Angkara yang diagung-agungkan oleh para kajinan namun memiliki kekuatan yang sangat mengecewakan, " ucapnya dengan sombong.
" Tutup mulutmu bocah, aku tidak peduli kau itu Sang Hyang Aksara atau bukan yang jelas malam ini kau harus mati di tanganku! " ucap Dasamuka dengan geram dan amarah karena terprovokasi oleh celotehan seorang pemuda yaitu Guntur.
" Uuuuwwww.... Kita lihat siapa yang akan mati malam ini, " ucap Guntur sambil tersenyum sombong dan meremehkan.
Guntur bersombong atas apa yang dirinya punya untuk orang atau makhluk yang memang harus dilawan dengan kesombongan, jadi dalam hal ini memang diwajibkan untuk bersombong dengan apa yang dia punya dan miliki.
Lalu dengan cepat keduanya bersiap dan menghilang dari pandangan untuk bertarung dengan kekuatan fisik mereka untuk menentukan siapakah yang akan gugur malam ini.
Walaupun begitu, dalam hati Guntur terus menerus melatunkan ayat suci dan bertarung tanpa ada nafsu angkara yang menyelimuti dirinya.
Jikalau Guntur memakai nafsu angkara yang ada pada dirinya maka itu akan sia-sia yang akan berefek kepada kekuatan aksara dan juga dirinya sendiri.
Pertarungan mereka pecah bahkan setiap gerakan mereka menciptakan ledakan dan percikan api dan petir.
Getaran-getaran pertarungan mereka bahkan sampai pada Indrajit yang sedang melawan enam orang kuat yaitu kakek Jin, Aji, murid pertama Aji, wicak, Ragil dan Anisa.
Namun mereka tidak menghiraukan atas pertarungan dilain pihak dan terus fokus kepada pertarungan mereka sendiri.
Berbeda dengan pertarungan Indrajit melawan Aji dan yang lainnya.
Mereka merasa tertekan oleh pertarungan Dasamuka melawan Guntur dimana aura mereka benar-benar meluap-luap yang mengakibatkan tekanan yang cukup kuat.
Namun, dari semua itu hanya Anisa yang tidak berefek dari pertarungan itu dan terus fokus menggempur Indrajit.
Hal itu sangat wajar karena Anisa bagian daripada Guntur yang mana memiliki tanda Jawara pada dada kirinya.
Sekian lama mereka dibawah tekanan pertarungan dilain sisi, akhirnya Indrajit berhasil melukai salah satu diantara lawannya yaitu Ragil.
Ragil yang sedikit lengah itu berhasil dilukai oleh Indrajit pada dada kanannya yang mana Indrajit berhasil menusuk dada Ragil dengan kuku panjang dan tajamnya.
" Aarrgghh...., " teriak Ragil yang langsung mundur beberapa meter kebelakang.
" Ragil..., " teriak Aji yang khawatir.
" Nang..., " teriak Wicak.
Sedangkan kakek Jin, kakak pertama dan Anisa sendiri masihlah fokus dengan pertarungan untuk melindungi Ragil takut jika Indrajit akan terus mengincar Ragil.
" Ragil...., " ucap Aji yang menghampiri Ragil yang terduduk sambil memegangi dadanya yang sudah berlubang sebesar satu jari hingga tertembus ke punggungnya.
" Uaagghhh...., " ucap Ragil yang memang merasa sangat kesakitan dengan luka yang dia dapatkan.
" Nang... Da-dadamu...., " ucap Wicak yang langsung amarahnya memuncak.
" Uhukk... Aku tidak apa-apa... Uhukkk, " ucap Ragil sambil terbatuk darah.
" INDRAAAJJJJIIIIITTTTT!!! " teriak Wicak dengan penuh amarah dan meledakkan semua kekuatannya lalu masuk kedalam tanah untuk melesat ke arah Indrajit.
Elemen Wicak adalah tanah jadi dengan kekuatan Wicak yang mana sudah menjadi salah satu Jawara terkuat di Bumi Nusantara, Wicak dapat melakukan itu dengan mudah.
Hal itu dikarenakan salah satu kekuatan unik dari seorang kepala negara yaitu Kendalining Lemah.
Wicak bisa memerintahkan tanah sesuai dengan keinginannya namun bukanlah seperti kekuatan aksara, hal itu sama seperti Putri yang bisa memerintahkan dan memanggil lebah.
" Ma-mas Wi-cak.... Uhukk..., " ucap Ragil.
" Ragil... Aku akan membantumu keluar dari sini, " ucap Aji yang berusaha untuk menolong Ragil yang sudah tidak kuat lagi.
Namun tiba-tiba terdengar suara seorang gadis dibelakang mereka.
" Itu tidak perlu..., " ucap Gadis itu yang langsung menggunakan kekuatan aksaranya untuk menolong Ragil yang sudah sekarat.
" Kau...? " ucap Aji terkejut.
" Tidak perlu terkejut Ji... Lakukan tugasmu saja dan untuk urusan bocah ini, serahkan kepadaku dan muridku, " ucap seorang nenek-nenek yaitu Mbah Pahing.
" Pahing... Baiklah, aku serahkan Ragil kepada kalian, " ucap Aji yang langsung melesat dengan cepat kembali ke pertempuran.
" Alhamdulillah..., " ucap gadis itu yang mana itu adalah Husna.
" Te-terima kasih..., " ucap Ragil yang sudah sembuh dan merasakan lebih baik dari sebelumnya serta kekuatan dan staminanya kembali pulih.
" Hey bocah bayangan, kau itu seorang pengendali bayangan, apa kau lupa? Gunakan bayanganmu untuk mengalahkan Indrajit bukan malah terjun langsung! " ucap Mbah Pahing dengan kecerobohan Ragil.
Seketika itu, Ragil langsung menyadari akan hal itu.
" Astaga.... Kenapa aku sangat ceroboh, " ucap Ragil menyesal.
" Diantara semua murid Aji kau itu paling lemah untuk bertarung secara langsung namun dari semuanya kau memiliki kekuatan paling mengerikan diantara semua kakak seperguruanmu tapi tidak dengan Anisa, kau tahu bukan? " ucap Mbah Pahing.
" Huh... Benar... Terima kasih Nyai Pepet, aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang, " ucap Ragil yang langsung menghilang dari gelapnya malam.
" Lebih baik kita bergabung dengan mereka nak, " ucap Mbah Pahing yang langsung menghilang bersama dengan Husna ke tempat Lastri dan yang lainnya berada.
***
Indrajit yang sedang sibuk menghalau semua serangan dari kakek Jin, kakak pertama dan juga Anisa itu tiba-tiba merasakan aura yang meluap-luap dan juga berbahaya.
Namun seberapa kalipun Indrajit mencari titik aura itu tidak pernah ketemu.
" Dimana dan siapa pemilik dari aura ini? " gumam Indrajit dalam hati.
__ADS_1
Baru saja memikirkan hal tersebut, tiba-tiba kedua kaki Indrajit tertanam kedalam tanah sampai ke betis lalu di hadapannya muncul seseorang dari dalam tanah.
" INDRAAAAJIIIITT! " teriak orang itu yang ternyata adalah Wicak.
Dengan kekuatan Uniknya, tangan kanan Wicak diselimuti oleh tanah yang berbentuk sebuah palu yang sangat besar lalu diayunkannya ke arah Indrajit.
Wuungggg....
Buugghh....
Boooommm.....
Seketika Indrajit terpental puluhan meter kebelakang.
" Aaaaarrrgggghhhh....., " teriak Indrajit yang sangat kesakitan.
" Wicak..., " panggil kakak pertama seperguruannya.
Namun panggilan itu tidak dihiraukan oleh Wicak dan masuk kembali kedalam tanah untuk menyerang Indrajit kembali.
" Rafi... Lebih baik kita segera menyusul Wicak untuk segera menyelesaikan pertarungan ini, " ucap Aji.
Murid pertama Aji yang sering dipanggil kakak pertama oleh Wicak, Ragil dan juga Anisa itu bernama Rafi, Sang Halilintar.
Disamping dirinya adalah seorang Jawara yang memiliki gelar Sang Halilintar, Rafi juga mendapatkan gelar Datuk dari semua perguruan pencak silat dimana non jawara, Datuk Rafi Damar Sasongko, itulah namanya.
Rafi sangatlah dihormati disemua perguruan pencak silat di Bumi Nusantara maupun luar negeri.
Semua kalangan pesilat tahu siapa Datuk Rafi Damar Sasongko itu dimana dirinya tidak pernah kalah sekalipun diajang turnamen dalam dan luar negeri.
Namun di kalangan Jawara maupun aksara, Rafi dikenal dengan nama Rafi Sang Halilintar karena kekuatan uniknya yaitu Bledek Bumi.
Dalam riwayatnya, Rafi pernah bertarung melawan seorang Jawara hitam yang sangat kuat dimana seorang Jawara yang bersekongkol dengan kajinan untuk memperkuat kekuatannya.
Pertarungan itu terjadi selama tiga hari dua malam yang menewaskan puluhan orang entah itu awam maupun Jawara dan aksara.
Pada akhirnya Rafi berhasil memenangkan pertempuran dititik terakhir kekuatannya walaupun harus mengalami luka yang sangat parah pada punggungnya dan luka itu adalah luka sayatan pedang yang menganga.
Indrajit yang merasa sangat kesakitan itu menjadi sangat kesal dan marah.
Dirinya merasa terhina oleh mereka karena bisa membuat Indrajit merasa kesakitan.
" Argh.... Sialan, aku akan membunuh kalian semua! " teriak Indrajit yang kembali bangkit lalu menyerang musuhnya.
Dengan kekuatannya, Indrajit mampu melesat bagaikan bayangan namun hal itu percuma karena lawannya adalah para manusia dengan kekuatan yang diluar nalar.
Rafi yang melihat Indrajit melesat ke arahnya pun tersenyum senang, seakan-akan Indrajit adalah mainan untuknya.
Padahal pada kenyataannya kekuatan sebenarnya Indrajit hampir menyamai gurunya yaitu Aji Samudra.
Dengan cepat Rafi mengeluarkan senjatanya yang berupa tombak yang mana tombak itu memiliki nama yaitu Tombak Bledek atau Tombak Petir.
Diayunkannya tombak itu lalu melesat dengan kecepatan kilatnya untuk menyerang Indrajit.
Boom....
Sraaang....
Sriiing....
Booom...
Booom...
Ledakan demi ledakan yang ditimbulkan oleh mereka karena pertarungan yang sangat mendebarkan.
Indrajit pun tidak lagi bisa berfikir jernih dan yang difikirkannya adalah untuk segera membunuh mereka.
Tiba-tiba dari belakang terdapat sebuah pedang besar yang sedang terayun dangat cepat untuk menyerang Indrajit.
Indrajit yang tahu akan hal itu pun langsung melompat ke samping kanan namun belum juga kakinya menginjak tanah terdapat sebuah bogem mentah dengan senjata kuku disela-sela jarinya.
Tidak dapat terelakan lagi, Indrajit menerima serangan itu dengan telak di punggungnya dan terlempar ke samping kiri.
Bugh...
" Aaarrrggghhh...., " teriak Indrajit kesakitan.
Masih dalam posisi terlempar, Indrajit kembali dikejutkan oleh Wicak yang mana kedua tangannya menjadi sebuah palu dengan ukuran besar.
Langsung saja Wicak mengayunkan tangan palunya tersebut.
Bugh...
" Uuaaaarrrggghhh..., " teriak Indrajit.
Tubuh Indrajit yang terkena bogem palu itu langsung menghantam tanah dengan sangat keras, sampai-sampai menghasilkan sebuah kawah yang lumayan besar dan dalam.
Belum juga satu detik Indrajit merasakan sakit, tiba-tiba langit yang nampak mendung itu menjadi cerah dan terlihat sang rembulan yang awalnya berwatna putih menjadi merah gelap.
Awal yang tidak ada angin sekarang berangin sepoi-sepoi dan terasa begitu dingin.
Sontak semua orang melihat dan merasakan semua itu dengan keheranan tapi tidak dengan Aji, Lastri dan para murid Aji.
" I-ini..., " gumam Rafi dan Wicak.
" Kak Ragil, " gumam Anisa.
" Jurus terakhir dari Jurus Bayangan Raja Ilusi, Ilusi Bulan Merah..., " ucap Aji.
Benar saja setelah beberapa detik dari atas mereka tepat di samping kanan dan kiri bulan merah itu nampak sebuah mata yang sangat besar dengan pupil mata berwarna merah darah menatap Indrajit dengan tajam.
Indrajit yang melihat itu langsung melebarkan kedua matanya lalu tiba-tiba tubuhnya serasa mati rasa, darah segar mengalir dari kedua mata, hidung dan telinganya.
Tiba-tiba semuanya terkejut oleh teriakan Indrajit yang sangat memilukan dan terdengar sangat pedih.
" Aaaarrrgghh.... Toloooonnnnggg.... Aaammppuuuunn....., " teriak Indrajit sambil merasakan kesakitan yang teramat pedih.
" Serangan mental yang sangat mengerikan, " ucap Kakek Jin.
" Jurus itu adalah jurus ilusi yang menyerang musuh dengan tekanan dan siksaan mental yang sangat mengerikan.... Musuh akan sangat tersiksa dengan itu, " ucap Aji yang saat ini berada disamping kakek Jin.
Indrajit yang terkena serangan itu terus saja meronta-ronta akibat kesakitan.
__ADS_1
Sekujur tubuhnya memang benar masihlah utuh namun mentalnya sangatlah hancur dan remuk.
Siapapun dan sekuat apapun itu jika terkena jurus itu akan hancur.
" Ampun..... Tolong.... Aku menyerahhh.... Aaarrrggghhh.... Saaaakkiiiiit....., " teriak Indrajit.
Setelah beberapa menit berlalu, Ragil yang mana pelaku dari serangan mental itu menghentikkan jurusnya itu karena semua kekuatan dan tenaganya telah habis terkuras hanya untuk menggunakan jurus itu.
Diatas pohon, Ragil yang menggunakan jurus itu terjatuh dari ketinggian dan Aji pun langsung menangkap Ragil untuk menyelamatkannya.
Ragil yang nampak kelelahan itu menatap Aji sebentar lalu pingsan.
" Kerja bagus Ragil, " ucap Aji sambil meletakkan Ragil dengan mapan.
Kakek Jin, Rafi dan Wicak pun segera menghampiri Aji dan Ragil untuk mengecek keadaannya.
Mereka bersyukur karena Ragil baik-baik saja dan tengah pingsan.
Anisa yang sedari tadi hanya terdiam itu setelah menatap Ragil lalu menatap Indrajit yang sekarang keadaannya sangatlah memprihatinkan.
" Ka-kalian akan aku bunuh.... Bunuh... Bunuh, hahahahaha, " ucap Indrajit yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi dan terlentang di tengah kawah itu.
Anisa pun berjalan berlahan mendekati kawah lalu berhenti diatasnya.
" Aku tidak menyangka jika dia sanggup bertahan setelah serangan itu, " gumam Anisa dalam hati.
Indrajit yang melihat Anisa diatas kawah itu pun tersenyum.
" Kau? Aku tidak menyangka jika kau itu adalah gadis kecil itu.... Hahaha, tapi aku sudah tidak bisa lagi untuk berbuat apa-apa... Jadi tolong bunuhlah aku sebagai permintaan maafku kepadamu, Sang Srikandi Bercadar yang di dunia bawah semua orang menyebutmu dengan sebutan Sang Mimpi Buruk...," ucap Indrajit pasrah.
Anisa pun langsung menatap mata Indrajit dengan sangat tajam namun juga menitikkan air matanya.
Tanda aksara didada kirinya bersinar sebentar lalu aura yang sangat mencekam pun meledak dari seorang Anisa.
Semua orang terkejut merasakan aura itu bahkan Ridwan dan kawan-kawannya pun sampai jatuh tersungkur.
Mbah Pahing dan Husna pun langsung membuat sebuah pelindung untuk melindungi mereka.
Namun Husna juga menyadari jika ada sesuatu dari aura yang dikeluarkan oleh Anisa itu yaitu emosional dan guncangan mental.
" Nisa...., " gumam Husna yang tiba-tiba ikut merasakan apa yang Anisa rasakan.
Aji dan yang lainnya pun langsung terkejut dengan apa yang mereka rasakan.
" Astaga... Apa yang akan si bungsu lakukan? " tanya Wicak yang bergidik ngeri.
" Dia memang benar-benar berada di level yang berbeda dengan kita Wicak, " ucap Rafi yang juga bergidik.
" Hahhh.... Apa si bungsu sebenarnya punya dendam dengan Indrajit? " tanya Wicak.
" Asal kalian tahu jika adik kalian itu sebenarnya memiliki masalah dengan makhluk itu, " ucap Aji tiba-tiba.
" Ehhh..., " ucap Rafi dan Wicak.
" Itu terjadi 3 tahun yang lalu.... Ah sebaiknya aku tidak menceritakannya.... Itu bisa dibilang aib dari adik kalian, " ucap Aji yang juga malu jika mengingat kejadian itu.
" Ehh... Sebenarnya apa yang terjadi? " ucap Wicak yang sangat penasaran.
" Yang jelas ini ada kaitannya dengan dunia bawah, sampai-sampai adik kalian itu mendapatkan gelar tersendiri dari orang-orang dunia bawah dengan gelar Sang Mimpi Buruk, " ucap Aji yang mengingat masa lalu dari Anisa.
" Apa?! ' teriak Rafi dan Wicak.
***
Anisa yang menatap tajam Indrajit itu langsung mengangkat tangan kanannya sambil membuka telapak tangannya lalu mengepalkan telapak tangannya itu dengan erat.
" Terima kasih, Ma Yue...., " ucap Indrajit sebelum menghembuskan nafas terakhirnya sebelum semua darah yang ada pada dirinya meledakkan jantung dan semua organ dalamnya.
Anisa menggunakan pengendali darahnya untuk membunuh Indrajit yang mana darah Indrajit diperintahkan oleh Anisa untuk menghancurkan Jantung dan semua organ dalamnya.
Anisa bisa melakukan itu karena saat ini, Indrajit memiliki wujud kasar dimana semua makhluk di alam manusia itu berada.
Secara otomatis, Indrajit yang memiliki wujud kasar seperti halnya manusia walaupun tidak sempurna itu akan berefek kepada kekuatan unik dari Anisa.
Anisa juga sengaja untuk melakukan itu karena ingin memberikan kematian yang cepat kepada Indrajit sebagai pengurangan rasa sakitnya saat sakaratul maut.
Dengan kematian Indrajit, akhirnya rasa ketidaknyamanan akan aib masa lalunya itu sirna didalam hatinya.
Dengan lemas, Anisa tertunduk dan terduduk sambil menatap bulan yang bersinar terang.
Lalu tiba-tiba Husna muncul didepannya.
" Nisa...., " ucap Husna yang langsung memeluk Anisa dengan erat.
Begitu Anisa dalam pelukan Husna, tiba-tiba Anisa merasakan hatinya menghangat lalu jatuhlah sudah air mata dengan deras.
" Hu-Husna...., " ucap Anisa sambil menangis.
Husna pun mempererat pelukannya sambil berkata " Menangislah sepuasmu... Anisa, " ucapnya.
Disisi lain, Aji dan yang lainnya melihat kejadian itu pun hanya menggelengkan kepalanya namun berbeda dengan Lastri yang juga ikut menangis karena tahu akan aib masa lalu Anisa.
" Hahh, tinggal satu lagi.... Dengan kematian Indrajit tentu hal itu membuat Dasamuka murka dan kita hanya bisa berharap kepada Guntur yang tengah bertatung dengannya untuk mengalahkan si Raja Angkara itu, " ucap Mbah Pahing.
" Mas Gun pasti bisa, " ucap Ridwan.
Kepercayaan dan keyakinan mereka tentu membuat energi positif tersendiri bagi Guntur walaupun saat ini Guntur tengah bertarung sengit dengan Dasamuka.
Guntur juga menyadari akan kematian Indrajit, maka dari itu Guntur ingin sekali mempercepat pertarungannya tapi tentu tidak akan mudah.
Hingga saat ini pun pertarungan mereka masih berlanjut dan juga seimbang.
Kedua belah pihak tidak ada yang ingin mengalah sampai dimana Dasamuka merasakan jika Indrajit telah kalah dan juga tewas.
" I-Indrajit anakku..... Hhhooooooaaaaaaaaaaaaa....... Akan aku bunuh kalian semuaaaaaa! "
.
.
.
.
__ADS_1
.