
Pelatihan Ridwan cs yang Guntur terapkan kepada mereka pun dimulai.
Walaupun ada sedikit perdebatan antara yang menyaksikan tapi pelatihan itu tetaplah berjalan.
Guntur yang menjadi guru dari Ridwan cs pun sangatlah fokus dalam pelatihan kali ini.
Disamping sangatlah berat tapi juga akan menimbulkan konsekuensi yang begitu besar kepada mereka jika pelatihan itu berhasil.
Terus berdiam mengawasi mereka yang sedang bersusah payah menghadapi begitu beratnya pelatihan.
Segala apa dan upaya mereka lakukan untuk mendapatkan keberhasilan yang menjadi tujuan mereka.
Berat ringannya sebuah rintangan mereka lakukan dengan jiwa semangat tinggi dan pantang menyerah.
Berbeda dengan mereka yang menyaksikan pelatihan terlarang itu.
Mereka dibuat bergidik ngeri hanya karena melihat hal yang diluar nalar mereka.
Bahkan Aji sendiri pun merasa ngeri, takjub, khawatir, senang, takut dan semua rasa dia rasakan.
Hal itu juga berlaku kepada Lastri dan juga Ragil bahkan Anisa dan Panca Soka.
Sedangkan Gea sendiri hanya terdiam menatap mereka yang sedang bertarung mati-matian ditempat yang berbeda satu sama lainnya.
Panca Soka pun merasa jika diri mereka tidak ada apa-apanya dengan Ridwan cs.
Disamping mereka itu kuat, umur mereka pun masih tergolong belia dan hal itu terbukti saat latih tanding dengan mereka beberapa bulan yang lalu.
MONSTER...
Itulah yang bisa mereka pikirkan untuk Ridwan cs, namun mereka juga menyadari jika dibalik kemonsteran mereka tentu akan ada yang lebih dari kata monter itu dari pada mereka, guru mereka yaitu Guntur dan Anisa.
Semua anggota Panca Soka pun segera untuk menoleh dan menatap Guntur dan Anisa secara bergantian.
Dalam hati mereka, mereka berkata " Entah apa yang bisa membuat mereka berdua berada dilevel yang jauh lebih tinggi dari pada yang lainnya dan yang pasti itu semua adalah perjuangan, tekat, semangat dan juga niat yang jauh lebih tinggi dari pada kami sampai-sampai mereka berdua berhasil melatih para monster yang bahkan kami sendiri bukan tandingan mereka. "
Iri tercampur kagum mereka rasakan saat melihat Guntur dan juga Anisa.
" Seandainya umur kami masih seusia mereka dan guru Ragil tidak mengangkat kami menjadi muridnya, pasti kami akan sangat mau untuk menjadi murid Guntur dan Anisa... "
" Tapi kami juga tidak mungkin bisa untuk melakukan itu jika Sang Hyang Tunggal kang Agung tidak berkehendak... "
Berbagai pemikiran dan juga unek-unek yang Panca Soka batinkan namun disamping itu, mereka juga sangat bersyukur jika bukan karena guru Ragil, mereka tidak akan bisa untuk menjadi seperti sekarang ini.
***
Ridwan yang tiba-tiba berada berpindah di sebuah batu besar dan dibawahnya tedapat lautan magma pun sangatlah terkejut.
Bahkan tubuhnya merasa bergetar dan juga menggigil karena saking terkejutnya dan juga sangat ketakutan.
Bagaimana tidak takut jika tiba-tiba dirinya berada didalam sebuah gunung dengan lautan magma dibawahnya.
Udara disekitarnya pun sangatlah panas dan juga mencekam.
Tapi, itu semua belumlah berhenti karena tiba-tiba saja dari dalam dirinya muncul 4 orang yang sangat mirip dengannya walaupun pakaian mereka berbeda satu sama lain.
Ridwan yang melihat itu pun mendadak tubuhnya lemas dan merasakan pusing luar biasa.
Setelah beberapa saat, Ridwan pun bangkit karena sudah merasa lebih baik lalu menatap keempat orang yang berada didpannya.
Tiba-tiba terdengar suara yang begitu dia kenal.
" MULAI! "
Sontak keempat orang itu menatap Ridwan itu dengan tajam walaupun mereka sendiri tersenyum.
Ridwan pun langsung saja menanyakan apa yang sudah dari tadi ingin dia keluarkan.
" Kalian siapa? " tanya Ridwan penasaran.
Salah satu dari mereka berempat itu mulai berbicara memperkenalkan diri yang disusul dengan yang lainnya.
" Kami adalah dirimu dan dirimu adalah kami, " ucap salah satu dari mereka yang memakai pakaian serba putih sambil tersenyum.
" Huh? Maksudnya? " tanya Ridwan kebingungan.
" Aku adalah kakang kawahmu dan akulah yang tertua darimu dan semuanya..., " ucap Ridwan berbaju putih.
" Aku adalah darah yang mengalir pada tubuhmu..., " ucap Ridwan berbaju merah.
" Aku adalah pusarmu..., " ucap Ridwan berbaju biru.
" Aku adalah ari-arimu..., " ucap Ridwan berbaju hijau.
Sontak saja Ridwan kembali terkejut saat mereka memperkenalkan diri mereka yang ternyata mereka adalah bagian dari dirinya.
" Lalu apa apa yang kalian lakukan disini? " tanya Ridwan.
" Jujur kami sangat tidak mempercayaimu..., " ucap Ridwan berbaju merah sambil menatap Ridwan dengan sinis.
" Kau begitu kotor dan juga lemah, " ucap Ridwan berbaju biru.
" Kau juga sombong dan tidak bisa dipercaya," ucap Ridwan berbaju hijau.
Sedangkan Ridwan yang berbaju putih hanya diam tanpa bersuara.
" Sebenarnya ada apa ini... Kalian bilang kalian adalah aku, maksudku bagian dariku tapi kenapa kalian terlihat sangat membenciku? " tanya Ridwan dengan perasaan yang campur aduk dan hati yang bergetar.
" Bagaimana mungkin mereka yang bagian dariku tidak mempercayaiku? Sebenarnya apa maksud dari semua ini? " ucap Ridwan dalam hati yang juga merasakan mentalnya tiba-tiba jatuh.
" Itu karena kau sendiri yang membuat kami tidak bisa mempercayaimu..., " ucap Ridwan berbaju merah.
" Ehh... Apa salahku? " tanya Ridwan.
" Salahmu kenapa kau terlahir didunia ini dan kami menjadi bagian darimu... Kau adalah biang masalah bagi kami dan kami terpaksa untuk menjadi bagian darimu, " ucap Ridwan berbaju hijau.
" Ugh..., " ucap Ridwan yang merasa sangat sakit didalam hatinya sampai-sampai memegangi dadanya karena saking sakitnya.
" Bahkan keluargamu saja pernah membuangmu dan juga kau... Lebih baik kau musnah agar kami dapat terbebas dari orang sepertimu, " ucap Ridwan berbaju merah yang langsung mengeluarkan tombak yang mirip dengan tombak pandawa namun dengan warna berbeda sesuai dengan baju mereka.
Setelah itu disusul oleh Ridwan berbaju hijau dan biru yang juga mengeluarkan tombak pandawa mereka.
Tidak sampai 1 detik, mereka langsung menyerang Ridwan dengan sangat beringas dan brutal.
__ADS_1
Sedangkan Ridwan berbaju putih masih terdiam sambil melihat mereka menyerang Ridwan.
Ridwan sendiri juga langsung mengeluarkan tombak pandawa miliknya lalu menghalau serangan mereka.
Setelah mereka saling bertukar jurus yang bahkan jurus-jurus mereka pun sama, Ridwan merasa semua ini tidak ada gunanya.
" Kalau begini tidak ada gunanya bertarung... Sebenarnya maksud mas Gun itu apa? Kenapa memberikan pelatihan seperti ini? " ucap Ridwan dalam hati.
Saat sedang memikirkan itu, Ridwan pun menjadi sedikit lengah dan tiba-tiba merasakan sakit pada dadanya.
Jleb...
"Ugh..., " erang Ridwan yang ternyata sebuah tombak merah sudah bersarang didadanya.
Seketika Ridwan memegangi tombak merah itu dan sekuat tenaga mencabut tombak itu tapi.
Jleb...
Jleb...
Lagi, dua tombak hijau dan biru juga bersarang dibagian perut dan punggungnya.
" Uaagh..., "
Ridwan langsung saja muntah darah dikarenakan tusukan 3 tombak sekaligus pada tubuhnya.
Sekuat tenaga Ridwan mencoba untuk mencabut semua tombak itu namun usahanya masih nihil.
Itu disebabkan karena mereka juga memegangi tombak mereka dan mencoba untuk menusuk lebih dalam lagi bahkan hingga tertembus.
Namun Ridwan segera untuk meledakkan kekuatan jawaranya sehingga menyebabkan mereka terpental beberapa meter beserta tombak mereka.
" Uuuaaaaaaaarrrggghh....., " teriak Ridwan dengan keras.
" Hah... Hah... Bahkan besi pemberatku pun bisa ditembusnya... Tombak mereka kuat sekali, " gumamnya pelan.
Tess....
Tesss....
Tess...
Darah segar mengalir cukup deras ditubuh Ridwan hingga jatuh diatas batu pijakannya lalu darah itu pun segera menguap karena hawa panas dari magma gunung berapi.
" Astaghfirullah... Bagaimana caraku untuk bisa mengalahkan mereka? " tanyanya dalam hati.
Setelah itu, seolah tidak diberikan kesempatan lebih, Ridwan kembali diserang oleh mereka dengan serangan yang brutal dan juga mematikan.
Semua itu berlaku pada yang lainnya hingga mereka benar-benar berjuang sangat keras untuk bisa memenangkan pertarungan yang sebenarnya tidak ada gunanya itu.
Berbagai macam hal dan cara mereka lakukan namun semua itu tidak berguna dan tidak menimbulkan secerah harapan ataupun solusi.
Namun, dari semuanya ada satu orang yang tidak bertarung bahkan hanya mengobrol satu sama lain dan terlihat begitu akrab, dia adalah Roro Zara Apsarini.
Seorang gadis cantik namun sedikit dingin itu nampak bercengkrama dengan saudara-saudara mereka.
Sampai-sampai semua orang kecuali Guntur dan Gea yang menyaksikan merasa heran dengan itu.
" Bukankah dia itu Roro? Apa yang dimaksud Guntur dengan seorang murid padepokan yang memiliki elemen cahaya itu dia? Setahuku dia berelemen tumbuhan? " gumam Ragil dalam hati.
" Jadi dia yang dimaksud Guntur? Tapi kenapa gadis bangsawan itu terlihat sedang mengobrol bahkan bercengkrama dan bercanda dengan mereka? " ucap Aji bingung.
Gea yang mendengar itu langsung menjawab kebingungan Aji.
" Gadis itu sudah mendapatkan kepercayaan dari mereka, besar kemungkinan dia sudah pernah mendapatkan pelatihan ini dan berhasil, " ucap Gea dengan enteng.
" APA?! " ucap semua orang bahkan Anisa sendiri pun juga terkejut.
" Ta-tapi siapa yang memberikan pelatihan ini? " tanya Ragil.
" Aku tidak tahu... Yang jelas itu juga dengan orang yang juga berhasil untuk mendapatkan kepercayaan dari kadang-kadang mereka, " jelas Gea.
Sontak mereka semua menatap Roro dengan tatapan rumit.
Dalam hati mereka, mereka tidak percaya dengan itu tapi pelatihan Takhluking Sedulur Papat Lima Pancer bukanlah pelatihan ringan bahkan termasuk pelatihan paling terlarang.
***
" MULAI!!! "
" Roro..., " ucap mereka berempat begitu keluar dari tubuh Roro.
" Ehh... Ka-kalian? " ucap Roro terkejut.
Roro tidak menyadari jika Guntur akan memisahkan semua saudara seguru mereka dan saat ini Roro berada didalam hutan belantara tidak berujung.
Mereka berempat juga sangat mirip dengan Roro dan pakean mereka pun juga sama dengan saudara-saudara Ridwan dan yang lainnya tergantung dari apa mereka tercipta.
" Iya Roro, ini kami..., " ucap Roro berbaju putih sambil berjalan kearah Roro.
Begitu sampai, Roro berbaju putih langsung saja memeluk Roro yang disusul dengan yang lainnya.
Setelah itu, mereka pun langsung duduk diatas akar pohon yang sangat besar.
" Kenapa kalian bisa keluar? " tanya Roro penasaran.
" Kami keluar karena dia yang mengeluarkan kami, " ucap Roro berbaju hijau.
" Eh... Apa mas Gun sengaja untuk menggunakan pelatihan itu? " ucap Roro.
" Itu benar Roro... Tapi karena kamu sudah mendapatkannya dari ibumu dan mendapatkan kepercayaan dari kami, kau tidak perlu lagi untuk melakukan seperti dulu, " ucap Roro berbaju merah.
" Hm... Jadi mereka belum mendapatkan pelatihan ini ya? " tanya Roro.
" Bagaimana mungkin mereka mendapatkan pelatihan paling terlarang ini? Terlebih sejatinya pelatihan ini hanya untuk aksara saja tapi karena perubahan zaman jadi bisa juga untuk para jawara namun ada syarat khusus untuk bisa mendapatkan pelatihan ini, " ucap Roro berbaju biru.
" Benar... Tidak semua juga bisa untuk melakukan ini karena memang sangatlah sulit untuk dilakukan dan juga tuntunannya juga sudah punah jadi hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melakukan untuk melatih hal ini, " ucap Roro berbaju putih.
" Beruntung ibumu adalah satu-satunya murid darinya, jadi bisa untuk memberikan sanadnya kepada ibu, hanya saja pelatihan ini hanya bisa dilakukan jika sang guru adalah seorang aksara sempurna yang juga berhasil mendapatkan kepercayaan, seperti halnya ibu yang seorang aksara sempurna, " ucap Roro berbaju hijau.
" Hm... Jadi aku tidak bisa untuk memberikan pelatihan ini seumpama aku mempunyai seorang murid, " ucap Roro.
" Itu benar Roro, tapi kau jangan berkecil hati karena kau sendiri sudah merasakan semua hasil dari pelatihan ini yang ibumu berikan kepadamu dulu kan? " tanya Roro berbaju merah.
__ADS_1
" Iya kau benar Getih, tapi aku sebenarnya juga khawatir dengan mereka... Seumpama aku bisa membantu mereka pasti akan aku lakukan sedari tadi, " ucap Roro yang tahu akan saudara-saudara segurunya itu.
" Tidak usah khawatir, mereka pasti akan berhasil, " ucap Roro berbaju putih.
" Mbakyu yakin? " tanya Roro.
" Apa kau lupa jika kalian mempunyai guru yang sangat luar biasa? Dia bukan hanya seorang jawara tapi juga seorang Hyang, " ucap Roro berbaju putih.
" Hyang? Maksud Mbakyu? " tanya Roro yang memang belum tahu jika Guntur adalah Sang Hyang Aksara.
" Kau akan tahu nanti cah ayu..., " ucap Roro berbaju biru.
" Hmm... Lebih baik kita kembali karena kita sudah seharian disini, " ucap Roro berbaju putih.
" Seharian? " tanya Roro.
" Iya... Dimensi cermin ini sangat unik dimana alam nyata sudah gelap pun disini masih saja siang hari dan waktu yang sangat lambat, " ucap Roro berbaju hijau.
" Tapi bagaimana caranya bisa keluar dari sini? " tanya Roro.
" Itu mudah, kami cukup bersatu kembali ke wadah kami semula, kita bisa keluar dari sini, tempat ini memang dibuat untuk hal ini Roro, " ucap Roro berbaju merah.
" Kau sudah sangat tepat untuk ikut dengan dia cah ayu... Kelak kau dan semuanya akan menghadapi sesuatu yang sangat berat namun kalian tidak perlu risau karena dia berada didepan kalian selalu, " ucap Roro berbaju putih.
" Baik mbakyu..., " ucap Roro.
Setelah itu dengan cepat mereka kembali ke tubuh Roro.
Dengan kembalinya mereka tiba-tiba dimensi yang Roro tempati terlihat seperti kaca yang terpecah lalu hilang entah kemana.
Krakk...
Pyarrr....
Nampak Roro yang sedang berdiri sambil menatap semua orang dengan tatapan sedikit dingin lalu melihat ke arah langit.
" Benar apa yang dikatakan mereka jika di alam nyata sudah gelap, " gumam Roro dengan pelan.
" Roro..., " ucap seseorang memanggil.
Roro pun langsung menoleh ke arahnya yang ternyata adalah Anisa.
Langsung saja Roro menunduk lalu berjalan kearah Anisa.
" Ning Nisa..., " ucap Roro yang masih menunduk tidak berani menatap mata Anisa secara langsung.
Roro selalu seperti itu karena memang didikannya sejak kecil dari orang tuanya kalau bertemu dengan orang-orang yang mempunyai derajat tinggi yang seiman dengannya maka Roro harus menundukkan kepalanya.
Bukan tanpa alasan Roro seperti itu, itu dikarenakan rasa kagum, menghormati bahkan takdzim walaupun lebih muda darinya.
" Beristirahatlah..., " ucap Anisa sambil menatap Roro.
" Sendiko Ning Nisa... Tapi aku tidak apa-apa walaupun sedikit lemas, " ucap Roro.
" Baiklah, " ucap Anisa.
Setelah itu mereka semua melihat bagaimana beratnya pelatihan Ridwan cs.
Roro yang melihat itu pun seketika meneteskan air matanya karena tidak tega melihat kawan-kawannya yang sedang berjuang untuk menaklukkan kadang-kadang mereka.
Hal itu disadari oleh Lastri dan juga Anisa, bahkan Lastri sendiri langsung memegang pundak kiri Roro sambil menatap Roro dengan lembut.
" Nyai Guru..., " ucap Roro.
" Tenanglah, " ucap Lastri.
" Sebenarnya mereka tidak ada gunanya untuk bertarung seperti itu, " ucap Roro sambil menghapus air matanya.
" Maksudmu? " tanya Lastri.
" Pelatihan ini sebenarnya hanyalah sebuah pengakuan akan kepercayaan satu sama lain..., "
" Semakin mereka menyerang kadang-kadang mereka, maka kadang-kadang mereka akan semakin beringas dan brutal..., "
" Hanya membuang nafsu angkara lalu mempercayai mereka saja kunci dari semua ini..., "
" Jika kita mengakui dan mempercayai mereka sepenuhnya maka mereka akan berhenti dengan sendirinya walaupun mungkin ada sedikit adu mulut dengan mereka namun itu lebih baik dari pada harus bertarung..., "
" Memberi pengertian dan kepercayaan sampai mereka percaya maka semua itu akan berakhir..., " ucap Roro yang sedikit bergetar pada tubuhnya.
" Roro, siapa yang memberikan pelatihan ini kepadamu? " tanya Aji Samudra.
Roro pun hanya menunduk tanpa bicara karena takut akan identitas ibunya akan terkuak.
" Tidak apa-apa Roro..., " ucap Lastri dengan lembut.
" I-ibuku...," ucap Roro pelan.
Seketika semua orang sangat terkejut dengan apa yang Roro ucapkan.
" A-apa ibumu seorang aksara? " tanya Aji Samudra.
Roro pun hanya mengangguk pelan.
" Siapa nama ibumu nak? " tanya Lastri penasaran.
" I-ibuku bernama Jihan Apsarini..., " ucap Roro pelan.
Lastri yang mendengar itu sedikit terkejut lalu teringat oleh cerita sahabatnya tentang satu-satunya murid Sang Cakra.
" A-apa maksudmu Jihan ibumu yang itu....? " tanya Lastri.
Roro mengangguk pelan " Benar Nyai Guru... Ibuku adalah Jihan Sang Penyembuh dan nama ayahku yang sebenarnya adalah Raden Artha Sena...., " ucapnya.
Duarr......
Betapa terkejutnya mereka semua mendengar siapa sebenarnya sosok orang tua Roro.
Mereka hanya tahu jika Roro adalah keturunan bangsawan saja tanpa tahu nama ayah dan ibunya yang asli karena mereka selalu menggunakan nama samaran mereka, terlebih memang Roro termasuk murid yang sangat pendiam dan low profile.
Namun setelah mendengar itu semua sangatlah terkejut pasalnya ayah Roro adalah sosok yang sangat terkenal di Bumi Nusantara yang berpengaruh di dunia persilatan non jawara maupun jawara, serta semua sudah tahu jika Jihan Sang Penyembuh adalah satu-satunya murid dari Sang Cakra, salah satu Legenda Aksara yang sudah berpulang.
Anisa pun yang mendengar itu benar-benar sangat terkejut mendengar nama Artha Sena.
__ADS_1
Pasalnya nama Artha Sena adalah daftar urutan nomor 4 yang pernah menaklukkan arena dunia bawah 20 tahun silam yang diberikan julukan oleh kaisar dunia bawah sebagai Artha Sena Sang Palu Langit.