
Pesta pernikahan yang sangat sederhana tapi nampak sangat meriah walaupun hanya keluarga saja. Semua orang tidak luput dari perasaan bahagia sampai-sampai melupakan seseorang yang kini sedang menyendiri.
Di sebuah taman yang cukup luas dengan dipenuhi berbagai macam jenis bunga serta pohon beringin yang cukup rindang dan besar. Dibawah pohon tersebut terdapat sebuah bangku panjang serta ayunan.
Ada seorang manusia yang sedang duduk terdiam di bangku tersebut. Orang tersebut sedang memikirkan perjalanannya dari awal sampai saat ini.
Perjalanan tersebut sangatlah menguras keringat bahkan air mata. Dari awal mula yang mana seorang anak gelandangan yang saat itu masih berumur 7 tahun. Anak kecil yang umumnya bermain dengan teman-teman yang penuh canda tawa, tapi anak kecil itu mau tidak mau harus menjalani kerasnya dunia demi mendapatkan sesuap nasi untuk bertahan hidup dengan cara mengemis.
Hinaan, cacian bahkan tidak jarang pula anak itu mendapatkan pukulan dan tendangan dari orang-orang dewasa hanya karena mengemis di lahan milik orang lain, lagi pula anak yang baru berusia 7 tahun mengerti apa dengan lahan atau kekuasaan orang lain? Yang ada hanya apa yang ada dipikirannya harus dilakukan apalagi keadaan yang menuntut untuk melakukan itu.
Dengan berjalan tertatih-tatih anak itu menyusuri jalanan karena baru saja mendapatkan bogem mentah dari orang dewasa karena mengemis di lahan orang lagi.
Anak itu teruslah berjalan sbil merasakan sakit di kaki dan kepalanya yang penuh dengan luka lebam. Saat sampai di depan rumah yang jauh dari kata layak karena hanya berupa kardus-kardus, kayu seadanya dan juga plastik-plastik, anak itu merenung sejenak.
" Bapak, ibu, kenapa kalian meninggalkanku sendirian di tempat yang kejam ini, sesungguhnya aku sangat merindukan kalian, " gumamnya dengan penuh kesedihan. Setelah itu barulah anak masuk ke dalam gubuk derita miliknya.
Setelah beberapa hari setelah itu, anak yang nampak kurus, kering, kumal, hitam itu berjalan memulai aktifitasnya yaitu mengemis. Sesampainya di jalan utama tempat dimana dia mengemis tiba-tiba sebuah mobil cukup mewah berhenti di depannya. Lalu, nampak orang dewasa turun dari mobil tersebut dan menghampirinya.
Sesampainya orang dewasa itu di deoan anak malang tersebut, orang itu memberikan makanan " Ini, makanlah... Aku tahu jika kau sedang merasa lapar, " ucapnya sambil tersenyum.
Anak malang itu menatap orang itu dengan teliti dan waspada. Akan tetapi keadaannya yang lapar dan haus anak itu menerimanya " Te-terima kasih, " ucapnya.
Orang itu pun tersenyum melihat anak malang itu mau menerima makanan pemberiannya " Hm... Ayo makan di dalam mobil saja, tidak baik makan di pinggir jalan seperti ini, " ucap orang itu.
Anak malang itu hanya mengangguk saja dan mengikutinya masuk ke dalam mobil.
Setelah anak malang itu menyantap makanannya sampai habis maka terlihatlah wajah senang pada dirinya. Wajah yang pucat karena kelaparan kini kembali cerah dan berseri walau keadaan anak malang itu terlihat sangat memperhatinkan.
Dengan senyum ramah orang itu memperkenalkan dirinya " Hm.. Namaku Aji, siapa namamu nak? " tanyanya.
Anak malang itu menatap Aji sejenak lalu memberi tabu namanya " Namaku Ragil pak, " ucap anak malang itu yang ternyata adalah Ragil.
" Hm... Ragil, maukah kau ikut denganku? Kau tenang saja aku tidak akan melakukan hal jahat kepadamu, aku sebenarnya sudah mengawasimu sejak beberapa hari yang lalu bahkan aku juga melihatmu dihajar oleh preman-preman itu, maafkan aku tidak langsung menolongmu karena aku yakin kau sanggup bertahan dalam keadaanmu, " ucap Aji.
Saat itu Ragil tidak langsung menjawab, dia merenung sejenak. Setelah beberapa saat barulah Ragil mengatakan bahwa dirinya mau ikut dengan Aji.
Itulah awal mula Ragil mengikuti Aji dimana Aji sendiri adalah salah satu dari para legenda.
Dalam diamnya Ragil dikejutkan oleh seseorang. Seketika itu Ragil langsung menoleh ke sisi kanan dimana Ragil merasakan kehadiran seseorang, dia melihat seorang gadis cantik berdiri dan memandangnya dengan teduh, seorang gadis yang selama ini mengisi hatinya walaupun ini adalah pertemuan pertemuan pertamanya. Gadis cantik itu bernama Ma Hua, bibi dari Anisa yang baru beberapa jam yang lalu menikah dengan Guntur.
Ragil yang melihat pujaan hatinya pun langsung tersenyum " Hua, " ucapnya.
Ma Hua yang mendengar itu juga tersenyum manis " Bolehkan aku duduk? " tanyanya.
" Ya, duduklah, " ucap Ragil sambil mempersilahkan Ma Hua duduk disampingnya walau ada jarak 1 meter dengannya.
Setelah Ma Hua duduk entah kenapa mereka dilanda perasaan canggung. Keduanya merasakan kebingungan ingin berkata apa dan melakukan apa. Bahkan sudah terlewat dari 15 menit pun masih saling diam. Detak jantung mereka berdetak kencang dan berkeringat.
Didalam hati Ragil terus menerus mengutuk dirinya sendiri karena perasaan canggung yang dia rasakan " Lebih baik aku bertemu dengan musuh daripada dilanda kecanggungan seperti ini, " gumamnya dalam hati.
Begitu juga dengan Ma Hua, dia juga merasakan hal yang sama, berhubung dirinya adalah seorang gadis yang kalem dan sedikit polos maka, dia hanya bisa menunggu penuh harap agar Ragil mengatakan sesuatu untuk memecah kecanggungan ini.
" Ma Hua, " ucap Ragil yang mencoba untuk mengatakan sesuatu kepada Ma Hua.
__ADS_1
Sontak Ma Hua langsung menoleh ke arah Ragil dan Ma Hua bisa melihat peluh Ragil yang terjatuh sebesar biji jagung.
" Bagaimana pe dapatmu tentang Guntur dan Anisa? " tanya Ragil.
" Mas, aku merasa mereka sangat bahagia walaupun aku tidak tahu banyak tentang Nisa karena sangatlah jarang pulang tapi aku sangat yakin jika Guntur akan membahagiakannya, " ucapnya sambil melihat lurus ke depan dimana bunga-bunga yang nampak mekar didepannya.
" Begitu ya, " ucap Ragil.
Tiba-tiba Ragil mendengar seseorang seperti suara Guntur mengatakan sesuatu di kepalanya " Astaga guru, kenapa lama sekali kau mengatakan jika kau juga ingin menikah dengannya. "
Sontak Ragil terkejut dengan itu, karena selama ini belum pernah terjadi kepadanya fenomena ini " Eh... Gu-Guntur? I-ini.... " tanya Ragil dengan cukup keras sampai-sampai Ma Hua terkejut mendengar dan melihat Ragil yang tampak aneh.
" Mas... Ada apa? " tanya Ma Hua heran.
" Eh... Ti-tidak, tidak apa-apa Hua, " ucap Ragil gelagapan.
Lalu suara Guntur terdengar kembali di pikirannya " Ahahaha, guru... Aku menggunakan telepati jadi tidak usah takut kalau bibi Hua akan mendengarnya dan guru cukup bicara dalam hati saja, ayo guru katakan yang sebenarnya jika guru ingin menikahi bibi Hua, " ucap Guntur dengan telepati.
" Sialan, sejak kapan kau bisa telepati? Bahkan sampai sekarang aku tidak pernah melihat bahwa ada orang yang bisa menggunakan telepati, " ucap Ragil dalam hati.
" Lah... Guru, sudahlah tidak usah tahu aku bisa telepati dari mana yang jelas cepat katakan kepada bibi Hua, keburu di sambar orang lain loh, " ucap Guntur.
Mendengar kata disambar orang lain sontak membuat Ragil berkeringat dingin dan takut. Itu dikarenakan dirinya sudah sangat mencintai Ma Hua dan sangat ingin menikah dengannya.
Sedangkan Ma Hua melihat gelagat aneh dari Ragil mengerutkan keningnya " Mas, kenapa sih? kok aneh begitu? " tanya Ma Hua penasaran.
" Ah... Tidak Hua, em... Hua, aku ingin mengatakan sesuatu yang serius kepadamu, " ucap Ragil dengan gugup.
" Em.... A-aku.... Ma-, " ucap Ragil yang benar-benar gugup sampai-sampai keringat sebesar biji jagung berjatuhan " Sialan, kenapa susah sekali mengatakan itu, " gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba Guntur dan Anisa yang sudah berada di samping mereka tanpa disadari oleh mereka pun mengatakan sesuatu yang membuat Ma Hua sangat terkejut begitu juga dengan Ragil.
" Bibi, guru Ragil sebenarnya ingin mengatakan maukah bibi Hua menikah dengannya? " ucap Guntur yang sedikit berteriak agar semua orang yang Guntur suruh mengikutinya ke tempat Ragil dan Ma Hua sedang mengobrol.
Guntur sebenarnya tahu jika Ragil dan Ma Hua memiliki hubungan percintaan. Guntur juga diberi tahu oleh Anisa tentang mereka. Oleh karena itu Guntur membawa semua orang untuk mengikutinya ke tempat yang sekarang mereka lihat itu.
Mendengar perkataan Guntur, sontak Ragil dan Ma Hua sangatlah terkejut. Anisa pun langsung berjalan menghampiri Ma Hua dan memeluknya sambil berkata " Itulah yang ingin kak Ragil katakan, jadi apakah bibi menerimanya? " ucapnya yang setelah itu melepaskan pelukannya kepada Ma Hua.
Ma Hua pun langsung menatap Ragil dan bertanya " Apakah itu benar mas? " tanyanya penasaran.
Ragil yang sudah ketahuan dan sangat malu karena rahasianya terbongkar di hadapan semua orang pun mengangguk " Benar Hua, ja-jadi, bagaimana? Apakah kau mau menikah denganku? " tanya Ragil penuh harap.
Seketika hati Ma Hua langsung lega setelah mendengar pertanyaan itu. Dengan mantap dan yakin, Ma Hua mengangguk " Aku mau mas, " ucapnya lalu melihat ke arah Ma Duan dan Ma Lin selaku ayah dan kakaknya. Sedangkan Ma Duan dan Ma Lin mengangguk sambil tersenyum pertanda bahwa mereka menyetujui dan merestui mereka.
Dengan Heboh semua orang berteriak bahagia " Sama musuh aja berani, masa' bilang gitu aja kok harus kami yang mengatakannya sih, " ucap Guntur mengejek.
Ragil yang mendengat itu pun semakin malu, apalagi semua orang yang ada di sana mendengar itu " Sialan kau, Guntur! " ucapnya sambil menahan malu.
Semua orang nampak sangat bahagia melihat itu sampai Aji mengatakan sesuatu yang membuat semuanya semakin bahagia " Kalau sudah begini, Ragil bersiaplah 100 hari dari sekarang acara pernikahanmu dengan Ma Hua akan dilaksanakan dan aku akan membuat acara pernikahanmu di padepokan, " ucapnya dengan senang.
Sebenarnya Aji ingin menikahkan mereka hari ini juga takut bila terjadi sesuatu kepada keduanya yang mungkin bisa membuat mereka malu tapi tentu saja hal itu tidak bisa dilakukan mengingat tidak diperbolehkan menikahkan dua pasangan yang masih dalam satu keluarga di waktu yang sama, minimal 40 hari setelahnya baru diperbolehkan. Meski begitu Aji tetap percaya kepada Ragil untuk tidak melakukan hal konyol yang bisa membuat dirinya dan keluarga malu.
" Eh, ba-bapak serius? " ucap Ragil yang terkejut mendengar keputusan dari Aji.
__ADS_1
" Apakah aku terlihat bercanda? " ucap Aji.
Ragil tidak menjawab pertanyaan dari Aji karena Aji selalu menepati janji dan apa yang sudah dia katakan maka akan terlaksana. Dengan begitu Ragil merasa sangat bersyukur dengan keadaanya selama ini. Selama Ragil ikut dengan Aji, Aji sangat memperhatikan dirinya bahkan Aji sendiri terkadang merasa tidak enak dengan Aji.
Begitu juga dengan Aji yang sudah menganggap Ragil itu anaknya sendiri. Aji tidak pernah memganggap Ragil itu pengikutnya, anak buah ataupun prlayannya. Bagi Aji Ragil adalah keluarganya, penganti putranya yaitu Panji ayah dari Guntur. Maka dari itu Aji dan Lastri sangat memperhatikannya.
Setelah sore hari rombongan keluarga Guntur pamit untuk kembali ke Batavia. Semula Ma Duan melarang mereka untuk kembali dan berharap untuk menginap, tetapi karena mereka adalah orang-orang yang cukup sibuk dan penting maka dari itu mau tidak mau Ma Duan melepas kepulangan mereka.
Guntur tidak ikut pulang ke Batavia, dan akan kembali ke Batavia tepatnya di padepokan pancanaka setelah tiga hari pernikahannya.
Guntur sengaja untuk itu karena beberapa hari lagi acara turnamen antar murid padepokan pancanaka akan diselenggarakan. Anisa juga demikian tidak mau melewatkan turnamen tabunan tersebut. Apalagi mendengar kabar jika murid terlemah di padepokan pancanaka lulus seleksi untuk mengikuti turnamen, maka Anisa sangat penasaran dengan itu.
Malam harinya tepatnya jam 9 malam suasana di kediaman keluarga Ma sudah nampak sepi. Orang-orang sudah banyak yang kembali di kamar mereka masing-masing karena merasa lelah mempersiapkan pesta pernikahan Anisa dengan Guntur.
Terlihat di kamar pengantin ada sepasang suami istri yang baru saja menikah itu duduk secara terpisah. Guntur duduk di bangku rias menghadap istrinya yaitu Anisa. Anisa duduk di pinggir ranjang menghadap ke arah suaminya yaitu Guntur.
Mereka sudah berganti pakaian mereka menjadi pakaian seperti biasa. Kedua insan itu hanya terduduk diam memikirkan langkah selanjutnya. Tidak ada suatu obrolan diantara mereka. Entah kenapa mereka sangat canggung dan malu satu sama lain.
Waktu terus berjalan hinga 1 jam mefeka tetap terdiam. Guntur merasa situasi itu membuatnya gugup, maka dari itu Guntur mencoba mencairkan situasi dan mulai berbicara dengan istrinya itu.
" Anisa... Ahh tidak... Mulai sekarang jika kita sedang berdua, aku akan memanggilmu.... ". ucap Guntur terpotong oleh Anisa yang menyela Guntur.
" Nisa, panggil aku Nisa, dan mulai sekarang aku akan memanggilmu mas, " ucap Anisa sambil menatap Guntur.
" Lah, kenapa? " tanya Guntur yang tadinya Guntur ingin memanggilnya adik.
" Aku suka jika kau memanggil namaku, aku tidak suka dipanggil yang aneh-aneh, " ucap Anisa.
Guntur langsung mengerutkan keningnya " Gadis aneh, tidak ada romantis-romantisnya, dasar tomboy, " gumamnya dalam hati.
" Hahhhhhh..... Baiklah Nisa, " ucap Guntur.
Setelah itu mereka diam sejenak, lalu Anisa mengatakan sesuatu kepada Guntur " Mas... Apa mas ingin melakukan itu sekarang? " tanyanya dengan ragu dan malu.
Sontak pikiran Guntur melayang jauh sampai kemana-mana, tapi segera Guntur tepis pikiran itu " Aku akan bertanya kepadamu, apakah kau sudah siap untuk melakukan itu? " tanyanya dengan lembut.
Anisa yang mendengar itu hanya terdiam tanpa menjawab sepatah katapun. Jujur, Anisa belum siap untuk melakukan itu, disamping itu, Anisa juga takut untuk melakukannya, kata mamanya yaitu Nada, melakukan hal itu untuk pertama kalinya itu sangatlah menyakitkan bahkan bisa sampai berhari-hari. Maka dari itu Anisa takut dengan hal itu dan merasa belum siap.
Guntur melihat Anisa terdiam pun tersenyum dan beranjak menghampiri Anisa. Sesampainya di deoan Anisa, Guntur langsung mencium kening Anisa dan berkata dengan lembut " Nisa, aku akan menunggu sampai kau siap, lagi pula aku tidak mau jika kau melakukannya dengan terpaksa dan berfikir yang tidak-tidak tentangku... Memang benar jika seorang istri menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan intim akan dilaknat 70 ribu malaikat dengan alasan yang tidak masuk akal dan suami tidak terima dengan itu tapi aku juga tidak mau jika kita melakukanya dalam keadaan kau belum siap dan ridho, maka aku akan merasa sangat berdosa memaksamu untuk melakukan itu, jadi aku akan menunggumu dengan ikhlas sampai kau benar-benar yakin dan siap, " jelas Guntur sambil tersenyum.
Mendengar itu semua hati Anisa sangatlah lega. Dengan begitu cinta Anisa kepada Guntur semakin tumbuh besar. Dengan menatap Guntur yang tersenyum tulus kepadanya, Anisa langsung memeluk Guntur dengan erat.
Beberapa saat kemudian Anisa melepaskan pelukannya dan berkata " Terima kasih mas, " ucapnya sambil menyeka air matanya.
" Iya... Sudah lebih baik kau istirahat aku akan tidur diluar saja, jujur aku juga lelah, hehehe, " ucap Guntur.
" Mas, apa mas tidak ingin melihat wajahku? " tanya Anisa.
" Kalaupun aku ingin tapi jika kau belum siap maka aku tidak akan memaksamu, aku percaya kepadamu Nisa, sudah sekarang istirahatlah, " ucap Guntur yang langsung mencium kening istrinya itu dan berjalan keluar dari kamar.
Anisa yang melihat kepergian suaminya tersebut hanya terdiam " Ya Allah terima kasih sudah menjodohkanku dengannya yang sangat pengertian dan memahami kondisiku, juga maafkanlah aku yang untuk saat ini aku belum siap untuk menjadi seorang istri yang seutuhnya, " gumam Anisa dalam hati.
Setelah itu Anisa langsung merebahkan tubuhnya. Tidak kama setelah itu Anisa sudah tertidur dengan pulas karena kelelahan.
__ADS_1