
Dimalam hari yang entah kenapa cuaca cukup panas, padahal masih di musim hujan. Langit yang terlihat mendung menutupi cahaya bulan yang menyinari gelapnya malam. Satu titik bintang pun tidak diberikan kesempatan untuk menghiasi malam yang gelap.
Guntur yang saat ini berada diteras depan gubuknya bersama dengan sang istri. Mengobrol berbagai hal, dari serius sampai hal lucu yang membuat mereka tertawa bersama.
Anisa yang masih memakai pakaian lengkap beserta cadarnya itu menyenderkan kepalanya di pundak kiri Guntur.
Anisa yang sudah mulai tidak canggung lagi dengan Guntur pun dengan setia menemani suaminya itu.
Guntur yang juga merasakan hal yang sama dengan istrinya itu juga mulai melingkarkan tangan kirinya ditubuh belakang Anisa. Pelukan hangat dari suaminya itu membuat Anisa merasa sangat nyaman dan tenang juga terlindungi.
Namun, tiba-tiba Guntur terdiam mematung yang awalnya bercerita. Anisa yang semula memejamkan matanya itu membuka kedua matanya dan menengok keatas.
Betapa terkejutnya Anisa melihat mata suaminya itu berubah menjadi putih. Anisa tahu jika suaminya itu merubah warna matanya pasti terjadi sesuatu.
Guntur yang merubah warna matanya itu dikarenakan dirinya merasakan aura seorang kajinan yang sangat kuat. Walaupun tahu aura itu jauh namun Guntur bisa untuk merasakannya.
Guntur langsung saja berdiri dari duduknya. Kedua tangan Guntur ia rentangkan lalu ia ayunkan ke depan.
Setelah melakukan itu, sebuah pola aksara yang cukup rumit berwarna putih kebiruan itu tercipta. Anisa hanya diam melihat suaminya itu namun dirinya juga sangat yakin jika terjadi sesuatu.
Dari pola aksara itu tiba-tiba muncul seorang gadis yang bahkan Anisa sendiri tidak kenal.
" Hamba siap tuanku..., " ucap gadis itu.
Anisa langsung saja mengerutkan keningnya melihat gadis itu yang tiba-tiba keluar dari pola aksara.
Gadis cantik yang memakai pakaian serba hitam dan memiliki rambut yang dikuncir kuda kebelakang. Terlebih, Anisa juga merasakan aura yang sama dengan suaminya dari diri gadis itu.
" Selidiki aura ini dan laporkan apapun apa yang terjadi, Yanci..., " ucap Guntur.
Setelah Guntur mengatakan itu, gadis yang muncul dari pola aksara yang bernama Yanci itu langsung mengangguk cepat lalu menghilang dengan cepat didepan Guntur dan Anisa.
Anisa bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai Guntur sangatlah tegang.
" Mas..., " ucap Anisa sambil memegang pundak kiri Guntur.
Guntur yang sudah merubah warna matanya menjadi seperti biasanya yaitu hitam kecoklatan itu menoleh kebelakang, tempat sang istri terduduk penasaran.
" Dia bernama Yanci, pola aksara itu adalah pola pemanggilan... Tenang saja, dia adalah salah satu boneka yang aku buat dan aku berikan energi dan auraku supaya terlihat hidup... Yanci memang sengaja aku buat khusus untuk menjadi seorang mata-mata, jadi kau tenang saja, " jelas Guntur sambil tersenyum lalu kembali duduk di samping kanan Anisa.
Anisa yang baru pertama kali melihat suaminya menggunakan aksara pemanggilan itu sangat takjub, apalagi yang dipanggil oleh suaminya itu berbentuk manusia yang terlihat sangat sempurna.
" Semoga saja dia segera kembali dengan informasi biasa... Tapi, aku merasa jika itu tidak mungkin terjadi... Kau juga merasakannya kan, Nisa? " tanya Guntur.
Anisa hanya mengangguk. Sebagai seorang jawara sempurna yang kuat, apalagi menjadi bagian dari Guntur, tentu Anisa dapat merasakan apa yang suaminya itu rasakan. Terlebih, ikatan mereka yang sudah dalam.
***
Disebuah tempat yang cukup jauh dari kota Batavia tempat padepokan pancanaka itu berdiri. Terlihat di puncak bukit di daerah Pandeglang, terlihat seorang seorang laki-laki paruh baya sedang melakukan ritual dan bersemedi.
Orang tersebut adalah Winga, Sang Dukun legendaris. Dia melakukan ritual dan semedi untuk memanggil seseorang dari bangsa lain yang juga sangat kuat.
Tujuh tumbal manusia tergeletak mengering tak bernyawa karena energi kehidupan mereka sudah dihisap oleh sosok yang dimaksudkan oleh Sang Dukun untuk ritual pemanggilan.
__ADS_1
Secara berlahan muncul suatu pola rajah berwarna hitam kemerahan mengelilingi para tumbal. Pola rajah itu semakin lama semakin nampak dengan jelas dan juga membesar.
Setelah pola rajah itu telah sempurna tiba-tiba dari dalam tanah, muncul satu sosok jin yang begitu luar biasa kuat.
" Gggrrraaaaahahahahahahaha.... "
Suara tawa yang menggelegar itu terdengar. Membuat merinding dan takut siapapun yang mendengarnya.
Aura dan tekanan membuat atmosfir di bukit itu tertekan dengan kuat, satwa-satwa berlari tunggang-langgang meninggalkan bukit itu secara serempak.
Sepi, hening, senyap itulah suasana di bukit itu saat ini.
" Winga... "
Sang Dukun yang mendengar dirinya dipanggil oleh sosok itu langsung menunduk patuh kepada makhluk itu.
" Tuanku..., "
Sosok itu bukanlah sosok biasa, namun sosok yang dipanggil oleh Sang Dukun adalah salah satu dari raja terkuat di alam jin.
Sang Raja Angkara, Dasamuka....
" Apa yang kau butuhkan, Winga? " tanya Dasamuka dengan suara yang terdengar berat, serak, menggelegar dan juga penuh dengan intimidasi.
Winga yang mendengar itu langsung mengatakan maksud dari semuanya.
" Tuanku... Aku sangat membutuhkan kekuatan untuk dapat menyatukan semua kajinan yang ada di bumi nusantara ini..., " ucap Winga yang sedikit gemetar dengan Dasamuka.
" Tuanku... Aku ingin menyatukan semua kajinan untuk melawan musuh lamaku..., " ucap Winga penuh tekad dan dendam.
Dasamuka yang melihat Winga yang dipenuhi tekad dan juga dendam tersenyum sampai taring miliknya terlihat dengan jelas.
" Apakah maksudmu para legenda itu? " tanya Dasamuka penasaran.
" Benar tuanku... Aku sudah berhasil membunuh salah satunya dengan racun saat bersekongkol dengan para penjajah... Tuanku... Sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih sudah memberikan racun itu untuk melawan mereka walaupun hanya salah satu dari mereka saja yang berhasil aku racuni namun itu sudah cukup untuk melemahkan tim mereka..., " jelas Winga.
" Wuahahahha... Racun Pagering nDalu bukanlah sembarang racun... Mereka tidak akan bisa mendeteksi racun itu bagaimanapun caranya karena racun itu akan menyatu dengan cidera korbannya dan merambat kedalam tubuh dengan sangat lambat namun itu sangatlah efektif... Kau memang pengikutku yang paling cerdik dan sangat setia Winga... Wuahahahha..., " ucap Dasamuka.
" Terima kasih tuanku, " ucap Winga.
" Wahahaha... Baiklah aku akan membantumu... Aku akan menyalurkan energiku ke dalam mereka supaya terlihat hidup... Mereka akan sama selayaknya manusia namun memiliki kekuatanku dan memiliki kepribadian mereka masing-masing... Tapi ingat Winga, dengan begitu kau akan memberikanku lebih banyak tumbal lagi dan juga jika kau ingin mereka bertambah kuat maka berikan mereka tumbal seorang jawara atau aksara... Semakin kuat tumbal itu untuk mereka maka akan semakin kuat pula mereka, " ucap Dasamuka.
Winga yang mengerti langsung mengangguk senang.
" Terima kasih tuanku, "
***
" Pak... "
Ragil yang saat ini sedang berada di kediaman Aji Samudra untuk membahas masalah Sang Dukun, Winga.
Nampak mereka Ragil, Aji dan juga Lastri sedang duduk di ruang tamu membahas masalah itu.
__ADS_1
Mereka yang semua hanya berbincang-bincang saja tiba-tiba menjadi terdiam karena merasakan aura seorang kajinan yang sangat tipis dan samar namun memiliki tekanan yang sangat kuat. Mereka tahu kalau aura ini adalah aura dari Sang Dukun karena mereka pernah bertemu bahkan bertarung melawannya dulu, kecuali Ragil.
" Aku tahu Ragil... Tapi kita tidak bisa untuk bertindak gegabah... Winga adalah seorang kajinan yang sangat kuat, " ucap Aji dengan serius.
" Ragil, lebih baik kau kirimkan bayanganmu untuk mengecek kesana... Aku merasa ada yang tidak beres dengannya, " ucap Lastri.
Ragil yang mendengar itu langsung mengangguk. Lalu membagi dirinya menjadi dua. Ragil menggunakan jurus Pembelah Raga Sukma-nya untuk membagi dirinya.
Kini didepan Aji dan Lastri nampak dua Ragil. Mereka berdua sangatlah mirip bahkan kekuatan mereka sama. Jurus Pembelah Raga Sukma adalah jurus langka yang sangat melegenda. Dalam catatan sejarah, jurus itu adalah jurus dari seorang senopati disuatu kerajaan. Jurus yang bisa membagi diri pemilik jurus bahkan jika pemiliknya sudah mencapai tingkatan sempurna, pemilik bisa membagi dirinya menjadi 9 orang dengan kepribadian yang berbeda satu sama lain.
Ragil yang sudah mencapai kesempurnaan itu hanya mampu membagi dirinya menjadi 7 orang. Namun hal itu sudah bisa dikatakan bahwa Ragil adalah sosok yang sangat-sangat kuat. Walaupun jika dibandingkan dengan Aji dan lastri, tentu masih terpaut jauh. Apalagi Aji yang sudah menembus batasan seorang jawara menjadi seorang kanuragan.
Setelah Ragil membagi dirinya menjadi dua, Ragil segera memerintahkan kembarannya untuk melihat apa yang terjadi kepada Winga, namun kembaran Ragil yang memang memiliki kepribadian yang berbeda itu malas untuk melakukannya.
" Ragul... Kali ini aku meminta bantuanmu untuk---" ucap Ragil terpotong oleh Ragul.
" Tidak.... Apa kau ingin aku mati konyol? Kau tahu, bajingan itu memiliki kekuatan yang setara dengan orang tua itu? " tanya Ragul sambil menunjuk Aji yang sedang menatap Mereka berdua.
Sontak kejadian ini membuat Ragil murka dengan Ragul, kembarannya. Namun tiba-tiba Ragul mendengar seseorang mengatakan sesuatu didalam kepalanya.
Ragul yang mendengar itu langsung menggigil hebat dan juga ketakutan.
" Lakukan apa yang guru Ragil perintahkan, jangan buat kita yang berjalan di jalan kebenaran terinjak oleh mereka yang berjalan di jalan gelap... Atau aku sendiri yang akan mengutus seseorang untuk memusnahkanmu, tenang saja kau tidak sendiri karena aku juga sudah mengutus seseorang untuk membantumu mencari informasi tentang orang itu, " ucap orang itu.
Ragil yang melihat Ragul menggigil ketakutan langsung meredakan amarahnya dan keheranan.
" Ragul..., " tanya Aji penasaran.
Ragul yang mendengar itu langsung mengatakan apa yang sedang dialaminya sampai membuatnya ketakutan.
" O-orang itu... Di-dia mengancamku untuk segera menyelidiki bajingan Winga, ji-jika tidak, dia akan me-mengutus seseorang untuk memusnahkanku..., "
Aji, Lastri dan juga Ragil sangat terkejut mendengar penjelasan dari Ragul. Mereka tahu bahwa orang yang bisa melakukan telepati hanya Guntur. Namun disamping itu, mereka juga terkejut kalau Guntur akan mengatakan suatu ancaman untuk Ragul jika tidak melakukannya.
" Aku rasa dia sangat serius dengan ini, tidak mungkin dia sampai mengancam Ragul sampai seperti ini, " ucap Lastri dengan serius.
" Baiklah Ragul, cepat kau berangkat jangan sampai ancaman itu datang kepadamu, jika itu terjadi aku sendiri tidak bisa untuk melindungimu..., " ucap Ragil dengan serius.
Ragul langsung mengangguk dengan cepat lalu melesat dengan sangat cepat keluar dari rumah Aji.
Aji yang melihat itu menghela nafas panjang lalu berkata...
" Kita tunggu dia kembali untuk membawa informasi dari Sang Dukun... Aku berharap tidak akan terjadi apa-apa dikemudian hari."
Lastri dan juga Ragil hanya mengangguk setuju dengan itu. Lalu Ragil segera pamit untuk kembali ke padepokan dengan segera.
Setelah kepergian Ragil, Aji langsung menyenderkan tubuhnya di senderan kursi sofa.
" Namun entah kenapa aku merasa perang akan terjadi walaupun aku tidak tahu itu kapan, " ucap Aji sambil memejamkan matanya.
" Kita hanya bisa berdoa agar semua berjalan baik-baik saja tanpa adanya perang, tapi jika hal itu tetap terjadi kita juga tidak bisa untuk berdiam diri saja... Mulai sekarang kita harus bertindak, jangan sampai Winga membuat sesuatu lebih jauh lagi, " ucap lastri dengan penuh tekat.
" Aku mengerti nyimas... "
__ADS_1