
Turnamen segera dilanjutkan dengan meriah walaupun matahari menyinari bumi dengan sangat terik, tapi tidak menjadi halangan terhadap para peserta maupun penonton.
Terlihat layar besar mengacak nama peserta. Setelah berhenti mengacak, terlihat dua nama peserta yang akan bertarung.
" YUNI VS ALGI
Keriuhan segera terdengar di segala penjuru arena. Dimana salah satu jagoan mereka akan bertarung. Yuni, seorang gadis cantik yang pernah berbicara dengan Guntur beberapa minggu yang lalu. Dia adalah wanita satu-satunya yang berhasil memperoleh peringkat 10 teratas. Saat ini, dirinya pemegang peringkat 3 teratas.
Sedangkan lawannya, Algi. Seorang laki-laki muda yang cukup tampan yang saat ini berhasil memegang peringkat 5 teratas.
Keduanya akhirnya bertarung cukup sengit diatas arena. Dalam beberapa menit saja, mereka sudah bertukar berbagai jurus.
Sorak-sorai penonton begitu membahana. Tapi disemua penonton yang berteriak ramai, ada seseorang yang nampak diam diantara mereka. Siapa lagi kalau bukan Guntur.
Guntur teringat dengan gadis cantik yang bernama Yuni tersebut. Sambil terus memperhatikan mereka bertarung.
Lalu setelah beberapa saat kemudian, pertarungan mereka pun selesai yang dimenangkan oleh Yuni.
Waktu terus berlanjut. Semua peserta telah bertarung dengan baik dan seru. Nampak di layar besar itu nama-nama peserta yang berhasil masuk ke babak seperempat final atau 8 besar. Mereka adalah...
- RIDWAN
- UMAR
- YUNI
- SINGGIH
- CRISTIAN
- AYU
- DANANG
- JULIAN
Itulah nama-nama yang akan melanjutkan pertarungan di atas arena untuk memperebutkan juara turnamen padepokan pancanaka.
Selama jeda istirahat yang telah ditentukan oleh wasit yaitu 15 menit. Mereka gunakan dengan beristirahat dan juga mengatur stamina mereka. Bahkan mereka juga ada yang telah mempunyai strategi apa saja untuk bisa memenangkan babak selanjutnya.
Ridwan dan juga Umar, mereka berdua hanya terdiam tanpa bersuara. Tidak seperti peserta lain, mereka berdua tengah sibuk dengan pemikiran mereka. Mereka semua tahu akan kelebihan dan kekurangan masing-masing peserta, namun mereka semua tidak tahu akan kelebihan dan kekurangan Ridwan.
Itulah keuntungan Ridwan. Dengan ketidak tahuan mereka, Ridwan dapat memanfaatkan situasi itu untuk tahap selanjutnya. Apalagi kemenangan Ridwan di babak sebelumnya bisa dikatakan tidak memiliki kekurangan.
Ridwan juga tahu apa kelebihan dan kekurangan semua peserta yang lolos ke babak selanjutnya. Itu karena dulu Ridwan sering pergi ke arena untuk melihat pertarungan peringkat.
Dari situlah Ridwan memahami kekurangan dan kelebihan mereka. Walaupun untuk Umar yang jarang sekali bertarung di arena karena jarang ada yang menantangnya tapi Ridwan pernah melihat pertarungannya dengan Singgih yang mana peringkat ke 2 teratas.
Mereka bertarung dengan sengit tapi tidak lama mereka bertarung karena Singgih kalah dalam hal kecepatan oleh Umar.
Jika dibandingkan dengan si kilat kuning, kecepatan Umar sama dengan dia. Itu dikarenakan elemen mereka yang mana angin dan petir yang terkenal dengan kecepatan diatas rata-rata.
Ridwan teringat saat melawan si kilat kuning. Dia bahkan mampu untuk melihat kecepatan serangan dan gerakannya, bahkan bisa dibilang lambat jika dibandingkan dengan dirinya.
Bisa disimpulkan jika kecepatan si kilat kuning yang terlihat lambat dimata Ridwan tapi berbeda dengan Umar yang mana jauh lebih kuat dari pada si kilat kuning.
Ridwan yakin jika Umar sebenarnya memiliki kecepatan jauh diatas itu, apalagi jurus-jurusnya yang bisa dibilang jurus yang sulit untuk dipelajari bagi mereka yang mempunyai elemen yang sama, namun Umar bisa untuk menguasai jurus-jurus itu dengan sempurna.
Sementara Umar sendiri juga memikirkan hal yang sama dengan Ridwan.
Entah kenapa Umar merasa jika Ridwan adalah sosok yang sulit untuk ditakhlukkan. Bagaimana tidak, murid terlemah di padepokan mendadak menjadi kuat dan berhasil ikut turnamen. Padahal, seleksi untuk ikut dalam turnamen itu sangat ketat dan juga berat, tapi Ridwan berhasil lolos. Di samping itu, Ridwan sangat terkenal dengan sebutan si mata kepiting karena cengeng. Bahkan dulu, Ridwan sering sekali menjadi bulan-bulanan murid-murid di padepokan.
Menangis? Itulah Ridwan dulu. Bahkan dulu juga pernah ada kasus dimana murid wanita mempermainkan Ridwan dengan menjadikannya seorang pesuruh dan jika tidak mau melakukannya maka murid wanita itu akan memukuli Ridwan sampai babak belur. Mau tidak mau Ridwan melakukannya walaupun dengan menangis. Umar jelas tahu akan hal itu dan semua tentang Ridwan.
Umar pun sengaja untuk tidak peduli dengannya tapi entah kenapa dia tidak tega dan langsung memberitahu kepada seorang guru melalui telepon. Umar sengaja tidak menemui guru itu secara langsung karena dia merasa itu tidak perlu dan guru tersebut mengerti apa maksud Umar.
Tidak lama setelah itu, murid wanita itu diberi hukuman oleh gurunya dan tidak lagi mengulanginya lagi.
Saat ini, Umar tampak serius memikirkan babak selanjutnya. Umar sangat ingin segera berhadapan dengan Ridwan tapi tentu saja tidak mungkin kecuali acakan pada layar besar itu menunjukkan nama mereka.
Mengulang saat pertarungannya dengan si kilat kuning itu, Umar sebenarnya sangat terkejut dengan itu. Tapi itu sudah membuktikan bahwasanya Ridwan yang sekarang sangatlah kuat walaupun Umar sendiri tidak tahu sekuat apa dirinya.
Seorang jawara pintu ke 4 sanggup melakukan hal itu tentu membuat banyak sekali pertanyaan.
Saat mereka sedang berkutat dengan itu tiba-tiba sebuah suara bel berbunyi yang menandakan pertandingan babak selanjutnya segera dimulai.
[ DING ]
Sebuah layar besar itu mulai mengacak dua nama secara cepat lalu berhenti menampilkan dua nama yang akan bertanding selanjutnya dan nama tersebut adalah...
RIDWAN VS DANANG
Segera mereka berjalan ke arena dengan penuh semangat, apalagi Danang yang sedari awal sangat ingin bertarung dengan Ridwan.
__ADS_1
Para penonton pun sangat bersemangat dan bersorak menyambut mereka dan tidak sabar untuk melihat pertarungan mereka.
Setelah mereka sampai di tengah arena dan saling berhadapan, wasit pun memberitahukan peraturan pertandingan seperti biasa.
" ...... MULAI! "
Segera mereka mengambil jarak beberapa meter kebelakang.
Setelah itu Ridwan menancapkan tombaknya diatas arena untuk tetap berdiri.
Danang pun segera mengambil posisi untuk melakukan kuda-kudanya. Lalu menatap Ridwan dengan tajam.
" Akhirnya, aku bisa bertarung melawanmu Ridwan! " ucapnya sambil tersenyum.
Ridwan yang mendengar itu menggelengkan kepalanya " Tidak usah berlebihan Danang, " ucapnya.
Keduanya melempar senyum misterius, lalu Danang pun segera menggunakan jurusnya.
" Tapak Wesi : Hantaman Kematian "
Setelah itu, Danang segera melesat ke arah Ridwan yang juga melakukan kuda-kudanya.
" Tapak Geni : Tangan Api "
Segera Ridwan juga melesat ke arah Danang. Keduanya saling menukar jurus tinju mereka dengan sengit.
Debu-debu pun kembali beterbangan di atas arena. Kecepatan dan kekuatan mereka terlihat seimbang namun mereka belum menggunakan kekuatan penuh mereka. Ridwan sendiri hanya menggunakan 5% dari kekuatannya untuk melawan Danang.
Danang yang menyandang julukan Si Tameng Gajah itu mengerutkan keningnya melihat ketenangan Ridwan dalam bertarung melawannya, seolah olah hanya bermain-main saja.
Dia juga merasa jika kekuatan Ridwan sangat kuat, itu terbukti dengan merasakan pukulannya walaupun berhasil dia tangkis dan tahan.
" Entah kenapa aku merasakan jika Ridwan hanya main-main saja dan aku juga merasakan setiap pukulannya seperti memiliki daya puluhan kilo, " gumam Danang dalam hati.
Disaat Danang memikirkan itu, tanpa sengaja Danang membuat kesalahan yaitu sedikit linglung walaupun hanya satu detik saja.
Disitulah Ridwan melancarkan pukulannya dan berhasil mengenai dada kanan milik Danang.
" Duagh... Ugh... "
Seketika, Danang mundur beberapa langkah dan merasakan sedikit nyeri pada dada kanannya. Sedangkan Ridwan yang masih dalam ketenangannya itu berdiri dengan tenang sambil menatap Danang dengan senyuman.
" Ahh... Maaf... Maaf... Aku sedikit kelepasan... Tapi... Kau cukup kuat sanggup menahan pukulanku dan kau tidak apa-apa... Memanglah kau pantas mendapat julukan Si Tameng Gajah, " ucap Ridwan.
" Kau juga sangat kuat Ridwan... Tapi, kau tidak akan bisa mengalahkanku, " ucap Danang penuh percaya diri.
" Aku harus menyimpan tenaga dan energiku untuk babak selanjutnya tapi dia memang akan sangat merepotkan jika sudah menggunakan jurus andalannya yaitu Tameng Gajah, apalagi jurus itu sudah dia kuasai dengan sempurna... Hm... Hanya ada satu cara untuk mengalahkannya dengan cepat... Ya, hanya jurus itu yang bisa mengalahkannya mengingat jurus Tameng Gajah membuat empunya tidak memiliki celah kecuali...., " gumam Ridwan yang seperti mendapatkan pencerahan atas masalahnya.
Pencerahan itu dia dapatkan dari cerita tokoh pewayangan yaitu gugurnya Sengkuni pada lakon wayang Baratayudha Binangun.
" Hoo... Benarkah? " ucap Ridwan sambil tersenyum.
Sorakan-sorakan penonton terdengar sangat riuh dan ramai sedari tadi. Namun itu tidak membuat konsentrasi para peserta itu goyah, yang ada malah semakin bersemangat.
Guntur yang duduk dengan tenang menyadari jika Ridwan telah menemukan celah dari si Tameng Gajah. Sambil tersenyum, Guntur bergumam.
" Jurus terlarang akan segera dikerahkan... Hehehe, " gumamnya dalam hati.
Tidak lama setelah itu, ditengah arena Ridwan tiba-tiba menghilang dari semua mata.
Tentu hal itu membuat semua orang sangat terkejut melihatnya. Terlebih semua orang di tribun khusus dan ruang istirahat untuk peserta.
Semua peserta yang masih tersisa sangat terkejut melihat Ridwan tiba-tiba menghilang itu kebingungan. Akan tetapi tidak dengan Umar, Umar seketika tersenyum melihat Ridwan yang menghilang secara tiba-tiba.
" Sungguh kecepatan yang menakjubkan... Tapi aku merasa semua itu belum maksimal karena aku melihat Ridwan hanya seperti bermain-main saja bertarung melawan Danang, si Tameng Gajah, " gumam Umar dalam hati.
Sebenarnya Ridwan tidak bisa menghilang seperti Alisa saat melawan para kajinan tapi Ridwan melesat dengan sangat cepat sampai-sampai terlihat seperti menghilang.
Hanya satu detik Ridwan yang nampak menghilang itu kembali terlihat secara tiba-tiba dibelakang Danang yang tengah panik melihat Ridwan yang menghilang.
Dalam kepanikan itu Danang benar-benar kehilangan konsentrasinya. Disaat Ridwan telah terlihat kembali yang posisinya tepat di belakangnya. Danang merasakan suatu yang sangat membahayakan dirinya. Sontak, Danang langsung mengeluarkan jurus andalannya. Namun belum juga menyelesaikan jurusnya, Ridwan sudah lebih dulu menggunakan jurusnya.
" Tameng Ga-- "
" Penderitaan Seribu Tahun "
Seketika kedua telapak tangan Ridwan mengepal menjadi satu dan hanya menyisakan kedua jari telunjuk dan tengahnya yang sudah dia rapatkan dan sedikit memberikan tenaga dalamnya. Posisi kuda-kuda dari jurus itu sudah sempurna. Posisi kaki kanan menekuk ke depan sedikit merendah kebawah sedangkan kaki kiri terjulur kebelakang sedikit merendah ke bawah.
Dengan cepat Ridwan melancarkan serangan jurusnya itu kepada Danang yang mana posisinya sudah sangat tepat untuk jurus penderitaan seribu tahun. Dimana posisi lawan sedikit berjongkok ke awah.
" SINGKEEEKKKK..... "
" WUUSSHH... SSUUUUTTT.... JLEBB... "
__ADS_1
Jurus yang sangat berbahaya itu telah menancap tepat sasaran yakni pada medhi chantaka milik Danang.
Seketika semua orang terdiam dan arena menjadi sangat hening. Bahkan Ragil yang menjadi wasit itu pun langsung menepuk kepalanya sendiri dan menahan tawanya.
Danang yang telah menjadi korban dari jurus terlarang ciptaan Guntur itupun memperlihatkan raut wajah yang sulit dimengerti. Seluruh wajahnya langsung merah padam menahan sesuatu yang sangat memalukan dan menyakitkan serta keringatnya juga langsung berjatuhan.
Lalu, beberapa detik kemudian....
" JIIIIAAAANNNN CCOOOOKKKK "
Teriak Danang dengan histeris sambil terpental beberapa meter kedepan.
" AAAAAAAAASSSSUUUUUUWWWW "
Danang yang tengah terlempar itu pun akhirnya terjatuh diatas arena. Ia pun langsung berguling-guling sambil terus berteriak histeris karena merasakan sakit yang luar biasa pada medhi chantaka miliknya.
" Aaaaaa.... Sakiiiiittt.... Ccoooookkk "
Terus berteriak kesakitan. Sedangkan Ridwan tertawa terbahak-bahak diatas arena.
" Wahahahaha.... Duh sakit perutku.... Hahahaha.... Danang... Apa kau mau lagi? Wahahahaha.... "
Danang yang mendengar itu pun langsung menepuk-nepuk arena dengan keras.
" Tidaaaakkkk.... AKU MENYERAAAAAHHHH! Aaaaaaaa, " teriaknya histeris.
Seketika pecah sudah teriakan para penonton dengan tawa mereka, bahkan Guntur sendiri pun ikut tertawa terpinkal-pinkal melihat kejadian itu.
Wasit yang melihat dan mendengar itu langsung melompat ke tengah arena dan mengumumkan pemenangnya sambil menahan tawa.
" Ppfft.... Aha.... Pe-pemenangnya.. Ridwan.... Pertandingan selanjutnya akan diteruskan 5 menit dari sekarang! " teriak Wasit.
Ridwan yang telah berhasil maju ke babak semifinal itu pun berjalan ke arah tombaknya yang sebelumnya ia tancapkan di atas arena untuk mencabut dan membawanya kembali.
Setelah itu barulah Ridwan berjalan turun dari arena dengan perlahan.
" Ya ampun... Sepertinya aku harus segera mandi junub setelah sampai di ruang istirahat, aahhh... Tanganku sudah ternodai! " gumam Ridwan dengan konyol sambil melihat kedua tangannya.
Nampak tim medis juga langsung bertindak setelah pertandingan selesai dan segera membawa Danang ke rumah sakit yang nampak masih sangat kesakitan.
Di samping itu di tribun khusus begitu heboh dan ramai. Semua orang yang berada disana tertawa terpingkal-pingkal.
" Wuaahahahahhaaa..... Haduh perutku sakit... Bfff ahahahahaha..... "
" Asuuwww... Wahahahahaha.... Kelakuaaann... Wahahahaha..... "
" Duuuhh.... Aku tidak bisa berhenti tertawa.... Wahahahhaa.... "
" I-itu jurus yang menakjubkan.... Hahahahaa.... "
Lastri yang melihat jurus Ridwan itu menggelengkan kepalanya " Jurus yang mengerikan, " ucapnya.
Sedangkan Anisa sampai menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
" Memalukan "
Nampak juga keluarga Danang yang mana mempunyai sebuah perguruan yang bernama Perisai Gadjah. Perguruan Perisai Gadjah terkenal dengan pertahanannya yang sangat kuat bahkan para sesepuh padepokan atau perguruan lain pun sangat kerepotan menembus pertahanan mereka.
Purnomo yang mana pemimpin dari perguruan itu melihat anaknya kalah dengan cara seperti itu sangat malu dengan semua orang. Begitu juga Yatmi, istrinya atau ibu dari Danang.
" Astaga... Sangat memalukan, " ucap Purnomo yang sangat malu.
" Tapi memang benar mas, jurus kita memang sangat kuat tapi entah kenapa aku baru menyadari jika ada kelemahannya dan itu... Aahhh.... Aku sangat malu, " ucap Yatmi sambil menutup mukanya dengan telapak tangannya.
Keluarga Ridwan yang tengah ketakutan dan tegang akan masalahnya dengan padepokan pancanaka dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh Ridwan.
Bagaimana tidak tertawa dengan kelakuannya yang sangat lucu sekaligus mengerikan. Jurus yang belum pernah ada di bumi nusantara bahkan di dunia ini.
" Wahahaha... Perutku sakit ahahahaha.... "
" Anak bodoh itu... "
" Tapi jurus itu sangat mengerikan... Pasti Danang merasakan sakit yang sangat luar biasa pada medhi chantaka miliknya... Astaga. "
Sementara itu di ruang istirahat pun tidak kalah heboh dengan apa yang dilakukan Ridwan kepada Danang.
Mereka tertawa sampai sakit perut. Tapi berbeda dengan para wanita. Mereka justru sangat malu dan merasa jika apa yang dilakukan Ridwan itu sangat memalukan.
" Mesum "
Itulah yang ada di pikiran mereka. Umar yang melihat itu pun ikut tertawa.
" Buangkeeee.... Untung bukan aku yang dia sodok begitu.... Hiiiiii, " gumam Umar dalam hati.
__ADS_1