Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Turnamen : Ridwan vs Rahmat


__ADS_3

Setelah pertarungan antara hidup dan mati yang dilakukan Alisa melawan para kajinan, kini di padepokan pancanaka tengah dimulai kembali turnamen yang diselenggarakan setiap tahunnya.


Keriuhan sorak-sorai, kegembiraan dan semangat bisa terlihat pada semua penonton. Mereka tidak sabar melihat pertarungan jagoan mereka di atas arena.


Momen turnamen yang mereka tunggu-tunggu pun dimulai. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Padahal mereka beberapa waktu lalu dilanda ketakutan, putus asa, kemarahan, iba semua bercampur aduk dalam perasaan mereka. Dengan dimulainya kembali acara turnamen kali ini, bisa membuat suatu obat penghibur di hati mereka.


Kini terlihat Ridwan dan Rahmat berdiri dengan tegang. Mereka belum menunjukkan pergerakan sama sekali. Diam mematung dan saling tatap antar keduanya seolah olah mereka sedang bertarung secara spiritual.


Guntur yang melihat itu menggelengkan kepalanya " saling menunggu siapa yang memulai ya... Hehehe jika Rahmat menunggu Ridwan seperti itu maka tidak akan sanggup, Ridwan bahkan bisa tidur dalam keadaan seperti itu walaupun dengan mata terbuka sekalipun, " gumamnya.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Guntur bahwasanya Ridwan memiliki keunikan tersendiri untuk masalah tidur. Entah itu bawaan lahir atau tidak Guntur tidak tahu tapi yang jelas Ridwan sanggup melakukan itu. Hal unik lainnya dalam tidur adalah Ridwan bisa untuk mengetahui apa saja selama dia tidur dengan posisi seperti itu.


Setelah beberapa saat, Rahmat yang sudah bosan dengan saling tatap menggerakkan kedua tangannya. Niat Rahmat adalah memulai pergerakan dan serangan terhadap lawannya yaitu Ridwan.


" Sialan... Aku akan memulainya, " gumam Rahmat dalam hati.


Sebenarnya mereka saling tatap bukan berarti apa-apa tapi keduanya saling menunggu siapa yang akan menyerang duluan. Itu juga termasuk strategi dalam bertarung. Siapa yang duluan menyerang maka gerakan mereka sanggup ditebak bagi mereka yang lebih unggul dari yang menyerang.


Karena Rahmat sudah tidak sabar maka dia mengambil kuda-kuda sedangkan Ridwan masih dalam diamnya.


Lalu setelah itu Rahmat segera melancarkan serangan kepada Ridwan. Sedangkan Ridwan masih berdiri tidak bergerak sedikitpun.


Serangan Rahmat yaitu sebuah jurus yang membuat penggunanya sanggup memiliki kecepatan sebuah kilat.


" Langkah Kilat, " gumam Rahmat yang memiliki elemen petir pada dirinya.


Seketika Rahmat dengan cepat melesat dan hanya terlihat sebuah kilat yang siap menyambar lawannya yaitu Ridwan.


Akan tetapi, Ridwan masih saja berdiam diri dengan tenang sambil bertumpu pada tombaknya yang dia pegang dengan tangan kanannya.


Kilat yang sebenarnya adalah Rahmat itu langsung menuju ke arah Ridwan dengan sangat cepat.

__ADS_1


Namun saat jarak Rahmat tinggal 1 meter saja didepan Ridwan. Tiba-tiba Rahmat melihat sebuah kaki yang terjulur didepan mukanya lalu dia seperti menabrak sebuah dinding beton yang sangat kuat dan kokoh.


" ehh... "


" Buaaaggghhh.... Uuugghh.... "


Ridwan berdiam diri itu sebenarnya dapat melihat pergerakan dan juga memperhatikan gerakan dari lawannya yaitu Rahmat yang terkenal dengan julukan si Kilat Kuning karena kilat yang ditampilkannya selalu berwarna kuning bahkan warna rambutnya sekalipun dia cat kuning.


" Lambat, " gumam Ridwan pelan.


Setelah jaraknya berada dalam jangkauannya yaitu 1 meter, Ridwan segera mengangkat kaki kanannya untuk menghentikan Rahmat.


Benar saja dengan jarak 1 meter yang mana berada dalam jangkauan kaki kanan Ridwan, muka Rahmat pun langsung mengenai kaki kanan Ridwan tersebut sampai-sampai langkahnya terhenti.


Seketika Rahmat pun dibuat linglung dan sakit dibagian mukanya, setelah itu sebelum dirinya tersungkur, tiba-tiba Rahmat merasakan sebuah tendangan langsung mengenai muka bagian kirinya dengan telak.


" Bruaagghh... "


Semua kejadian itu sangatlah cepat. Sengaja Ridwan melakukan itu supaya mempersingkat waktu. Sampai-sampai semua penonton pun terdiam karena terkejut dengan kejadian itu.


Orang-orang di tribun khusus pun juga terdiam. Mereka tidak menyangka apa yang mereka lihat. Terlebih Aji, Lastri dan juga Anisa yang berdiri dibelakang Lastri, mereka terpaku terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Ridwan.


" Ba-bagaimana mungkin murid terlemah di padepokan bisa melakukan itu? " tanya Lastri yang masih menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Aji yang sudah tahu akan kekuatan Ridwan tapi tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Ridwan sekarang.


" Aku tahu jika Ridwan bukan lagi seperti dulu, murid terlemah di padepokan tapi aku juga tidak menyangka jika dia sekuat ini dan melakukan sesuatu diluar pemikiranku, " ucap Aji.


Anisa yang melihat itu pun juga terkejut lalu dia melihat ke arah suaminya yang tersenyum puas dengan apa yang Ridwan lakukan.


Anisa juga mengetahui akan pemberat tubuh yang dipakai oleh Ridwan karena sudah diberitahu semuanya tentang Ridwan oleh suaminya itu saat perjalanan kembali ke padepokan paska pernikahan mereka.

__ADS_1


" Dengan berat 200kg, pantas saja Ridwan seperti sebuah tembok beton yang sangat kokoh... Mana ada murid di padepokan ini yang sanggup membawa disetiap detiknya jika bukan Ridwan... Bahkan murid-murid peringkat atas sekalipun, " gumam Anisa dalam hati.


Sedangkan untuk sesepuh Tamrin dan sesepuh Werang, mereka tidak berkomentar apa-apa melainkan menatap Ridwan dengan mata yang berbinar-binar. Mereka sangat tertarik dengan Ridwan dan ingin menjadikannya murid keduanya tapi hal itu tidak bisa dilakukan karena Ridwan adalah murid padepokan pancanaka bukan murid dari padepokan mereka.


Tidak mungkin bagi mereka untuk merebut atau memaksa Ridwan untuk menjadi murid mereka, itu sama saja melanggar peraturan yang sudah ditetapkan sejak dahulu.


Bahwasanya seorang guru tidak boleh memaksa atau merebut murid dari padepokan lain apalagi menculik mereka untuk dijadikan murid. Kecuali jika murid itu sendiri yang keluar atau berpindah padepokan dengan kemauannya sendiri dengan alasan yang masuk akal dan dapat diterima, barulah hal itu diperbolehkan.


Dan untuk keluarga Ridwan, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bagaimana bisa Ridwan sekuat itu mengingat dulu dirinya hanyalah anak yang lemah, itulah yang ada didalam benak mereka. Dari sanalah mereka dapat melihat bagaimana Ridwan sekarang ini.


Dengan segera wasit yang mana dia adalah Ragil, langsung melesat ke tengah arena untuk mengumumkan pemenang dari putaran babak kedua ini.


" Pemenangnya adalah RIDWAN... Pertandingan akan dilanjutkan setelah 5 menit dari sekarang! " teriak Ragil dengan keras.


Seketika semua penonton bersorak dengan keras sambil meneriaki nama Ridwan.


" Ridwan.. Ridwan... Ridwan... Ridwan... Ridwan... "


Sedangkan untuk Rahmat yang telah tidak sadarkan diri, langsung di bawa oleh tim medis untuk dilarikan ke rumah sakit padepokan untuk diberi penanganan secara intens karena tulang hidungnya yang patah dan kulit bibir dan kulit pelipis mata sebelah kanan terdapat sobekan yang cukup panjang.


Kinerja tim medis di padepokan pancanaka sangatlah cepat. Mereka sangatlah peka, tanggap dan cepat dalam memberikan penanganan kepada siapapun murid atau guru yang terluka. Dengan peralatan dan fasilitas yang mumpuni, mereka sangatlah terbantu untuk masalah penanganan kesehatan.


Setelah mendengar wasit yang mengumumkan pemenangnya, Ridwan nampak berjalan keluar arena itu merasakan kegembiraan pada hatinya. Seumur hidupnya, baru kali ini namanya diteriaki sampai suara mereka bergemuruh disegala penjuru.


" Alhamdulillah, " gumam Ridwan sambil tersenyum saat melihat Guntur menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepadanya ditengah padatnya penonton.


Sementara itu disebuah ruang istirahat...


Nampak semua peserta berkumpul untuk melihat pertarungan antara Ridwan melawan Rahmat dibalik kaca jendela yang cukup lebar dan luas.


Mereka sangat terkejut dengan kejadian itu dan langsung mengeluarkan komentar mereka masing-masing. Namun ada satu orang yang melihat semua itu dengan senyum kepuasan dan tetap tenang, dia adalah Umar, murid peringkat pertama disemua murid padepokan yang memiliki julukan Si Pedang Angin.

__ADS_1


" Teruslah menjadi pemenang di putaran selanjutnya... Aku sudah tidak sabar untuk melawanmu, siapa diantara kita yang terkuat dalam turnamen kali ini... Ridwan, " gumamnya dalam hati.


__ADS_2