
" Ini baru setengah dari inti energi murni yang aku berikan kepadanya Guntur, jika aku memberikan semuanya aku tidak yakin jika dia akan kuat menahannya dan yang pasti akan sangat berbahaya bagi kehidupan di alam manusia, Guntur... Kekuatanku tidak seberapa dibandingkan kekuatanmu jika kau keluarkan secara maksimal, tapi belum saatnya kau melakukan itu, " jelas Ratu Betari.
" Hahhhhh... Sesungguhnya tidak ada kekuatan kecuali milik-Nya ratu, kekuatan hanyalah milik Sang Hyang Tunggal kang Agung saja, kita sebagai makhluk hanyalah segelintir orang saja yang diberikan amanah oleh-Nya untuk menjaganya, suatu saat nanti jika Dia menginginkan semua yang kita miliki ini dicabut atau diambil oleh-Nya maka semua itu akan terlaksana dan sangat mudah untuk-Nya melakukan itu, " jelas Guntur.
" Kau benar Guntur, " ucap Ratu Betari.
" Alisa, cah ayu... Sekarang tariklah semuanya, kau sudah berhasil, cah ayu, " ucap Ratu Betari.
Alisa yang mendengar ucapan dari Ratu Betari langsung menarik semuanya dan kembali seperti semula.
" Selamat cah ayu kau berhasil dan kau juga sudah bisa mengontrol serta menggunakannya sesuai dengan keinginanmu, jagalah itu semua, teruslah membela kebenaran dan berjalanlah di jalan yang benar, jangan menjadi sombong serta angkuh, jangan sampai nafsu angkara menguasaimu, " ucap Ratu Betari.
Alisa yang langsung berdiri dan berjalan kearah Guntur dan Ratu Betari " Baik ratu, aku akan melakukan apa yang ratu katakan, " ucapnya.
" Baiklah, sudah saatnya kembali ke alamku dan melakukan apa yang harus aku lakukan, " ucap Ratu Betari.
Guntur yang mendengar itu pun hanya tersenyum dan mengangguk tanpa melihat kearah Ratu Betari. Ratu Betari sendiri sudah mengerti akan hal itu.
" Baiklah ratu, apa kau membutuhkan bantuanku untukmu kembali ke alammu? " tanya Guntur.
Ratu Betari menggelengkan kepalanya " tidak Guntur, karena aku sudah bebas maka aku bisa untuk kembali sendiri, " ucapnya.
Sebenarnya Ratu Betari sangat enggan untuk kembali dan sangat ingin terus berada disisi Guntur tapi karena berbeda alam maka mau tidak mau harus kembali ke alamnya.
" baiklah, jaga diri baik-baik, aku akan mendoakanmu agar kau terus diberi keselamatan dan selalu diberi perlindungan oleh-Nya, " ucap Guntur
" amin, kalau begitu aku pamit, jaga diri kalian baik-baik, " ucap Ratu Betari yang dianggukan oleh Guntur dan Alisa.
Nampak Ratu Betari menghilang secara perlahan dari pandangan mereka. Setelah menghilang sepenuhnya dan Ratu Betari pun sudah kembali ke alamnya, kini hanya tinggallah Guntur dan Alisa saja.
" hahhh, akhirnya selesai juga, Alisa aku akan kembali dari alam bawah sadarmu, assalamualaikum, " ucap Guntur lalu menghilang dari pandangan Alisa.
Tidak lama setelah itu Alisa sendiri juga kembali dari alam bawah sadarnya dan setelah Alisa tersadar, saat membuka mata, Alisa mendapati Guntur yang melihatnya dengan senyuman " hai gadis jelek... Apa kau sudah sadar dari mimpi indahmu? " ejek Guntur.
" astaga.... Iiiiiihhhhh kakakkkkk, " teriak Alisa yang ingin sekali meninju mulut Guntur yang pedas itu.
" hahahaha..... " tawa Guntur pun akhirnya pecah dan berlari meninggalkan Alisa yang masih linglung dengan apa yang dia alami.
" Jangan lari lari kau kak, eh? " ucap Alisa saat bangun dari duduknya dan mengejar Guntur yang berlari ke arah ayah, ibu juga kakek dan neneknya.
Alisa pun juga berlari menghampiri mereka semua " Kenapa papa mama ada disini? Juga kakek Aji, nenek Lastri, kakek Hasan, " tanya Alisa saat sudah sampai didepan mereka.
" Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? " tanya Lastri yang khawatir dengan Alisa begitu juga dengan yang lainnya terutama ayah dan ibu Alisa.
Alisa mengangguk " Iya nek, aku baik-baik saja... Tapi kenapa kalian ada disini? " tanyanya.
" Kami sangat khawatir denganmu, kau sempat hilang kontrol saat berlatih dengan Guntur, Alisa, " ucap Sandi yang mana ayah dari Alisa.
" Hm.. Maafkan Alisa, Alisa tidak bisa mengontrol kekuatan Alisa tapi sekarang Alisa bisa untuk mengontrolnya, iya kan kak Guntur? Eh? " jelas Alisa dan mendapati Guntur dengan santainya melayang dibelakang semuanya.
" Jangan tanya aku, aku tidak tahu apa-apa! " ucap Guntur dengan luwesnya berbohong sambil melayang dengan posisi terlentang sambil mengupil.
" Astaghfirullah.... " ucap Alisa dan semua orang setelah tahu kalau Guntur bisa melakukan itu.
Guntur yang menjadi pusat perhatian mengerutkan keningnya " Huh, ada apa? " tanyanya yang tidak menyadari kalau kelakuannya itu melebihi nalar mereka.
" Gu-Guntur... Kau bisa terbang? " tanya Lastri yang masih terkejut dengan Guntur.
" Eh... Hehehe.... Hmm yah.... Ka-karena ini masih di dimensi cerminku a-aku bisa melakukan apa saja... Hahahaha, " ucap Guntur yang kebingungan mencari alasan " Gawat, aku lupa, " gumam Guntur dalam hati sambil mendarat di atas tanah dan berjalan mendekati mereka.
" Sialan kau! " Ucap Aji yang sangat ingin menjitak kepala Guntur.
Disaat mereka percaya dengan bualan Guntur, Lastri yang menatap Guntur dengan tajam bahkan Guntur sendiri menyadari hal itu dan hanya tersenyum kecut.
" Kau bisa membohongi semua orang tapi tidak denganku nak, aku sudah tahu semuanya dari Pahing kalau kau telah menemukan pola aksara untukmu bisa terbang, teleportasi tanpa harus menggunakan portal dan berbagai pola aksara yang diluar nalar yang bahkan tidak terpikirkan oleh semua orang, kau sangat jenius cucuku, " gumam Lastri dalam hati.
" Hm.. Lebih baik kita kembali saja, aku ingin segera mandi, lengket badanku, " ucap Guntur yang menjentikkan jarinya dan kembali ke dunia nyata.
Lalu Guntur pun berjalan cepat takut jika neneknya Lastri akan mengintrogasinya lebih dulu dan yang lainnya pun hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat Guntur berjalan menjauh dari mereka.
__ADS_1
***
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa malam widodaren telah datang. Malam widodaren hanyalah istilah untuk orang jawa yang berarti malam bidadari untuk seorang gadis yang akan menikah pada keesokan harinya atau setelah matahari terbit. Pada hari itulah akan berlangsungnya ritual sakral pernikahan.
Biasanya seorang gadis yang akan menikah pada malam widodaren akan menjadi seorang putri yang sangat dimanja oleh keluarganya. Tidak diperbolehkan untuk melakukan suatu pekerjaan apapun yang ada hanyalah bersenang-senang dengan sanak saudaranya. Apapun permintaan sang gadis akan dikabulkan oleh keluarganya. Semisal ingin makan sesuatu yang tidak ada di rumahnya maka keluarganya akan mencarinya dan membelikan makanan tersebut. Pokoknya di malam widodaren itu adalah malam yang syahdu bagi gadis yang akan menikah keesokan hatinya.
Nampak Anisa yang sedang duduk didepan meja riasnya dengan perasaan yang tidak menentu. Gugup, cemas, khawatir, takut, senang, bahagia, semua perasaan menjadi satu didalam hatinya. Selama beberapa hari ini Anisa kurang istirahat karena mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahannya dengan Guntur, tentunya dengan keluarganya juga.
" Haaahhhhh.... Aku bahkan tidak tahu aku ini sedang bahagia atau sedih... Aku juga merasakan kalau aku semakin kurus, " gumam Anisa dengan pelan.
Mungkin orang yang melihat Anisa akan melihatnya sama saja karena pakaiannya yang selalu tertutup, hanya nampak kedua matanya saja tapi, bagi Anisa sendiri sangat tahu perbedaan pada tubuhnya.
Ada yang unik dari seorang Anisa itu sendiri, walaupun Anisa sendiri berada didalam rumah bahkan di kamarnya sekalipun, Anisa jarang sekali untuk mencopot cadarnya itu bahkan dalam keadaan tidur. Itu di karenakan faktor kebiasaan yang Anisa jalani selama ini. Jika Anisa mencopot cadarnya maka akan merasakan risih atau tidak nyaman dengan dirinya.
" Guntur... Apa kau juga merasakan hal yang sama? Husna, entah kenapa aku sangat merindukanmu, " gumam Anisa dalam hati sambil melihat dirinya sendiri didepan cermin.
Beberapa saat kemudian pintu kamar Anisa dibuka oleh seseorang " Nisa... Makan dulu yuk... Mama masak sayur lodeh sama pindang kesukaanmu, " ucapnya.
" Hm, baik ma, " ucap Anisa yang langsung beranjak dan berjalan keluar dari kamarnya.
Di malam itu nampak betapa sibuknya keluarga Ma untuk mempersiapkan acara pernikahan Anisa esok hari. Walaupun acara pernikahan Anisa akan diselenggarakan secara privasi atau sembunyi-sembunyi karena permintaan dari Anisa sendiri dan juga Guntur tapi tetap saja cukup besar dikarenakan besan dari keluarga Ma adalah keluarga-keluarga yang sangat terpandang.
Anisa yang sedang makan di meja makan nampak sangat tidak berselera, Nada yang juga duduk di depan putrinya itu sadar dengan apa yang dirasakan Anisa " Nisa, cepat selesaikan makanmu, " ucap Nada sambil tersenyum.
Anisa pun mengangguk dan segera menyelesaikan makannya walau tidak berselera sekalipun. Anisa tidak mau untuk tidak menghabiskan makanannya sebab didikan dari orang tuanya sangatlah keras untuk masalah makan.
Setelah selesai tiba-tiba terdengar suara gaduh dari ruang tengah. Anisa dan Nada pun segera untuk ke ruang tengah.
Setelah sampai, Anisa melihat sebuah portal berwarna merah dengan pola aksara berwarna kuning keemasan.
Tidak lama setelah itu muncul 3 orang wanita yang sangat Anisa rindukan " Nenek, ibu, Husna! " teriak Anisa yang berlari ke arah ke 3 wanita tersebut.
Anisa pun langsung memeluk mereka bertiga dengan erat sambil meneteskan air matanya, sedangkan semua orang yang ada disitu hanya terdiam dam kebingungan.
Setelah beberapa saat Anisa melepaskan pelukannya " Assalamualaikum, " ucap wanita setengah setengah baya itu.
" Waalaikum salam warrohmatullah, " ucap semua orang yang ada disitu.
" Nenek, ibu, Husna, aku sangat merindukan kalian, " ucap Anisa.
Mereka bertiga pun langsung tersenyum mendengar itu " Kami juga sayang, " ucap wanita setengah baya itu.
Tiba-tiba Nada mendekat kepada Anisa dan menanyakan kepada Anisa siapa mereka itu " Nisa... Siapa mereka? " ucapnya.
Anisa yang mendengar itu langsung menjawab dan menjelaskan kepada mamanya dan semua orang yang ada di ruangan itu " Semuanya, ini adalah nenek Pahing lalu ibu Anjani dan Husna, nenek Pahing adalah Sang Pepet, ibu Anjani adalah anaknya sekaligus ibu kandung dari Guntur dan Husna adalah Sang Srikandi Aksara yang kelak akan menjadi bagian dariku dan Guntur, " jelas Anisa dengan tersenyum dibalik cadar bandana hitamnya.
Mendengar penjelasan dari Anisa, seketika semua orang terkejut dan heboh akan kedatangan mereka bertiga.
" Ma-maafkan kami, kami tidak tahu, " ucap Nada gugup sekaligus bahagia.
" Benar, aku Ma Duan kepala keluarga Ma, mari silahkan duduk di ruang tamu, " ucap Ma Duan yang tampak sangat bahagia.
Mereka pun hanya mengangguk sambil tersenyum sambil berjalan mengikuti Ma Duan begitu juga dengan Ma Lin, Nada dan Ma Hua.
Sedangkan untuk Husna, Anisa langsung memegang lengan kanan Husna dan mengajaknya ke kamarnya " Husna ikut aku ke kamarku, biarkan para orang tua membicarakan masalah ini, " ucapnya.
Husna hanya mengangguk dan mengikuti Anisa dari belakang untuk berjalan ke kamarnya.
Setelah mereka berada di kamar Anisa, Husna nampak terkejut dengan kamar Anisa yang sangatlah rapi, harum dan luas, bahkan nampak beberapa foto dan kaligrafi terpajang di dinding kamar, Husna juga melihat kalau kamar Anisa memiliki kamar mandi sendiri di dalam kamarnya.
" Subhanallah, aku baru melihat sebuah kamar yang sangat mewah seperti ini, sangat jauh berbeda dengan kamarku di rumah, " ucap Husna yang ragu untuk menuruti Anisa untuk duduk di tepi ranjangnya itu.
" Husna, kau berkata apa, kamar ini tidaklah mewah dan biasa saja dibandingkan dengan kamar-kamar orang kaya, " ucap Anisa yang tidak enak dengan Husna mengenai kamarnya itu.
" Huh, apa kau tidak sadar, kau juga termasuk orang kaya Nisa, keluargamu itu termasuk urutan nomor 5 terkaya di Bumi Nusantara karena bisnisnya! " ucap Husna yang akhirnya duduk di tepi ranjang.
" Eh, hehehe... Tapi kan itu keluargaku bukan aku, aku sih tidak mau mengurusi dunia bisnis, lebih baik menjadi jawara dari pada mengurusi bisnis, hehehe " ucap Anisa sambil cengengesan.
Husna hanya menggelengkan kepalanya saja. Tiba-tiba di kamar Anisa sangat sunyi, Anisa dan Husna duduk terdiam walau mereka duduk berhadapan. Entah kenapa mereka tiba-tiba merasa sungkan satu sama lain.
__ADS_1
" Anisa, selamat ya, " ucap Husna memecah keheningan itu.
" Kau tau Husna, sebenarnya aku masih merasa tidak enak denganmu, " ucap Anisa menundukkan kepalanya.
Mendengar itu Husna tersenyum di balik cadar bandana hijau lumutnya " Anisa, aku sudah bilang kan untuk menikah dengan Guntur duluan, itu bukan tanpa alasan, aku saat ini tidak bisa menikah dengannya karena aku masihlah lemah dan aku tidak mau menjadi beban untuk kalian, apa kau tidak merasakan kalau kita nantinya akan selalu di samping Guntur yang kelak memiliki tugas yang amat berat, apa kau melupakan itu? " tanya Husna.
" Tidak Husna, aku tidak melupakan itu, benar jika hanya kita saja yang sanggup berada di sisi Guntur bahkan untuk selamanya, " ucap Anisa.
" Kau tahu, kita sama-sama mencintai dan menyukai orang yang sama, aku sebenarnya hanya ingin Guntur menjadi milikku seorang, tapi aku sadar, aku tidak bisa untuk melakukan itu, " ucap Husna dengan pelan tapi Anisa bisa mendengarnya.
Anisa yang mendengar itu juga merasakan hal yang sama. Siapa sih wanita yang mau d madu? Jawabannya adalah tidak ada tapi takdir berkata lain untuk mereka, mereka hanya bisa mengikhlaskan dan merelakan satu sama lain untuk menjadi satu bagian dari Guntur dan diri mereka.
" Anisa, kau tenang saja, kita akan menjadi istri dari Guntur dan besok kau akan menikah duluan dengannya jadi jangan bersedih dan berbahagialah, ikuti apa kata hatimu, aku pun juga begitu, hanya dengan menata hati dan pikiran kita untuk mengharapkan ridho-Nya maka semua akan baik-baik saja, " ucap Husna sambil tersenyum dibalik cadarnya.
" Kau benar Husna, terima kasih, kini aku sudah lega, hm... Husna, bolehkah aku melihat wajahmu, aku juga akan membuka cadarku, hihihi, " ucap Anisa yang sudah merasa jauh lebih baik.
" Hm... Tentu, " ucap Husna yang langsung mencopot cadarnya itu.
Begitu wajah Husna terlihat oleh Anisa, betapa terkejutnya Anisa melihat wajah Husna. Husna yang melihat Anisa terkejut sampai menutup mulutnya itu menjadi heran " Nisa, ada apa? Kenapa kau terkejut seperti itu? Apa wajahku jelek? " tanya Husna dengan heran.
Anisa pun dengan tanpa banyak bicara, juga langsung mencopot cadarnya itu.
Begitu juga dengan Husna. Husna langsung terkejut melihat wajah dari Anisa itu.
" Ke-kenapa wajah kita sangat mirip? " tanya Husna.
" Jika kau bertanya kepadaku, lalu aku akan menjawab apa Husna? " ucap Anisa yang juga masih tidak percaya dengan itu.
Saat ini mereka semua menemukan fakta jika mereka sangatlah mirip. Wajah mereka ibarat inang yang dibelah dua, seperti kembar identik yang susah untuk dibedakan satu sama lain.
Dari segi alis mereka yang melengkung rapi tidak tebal juga tidak tipis dengan ujung yang lancip juga sedikit bulu halus yang menggabungkan kedua alis kanan dan kiri mereka, mata yang selayaknya daun yang lebar juga sedikit sipit dan juga tajam, hidung mereka yang kecil serta mancung, lesung pipi di kedua pipi mereka yang sedikit tembem, bibir mereka yang tidak tipis juga tidak tebal, gigi mereka yang rapi dengan hiasan gingsul di gigi taring mereka, janggut mereka yang sedikit lancip juga terbelah di tengah-tengahnya. Bahkan kulit mereka pun sama yaitu kuning langsat.
Setelah mereka mengamati wajah mereka satu sama lain karena kemiripan yang hampir 100% itu mendapatkan perbedaan dari kemiripan mereka yaitu jika Anisa memiliki gigi gingsul pada gigi taringnya sebelah kanan maka Husna memiliki gigi gingsul pada gigi taringnya sebelah kiri. Hanya itu perbedaan dari mereka dan selebihnya benar-benar mirip.
Bahkan mereka dengan konyolnya menyamakan tubuh mereka satu sama lain sambil tertawa cekikikan. Menghibur satu sama lain serta melupakan sejenak kesedihan yang mereka alami selama ini.
" Husna, bahkan tubuh kita pun juga sama dalam segi bentuk dan ukuran bahkan warna pun juga sama... Tapi tidak mungkin kan kita ini kembar? " tanya Anisa sambil merapikan pakaiannya.
Husna yang juga merapikan pakaiannya pun juga memikirkan hal tersebut " Benar Nis, tapi kenapa kita bisa sangat mirip seperti ini? " ucap Husna juga penasaran.
" Aku tidak tahu Husna, " ucap Anisa.
Tiba-tiba Nada membuka pintu kamar Anisa serta masuk ke dalam kamar sambil membawa minuman kepada mereka. Saat Nada melihat Anisa dan Husna yang melepas cadar mereka, Nada pun terkejut bahkan sampai menjatuhkan minuman yang dibawanya dengan nampan itu dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
" Pyaaarr "
Seketika kedua gelas itu pun pecah dan membasahi lantai. Sedangkan Anisa dan Husna terkejut dengan kedatangan Nada.
" Mama, " teriak Anisa sambil berjalan mendekati ibunya yang mematung karena terkejut itu.
Beberapa saat kemudian Nada yang duduk di tengah-tengah mereka berdua pun masih memandang wajah keduanya setelah Anisa dan Husna membereskan pecahan gelas itu bersama-sama.
" Mama kenapa sih? " tanya Anisa yang sebenarnya sudah tahu alasannya. Sedangkan Husna masih terdiam melihat Nada dan Anisa.
" Mama hanya terkejut nak, mama yakin dulu saat mama melahirkan kamu, mama hanya melahirkan satu anak saja dan itu kamu tapi kenapa kalian sangat mirip seperti kembar identik? " tanya Nada.
" Ma, aku pun juga baru tahu jika kami ini sangat mirip, bahkan tubuh kita pun sama ma, " ucap Anisa.
" Benar bibi, Husna juga terkejut saat tahu hal ini, " ucap Husna.
" Husna, apa kau ada darah keturunan negeri Tirai Bambu sama seperti Nisa? " tanya Nada penasaran.
" Tidak bibi, orang tuaku asli pribumi negeri ini otomatis aku juga karena aku anak kandung mereka, " ucap Husna.
" Hm... Husna, berapa umurmu? " tanya Nada penasaran.
" 19 tahun bibi, " ucap Husna.
" Apa!? " teriak Anisa dan Nada bersamaan.
__ADS_1
" Masya Allah, bahkan umur kita pun sama, " ucap Anisa.
Setelah itu mereka bertiga mulai mengobrol dan bercerita soal keluarga mereka. Anisa dan Nada mendengarkan Husna yang bercerita soal keluarganya yang sangat harmonis dan sederhana itu. Tidak pernah ada pertengkaran diantara ayah dan ibu Husna. Jika ada masalah dalam keluarga maka mereka akan berdiskusi mencari solusi dan titik terang masalah itu bersama. Anisa dan Nada sangat kagum dengan cerita keluarga Husna itu. Bahkan beberapa kali Anisa dan Nada bertanya kepada Husna sial keluarganya dan Husna juga menjawab semuanya dengan jujur apa adanya.