Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Latih Tanding


__ADS_3

Dari kejadian itulah mereka berlima benar-benar merasa sangat takut kepada Anisa.


Terlebih disaat mereka sesudah melaporkan misinya dan kembali ke padepokan, mereka menceritakannya kepada guru mereka yaitu Ragil.


Mendengar pengaduan mereka, Ragil hanya tersenyum saja karena Ragil tahu bahwasanya Anisa tidak akan melakukan itu jika target adalah orang-orang yang tidak bersalah.


Setelah itu di pagi harinya, Bumi Nusantara digemparkan oleh sebuah berita akan tewasnya ratusan orang di hotel Arjawinangun.


Segala sesuatunya aparat sudah mencari tahu, namun semua itu hanyalah sia-sia saja karena segala semua bukti pembantaian seperti cctv, dan semuanya lenyap tanpa sisa.


Kasus itu menjadi sebuah misteri bahkan berita itu sampai di kaca dunia hingga saat ini.


Beberapa hari setelah berita pembantaian masal tersebut, dunia persilatan di Bumi Nusantara kembali digemparkan dengan adanya kasus pembantaian masal di salah satu padepokan di kota Banyuwangi.


Dalam kurun waktu satu malam, padepokan yang bernama padepokan Tapak Ireng lenyap dari peradaban.


Semua orang langsung heboh dan bertanya-tanya dalam benak mereka, pasalnya padepokan itu adalah salah satu padepokan besar yang ada di Bumi Nusantara.


Dari semua penduduk dunia persilatan di Bumi Nusantara, hanya segelintir orang saja yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Semua itu tidak lepas dari Srikandi Bercadar yang melakukan misi untuk melenyapkan padepokan itu karena telah terbukti jika padepokan itu bekerja sama dan melakukan praktek kajinan.


Sebenarnya Anisa tidak mau untuk melakukan itu karena Anisa tidak ingin mencampuri hal tersebut tetapi entah secara kebetulan atau memang sudah takdirnya, Anisa pernah disinggung oleh pemimpin padepokan itu yang mengatakan jika Anisa adalah simpanan dari Aji Samudra karena hanya Anisa sendirilah satu-satunya murid perempuan dari 5 murid Aji Samudra.


Dengan alasan itulah Anisa menerima misi tersebut yang diberikan oleh Tujuh Pilar Siswa.


Tujuh Pilar Siswa adalah sebutan dari orang-orang yang terdiri dari tujuh orang murid awal padepokan pertama di Bumi Nusantara.


Pada saat itu, Tujuh Pilar Siswa tengah berkumpul di padepokan pancanaka untuk membahas perkara padepokan Tapak Ireng yang menyimpang.


Dari hasil pembahasan itulah Anisa diutus oleh mereka untuk melenyapkan padepokan Tapak Ireng sebelum menjadi jamur yang menyebar.


Setelah menempuh perjalanan satu hari, akhirnya Anisa telah sampai di padepokan itu dengan selamat.


Ketika Anisa datang dan berjalan ke arah pintu gerbang padepokan, semua orang yang berada di sana langsung saja terkejut dan juga ketakutan.


Mereka semua tahu jika Anisa bukanlah seorang jawara keroco, apalagi namanya juga sudah terdengar luas disegala penjuru Bumi Nusantara bahkan dunia terlebih di dunia bawah.


Tidak mau membuang waktu lagi, pada malam itu Anisa dengan cepat dan brutal membantai semua penduduk padepokan Tapak Ireng.


Dalam kurun waktu kurang dari 1 jam, semua orang yang berada disana tewas secara mengenaskan.


Kini nampak pemimpin padepokan Tapak Ireng yang sedang terduduk sambil memegangi pergelangan tangannya yang terputus.


Sedangkan Anisa sendiri berdiri didepannya sambil memegangi sabit besarnya, bersiap untuk segera mengeksekusinya.


" Maafkan kami... "


" Slaassshhh "


" Dukkkk "


Kembali...


Anisa segera mengeksekusi pemimpin padepokan Tapak Ireng dengan cara memenggal kepalanya sampai terputus dan menggelinding ke samping kiri.


Setelah itu, Anisa berdiri mematung untuk sejenak.


Air matanya mengalir dari ujung matanya.


Hanya dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, dirinya telah membunuh lebih dari seribu orang.


Perasaan takut dan juga khawatir sangat ia rasakan disaat semua sudah selesai.


Di dalam hidupnya, ini adalah pertama kali dirinya membunuh dengan cara masal dan itu lebih dari seribu orang yang hanya dalam kurun waktu satu minggu.


Tidak mau terlarut dalam kesedihan, dengan berlahan Anisa berjalan keluar dari padepokan Tapak Ireng setelah memastikan jika tidak ada lagi penduduk padepokan yang tertinggal.

__ADS_1


Setelah itu, Anisa melesat dengan cepat untuk kembali ke padepokan pancanaka.


Itulah kejadian masa lalu kelam dari seorang Srikandi bercadar dan juga Panca Soka.


***


Masa sekarang...


Guntur yang melihat Panca Soka yang sedang ketakutan, dirinya mengerutkan keningnya.


Guntur tentu tidak tahu akan masa lalu mereka yang berkaitan dengan istrinya itu, sebab tidak pernah ada yang menceritakan kejadian itu kepada Guntur.


Namun tidak dengan Ragil, dengan cepat Ragil langsung mengalihkan pembicaraan.


" Baiklah, aku sengaja menyuruh kalian untuk kemari karena aku ingin kalian latih tanding dengan mereka, " ucap Ragil sambil menunjuk ke arah Ridwan dan yang lainnya.


Sontak hal itu membuat Ridwan dan yang lainnya terkejut.


" Apa!? " ucap Umar berteriak.


" Tu-tunggu guru Ragil... Maksud guru kami berlatih tanding dengan Panca Soka? " tanya Ridwan terkejut.


" Se-serius ini? " ucap Yuni tidak percaya.


Disamping itu, Panca Soka hanya melihat Ridwan dan yang lainnya dengan tatapan yang meremehkan.


Bagi mereka, Ridwan dan yang lainnya itu hanyalah jawara keroco yang tidak sebanding dengan mereka.


Lalu, Ria yang memang mempunyai mulut yang tidak lulus sekolah itu berkata dengan kata-kata mengejek.


" Hihihi lebih baik kalian menyerah saja, kalian tidak sebanding dengan kami, " ucapnya sambil tersenyum mengejek.


Sontak saja Ridwan dan yang lainnya langsung menoleh ke arah Ria dengan tatapan tajam.


" Mas Gun...? " ucap Ridwan.


" Lakukanlah sesuka kalian, kalian hanya tidak di perbolehkan untuk saling membunuh dan memberikan kecacatan permanen saja, " ucap Guntur sambil menjentikkan jarinya.


Seketika itu juga semuanya masuk ke dunia cermin milik Guntur.


Hal itu membuat terkejut Panca Soka karena tiba-tiba mereka melihat seperti pecahan kaca yang tersusun dan juga baru kali ini mereka mengalami kejadian seperti ini.


Setelah semua kembali normal, Guntur membawa Anisa dan juga Ragil untuk berpindah posisi mereka dengan cara memindahkan kaca dibawah kaki mereka untuk naik keatas.


Hal itu sontak saja membuat Panca Soka semakin terkejut, pasalnya mereka melihat jika Guntur, Anisa dan guru mereka nampak terbang melayang diatas mereka.


Berbeda dengan Ridwan dan yang lainnya yang sudah pernah melihat hal tersebut.


Tidak mau membuang waktu lagi, Ridwan dan yang lainnya langsung membentuk barisan menyamping.


" Julian, kami siap, " ucap Ridwan begitu juga dengan yang lainnya.


Sebenarnya Ridwan adalah leader dari tim itu dan Julian sebagai wakilnya, namun karena mereka tahu jika Julian orang yang paling cerdas, bijak dan ahli dalam strategi apalagi mereka juga tahu akan kekuatan uniknya maka mereka sepakat untuk menjadikan Julian sebagai leader utama dalam pertempuran sedangkan Ridwan sebagai wakilnya.


Julian terdiam sejenak lalu tersenyum.


" Alisa... Buka serangan pembuka, " ucap Julian.


Alisa yang mendengar itu langsung menghilang lalu melesat dengan cepat ke arah Panca Soka.


Alisa langsung menargetkan Ria karena tidak terima dengan perkataanya beberapa menit yang lalu.


Panca Soka yang mana masih terkejut dengan apa yang mereka lihat tentang gurunya yang sedang melayang itu dikejutkan dengan sosok yang tiba-tiba muncul di depan Ria.


Sontak hal itu membuat panik terlebih Ria yang menjadi target utama Alisa.


Tanpa membuang waktu lagi, Alisa yang tiba-tiba muncul di depan Ria itu langsung menendang perut Ria dengan keras.

__ADS_1


" Ehhh "


" Bukkkk "


Tidak ada kesiapan dengan itu, Ria langsung terkena tendangan dari Alisa dengan telak itu langsung terpental 5 meter kebelakang.


" Wuusss "


" Bruuukkk "


" Aaahhhh sakit, " ucap Ria meringis sambil memegangi perutnya.


" Riaaa..... " teriak Amir dan yang lainnya.


Sedangkan Alisa sendiri setelah melakukan tendangan itu langsung menghilang kembali ke teman satu timnya.


" Jangan kalian kira kami ini takut dengan dengan kalian, " ucap Umar sambil tersenyum mengejek.


" Benar... Justru sebaliknya, kami malah sangat bersemangat untuk melawan kalian mengingat kalian adalah Panca Soka, " ucap Ridwan.


" Semakin kuat lawan kami, semakin membuat kami bersemangat dan senang, hehehehe..., " ucap Alisa sambil memainkan jemarinya.


Panca Soka yang mendengar itu pun keheranan.


Pasalnya, baru kali ini mereka melawan orang yang justru tidak takut dengan mereka dan juga nampak sangat senang.


" Baiklah... Kami akan bermain dengan kalian, " ucap Amir sambil tersenyum senang.


Tersenyum penuh misteri...


Itulah yang bisa digambarkan oleh Panca Soka dimana semangat mereka tergugah hanya dengan junior-juniornya.


Mereka bisa merasakan sedari awal jika junior-junior mereka itu abnormal karena aura dan juga tatapan mereka.


Bahkan mereka juga meyakini jika tim dari Ridwan kelak akan mengguncangkan dunia persilatan di Bumi Nusantara.


Dengan saling menatap antar satu timnya, Panca Soka mengangguk bersamaan, lalu tanpa basa-basi lagi, mereka segera membuka pintu ke 3 jawara mereka.


Seketika itu aura kuat semua orang rasakan di area dimensi cermin milik guntur.


Tidak mau kalah dengan Panca Soka, Ridwan dan yang lainnya juga melakukan hal yang sama kecuali Alisa.


Julian melarang Alisa untuk membuka pintu jawaranya karena Julian sudah memikirkan sesuatu untuk Alisa yaitu kartu AS terakhir tim mereka.


Hal itu dikarenakan Julian tadi melihat dengan Langkah Netranya bahwasanya dalam latih tanding kali ini dengan Panca Soka, Alisa lah yang akan menjadi tiang terakhirnya karena kekuatan kajinan miliknya dan juga serangan gabungan dari semua teman-temannya yang akan menciptakan sesuatu yang akan mengguncang Panca Soka.


Setelah semua orang membuka pintu jawara ke tiga mereka, nampak semuanya untuk bersiap.


Setelah semuanya mendengar suara dari ranting patah entah dari mana, dengan sangat cepat mereka semua melesat bagaikan kilat yang menyambar kecuali Julian yang masih berdiri menyaksikan pertarungan mereka.


Disisi lain nampak Guntur yang tengah melayang di tengah antara Anisa dan juga Ragil itu tersenyum.


" Akhirnya mereka mendapatkan lawan yang bisa membuat mereka habis-habisan, hehehehe aku suka... Aku suka, " ucapnya sambil tersenyum penuh misteri dan mengelus-elus kedua telapak tangannya.


Ragil yang mendengar itu pun juga setuju dengan ucapan Guntur, karena selama ini sangat susah bagi murid-muridnya untuk mendapatkan lawan yang mungkin akan membuat mereka bertarung secara habis-habisan juga.


" Hahhhhh.... Apapun hasilnya nanti aku berharap kedua tim belajar akan sesuatu dari pertarungan ini, " ucap Ragil dengan serius.


" Hanya orang bodoh yang tidak mendapatkan apa-apa dari hal seperti ini, " ucap Anisa tegas.


" Benar, " ucap Guntur dan Ragil bersamaan.


" Sruuuuuttt "


" Booom "


" Boom "

__ADS_1


"Boom "


__ADS_2