Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Aku Tahu Batasan Itu!


__ADS_3

Jin Shu yang mendengar Ragil mengatakan kalau laki-laki yang ingin dia hajar itu adalah Guntur, tidak bisa untuk tidak terkejut dan syok.


" Kak... Jangan bercanda... Ayah bilang kalau dia itu mempunyai rambut yang panjang, sedikit ****** tapi tampan.... Tapi ini," Ucap Jin Shu yang masih belum percaya dengan apa yang dia lihat.


" Aiiihh... Guntur... Kau yang harus jelaskan kenapa kau bisa jadi seperti ini, " Ucap Ragil malas.


" Lah... Kenapa harus aku, " Ucap Guntur menolak.


" Woe.... Aku juga baru tahu kau jadi seperti ini.... Cepatlah," Ucap Ragil.


" Duhh... Yahhhh.... Baiklah... Emm... Be-begini kak," Ucap Guntur yang langsung dipotong oleh Ragil.


" Ehh... Tunggu... Kau tadi panggil dia apa? " Tanya Ragil yang sedikit terkejut.


" Kakak, " Ucap Guntur bingung.


" Ahahahaha.... Duhh... Dengar ya Guntur... Dia adalah Jin Shu nama lainnya itu Natasya Amalia, yang mana anak dari kakek buyutmu... Dia ini sebenarnya mempunyai saudari kembar yang bernama Jin Shi yang nama lainnya itu Natalia Amalia dan kau seharusnya memanggilnya nenek... Ingat NENEK bukan KAKAK, " Jelas Ragil sambil menekan kata nenek dan kakak.


" Ehhh, " Ucap Guntur terkejut.


" Ehh... Tu-tunggu... Aku tidak mau dipanggil nenek... Kak... Apa kau tidak lihat aku masih muda dan masih 20 tahun... Tidak... Aku tidak mau dipanggil nenek... Titik, " Ucap Jin Shu dengan kesal sambil melipat kedua tangannya itu menjadi bersedekap.


" Hahhhhhhh.... Terserah kau saja.... Nah Guntur sekarang jelaskan, " Ucap Ragil sambil memutar kedua bola matanya karena malas.


" Hmmm.... Memang benar yang dikatakan nenek ahhh maksudku kak Natasya kalau aku punya rambut panjang dan ****** tapi itu semua sudah di cukur karena nenek Lastri... Aku dipaksa untuk cukur dan merapikan penampilanku... Kau tau guru Ragil... Aku sempat depresi karena itu... Rambutku panjangku.... Aaarrrhhh, " Jelas Guntur yang ingin menangis mengingat rambut panjangnya.


Ragil yang melihat Guntur berkaca-kaca sambil menjelaskan masalah rambutnya itu dibuat gemas dan langsung menjitak kepala Guntur cukup keras " Plakkkk."


" Aaauuuu.... Sakit, " Teriak Guntur sambil meringis dan memegangi kepalanya.


" Salah siapa lebay," Ucap Ragil datar.


" Ja-jadi kau benar-benar Guntur? " Tanya Jin Shu yang sedari tadi diam melihat keakraban Ragil dan Guntur.


Guntur langsung mengangguk " Benar... Aku adalah Guntur Samudra atau Jin Bun, " Ucapnya sambil tersenyum.


" Tu-tunggu... Lebih baik kita ke kantor saja untuk membicarakan ini, " Ucap Ragil.


" Tidak... Lebih baik ke gubukku saja... Ayo, " Ucap Guntur sambil berjalan ke arah gubuknya.


Sementara Ragil hanya menggelengkan kepalanya " Cah edan," Gumamnya pelan sambil mengikuti Guntur bersama dengan Jin Shu.


Setelah mereka sampai di gubuk mereka mengobrol cukup lama, bahkan saat Ragil meninggalkan mereka pun Guntur dan Jin Shu masih mengobrol sampai tiba waktu sujud dzuhur baru Guntur meminta ijin untuk pergi ke masjid dahulu.


" Kak... Sudah adzan dan aku harus segera sujud dzuhur dulu... Kakak tunggulah sebentar disini tapi kalau kakak mau ikut sujud ya ayo... Hehhee, " Ucap Guntur.


" Lahhh Bun'er... Aku non muslim jadi kakak tunggu disini saja, " Ucap Jin Shu.


" Hm... Baiklah," Ucap Guntur singkat.


Guntur langsung berjalan ke arah masjid padepokan. Dia tidak ingin terlambat dalam sujudnya untuk berjamaah. Jin Shu hanya melihat kepergian Guntur pun menghela nafasnya " Huft... Andai saja dia bukan bagian dari keluarga Jin pasti aku akan mengejarnya untuk mendapatkan hatinya, " Gumamnya dalam hati.


Selama ini Jin Shu tidak pernah untuk menyukai atau mencintai seseorang karena waktunya dia habiskan untuk mengejar cita-citanya yang ingin menjadi seorang pelukis terkenal, tapi setelah mendengar cerita dari ayahnya, dia menjadi sangat penasaran dan setelah melihat Guntur yang ternyata sudah merubah penampilannya, dia menjadi tertarik dengannya dan menyukainya.


Walaupun sempat terjadi pertarungan karena ketidaktahuannya terhadap Guntur tapi Jin Shu sendiri tidak mempunyai niat membunuh dan hanya ingin memberikannya pelajaran tapi malah dia sendiri yang menjadi bulan-bulanan Guntur karena tidak bisa memberikan pelajaran bahkan tidak bisa untuk menyentuhnya.


Jin Shu pun menghela nafas panjangnya lagi " Kenapa aku jadi seperti ini? Hei, dia cucumu bukan orang lain, sadar Shu'er, " Gumamnya dalam hati.


Setelah beberapa waktu kemudian nampak Guntur selesai dari masjid untuk melaksanakan sujud dzuhurnya. Dengan menatap penuh arti Jin Shu menyambutnya dengan senyuman.


Guntur yang melihat Jin Shu tersenyum pun membalas senyuman itu dan berkata " Aku pulang. "

__ADS_1


" Sudah sujudnya? " Tanya Jin Shu.


" Iya kak... Oh iya kakak mau makan apa? Aku hanya punya singkong rebus saja tapi jika kakak ingin makan yang lain aku akan membelikannya di kantin padepokan, " Ucap Guntur yang masih berdiri didepan Jin Shu.


Jin Shu hanya menggelengkan kepalanya " Tidak usah repot-repot aku sebenarnya sudah beli saat perjalanan kemari, tunggu disini aku akan mengambilnya di mobil dan kita makan bersama, " Ucapnya sambil beranjak dari duduknya lalu berjalan menjauh dari gubuk untuk mengambil makanan yang ada di salam mobilnya.


" Aku tidak menyangka jika dia adalah nenekku, apa semua keluarga Jin itu cantik-cantik ya? " Gumamnya dalam hati.


Setelah beberapa menit Jin Shu kembali sambil membawa bungkusan yang isinya makanan berupa pizza dan juga minuman berkarbonasi. Guntur yang melihat itu hanya mengerutkan keningnya tapi tidak untuk bertanya.


Sambil tersenyum Jin Shu mengajak Guntur untuk makan bersamanya di teras depan gubuknya " Ayo Bun'er, makan bersama, " Ucapnya.


Guntur hanya mengangguk saja tanpa berkata-kata. Dengan penuh dengan keraguan Guntur mengambil potongan pizza itu setelahnya dia berdoa untuk makan. Setelah itu Guntur mulai memasukan pizza itu kedalam mulutnya. Dengan penuh ekspresi bingung akan rasa pizza itu Guntur terus saja mengunyah lalu menelannya.


Jin Shu melihat ekspresi Guntur ingin sekali tertawa akan tetapi dia tahan dan setelah melihat Guntur menelan potongan pizza tersebut, barulah Jin Shu bertanya akan rasa dari pizza teraebut " Bagaimana rasanya? Enak kan? Ini makanan kesukaanku. "


Guntur yang mendengar Jin Shu mengatakan itu pun hanya tersenyum pahit " E-enak kok kak, hehehe. " Ucapnya.


" Aargh... Makanan apa ini? Kalau diberi pilihan antara singkong dan ini pasti aku akan pilih singkong, rasanya sangat aneh, " Gumamnya dalam hati.


Jin Shu hanya tersenyum melihat jawaban dari Guntur tentang rasa makanan itu. Dia tahu jika Guntur terpaksa mengatakan itu kalau ini enak tapi ekspresinya mengatakan tidak " Bun'er, jangan memaksakan dirimu, jika tidak enak bilang saja tidak enak jangan malah membohongi dirimu sendiri seperti ini... Kalau begitu kakak makan ini sedangkan kau makan saja singkong mu itu, " Ucapnya.


Tidak perlu membuang waktu lagi Guntur langsung mengambil singkong miliknya di dapur dan kembali lagi ke depan untuk makan siang bersama Jin Shu " Maaf ya kak, " Ucapnya.


Jin Shu hanya mengangguk dan tersenyum saja sebagai jawaban. Akhirnya mereka melanjutkan makan siangnya itu dengan nyaman.


Sore harinya mereka masih terus mengobrol tentang pengalaman mereka masing-masing. Keakraban mereka sangatlah nampak walaupun ini pertemuan mereka. Jin Shu sangat senang karena Guntur sangat nyambung untuk mengobrol dengannya, begitu juga dengan Guntur.


Disaat mereka tengah asik mengobrol Guntur menoleh ke arah kejauhan karena dia merasakan kalau Aji dan Lastri dari aura mereka yang sedang berjalan kearah Gubuknya.


" Ada apa? " Tanya Jin Shu.


" Nenek Lastri dan juga Kakek Aji datang dan mereka sedang menuju kemari, " Ucap Guntur.


Tidak lama kemudian nampak Aji dan Lastri sampai di depan mereka " Assalamualaikum, " Ucap mereka serempak.


" Waalaikum salam warrohmatullah, " Ucap Guntur yang langsung mencium tangan kanan mereka.


" Masya Allah... Shu'er, kau ada disini? " Tanya Lastri sambil memeluk adiknya itu.


" Iya kak, " Ucap Jin Shu sambil membalas pelukan kakaknya itu.


Setelah beberapa saat mereka tengah duduk di teras gubuk sambil menanyakan kabar keluarga Jin melewati Jin Shu.


Mengetahui kalau keluarga Jin semua baik-baik saja, membuat hati Lastri dan juga Aji menjadi tenang.


Lalu Lastri bertanya kesiapan untuk Guntur yang akan menikah 3 hari lagi " Bagaimana Guntur, apa kau masih gugup dan cemas? " Tanyanya.


Guntur mengangguk pelan " Iya nek, tapi setelah kedatangan nenek Natasya aku jadi lebih baik, " Jawabnya.


Seketika Jin Shu tidak terima kalau dipanggil nenek oleh Guntur " Nenek lagi nenek lagi, Bun'er, aku kan sudah bilang jangan panggil aku nenek tapi panggil aku kakak entah itu dalam keluarga Jin atau keluarga Samudra, mengerti!? " Protesnya dengan kesal.


Guntur yang mendengar itu hanya tersenyum pahit. Sedangkan untuk Lastri mengerutkan keningnya " Shu'er, apa maksudmu? Memanglah benar jika Guntur memanggilmu nenek, " Ucapnya.


" Tidak kak, aku tidak mau, lihatlah aku masih 20 tahun dan Bun'er lebih tua dariku 3 bulan, jadi aku maunya di panggil kakak olehnya bukan malah nenek, nyebelin banget sih, " Ucap Jin Shu sangat kesal.


Sedangkan Aji tertawa mendengar kata-kata dari Jin Shu. Dia melihat kalau adik iparnya itu sangat lucu " Ahahaha, aku tidak menyangka jika kau bisa juga untuk bersifat seperti ini adik Shu, " Ucapnya.


Sedangkan Lastri menggelengkan kepalanya " Terserah kau sajalah, " Ucapnya dengan pasrah.


" Oh iya nek, ada apa? " Tanya Guntur kepada Lastri.

__ADS_1


Lastri langsung menoleh kearah Guntur yang tadinya menatap Jin Shu dengan sedikit kesal itu " Guntur, kami kemari untuk menjemputmu dan kita akan berangkat ke cirebon besok lusa jadi kau harus mempersiapkan dirimu di rumah nenek agar kau jauh lebih siap lagi, tenang saja kami akan membimbing mu, " Jelasnya.


" Memang harus ya nek? " Tanya Guntur.


" Iya, jika kau disini terus kapan kau akan siapnya, bahkan Anisa sendiri sudah pulang kemarin untuk acara pernikahan kalian, kau tahu Anisa jauh lebih siap dari pada kau nak, " Ucap Aji menimpali.


" Jadi begitu ya, baiklah aku ikut saja kek, " Ucap Guntur sambil tersenyum.


_***_


Malam harinya di keluarga Samudra, terlihat Guntur sedang duduk bersantai d taman rumah mewah kediaman Samudra.


Awalnya Guntur terkejut melihat rumah kediaman Samudra yang sangat besar dan mewah. Sangat tidak bisa dibandingkan dengan rumahnya di atas bukit dan juga gubuknya di padepokan.


Saat sedang merenungkan sesuatu Guntur merasakan tepukan pada pundak kanannya. Sontak Guntur menoleh siapa yang menepuknya itu yang ternyata itu adalah bibinya yang bernama Jihan Gana Samudra yang tadi sempat berkenalan dengannya.


Jihan melihat keponakannya itu merenung sendirian di taman. Jihan tahu jika keponakannya itu sedang memikirkan sesuatu " Ada apa? " Tanya Jihan sambil duduk disebelahnya.


Guntur yang melihat gadis berkhimar itu hanya menatapnya sebentar lalu melihat ke arah cerahnya langit " Bibi, sebenarnya aku sangat gugup dan cemas, " Ucapnya.


Jihan yang mendengar itu langsung tersenyum " Kau tahu, siapapun itu bisa mendapatkan hatimu itu, berarti dia adalah gadis yang sangat beruntung, " Ucapnya.


Guntur heran dengan kata-kata bibinya itu " Apa maksudnya bi? " Tanyanya.


" Begini, kau itu adalah cucu tunggal dari para legenda, lalu buyut dari keluarga Jin dan cucu dari keluarga Samudra, kau juga sangat tampan, baik, sopan, tidak neko-neko, sederhana, kau tidak mau memamerkan jika kau itu adalah cucu dari mereka semua, jujur jika kita bukan saudara aku pasti akan mengejar mu untuk mendapatkan hatimu, " Ucap Jihan dengan tulus.


Guntur yang mendengar itu langsung menundukkan kepalanya. Dia bahkan berfikir kalau tidak semuanya itu benar.


" Tenang saja, oh iya Guntur, bolehkah aku meminta sesuatu? " Tanya Jihan.


" Huh, apa bi? " Ucap Guntur.


" Bisakah kau terus seperti ini? Terus menjadi dirimu yang seperti ini? " Tanya Jihan sambil menatap Guntur dengan serius.


Guntur yang ditatap dan ditanya seperti itu tersenyum dan kembali menatap cerahnya langit malam " Tentu, jadi bibi tenang saja, " Ucapnya.


Jihan mengangguk senang mendengar jawaban dari Guntur. Walau ini adalah pertemuan pertama dengannya tapi Jihan merasa sudah sangat dekat dengannya dan tau akan sifat dan watak dari Guntur. Di samping mungkin karena ikatan batin mereka juga Jihan sebenarnya mempunyai suatu kekuatan lebih yang mana bisa melihat sifat dan karakter dari seseorang melalui aura yang dia lihat. Aura yang dimaksud bukan aura Jawara ataupun Aksara akan tetapi aura bawaan dari seseorang tersebut.


Jihan juga sebenarnya seorang Jawara pintu ke 5 yang mana jarum adalah senjatanya, sama seperti ibunya yaitu Lastri. Sedangkan untuk kakaknya juga seorang Jawara pintu ke 6 yang mana pedang adalah senjatanya.


Keluarga Samudra adalah keluarga Jawara, tidak ada dari mereka yang menjadi seorang Aksara. Hanya Guntur lah satu-satunya Aksara di keluarga Samudra juga keluarga Jin yang mana keluarga kultivator.


" Bibi, ini sudah tengah malam, kenapa bibi belum tidur? " Tanya Guntur.


" Bibi belum bisa tidur, lagi pula bibi ingin menemanimu, Guntur, apa kau sangat mencintai Srikandi Bercadar? " Ucap Jihan penasaran.


Guntur langsung menoleh ke arah Jihan " Bi, aku sangat mencintainya, bahkan saat pertama kali aku melihatnya di alam bawah sadar ku aku sudah mencintainya, begitu juga dengan Srikandi Aksara, " Ucapnya.


" Hm, memanglah jika laki-laki bisa untuk mencintai 100 wanita sekaligus, berbeda dengan wanita yang tidak bisa melakukan itu, tapi kau tidak bisa untuk semena-mena dengan yang namanya wanita, bagaimanapun mereka adalah calon ibu dari anak-anakmu, " Ucap Jihan menasehati.


" Bibi benar, aku tidak akan semena-mena kepada mereka, bagaimanapun seorang wanita lebih mulia daripada laki-laki, " Sahut Guntur.


Mendengar jawaban dari Guntur, Jihan tersenyum puas " Kak Panji, kau harus bangga dengan Guntur, " Gumamnya dalam hati.


Masih dengan senyum manisnya Jihan tiba-tiba menyenderkan kepalanya di pundak kiri Guntur. Dia begitu merasakan kenyamanan dan ketenangan saat melakukan itu " Sangat nyaman dan tenang " Gumamnya dalam hati.


Sedangkan Guntur hanya diam saja, Guntur tahu jika bibinya itu mungkin membutuhkan kasih sayang yang lebih dari seorang laki-laki yang bisa membuatnya nyaman dan tenang.


" Jujur, aku hanya bisa merasakan ini dari ayah tapi aku juga tidak menyangka bahwa kau juga bisa membuatku nyaman dan tenang, terima kasih, " Gumamnya pelan tapi masih bisa didengar oleh Guntur.


" Bibi, jika kau membutuhkanku aku akan usahakan selalu ada untukmu tapi hanya sebatas keponakan dan seorang bibi saja ya, " Ucap Guntur.

__ADS_1


" Dasar bodoh, tentu saja, aku juga tahu batasan itu, diam lah walau sebentar saja, " Ucap Jihan yang masih menyenderkan kepalanya di pundak kiri Guntur.


Masih dalam diam mereka melewati malam yang cerah penuh bintang. Mereka membubarkan diri mereka dan beristirahat saat salah satu dari mereka mulai merasakan kantuk dan kembali ke kamar mereka masing-masing.


__ADS_2