Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Musnahnya Sang Raja Angkara dan Sang Dukun


__ADS_3

Perbatasan antara kota Batavia dan kota Albantani saat ini memiliki sebuah pelindung tingkat Maha Guru 7 lapis.


Pelindung itu berbentuk sebuah kubah dengan luas hingga 2 KM yang dipasang oleh seseorang salah satu dari empat Legenda yaitu Sang Pepet.


Hal itu dikarenakan terjadinya sebuah pertarungan para pamong melawan musuhnya yaitu para Jawara-Aksara melawan Kajinan yang juga sudah menjadi Legenda.


Kekuatan dari Kajinan itu sangatlah mengerikan yang bahkan sanggup menghancurkan kota-kota besar hanya dengan satu kali lambaian tangannya saja.


Para penduduk pun tidak luput dari korban pertarungan itu dan beruntung para abdi negara segera untuk mengevakuasi mereka semua sampai sejauh 2 KM lebih.


Tidak ada korban jiwa walaupun banyak juga diantara mereka mendapatkan luka entah luka berat maupun ringan dan yang pasti harta benda mereka lenyap karena terkena dampak dari pertatungan.


Sebenarnya, mereka semua tidak tahu jika ada pertarungan, yang mereka tahu hanyalah bunyi ledakan yang memekakan telinga dan juga gempa sampai-sampai rumah mereka banyak sekali yang rusak bahkan roboh.


Diluar pelindung itu telah terjadi sedikit keributan karena banyaknya pengungsi dan juga orang-orang yang terluka.


Hampir semua tim medis di kedua kota tersebut dikerahkan untuk mengobati mereka.


Disisi lain banyak juga dari tim media yang sedang menayangkan secara live di media sosial apa yang sedang terjadi.


Mereka memaksa untuk masuk lebih dalam lagi namun sang panglima melarang dengan keras.


Sang panglima juga memberikan perintah untuk semua anak buahnya untuk melarang tim media untuk masuk lebih dalam.


Sempat terjadi adu mulut karena hal itu namun pada akhirnya tim media menuruti para prajurit dan panglima.


***


Dari kejauhan nampak seseorang yang memakai pakaian tertutup berwarna hijau lumut diatas gedung tinggi mengamati para mengungsi.


Orang itu melihat banyaknya orang awam yang terluka pun menitikkan air matanya karena tidak tega dan juga hatinya merasa teriris.


" Semoga pertarungan ini segera selesai..., " gumam orang itu sambil mengangkat tongkat bambunya sejenak lalu dia ketukkan diatas lantai bangunan tersebut.


Tukk...


Orang itu mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan.


Tiba-tiba kedua pupil matanya berubah yang awalnya hitam kecoklatan menjadi hijau lumut namun juga terang yang disusul oleh sebuah pola aksara raksasa yang membentang diatas pelindung itu.


Pola aksara itu berwarna hijau lumut dengan pola aksara jawa yang sangat rumit.


Lalu, dengan berlahan orang itu kembali mengetukkan tingkat bambunya kembali.


Tukk...


Pola aksara itu pun bersinar terang hinga cahaya hijau lumut itu menerangi sampai bawah hingga cahaya itu sampai kepada semua pengungsi.


Setelah beberapa detik berlalu, pola aksara itu memudar lalu menghilang yang disusul oleh teriakan haru para pengungsi terutama yang mengalami luka.


" I-ini..., "


" A-aku sembuh! "


" Aku sembuh! "


" Yaaaaa sembuh! "


Teriakan mereka bahkan sampai menggema karena saking senangnya luka mereka sembuh bahkan yang menderita penyakit pun juga sembuh.


Aura kebahagiaan terlihat oleh orang itu dan orang itu tersenyum lega.


" Sekarang semua tergantung pada mereka terutama dia, Sang Hyang Aksara..., " gumam orang itu sambil memegang erat tongkat bambunya.


***


" I-ini..., " ucap lastri yang langsung melihat keatas karena tiba-tiba terdapat sebuah pola aksara penyembuh raksasa.


" Hmm... Dia juga datang ya, " ucap Mbah Pahing.


" Huh? Siapa kak? " tanya Lastri.


" Satu-satunya murid Mas Man, " ucap Mbah Pahing.


" Hah? " ucap semua orang yang berada disana terkejut kecuali Husna karena sudah pernah bertemu dengannya.


" Kang Man punya murid? " tanya Lastri yang tidak tahu akan hal itu.


" Benar dan hanya dialah satu-satunya, dia bernama Jihan dan dia hanya mempelajari tentang penyembuhan saja, maka dari itu dia dijuluki oleh Mas Man sebagai Sang Penyembuh..., " ucap Mbah Pahing.


" Aku baru tahu, kenapa kau tidak menceritakannya kepadaku kak? " tanya Lastri.


" Nantilah aku cerita dan sekarang kita fokus saja kepada pertarungan mereka, " ucap Mbah Pahing.


***


Dari kejauhan nampak kilatan-kilatan petir dan percikan api.


Clap...


Claap...


Clap..


Hal itu karena pertarungan Guntur dengan Dasamuka yang mana mereka tidak ada yang mau mengalah.


Pertarungan metrka semakin lama semakin mengerikan dan sekarang pun mereka bertarung tidak hanya menggunakan kekuatan fisik mereka namun juga menggunakan kekuatan mereka masing-masing.


Setelah Dasamuka tahu bahwa anaknya yaitu Indrajit telah tewas, Dasamuka pun mengamuk dengan brutal dan juga beringas.


Kuku-kuku nya pun tidak luput memanjang serta kekuatan fisiknya bertambah berkali-kali lipat.


Tapi bukan Guntur namanya jika hal itu tidak membuatnya bersemangat.


Guntur terus meladeni Dasamuka dengan serius karena kesalahan sedikit saja akan sangat fatal bahkan membuat Guntur sendiri bisa tewas karenanya walaupun Guntur adalah Sang Hyang Aksara.


" Dasamuka memang sangat kuat, tubuh Winga yang tinggal 3% dari kekuatannya pun masih bisa sekuat ini, apalagi kondisi Winga saat sedang vit..., " gumam Guntur dalam hati.


" Aku harus memikirkan cara untuk mengalahkannya.... Hmm... Tapi apa ya? " gumamnya sambil terus jual beli serangan dengan Dasamuka.


Setelah beberapa saat Guntur akhirnya mendapatkan sebuah solusi untuknya bisa mengalahkan Dasamuka.


Setelah itu, Guntur pun secara diam-diam membuat sebuah pola aksara pengikat untuk Dasamuka.


Tapi hal itu akan sangat berbahaya namun Guntur pun tetap melakukan cara tersebut.


" Hanya ini satu-satunya cara, " gumam Guntur dalam hati.


Benar saja, tidak ada satu detik, tubuh Guntur terkena bogem mentah dari kaki kanan Dasamuka dan pada akhirnya Guntur terpental cukup jauh sampai 500 meter dari berkumpulnya orang-orang yang ikut dalam pertarungan sebelumnya.

__ADS_1


" Kesempatan..., " gumam Guntur dalam hati.


Bugh...


Uaaagghh....


Sraaakkk...


Sraakkk....


Boomm...


Dari bogem mentah kaki kanan itulah Guntur mengikat Dasamuka dengan Winga.


Pola aksara pengikat itu akhirnya berhasil tertanam di tubuh Winga yang menjadikan Dasamuka tidak bisa lepas dari tubuh Winga dan juga Dasamuka tidak bisa kembali lagi ke alamnya.


Baik Winga dan Dasamuka tidak menyadari akan hal itu karena tidak ada rasa dan juga bau dari pola aksara pengikat itu.


" Guntur! " teriak semua orang yang melihat Guntur terpental.


Dengan perlahan Guntur bangkit " Kuat sekali..., " gumamnya dalam hati sambil memegangi dadanya yang terkena tendangan dan juga merasakan jika 3 tulang rusuknya retak.


Lalu dengan cepat Guntur menyembuhkan dirinya sendiri dengan kekuatannya.


Dasamuka pun muncul sambil melayang 5 meter di udara sambil menatap Guntur dengan tajam.


Lalu tanpa berkata lagi, Dasamuka melesat lagi untuk menyerang Guntur.


Guntur yang tahu akan hal itu langsung saja menggunakan kekuatan aksaranya untuk menyerang Dasamuka.


Pola-pola aksara serangan pun bermunculan dan aktif.


Dari pola-pola tersebut memunculkan banyak sekali bola energi dan juga bola elemen entah itu api, tanah, angin, logam, air, bahkan akar tumbuhan untuk menyerang Dasamuka.


Dengan kukunya, Dasamuka menghalau semua serangan Guntur, namun serangan Guntur terus berlanjut dan tidak kunjung berhenti.


Sampai dimana kaki Dasamuka terjerat oleh akar tanaman yang otomatis Dasamuka sedikit lengah dengan kejadian itu karena akar tanaman itu sanggup untuk menghisap kekuatan musuh dan juga memberikan racun.


Disaat itulah Dasamuka ingin melepaskan diri dari tubuh Winga, namun tidak bisa.


" A-apa yang terjadi...? " tanya Dasamuka dalam hati.


Bola-bola itu akhirnya mengenai tubuh Dasamuka yang menimbulkan ledakan beruntun yang memekakan telinga dan juga asap yang mengepul.


Boom...


Booom...


Booom....


Booom....


Booom....


Setelah beberapa saat, Guntur menghentikan serangannya lalu menghempaskan asap tebal itu dengan elemen anginnya.


Wusshhh...


Setelah asap itu menghilang, nampak kawah yang cukup lebar dan juga tetakan tanah hingga beberapa meter.


Nampak juga Dasamuka yang terkena serangan langsung dari Guntur pun memiliki luka disekujur tubuhnya.


Sedangkan Winga sendiri yang berada didalam alam bawah sadarnya itu pun tidak bisa berbuat apa-apa dan juga pasrah.


Serangan itu tidak hanya menyerang secara fisik saja tapi juga mental, Winga sangat tertekan oleh serangan itu.


Hal itu dikarenakan tekanan yang dikeluarkan oleh aura Guntur yang hanya difokuskan kepada Dasamuka dan Winga saja dan juga serangan yang sangat kuat yang dapat melukai tubuh Winga dan Dasamuka.


Guntur menyadari jika serangannya itu dapat menghancurkan sebuah aray pelindung tingkat maya.


Melihat Dasamuka yang nampak kesakitan, Guntur kembali menyerang dengan menggunakan jurus Gelandang Butanya.


" Gelandang Buta : Panggebluk.., " gumam Guntur.


Langsung saja toya yang berada di tangannya itu melesat dengan cepat menyerang Dasamuka.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Entah berapa kali toya Guntur memukul tubuh Winga yang bersatu dengan Dasamuka, yang jelas kini Dasamuka tampak lebih menyeramkan akibat terkena serangan Guntur.


Merasa terpojokkan, Dasamuka segera untuk meregenerasikan tubuhnya sendiri dan juga mengeluarkan puncak dari kekuatannya sebagai salah satu dari raja jin terkuat di alamnya.


Buuuumm...


Wuusssshhh...


Guntur yang melihat itu hanya tersenyum saja, lalu berkata.


" Mungkin di alammu kau adalah salah satu yang terkuat tapi berbeda jika di alam manusia... Itu percuma karena tubuh yang kau tempati saat ini sudah tidak mampu lagi untuk menopang kekuatanmu, Dasamuka, " ucap Guntur yang langsung menghilang dari pandangan.


Satu detik kemudian, Guntur muncul di belakang Dasamuka dan langsung memukul Dasamuka dengan toya miliknya dengan sangat keras.


Bugh...


Seketika itu, Dasamuka terlempar 20 meter kedepan.


" Aaarrrgghhh.... Winga kau sangat bodoh, kenapa kau tidak memanggilku lebih awal! " ucap Winga dalam hati.


Winga yang berada di alam bawah sadarnya itu pun meminta maaf kepada Dasamuka.


" Maafkan aku tuan, aku tidak tahu jika dia adalah Sang Hyang Aksara, " ucap Winga dengan pasrah.


" Keparat kau Wingaaaa! " teriak Dasamuka dengan lantang.


Guntur yang mengetahui akan hal itu segera melayang di udara sambil matanya melirik kepada Lastri yang masih memegang Djarum Sukma Radja.


Setelah itu, Guntur segera mengeluarkan semua kekuatan aksaranya.


Boooommm.....


Nampak sekali cahaya putih menyilaukan yang hanya beberapa detik saja.


Tanda aksara dan juga jawara miliknya memancarkan cahaya putih kebiruan.


Hal itu juga dirasakan oleh Anisa dan Husna yang sedang melihat pertarungan mereka.

__ADS_1


Setelah cahaya itu meredup, terlihat Guntur yang sedang melayang itu memiliki penampilan yang berbeda dimana kedua matanya memulih sempurna.


Rambut yang awalnya hitam menjadi putih kebiruan dan dibelakang Guntur nampak semua inti elemen berbentuk bola-bola itu berputar dengan pelan.


Setelah itu, Guntur menggerakkan jari telunjuknya dan disaat itulah Djarum Sukma Radja melesat cepat ke arah Guntur.


Sriiing.....


Suara yang dihasilkan oleh sebuah jatum yang sangat kecil berwarna emas yang saat ini sedang melayang di tangan kanan Guntur.


Sebuah jarum yang tidak biasa karena memiliki kekuatan yang sangat mengerikan yang dapat menghancurkan sebuah negara hanya dengan sekali lempar.


Dasamuka yang melihat itu melebarkan kedua matanya.


" Ti-tidak mungkin... I-itu Djarum Sukma Raja! Sialan... Aku harus melarikan diri bagaimanapun caranya..., " ucap Dasamuka dengan kepanikkan.


Guntur melihat jika Dasamuka ingin melarikan diri itu pun langsung membuat akar-akar tanaman untuk melilit tubuh Dasamuka.


Benar saja akar-akar tanaman yang tak terhitung jumlahnya itu langsung melilit tubuh Dasamuka dengan kuat.


Dasamuka pun juga langsung mengeluarkan kekuatannya berupa asap bayangan namun sia-sia.


" Kau tidak akan bisa lepas dari akar itu Dasamuka, akar itu adalah akar Bidara yang paling ditakuti oleh bangsamu, " ucap Guntur sambil melayang mendekati Dasamuka.


Dasamuka yang terlilit oleh akar Bidara itu pun terkejut.


" To-tolong ampuni aku... Aku bersedia menjadi budakmu, " ucap Dasamuka mengiba.


Guntur yang sudah sampai didepan Dasamuka itu pun menatap Dasamuka dengan sangat tajam.


" Kau tahu, aku tidak akan pernah mempercayai bangsamu kecuali dia, " ucap Guntur.


" Dia? " tanya Dasamuka.


Guntur tidak menjawab pertanyaan dari Dasamuka.


Lalu Guntur mengangkat tangan kanannya yang mana Djarum Sukma Radja masih melayang diatasnya.


" Kau! Kau akan menyesal setelah membunuhku! Semua kadang-kadangku akan memburumu beserta pasukannya dan juga para kajinan lainnya! " ucap Dasamuka mengancam.


Dengan cepat, Guntur melayangkan Djarum Sukma Radja itu di kening Dasamuka lalu...


Cleessss....


Darah segar menetes dari kening Dasamuka dan Djarum Sukma Radja itu pun masuk ke dalam kepalanya dengan berlahan sampai tidak terlihat lagi.


" Aaaarrggggghhhh.....," teriakan Dasamuka dengan sangat keras dan memilukan.


Guntur pun langsung menjauh dari Dasamuka yang sedang menggeliat kesakitan lalu menatap semua orang.


Dengan cepat, Guntur memindahkan semua orang keluar dari pelindung Mbah Pahing.


Sllliiing....


Setelah itu, Guntur membuat aray pelindung untuk melapisi prlindung yang dibuat oleh neneknya itu dengan aray pelindung 21 lapis.


Lalu Guntur menatap Dasamuka kembali dan berkata.


" Musnah...., " ucapnya.


Seketika itu juga Djarum Sukma Radja mulai beraksi didalam kepala Dasamuka yang menghancurkan otak lalu turun menghancurkan semua organ dalam bahkan sampai ke tulang-tulangnya.


Setelah itu baru Djarum Sukma Radja meledak dengan hebat didalam tubuh Dasamuka.


Bruuugghh....


Huummmpp....


Bllaaaaaarrrr....


Ledakan dari Djarum Sukma Raja itu pun akhirnya keluar dari tubuh Dasamuka dan tubuh Dasamuka pun menjadi tercerai berai tidak tentu arah dan saat itulah Winga dan Dasamuka, Sang Raja Angkara telah musnah.


Tidak sampai disitu, bahkan ledakan itu juga membuat sebuah cahaya yang sangat menyilaukan, apapun yang terkena cahaya itu juga akan meledak.


Bagaikan sebuah bom nuklir yang meledakkan apapun yang ada.


Guntur yang melihat itu hanya terdiam lalu berteleportasi keluar dari aray pelindung dan langsung menahan aray pelindungnya supaya tidak sampai keluar dari pelindung.


Kini, terlihat dengan jelas ledakan yang sangat luar biasa besar terlihat bahkan sampai di pulai sebrang bahkan aray pelindung dari Mbah Pahing langsung hancur.


Ledakan dasyat itu juga membuat siapapun itu akan merasa sangat ketakutan dan panik.


Semua orang berhamburan keluar dan menyelamatkan diri.


Dimalam kelam itu, Bumi Nusantara bahkan dunia digemparkan oleh sebuah cahaya dan ledakan yang sangat menggelegar dan luar biasa kuat.


Bahkan, negara sekitarnya pun juga dapat merasakan dan mendengar ledakan itu dengan jelas.


Guntur yang menahan semua itu segera mengeluarkan kekuatannya hingga puncaknya.


Muncul pola-pola aksara disekujur tubuhnya dan juga muncul tanda Sang Hyang Aksara berupa huruf jawa yaitu Hyang (ꦲꦾꦁ ) dikeningnya.


" Djarum Sukma Radja benar-benar luar biasa kuat... Aku harus kuat untuk menahannya jika tidak maka Bumi Nusantara akan terhapus dari peta dunia..., " ucap Guntur dalam hati.


" Uuuuaaaaarrrrrgggghhhhhhh!!!!! " teriak Guntur dengan keras.


Beberapa detik berlalu, ledakan itu pun berangsur berhenti.


Cahaya yang sangat menyilaukan dan suara ledakan itu mulai menghilang.


Setelah semuanya selesai, aray pelindung yang sampai hanya menyisakan 3 lapis aray pelindung itu memudar.


Dengan cepat Guntur melesat kebawah untuk melihat efek dari ledakan itu.


" Sungguh mengerikan! " ucap Guntur yang melihat sebuah kawah luar biasa besar dan juga dalam serta menganga selayaknya magma gunung.


Dengan cepat, Guntur menggunakan sisa dari kekuatannya untuk memperbaiki daerah itu.


Sraaagghh....


Brruuuggghj....


Ssssshhhhh.....


Setelah beberapa detik, daerah itu yang awalnya seuah kawah, kini kembali seperti tanah lapang yang sangat luas.


Guntur juga membuat daerah itu ditumbuhi oleh pohon-pohon dan juga ilalang.


Guntur juga ingin membuat sebuah bangunan-bangunan warga didaerah itu namun kekuatanya telah terkuras.

__ADS_1


Dengan berlahan kaki Guntur menapak diatas tanah lalu pandangannya menggelap.


__ADS_2