
Pagi hari di padepokan pancanaka nampak begitu ramai. Langit cerah dan nampak matahari bersinar dengan terang. Begitu juga dengan para mirid dan guru yang tampak begitu senang lagi bahagia. Alasannya tentu saja karena turnamen antar murid yang mana mereka para kontestan akan mengeluarkan jurus-jurus pamungkas mereka dan bertarung untuk menjadi yang terkuat.
Bahkan sedari pagi, arena turnamen padepokan pancanaka sudah begitu ramai oleh murid. Mereka tidak sabar melihat para jagoan mereka bertanding. Masing-masing mereka juga beradu argumen tentang jagoan mereka.
" Pasti Umar akan memenangkan pertandingan. "
" Tidak, pasti Arga yang menang. "
" Hey, apa kalian melupakan Yuni? Selain cantik dia juga sangat kuat. "
Berbagai argumen mereka lontarkan pada jagoan mereka yang mana nama-nama itu adalah peringkat paling atas.
Disaat semua orang merasa bahagia hanya ada satu orang yang tampak sangat murung. Orang itu adalah Ridwan. Entah kenapa perasaannya tidak enak dan itu membuatnya tidak nyaman.
Saat ini Ridwan sedang duduk di depan masjid padepokan. Nampak keringat sebesar biji jagung terjatuh dari wajah tampannya.
Tiba-tiba dia merasa terkejut oleh tepukan tangan seseorang di pundak sebelah kirinya lalu orang itu duduk disampingnya.
" Ada apa bro? " tanya orang itu yang ternyata adalah Guntur.
" Hmm.... Mas Gun... Tidak apa-apa, " ucap Ridwan tersenyum palsu.
Guntur melibat itu langsung mengerti bahwa Ridwa merasa sedang tidak baik-baik saja " Kau fokus saja pada turnamen bro, urusan yang lain itu urusan padepokan, " ucap Guntur.
" Mas Gun... Entah kenapa perasaanku tidak enak... Aku khawatir akan terjadi sesuatu pada padepokan, " ucap Ridwan dengan lesu.
Guntur pun tersenyum mendengar itu " Bro, padepokan pancanaka bukanlah padepokan keroco, padepokan ini adalah padepokan peringkat pertama di negeri ini otomatis tidak ada yang berani berbuat macam-macam pada padepokan ini, " ucapnya.
" Aku tahu mas tapi... " ucap Ridwan terpotong oleh Guntur.
" Apa itu berhubungan dengan keluargamu? " tanya Guntur.
Ridwan pun mengangguk pelan. Ridwan sadar dan sudah mengetahui jika padepokan pancanaka tempat dia berlatih dan belajar untuk menjadi seorang jawara yang kuat memiliki konflik dengan padepokan milik keluarganya yang mana Ridwan juga tahu sifat padepokan keluarganya yang kejam dan licik.
" Bro, jika aku jadi kau, aku akan meneruskan langkahku, aku tidak peduli orang-orang akan berkata apa dan berbuat apa, yang jelas selama jalanku itu jalan kebaikan maka aku akan lakukan semampuku, " ucap Guntur.
" Jujur mas... Hal inilah yang aku takutkan jika ikut turnamen, tidak mungkin padepokan tidak mengundang keluarga.... Jika aku tahu kejadiannya akan seperti ini, aku tidak akan ikut turnamen... Ini seperti aku menyulut api ke dalam padepokan ini... A-aku merasa kalau aku itu sumber masalah mas, " ucap Ridwan sambil meneteskan air mata karena merasa bersalah.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Ridwan. Jika seorang murid berhasil menjadi kontestan dalam ajang turnamen pasti padepokan akan mengundang keluarga mereka, hal itu bertujuan untuk menunjukan bahwasanya murid itu telah menunjukan prestasinya kepada keluarganya, walaupun kalah sekalipun itu sudah membuktikan bahwa usaha kerasnya tidak sia-sia.
Tapi bagi Ridwan itu adalah suatu keburukan baginya karena terjerat konflik itu walaupun sudah berdamai tapi itu hanyalah lisan saja dan tidak untuk batin mereka.
" Bro, jangan berpikir seperti itu... Itu hanya perasaanmu saja, yang terpenting sekarang, kau lanjutkan saja apa yang harus kau lakukan, untuk urusan keluargamu percayakan kepada padepokan jadi kau tenang saja, " ucap Guntur sambil tersenyum.
Ridwan yang mendengar itu hanya bisa percaya dengan Guntur dan padepokan tempatnya belajar saat ini " Semoga tidak terjadi apa-apa, " gumamnya dalam hati.
" Semangat bro, tulislah legendamu sendiri, hehehehe, " ucap Guntur sambil teetawa.
" Baiklah mas, " ucap Ridwan yang mulai tenang dan fokus.
***
Pagi ini, disebuah padepokan tepatnya padepokan kerambit hitam, nampak ratusan orang yang sedang berkumpul di halaman padepokan. Kumpulan orang itu adalah murid-murid dari padepokan kerambit hitam dan padepokan gagak hitam yang mana mereka adalah saudara. Padepokan itu memiliki visi misi yang sama dimana mendidik murid untuk menjadi seorang assasin bahkan mesin pembunuh sekalipun. Mereka terkenal dengan keahliannya dalam menyamar dan membunuh walau tidak sesempurna murid-murid Ragil dari padepokan pancanaka tapi mereka cukup kuat dan berbahaya. Hanya orang-orang tertentu yang menggunakan jasa mereka yang biasanya memberikan misi pembunuhan atau aksi teror kepada target. Tidak jarang para target dan saksi mereka hilang tanpa jejak untuk menghilangkan bukti.
__ADS_1
Tidak bisa dipungkiri bahwasanya pagi ini mereka sangat bersemangat untuk pergi ke padepokan pancanaka. Misi mereka hanya satu yaitu menghancurkan padepokan pancanaka.
Telah berdiri tiga orang pentolan mereka di depan ratusan murid di halaman padepokan kerambit hitam yaitu sesepuh Daeng, Gani yang mana Gani ini adalah anak dari sesepuh Daeng dan juga ayah dari Ridwan, lalu sesepuh Dalu. Sesepuh Dalu ini adalah sesepuh dari padepokan gagak hitam, ilmu dan kekuatannya sedikit lebih unggul dari sesepuh Daeng yang mana sesepuh Daeng adalah adik dari sesepuh Dalu.
" Daeng... Lebih baik kita berangkat mengingat matahari sudah hampir nampak di ufuk timur, " ucap sesepuh Dalu.
Sesepuh Daeng langsung mengangguk dan memerintahkan semua murid yang ikut serta untuk segera berangkat. Mereka menggunakan 20 truk dan beberapa mobil mewah untuk perjalanan mereka, karena jarak antara padepokan kerambit hitam dan padepokan pancanaka tidak terlalu jauh.
Wara yang saat itu juga ikut serta dalam misi ini pun bergegas akan tetapi dia segera menulis pesan di ponselnya untuk di kirim kepada seaeorang yang isinya hanya informasi " 470 O, KH n GH, 15 m... "
Setelah mengirim itu, Wara segera masuk ke dalam mobil dan mulai berangkat ke padepokan pancanaka bersama dengan yang lainnya.
Wara dinobatkan sebagai assasin paling kuat diantara semua assasin di padepokan kerambit hitam. Sesepuh Daeng menemukan Wara beberapa tahun yang lalu disebuah bangunan terbengkalai.
Dengan keadaan yang memprihatinkan penuh dengan luka sesepuh Daeng mengajak Wara untuk bergabung di padepokan kerambit hitam.
Tidak lama setelah itu Wara berjalan mengikuti sesepuh Daeng dengan senyuman penuh misteri. Setelah mereka sampai di padepokan kerambit hitam, Wara dilatih langsung oleh sesepuh Daeng. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun sampai dimana Wara menjadi kaki tangan sesepuh Daeng dan menjadi assasin terkuat di padepokan kerambit hitam.
Akan tetapi semuanya tidak ada yang tahu jikalau Wara ini sebenarnya bernama Warok murid ke 3 Ragil yang diberi julukan Si Seribu Wajah karena dia memiliki keunikan tersendiri yaitu mengganti wajah sesuka hatinya. Dia diberikan misi menjadi mata-mata di padepokan kerambit hitam. Hampir setiap hari Wara atau Warok ini memberikan informasi kepada Ragil selaku Gurunya.
***
Di suatu tempat cukup jauh dari padepokan pancanaka terdapat lima orang yang sedang duduk dan membahas sesuatu yang sangat serius.
Kelima orang itu sedang membahas penyerangan terhadap padepokan yang amat mereka benci yaitu padepokan pancanaka.
Bagi mereka, Aji dan Lastri adalah ancaman yang harus mereka singkirkan mengingat mereka adala para legenda. Sedangkan untuk Sang Pepet sendiri mereka kehilangan jejak tidak tahu keberadaannya bahkan sampai sekarang, yang mereka tahu bahwa Sang Cakra sudah berpulang. Dengan begitu mereka berlima semakin senang karena penghalang untuk bisa menguasai Bumi Nusantara ini akan semakin terbuka lebar.
" Bagaimana perkembangannya Dungul, " ucap salah satu dari kelima kajinan itu yang bernama Sutaryo.
" Padepokan kerambit hitam dan padepokan gagak hitam sudah berjalan ke padepokan pancanaka dan pelindung padepokan pancanaka sudah ditutup sejak sendekala pagi tadi, " ucap Dungul.
" Hahahaha... Aku tidak sabar melihat ekspresi mereka yang menyedihkan saat melihat kita, " ucap salah satu dari mereka yang bernama Gundi.
" Lebih baik kita segera kesana dan melihat bagaimana para sesepuh busuk itu menghancurkan padepokan pancanaka yang bahkan kita sendiri sangat kesusahan yang hanya untuk menghadapi Aji sendiri, " ucap seseorang dari mereka yang bernama Karun.
" Benar, mari kita segera kesana dan membawa pasukan kita sebanyak mungkin, " ucap orang terakhir yang berbicara yang bernama Sabto.
Setelah itu mereka pun langsung beranjak dan bersiap untuk menggempur padepokan pancanaka.
***
Di arena pertandingan yang mana terdapat beberapa ruangan. Salah satu ruangan itu digunakan sebagai kantor untuk keperluan yang berhubungan dengan pertandingan.
Beberapa orang yang berada di kantor tersebut duduk dengan tenang sambil seseorang menjelaskan tentang berjalannya turnamen. Mereka adalah Aji, Lastri, Anisa, Ragil dan beberapa guru yang menjadi panitia dalam turnamen tahun ini bahkan ada tiga orang aksara kepercayaan Aji yang mana sebagai pelindung padepokan.
Ragil yang saat itu menjelaskan peraturan turnamen dikejutkan oleh getaran ponsel yang berada di saku celananya.
Ragil segera untuk melihat siapa yang menghubunginya itu. Tapi setelah Ragil melihat nama seseorang yang tertera di layar ponselnya itu mengerutkan keningnya.
Aji yang melihat itu segera untuk bertanya " Siapa Ragil? " tanyanya.
Ragil pun langsung mengatakan nama yang tertera di layar ponselnya itu " Pesan dari Warok pak, " ucapnya.
__ADS_1
Aji yang mendengar itu langsung menyuruh Ragil untuk membuka pesan tersebut " Bukalah Ragil, " ucap Aji dengan tenang.
Ragil pun langsung mengangguk dan membuka pesan dari Warok " 470 O, KH n GH, 15 m.... Pak mereka memang benar-benar ingin menghancurkan padepokan kita, " ucap Ragil.
Seketika semua orang terdiam, kembali kepada pemikiran mereka masing-masing. Tentu mereka tahu apa bahasa singkatan yang dikirim oleh Warok yang mana itu menjelaskan kalau 470 O adalah jumlah orang, KH n GH adalah nama padepokan dan 15 m adalah waktu tibanya mereka ditempat tujuan.
" Mereka benar-benar ingin menyulut api peperangan... Tapi, kita tidak boleh gegabah, biarkan saja mereka terlebih dahulu, " ucap Aji dengan tenang.
" Tapi pak, dengan banyaknya orang yang mereka bawa itu sudah cukup untuk membuat kekacauan yang besar terlebih mereka pasti para jawara minimal pintu ke 5, " ucap Ragil.
" Aku tahu tapi kita juga harus tenang dan mencari solusinya bersama, " ucap Aji.
" Kerambit hitam dan gagak hitam... Mereka tidak terpisahkan, " ucap seseorang yang mana dia adalah salah satu seorang aksara pelindung padepokan pancanaka yang bernama Abdi.
Disaat mereka terdiam sejenak Aji mendengar suara yang hanya dia sendiri yang mendengarnya " Aku akan meloloskan sesepuh Daeng dan Gani karena mereka adalah keluarga kandung Ridwan tapi yang lain tidak.... Selama mereka masuk dengan niatan jahat mereka akan langsung terkena ilusi saat aku sudah mengaktifkan kubah ilusinya... Tapi jangan terlalu senang karena setelah itu mungkin mereka juga akan datang yang mana mereka jauh lebih kuat dari orang-orang itu.... "
Aji yang mendengar itu langsung tersentak terkejut dengan kalimat terakir yang dikatakan oleh Guntur. Aji sudah tahu jika Guntur bisa melakukan telepati jadi tidak heran kalau tiba-tiba ada suara didalam otaknya.
" Tu-tunggu nak... Apa maksudmu dengan mereka yang jauh lebih kuat dari para sesepuh licik itu? " tanya Aji dalam hati.
" Pastilah kakek bisa menebak siapa mereka dan yang ada dibelakang mereka sangatlah banyak mungkin sampai ribuan, " ucap Guntur menggunakan telepati kepada Aji.
" Mak-maksudmu mereka adalah para kajinan? " tanya Aji dalam hati.
" Karena kakek menutup sementara pelindung yang dibuat oleh nenek selama turnamen itu berlangsung agar wali murid bisa masuk ke dalam padepokan, itu membuat mereka berkesempatan untuk masuk juga karena pelindung nenek itu juga untuk melindungi padepokan dari bangsa lain yang bekerjasama oleh manusia yang kita sebut dengan kajinan, maka dari itu mereka juga akan menghancurkan padepokan apalagi mereka juga tahu jika padepokan kerambit hitam dan padepokan gagak hitam akan menyerang padepokan, " ucap Guntur menggunakan telepati kepada Aji.
" Astaghfirullah.... Lalu apa yang akan kita lakukan nak? " tanya Aji dalam hati.
Namun lama Aji menunggu tidak ada jawaban lagi dari Guntur, itu yang membuat Aji sangat tertekan dan setres memikirkan semua ini. Masalah dengan padepokan kerambit hitam saja belum selesai dan muncul masalah baru yang kali ini berhubungan dengan para kajinan.
Lastri yang mengetahui suaminya itu panik dengan tiba-tiba itu lalu bertanya " Ada apa mas? Kenapa tiba-tiba panik dan pucat seperti itu? " tanya Lastri.
Aji yang mendengar itu menarik nafas dalam-dalam " Baru saja Guntur mengatakan kepadaku melalui telepati jika kita akan diserang dua arah, maksudku bukan hanya para sesepuh licik itu tapi juga para kajinan yang jauh lebih kuat dari para sesepuh licik itu, mereka juga membawa pasukan dari bangsa lain itu sangatlah banyak, Guntur mengatakan bisa sampai angka ribuan, " jelas Aji.
Seketika semua orang yang mendengar itu terkejut dan panik. Jika hanya para sesepuh licik itu mereka bisa untuk menghalaunya tapi untuk para kajinan yang jauh lebih kuat dan pasukan dari bangsa lain itu?
Sebagai salah satu dari para legenda tentu melawan para kajinan sangatlah mudah tapi untuk melawan bangsa lain itu sangatlah merepotkan. Bukan berarti kekuatan mereka itu lemah untuk bangsa lain tapi mereka itu makhluk berjasad halus, berbeda dengan manusia yang memiliki jasad kasar.
Belum lagi mereka para kajinan yang sudah menyatu dengan bangsa lain pasti lebih merepotkan lagi karena kekuatan mereka akan meningkat berkali-kali lipat.
Nampak semua orang yang berada di ruangan itu terdiam. Diamnya mereka bukanlah panik atau gelisah akan tetapi mencari solusi masalah ini.
Begitu juga dengan Anisa, dia berfikir untuk bagaimana caranya supaya semuanya bisa terkendali tanpa adanya korban. Disaat dia sedang termenung memikirkan itu suara Guntur terdengar didalam otaknya.
" Nisa, urusan para kajinan itu urusanku kalian fokus saja dengan turnamen dan para sesepuh itu, aku sudah memiliki rencana untuk itu jadi kau bisa tenang, " ucap Guntur menggunakan telepati.
Anisa terkejut dengan itu tapi segera untuk mencoba untuk tetap tenang. Lalu Anisa bertanya kepada suaminya itu dalam hati " Mas... Tapi... " ucapnya yang terpotong oleh suara suaminya.
" Kau tenang saja... Fokus saja untuk melindungi nenek, biarkan suamimu ini yang menangani semuanya hehehehe, " ucap Guntur melalui telepati.
" Aku mengerti, berhati-hatilah mas, " ucap Anisa dalam hati.
Setelah itu Anisa bisa untuk tenang tapi juga khawatir. Dalam kasus ini Anisa tidak bisa berbuat banyak mengingat dirinya harus menjaga Lastri.
__ADS_1