Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Bantuan


__ADS_3

" Kau!? " ucap Arga dengan amarah yang sudah memuncak sambil perlahan berdiri.


Begitu juga dengan yang lainnya, mereka semua langsung mengeluarkan aura membunuh dan kajinan mereka.


Namun setelah beberapa saat, mereka mengerutkan keningnya karena gadis yang menyerang Anggi tak kunjung muncul.


" Siapa gadis itu? Kenapa aku tidak bisa merasakan kehadirannya? " tanya Mandi dengan keheranan.


" Bukan hanya dirimu saja Mandi, tapi kita juga... Kalian berhati-hatilah karena aku merasa gadis itu sangat kuat, " ucap Sandang yang sedari tadi hanya terdiam saja sambil berwaspada.


Anggi yang sudah dapat berdiri dengan tegak itu merasa sangat kesal dan geram dengan gadis itu.


Luka yang dia dapatkan dari serangan gadis itu pulih dengan cukup cepat karena kekuatan dari raja angkara.


Mereka menyadari jika mereka adalah boneka mayat, namun karena raja angkara memberikan kekuatannya maka mereka hidup selayaknya manusia pada umum namun memiliki kekuatan kajinan yang sangat kuat.


" Keluar kau! " teriak Laki yang memang sudah dipenuhi dengan nafsu angkara.


Tidak lama kemudian, gadis itu menampakkan dirinya sambil menatap tajam ke arah mereka dan berjalan dengan pelan.


" Katakan, siapa kau? Kenapa kau mengganggu kami? " tanya Sandang yang memang sedikit tenang dari pada yang lainnya.


" Namaku Yanci, aku memang diutus untuk memata-matai kalian, " ucap Yanci tenang.


" Sejak kapan? " tanya Sandang kembali.


" Sejak kalian terlahir..., " ucap Yanci sambil tersenyum tipis.


Seketika itu juga semua raut wajah mereka menjadi suram dan juga terkejut.


Mereka berjalan dengan sangat hati-hati dan bermain secara halus, tapi mereka telah tercium sejak awal mereka dibangkitkan kembali oleh raja angkara.


Tiba-tiba Sandang mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu disaat baru saja mereka terlahir kembali dan langsung merasakan aura asing yang sedang mengawasi mereka.


" Apa kaulah orangnya? " tanya Sandang lagi.


" Aku tidak tahu kalian itu bodoh atau dungu, " ucap Yanci sambil memainkan belati di tangan kanannya.


" Tutup mulutmu! " ucap Laki sambil berteriak.


" Bodoh, " ucap Yanci yang langsung menghilang dari pandangan mereka.


Menjadikan Sandang dan kawan-kawannya menjadi lebih waspada.


Namun beberapa detik kemudian, tiba-tiba tangan kanan Arga telah terputus dari tubuhnya.


" Argh..., " teriak Arga.


Namun, dengan cepat tangan kanan Arga tiba-tiba tumbuh kembali dan menjadi utuh seperti sedia kala.


" Hahaha... Kau yang bodoh karena kami semua adalah boneka mayat raja angkara jadi mau kau cincang tubuh kami sekalipun kami masih bisa kembali dengan utuh, " ucap Arga sambil tertawa.


Disamping itu, Yanci yang mendengar itu tidak menghiraukan ucapan dari Arga dan terus menyerang mereka semua secara bergiliran.


" Sialan kau ******! " teriak Laki begitu juga dengan yangblainnya yang merasa kesal karena semua serangannya tidak ada yang mengenai Yanci. Malah, satu persatu anggota tubuh mereka terpotong 4 kali dan ajaibnya anggota tubuh mereka terus tumbuh.


Kepala yang terpenggal, tubuh yang terpotong, sampai dengan potongan kecil pun mereka tetap bisa beregenerasi kembali.


Namun itu semua tidak membuat Yanci mengeluh atau terkejut.


Yanci tahu jika mereka sanggup melakukan itu tapi Yanci melakukan serangan seperti itu sebenarnya untuk menunggu bantuan dari tuannya karena Yanci dapat merasakan jika saudara-saudaranya sedang menuju ke lokasinya yang membawa Sang Betari Ayu atau Alisa.


Sebelumnya Yanci sudah diberi tahu oleh tuannya melalui telepati jika semua saudaranya akan menyusulnya dan juga Alisa.


Maka dari itu Yanci tidak segera untuk menghancurkan pusat kekuatan mereka yang berada di jantung mereka.


Sebelum mereka datang, Yanci diperintahkan untuk tidak membunuh atau menghancurkan mereka, alasannya supaya bisa menyuplai sumber kekuatan untuk Alisa.


Sama seperti halnya Yanci, mereka para kajin juga memiliki inti kekuatan mereka sebagai sumber dari kehidupan.


" Di-dia..., " ucap Sandang dengan sedikit gentar pada dirinya.


Selama pertarungan, Sandang memperhatikan laku serangan Yanci dimana Yanci selalu menggeser serangannya pada bagian inti tubuhnya dan kawan-kawannya yang sebagai inti dari kekuatan mereka.


Sandang merasa jika sebenarnya Yanci tahu jika letak inti mereka terdapat pada jantung mereka dan seperti sedang mengulur waktu.

__ADS_1


" Jika dia sudah tahu inti kami, kenapa dia tidak langsung menghabisi kami...? Ja-jangan bilang kalau? " gumam Sandang yang langsung mengerti dengan situasi pertarungan ini.


Tiba-tiba terdengar suara dentuman seperti benda jatuh dari atap ruangan yang digunakan untuk pertarungan mereka.


" Boom "


Asap hitam pekat beserta api berkobar di tengah pertarungan.


Beberapa detik kemudian, dari asap dan api itu muncul seorang pria paruh baya yang mereka para kajin sangat mengenalnya.


" Kau?! " ucap Laki terkejut.


" Haihh... Kalian benar-benar bodoh, hanya dengan keroco seperti dia saja kalian tidak bisa apa-apa, " ucap pria itu sambil menatap tajam ke arah para kajin.


Yanci yang tahu siapa pria tersebut langsung menjaga jarak kepadanya dengan mundur beberapa langkah kebelakang.


" Kenapa kau ada disini Winga? " tanya Sandang dengan heran.


" Jika aku tidak kesini siapa yang akan membantuku membalaskan dendam kepada para legenda? Lalu apa yang kalian lakukan selama ini? Kalian ini benar-benar bodoh! " tanya pria tersebut yang ternyata adalah Winga Sang Dukun.


" Tutup mulutmu! " ucap Laki dengan geram.


" Seharusnya kau yang tutup mulut! Melawan boneka seperti dia saja kau tidak bisa apa-apa, apalagi melawan tuannya? " tanya Winga sambil menatap Yanci dengan tatapan tajam.


Seketika itu juga para kajin sangat terkejut dengan ucapan Winga.


Pasalnya, mereka tidak tahu jika Yanci sebenarnya adalah seorang boneka. Mereka mengira Yanci adalah seorang manusia.


Namun melihat Yanci yang sangat sempurna itu, para kajin ragu dengan ucapan Winga tentang Yanci adalah boneka.


" Hoe Winga... Jangan bercanda!? " ucap Laki yang nampak masih meragukan ucapan Winga.


" Teraserah mau oercaya atau tidak, lebih baik segera hancurkan boneka itu... Ingat, incar jantungnya karena disanalah sumber kekuatannya, " ucap Winga sambil menatap Yanci dengan tajam.


Para Kajin pun langsung mengangguk dan bersiap untuk menyerang Yanci secara bersamaan.


" Wusshh "


Seketika itu juga para Kajin dan juga Winga langsung menyerang Yanci dengan brutal.


Yanci yang sudah siap dengan itu seketika menghilang dari pandangan mereka tapi karena Winga sudah bergabung untuk melawannya maka semua pergerakan Yanci dapat dibaca oleh Winga.


Winga sendiri yang melihat semua pergerakan Yanci seketika mengintruksikan kepada para kajin bagaimana laku dan pola serangan yang filakukan oleh Yanci.


" Sandang arah jam 5... Laki arah jam 1... Arga arah Jam 9... Anggi arah jam 7... Mandi arah jam 11... Septi arah jam 12... Windi arah jam 3...," ucap Winga yang terus melakukan intruksi.


Benar saja, para kajin yang mendapatkan intruksi dari Winga, mereka dapat menghalau serangan acak dari Yanci walaupun mereka tidak bisa melihat sosok Yanci.


Mereka hanya menggunakan berkat dari Raja Angkara sebagai pelindung untuk diri mereka.


" Bagus, dengan begini aku bisa untuk menggunakan kekuatanku untuk membunuh boneka itu..., " gumam Winga dalam hati sambil bersiap untuk menyerang Yanci.


Yanci yang tahu akan hal itu tidak memperdulikan semua itu dan terus menyerang mereka walau tidak dengan kekuatan penuhnya.


Melihat Winga yang sudah bersiap untuk menyerangnya dengan Winga yang mengeluarkan sebuah bola energi kajinannya berwarna hitam keunguan sebesar bola basket, Yanci seketika langsung mundur beberapa langkah kebelakang.


" Mati kau! " ucap Winga sambil melemparkan bola energi itu ke arah Yanci yang sedang berdiri.


Bola energi itu melesat dengan cepat. Lalu beberapa detik berikutnya, nampak bola energi itu menabrak Yanci yang masih berdiri dan terlihat sangat tenang dan ketakutan.


" Blaaarrrr "


" Booom "


" Brruuuukkk "


Debu-debu beterbangan yang dibarengi dengan runtuhnya bangun markas mereka.


Setelah beberapa saat debu-debu itu menghilang, nampak bangunan itu yang rata dengan tanah dan terlihat Winga dan para Kajin berdiri di puing-puing reruntuhan sambil tersenyum penuh kemenangan.


Mereka mengira jika dengan serangan yang dilancarkan oleh Winga itu dapat menghancurkan Yanci.


Pasalnya bola energi itu bukanlah bola energi biasa, melainkan bola energi itu tercipta dari tujuh tumbal dari Winga.


Winga yang sudah membunuh ribuan orang sebagai tumbal itu menunjukkan betapa mengerikannya Winga saat ini.

__ADS_1


Dengan kekuatannya, Winga dapat menghancurkan satu kota besar hanya dengan satu lambaian tangannya saja.


" Aku tidak menyangka jika harus menggunakan 7 kekuatan tumbalku hanya untuk membunuhnya, " ucap Winga sambil menatap tangan kanannya yang mengepal.


Bagi seorang kajinan, tumbal adalah prioritas yang sangat penting untuk kekuatannya.


Jika kekuatan kajinan yang diberikan kekuatan dari para tumbalnya, maka kekuatannya akan berlipat-lipat lebih besar dan sangat berbahaya.


Namun bagi Winga yang sudah menjadi sosok legenda untuk para kajinan dan sudah menumbalkan ribuan orang, mengorbankan sedikit tumbal tentu bukan lagi masalah untuknya.


" Kau hebat Winga, " ucap Laki senang.


" Benar, sebagai seorang legenda kajinan... Kekuatanmu sangatlah mengerikan bahkan sanggup untuk menghancurkan satu kota besar dengan mudah, " ucap Arga.


Disaat Winga ingin mengucapkan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara seorang gadis didepan mereka.


" Omong kosong! " ucap gadis itu yang ternyata adalah Yanci yang sedang duduk diatas puing-puing reruntuhan.


Sontak saja hal itu membuat Winga dan para Kajin terkejut dengan itu.


" Kau!? " ucap Winga sedikit berteriak.


" Bagaimana mungkin!? " tanya Sandang terkejut.


" Kalian tahu, jika dibandingkan dengan Aji, kalian jauh lebih lemah dari pada dia.... Apalagi dengan tuanku, kalian hanyalah sekelompok semut yang malang, " ucap Yanci memprovokasi.


" Kurang ajar! " teriak Winga yang langsung terpancing dengan ucapan Yanci, begitu juga dengan para kajin.


Mereka langsung mengeluarkan aura kajinan mereka dengan maksimal kecuali Winga untuk menunjukkan bahwa ucapan Yanci itu tidak benar.


Namun setelah beberapa saat mereka melakukan itu, mereka mengerutkan keningnya melihat Yanci yang terlihat santai dan tidak terpengaruh dengan aura yang dikeluarkan oleh mereka.


" Hahhh.... Bodoh, " ucap Yanci santai.


Mendengar itu, seketika para kajin murka dan dengan jurus kajinan milik mereka, mereka semua memanggil bala bantuan dari bangsa lain untuk membantu mereka.


Sedangkan Winga sendiri juga melakukan hal yang sama namun Winga hanya memanggil satu makhluk saja dari bangsa lain.


Akan tetapi, walaupun hanya satu, makhluk itu sangatlah kuat dari pada yang lainnya.


Dengan waktu hanya beberapa detik saja, nampak sudah ribuan makhluk dari bangsa lain dan satu diantara mereka yang nampak sangat besar selayaknya raksasa dengan kekuatan yang sangat kuat dan ganas.


Para makhluk itu memiliki rupa yang jauh dari kata sempurna.


Berbagai bentuk dan juga wajah yang menjadikan siapapun akan menggigil dan lari terbirit-birit karena ketakutan.


Apalagi sosok tinggi besar selayaknya raksasa itu yang mana memiliki wajah tengkorak dengan aura yang sangat kuat, menatap Yanci dengan tatapan yang tidak sulit diartikan karena tidak ada bola matanya.


Namun setelah beberapa detik, terdengar dengan jelas suara seseorang dibelakang Yanci.


" Apa kau butuh bantuan.... Adik Yan? " tanya Kris yang berada beberapa meter diantara mereka.


Begitu juga dengan yang lainnya yang kini para boneka dari Guntur itu menampakkan diri mereka secara serempak, tidak lupa dengan Alisa yang sudah mengeluarkan senjata cakarnya dan dengan mata hitam legamnya.


" Kalian lama sekali, aku bosan untuk mengulur waktu! " ucap Yanci dengan malas.


" Hehe... Maafkan kami adik Yan tapi bagaimana dengan para tumbal yang masih hidup, " tanya Kris dengan nasib para tawanan tumbal.


" Tenang saja karena aku dan dia sudah mengamankan semuanya di tempat yang aman, " ucap Yanci.


" Dia? Siapa? " tanya Kris mengerutkan keningnya.


" Itu..., " ucap Yanci sambil menunjuk ke arah atas pohon mangga yang cukup tinggi.


Sontak saja para boneka dan Alisa menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Yanci.


Terlihat seorang gadis bercadar yang hanya terlihat sepasang matanya saja dengan pakaian serba hitam menatap Winga dan semua musuh dengan tajam sambil memegang erat busur panahnya.


Alisa yang melihat gadis itu langsung mengenali siapa gadis itu karena Alisa sudah melihat bagaimana kekuatan dari gadis itu saat padepokan pancanaka mendapatkan serangan dari iblis aksara dan juga Guntur sudah memberi tahu siapa dia.


" Gea Si Boneka Rambut, " ucap Alisa.


" Huh? " Ucap Kris dan yang lainnya.


" Sudahlah yang jelas dia ada di pihak kita dan bantu aku untuk mengalahkan mereka, " ucap Yanci.

__ADS_1


" Alisa... Siapkan Dirimu, " ucap Kris memperingati.


" Aku selalu siap, mereka seperti makanan untukku, hehehe..., " ucap Alisa sambil tersenyum misterius dan menatap Winga dan para kajin dengan mata hitamnya.


__ADS_2