Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Gea Si Boneka Rambut


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Anisa, Alisa dan juga Putri sampai di gubuk milik Guntur. Disana sudah menunggu Guntur dan juga yang lainnya.


Sebelumnya, Guntur sudah memberitahu jika akan ada seseorang lagi yang akan bergabung dengan mereka yaitu murid baru bernama Putri yang juga salah satu keluarga Samudra yang terpisah seperti Julian.


Namun siapa sangka jika Alisa juga ikut datang bersama mereka. Kini, Alisa sangat terkenal di padepokan ini dan juga beberapa padepokan serta keluarga yang lain saat mereka menghadiri acara turnamen kemarin dan melihat aksi heroik Alisa yang menyelamatkan padepokan seorang diri dari para kajinan.


" Bu-bukannya dia itu Alisa Sang Betari Ayu? " ucap Yuni terkejut.


Setelah kejadian itu, Alisa mendapatkan gelar tersendiri dari guru besar mereka yaitu Aji Samudra. Gelar Sang Betari Ayu bukanlah sekedar gelar namun ada cerita tersendiri kenapa Aji memberikan gelar itu kepada Alisa.


Arti dari Betari Ayu sendiri adalah Dewi Cantik. Maksud dari gelar itu adalah Dewi Kecantikan dimana siluet kajinan Ratu Betari itu sendiri. Ratu Betari sendiri sebenarnya mempunyai nama panjang yaitu Betari Ayuning Jagat yang berarti Dewi tercantik di seluruh alam.


Dari penggalan nama panjang Ratu Betari itulah Alisa mendapatkan gelar itu. Namun tetap, gelar hanyalah gelar dimana nama lain dari seseorang itu sendiri yang tidak bisa untuk merubah apapun yang sudah ditetapkan olrh Sang Hyang Tunggal kang Agung.


" Assalamualaikum.... Kakak..., " ucap Alisa yang langsung memeluk Guntur dengan erat.


Guntur pun membalas pelukan Alisa juga " Waalaikum salam... Lama tidak bertemu Alisa, " ucap Guntur.


Alisa pun melepaskan pelukannya " Aku kangen tahu kak... Tidak ada kakak sepi rasanya, hihihi, " ucap Alisa bercanda.


" Hehehe, oh iya ada apa Alisa? Kenapa kau kemari? " tanya Guntur.


" Karena Lisa kangen kakak, hihihi" ucap Alisa sambil cengengesan.


Tiba-tiba Putri berjalan lalu berdiri di depan Guntur sambil meminta maaf atas kejadian sebelumnya.


" Ma-maafkan aku... A-aku tidak tahu jika mas Guntur berasal dari keluarga utama, " ucap Putri sambil membukukkan badannya.


" Hei... Tidak apa-apa Put, aku senang kau mau kesini, " ucap Guntur sambil tersenyum.


" Eh... Bentar, maksudnya apa sih kok aku tidak faham... Keluarga utama? Kak maksudnya apa? " tanya Alisa tiba-tiba.


Guntur tersenyum mendengar itu lalu menjelaskan semuanya kepada Alisa secara singkat.


" Alisa, nama panjang Putri adalah Putri Ayuning Samudra dimana dia juga bagian dari keluarga kita, keluarga Samudra... Hanya saja dia menjadi keluarga yang terpisah dari keluarga utama... Itu dikarenakan kakeknya dulu yang membuat sebuah aib yang mana beliau dikeluarkan dari keluarga utama kita..., " jelas Guntur.


Seketika itu juga Alisa terkejut dan melebarkan matanya.


" Be-berarti.... A-apa yang dikatakan ayah itu benar jika ada keluarga kita yang terpisah bahkan kakek Aji sendiri juga mencarinya selama ini tapi belum juga ketemu, dan kau putri.... "


" Bukan hanya Putri tapi juga Julian yang nama panjangnya Julian Arga Samudra..., " ucap Guntur.


Alisae terdiam sambil melihat Putri dan juga Julian yang berada di samping Ridwan menatap Alisa dengan pandangan hormat.


" Kak Julian..., " ucap Alisa memanggil sambil mengayunkan tangannya.


Julian yang melihat itu langsung berjalan ke arahnya lalu berhenti di depan Alisa di samping kanan Putri.


Seketika itu Alisa memeluk mereka berdua dengan erat. Putri seketika menangis sambil memeluk Alisa, sedangkan Julian hanya meneteskan air matanya.


" Hahhh... Dari generasi ketiga sampai sekarang generasi ke 33 akhirnya bisa berkumpul kembali, " ucap Guntur sambil tersenyum.


Kenapa bisa Guntur mengetahui akan hal itu karena Guntur pernah melihat ingatan kakeknya saat pertama kali mereka bertemu. Semua ingatan Aji Guntur dapat mengetahui semuanya. Walaupun dengan waktu yang sangat singkat namun bagi Guntur itu adalah waktu yang sangat lama untuk melihat ingatan itu.


Semua silsilah di keluarga Samudra Guntur mengetahui semuanya. Sekarang bahkan Guntur juga mengetahui keluarga Samudra yang terpisah dari ingatan Julian.


" Aku akan memberitahu kakek tentang kalian, " ucap Alisa begitu melepaskan pelukkannya lalu mengambil handphone di sakunya.


" Tidak usah Alisa, nanti kakak saja yang memberitahu masalah ini kepada kakek, " ucap Guntur.


" Hm... Baiklah, oh iya kenapa disini sangat ramai? Tidak biasanya seperti ini, " tanya Alisa penasaran.


" Itu karena aku akan membuat kelompok sendiri dan juga melatih mereka supaya menjadi lebih kuat lagi, " ucap Guntur sambil tersenyum.


" Waaaahhhh.... Kalau begitu aku juga mau bergabung kak, hihihi..., " ucap Alisa dengan semangat.


" Apa!!! " ucap Umar dan Yuni tiba-tiba.


Sontak saja semuanya menoleh ke arah mereka dengan terkejut.

__ADS_1


" Lah kenapa? " tanya Alisa.


" Se-serius kau mau bergabung? " tanya Umar yang masih belum percaya.


" Iya... Aku akan bergabung, " ucap Alisa.


" Alisa.. Kau boleh saja bergabung tapi pelatihan ini sangat berat dan yang pasti ada syarat serta peraturan yang akan kau terima, " ucap Guntur dengan serius.


Alisa yang mendengar itu merenung sejenak. Didalam hatinya, dia sangat yakin dengan keputusannya namun entah kenapa, pikirannya sedikit ragu.


" Jika kau belum benar-benar yakin tidak usah dipaksa, lagipula kapanpun kau akan bergabung kau akan diterima asalkan menjalani syarat dan peraturannya, " ucap Guntur.


" Memang apa kak? " tanya Alisa.


" Cukup mudah, selama aku yang membimbingmu kau tidak diperbolehkan untuk memandang kasta atau statusmu, semua yang ada disini setara bahkan semua orang diluar sana, aku pun juga akan memperlakukan satu dengan yang lainnya itu sama, tidak ada yang akan aku bedakan entah itu keluarga atau bukan, jadi jangan harap untuk mendapatkan keringanan atau bantuan sekalipun, kau tahu bahkan keluarga Samudra tidak bisa untuk campur tangan dengan ini termasuk kakek... "


" Kakek sudah mempercayakan semua masalah ini kepadaku dan aku yang akan bertanggung jawab penuh dengan mereka ketika mereka sudah bergabung... Tawa, tangis, susah, senang bahkan duka sekalipun akan kita tanggung bersama... "


" Dan yang pasti.... Jika kau sudah resmi bergabung kau harus siap untuk menjalani pelatihan neraka dan juga siap untuk menerima dalam keadaan hidup dan mati, " jelas Guntur panjang lebar dengan serius bahkan saking seriusnya, Guntur mengeluarkan aura jawaranya yang sangat diluar nalar dan abnormal.


Seketika semuanya terdiam. Mereka tidak menyangka jika Guntur sangat serius dengan ini apalagi mereka dapat merasakan jika Guntur terlalu jauh dari apa yang mereka pikirkan.


" Aku membentuk kelompok ini bukan untuk bermain atau menjadikan kalian hanya sekedar kuat saja, asal kalian tahu... Kita tidak hidup di jaman kerajaan tapi kita hidup di jaman modern... Kita terlahir sebagai seorang petarung yang mana kita berada di sisi lain dari kata modern itu sendiri... "


" Diluar sana, mungkin banyak sekali kelompok bahkan organisasi yang jauh lebih kuat dari kita, tapi aku mempunyai keyakinan kuat kepada kalian semua jika suatu saat nanti kalian bahkan akan melebihi itu semua, " ucap Guntur memberikan motivasi kepada semuanya.


Tiba-tiba Ridwan mengangkat tangan kanannya lalu bertanya.


" Mas Gun, aku tidak faham dengan kata-kata mas Gun yang terakhir, maksud mas Gun apa? "


" Kanuragan..., " ucap Guntur sambil tersenyum.


Sontak semuanya terkejut dengan apa yang dikatakan Guntur dengan kata kanuragan.


Di Bumi Nusantara sendiri hanya guru besar mereka yaitu Aji Samudra saja yang sudah mencapai titik itu.


" Asalkan kalian tetap pada keyakinan kalian semua itu pasti akan tercapai.... Ingatlah satu hal bahwa didunia ini tidak ada yang mustahil, selagi Sang Hyang Tunggal kang Agung berkata KUN FAYAKUN pasti akan terlaksana, tentu ujian dan cobaan kalian akan sangat berat bahkan jika itu diharuskan untuk menangis dan berkeringat darah sekalipun tentu itu sangat berlaku...., "


" Satu hal lagi.... Bumi Nusantara sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, jika bukan kita yang memberantas mereka bala kurawa, lalu siapa lagi?, " ucap Guntur dengan tegas dan serius.


Keadaan pun menjadi sunyi dan juga hening. Mereka larut dalam pemikiran masing-masing.


" Jika kalian ingin mundur maka aku persilahkan tapi jika kalian ingin tetap melanjutkan untuk bertahan dan terus menjadi bagian dari kelompok ini, maka aku sendiri yang akan menjamin kalian, " ucap Guntur.


Beberapa saat kemudian Ridwan langsung mengatakan sumpah setianya kepada Guntur dan kelompok yang baru dibuat oleh Guntur.


" Aku akan tetap berada disisimu mas Gun dan aku bersumpah akan selalu setia dan tidak akan berkhianat kepadamu, " ucap Ridwan dengan serius.


Mereka semua langsung menoleh ke arah Ridwan sejenak lalu dengan serempak mengatakan hal yang sama dengan Ridwan bahkan Alisa juga mengatakan hal yang sama kecuali Putri yang masih kebingungan dengan keadaan ini.


" Baiklah jika itu mau kalian maka bersiaplah untuk menjadi seseorang yang akan menuliskan legenda kalian sendiri..., "


" Nah Putri, bagaimana denganmu? " tanya Guntur.


Putri yang masih kebingungan pun terdiam.


" Aku tahu kau masih bingung dan juga ragu apalagi dengan kondisimu sekarang ini yang masih lemah daripada mereka... Tapi percayalah kau akan segera mengimbagi mereka di masa depan jika kau mau bergabung dengan kami, " ucap Guntur sambil tersenyum.


" A-aku...., " ucap Putri belum yakin.


" Putri, tidak usah terburu-buru.... Akan lebih baik jika kau pikirkan masalah ini dengan matang, " ucap Guntur sambil tersenyum.


" Te-terima kasih, aku akan memikirkan ini, " ucap Putri mengangguk.


" Baiklah untuk kalian, bersiaplah untuk memulai latihan lari cambuk neraka, hehehehe..., " ucap Guntur sambil tersenyum misterius.


Ridwan yang mendengar langsung melebarkan matanya lalu merinding diseluruh tubuhnya. Latihan yang sangat tidak dia sukai dimana mereka semua akan berlari dalam waktu yang sudah ditentukan, jika gagal maka akan langsung terkena cambukan yang sangat menyakitkan.


***

__ADS_1


Seorang gadis bercadar bernama Husna tengah berdiri seorang diri diatas pohon pinus yang cukup tinggi di puncak bukit.


Menatap lurus ke arah kota Batavia dengan tatapan penuh dengan harapan. Harapan dimana seseorang yang tengah menunggu kedatangannya untuk menjemputnya.


Bisa saja dirinya pergi ke sana tapi dia tidak melakukan itu dan lebih memilih untuk tetap menunggu.


Dalam benaknya, dirinya selalu berdoa agar lekas untuk dipertemukan dengan orang yang sangat ia cintai.


Kini, Husna telah menjadi seorang aksara yang sempurna. Semua ilmu dari sang legenda aksara Sang Pepet sudah dia serap semuanya hanya dalam waktu beberapa bulan saja.


Sungguh suatu bakat yang sangat langka dan juga mustahil untuk dilakukan, namun siapa sangka jika Husna sendiri memiliki tanda aksara di dada kanannya dimana tanda itu terhubung langsung dengan Sang Hyang Aksara itu sendiri yang mana dirinya juga akan ikut abnormal juga.


" Guntur..., " gumamnya dengan pelan karena sangat merindukan sosoknya.


Disaat dirinya termenung, ia seperti mendapatkan sebuah pencerahan akan apa yang selalu dia rasakan terhadap Guntur.


Lalu, dengan cepat dia mencabut satu helai rambutnya yang tertutup dengan khimarnya.


Setelah satu helai itu tercabut, dengan segera dirinya membuat pola aksara yang cukup rumit berwarna hitam putih. Lalu, rambut tersebut ia letakkan ditengah pola aksara yang sebelumnya ia buat.


Beberapa detik berikutnya, nampak sesuatu yang keluar dari pola aksara itu. Semakin lama semakin jelas.


Nampak seseorang yang sangat mirip dengannya bahkan juga memakai pakaian yang sama itu tengah berdiri didepannya sambil menatapnya dengan tatapan penuh arti.


" Assalamualaikum..., " ucap orang itu yang ternyata dia adalah boneka yang tercipta dari sehelai rambut tuannya.


" Waalaikum salam warrohmatullah... Mulai sekarang namamu adalah Gea..., " ucap Husna sambil tersenyum dibalik cadarnya.


" Terima kasih Nona Husna, aku menyukainya, " ucap Gea yang tersenyum dibalik cadarnya.


" Nah Gea, jadilah mataku disisi calon suamiku bernama Guntur di padepokan pancanaka, apa kau bersedia? " tanya Husna dengan serius.


" Aku bersedia nona...., " ucap Gea sambil mengangguk.


" Baiklah, tapi sebelum pergi..., "


Lalu Husna membuat pola aksara lagi dan langsung masuk ke tubuh Gea dengan sempurna.


" Dengan ini, kau akan memiliki aura berbeda denganku dan dia tidak akan mencurigaimu karena kau memiliki aura seorang jawara bahkan kekuatan seorang jawara kecuali dia menggunakan kekuatan mata aksaranya untuk melihat siapa sebenarnya dirimu, berhati hatilah juga dengan saudariku Anisa karena dia sangat sensitif dan juga sangat peka terhadap apapun disekitarnya..., "


" Jangan gunakan kekuatan aksaramu kecuali sangat terdesak untuk melindungi mereka... Nah ini adalah kitab jawara, sebelum kau berada di sisinya kau harus bisa menguasai jurus yang ada pada kitab itu dengan sempurna, " Jelas Husna sambil menyerahkan kitab itu.


Setelah itu, Husna langsung mengayunkan tangan kanannya lalu sebuah senjata tercipta dari sebuah logam yang terdapat dari alam sekitar.


Tidak hanya itu, bahkan Husna memperkuat senjata itu dengan kekuatan aksaranya yang mana sama dengan senjata milik Guntur, Anisa dan juga Ridwan.


" Senjata ini adalah senjata yang sangat cocok untuk kitab itu..., " ucap Husna juga menyerahkan senjata itu.


Setelah Gea menerima kitab dan senjata itu, Gea langsung membaca kitab tersebut.


" Loka Jemparing, " ucap Gea pelan.


" Benar, loka artinya dimensi atau dunia sedangkan jemparing adalah panah.... Jadi kau sudah tahu arti dari jurus itu kan? Gea, " tanya Husna.


Gea segera mengangguk cepat. Dengan kitab jurus dan juga sebuah senjata yaitu busur beserta sebuah tas kecil untuk anak panahnya yang berada ditangannya saat ini, dirinya memulai melaksanakan misi dari tuannya tanpa ada keraguan.


Namun tidak ada yang tahu jika anak panah itu tidak akan pernah habis katena sejatinya busur itu tidak perlu memakai anak panah. Hanya dengan menarik tali busurnya saja, anak panah akan tercipta dengan sendirinya.


Itulah kenapa Husna memberikan pola aksara kepada busur itu dan juga memberikan kekuatan lebih pada busur itu dengan kekuatan aksaranya.


" Baiklah nona, aku pamit untuk segera melakukan misi yang kau berikan, " ucap Gea.


" Baiklah, " ucap Husna mengangguk.


" Assalamualaikum, " ucap Gea lalu mrlesat dengan cepat untuk menuju padepokan pancanaka.


" Waalaikum salam warrohmatullah.... Semoga Guntur dan Anisa tidak menyadari jika Gea adalah boneka rambutku, " ucap Husna sambil menatap kepergian Gea.


Setelah itu, Husna segera kembali ke gubuk karena hari akan segera gelap.

__ADS_1


__ADS_2