
Di salah satu bukit terpencil daerah Pandeglang. Gadis cantik bernama Yanci telah sampai di salah satu pohon besar, beberapa ratus meter dari orang yang telah ditargetkan.
Yanci melihat Winga telah memanggil salah satu raja terkuat dari bangsa lain yang bernama Dasamuka, Sang Raja Angkara.
Yanci dapat melihat dengan jelas dan juga mendengar dengan jelas karena tuannya, Guntur memberikan kelebihan khusus kepadanya untuk menjadi seorang mata-mata dan Yanci tahu jika mereka akan mengejarnya kalau dia mengeluarkan aura dan hawa keberadaannya. Maka dari itu, Yanci sebelum sampai tujuan, dia menutup semua auranya dan menekan hawa keberadaannya.
Segala aktifitas yang dia lihat dan juga dia dengar dapat dia rekam dengan jelas didalam memorinya. Walaupun Yanci hanyalah boneka yang terbuat dari beraneka ragam komponen yang Guntur susun dan rancang, namun Yanci juga memiliki sifat selayaknya manusia pada umumnya.
Tidak hanya Yanci saja yang Guntur buat tapi masih ada 8 boneka lagi yang Guntur buat. Mereka semua memiliki karakter yang berbeda. Namun, ada satu kesamaan mereka yaitu wajah mereka sangatlah mirip dengan tuannya yaitu Guntur.
Boneka hanyalah boneka, mereka nampak sangat hidup dikarenakan energi murni dan juga pola aksara yang Guntur berikan kepada mereka.
Sebuah batu mulia yang Guntur berikan kepada mereka yang berfungsi sebagai jantung dari setiap boneka, dari batu mulia itulah energi murni milik Guntur tertampung selayaknya wadah.
Yanci memiliki karakter yang tegas dan juga memiliki kecerdasan jauh diatas rata-rata dari pada semua saudaranya. Dia sanggup berfikir dan mengambil langkah yang tepat secara cepat tanpa harus berfikir lama.
Gadis dengan raut wajah tegas itu memiliki kecantikan dan juga keindahan diatas rata-rata. Menatap dengan tajam semua yang dilakukan oleh Winga dan Dasamuka.
Nampak jelas di mata Yanci jika Dasamuka memberikan kekuatannya kepada tujuh tumbal yang sebelumnya Winga gunakan untuk sesembahan.
Saat Dasamuka selesai memberikan kekuatannya kepada mereka para tumbal. Para tumbal itu yang sebelumnya sudah tidak bernyawa tiba-tiba terbangun lalu bersujud kepada Dasamuka.
Aura yang dikeluarkan oleh mereka para tumbal begitu kuat dan juga mengintimidasi. Tekanan dari aura itu sangat terasa kuat bahkan sampai ditempat Yanci berdiri di suatu dahan pohon besar.
Disaat Yanci sedang merasakan aura itu, tiba-tiba Yanci merasakan aura lain tepat dibelakangnya.
" Hahhh... Sampai juga, tapi aura apa ini kenapa begitu kuat dan mengintimidasi? " tanya seseorang yang ternyata itu adalah Ragul, salah satu dari tujuh kembaran Ragil.
Lalu, Ragul pun melompat di dahan pohon yang mana terdapat Yanci yang berdiri terdiam.
" Hei... Kenapa kau seperti tidak tertekan oleh aura ini? " tanya Ragul penasaran.
Yanci masih terdiam, namun tiba-tiba Yanci meraih tangan kanan Ragul dan melesat cepat untuk melarikan diri.
Ragul yang diperlakukan oleh Yanci seperti itu sangatlah terkejut namun tidak berkomentar apa-apa.
Setelah mereka cukup jauh dari bukit itu, mereka berhenti di salah satu teras rumah 3 lantai.
" Kenapa kau menarikku untuk kabur? Aku baru saja sampai, " tanya Ragul sedikit emosi dengan gadis antah berantah didepannya itu.
Yanci yang mendengar itu langsung menyentuh kening Ragul beberapa detik. Ragul yang keningnya disentuh oleh Yanci beberapa detik itu langsung terkejut oleh apa yang dia dapat. Lalu memandang Yanci sambil bergidik ngeri.
" I-ini... Kau serius? " tanya Ragul yang terkejut.
Yanci hanya mengangguk lalu dari bawah kaki Yanci muncul angin hitam yang berputar kencang lalu naik ke atas menyelimuti seluruh tubuhnya dan juga kepalanya. Setelah itu, Yanci menghilang tanpa jejak.
Tentu hal itu juga membuat Ragul semakin terkejut.
" A-astaga teleportasi! Be-berarti benar dugaanku jika dia itu orang suruhan orang itu... Tapi, dari ingatan yang dia berikan kepadaku... Ahh.. Aku harus segera pulang untuk melapor... "
Tanpa membuang waktu lagi, Ragul langsung melesat dengan cepat kembali ke padepokan karena Ragul bisa merasakan aura Ragil berada di padepokan.
Namun, Ragul tidak tahu jika beberapa ratus meter di belakangnya nampak 4 orang laki-laki dan 3 orang perempuan sedang menatapnya dengan mata menyala berwarna merah darah dan senyuman penuh misteri.
" Biarkan saja dulu... Tidak lama lagi kita pasti bertemu dengannya, " ucap salah satu dari mereka yang mana menjadi ketua dalam kelompok itu.
Beberapa saat yang lalu setelah mereka dibangkitkan. Mereka merasakan adanya aura lain yang sedang mengawasinya. Dengan segera mereka melesat mengejar orang itu yaitu Ragul. Namun, mereka tidak bisa merasakan aura Yanci yang jelas melesat bersama dengan Ragul.
***
Guntur yang masih duduk di teras depan gubuknya bersama Anisa. Menunggu seseorang yang sedang melakukan misi dari Guntur.
Anisa melihat suaminya yang masih memunculkan mata putihnya itu hanya bisa terdiam dan dengan setia menunggu suaminya mengganti warna pupil matanya kembali.
Guntur melakukan itu supaya dirinya juga bisa melihat dan merasakan apa yang dialami oleh Yanci. Apa yang Yanci lihat, rasakan dan dengarkan, Guntur bisa juga mengalaminya. Walau bagaimanapun, Yanci adalah boneka nya yang diberikan energi murni dan juga aura miliknya. Lebih simplenya, mata Yanci juga mata Guntur, tubuh Yanci juga tubuh Guntur.
Tidak lama setelah itu, orang yang mereka tunggu akhirnya menampakkan dirinya didepan mereka.
" Tuan... "
Guntur lekas mengangguk " Yanci, terima kasih... Hmm... Kau terus saja awasi mereka, jika mereka melakukan sesuatu yang mencurigakan atau merugikan, bahkan kekacauan, kau boleh mengeksekusi mereka, apa kau membutuhkan bantuan saudaramu yang lain agar kau lebih mudah dalam melakukan misi ini? " tanya Guntur.
" Tidak tuan, saya sanggup melakukannya sendiri... "
" Hmm... Baiklah, tapi kau harus berhati-hati... "
" Dimengerti... Saya pamit... "
Setelah itu, Yanci langsung menghilang dilahap oleh angin hitam.
" Mas... "
__ADS_1
Disaat Anisa memanggil suaminya itu, namun suaminya masih saja duduk terdiam. Tiba-tiba Anisa melihat dikedua matanya itu mengeluarkan air matanya.
Menangis... Mengetahui fakta jika kakeknya berpulang sebenarnya bukan karena sakit yang dideritanya seperti apa yang dijelaskan neneknya, Mbah Pahing kepadanya, melainkan karena racun pagering ndalu.
Tentu Guntur tahu racun apakah itu, racun yang hanya bisa menjalar ke tubuh jika memiliki cidera walau hanya cidera ringan. Racun yang menjalar dan melumpuhkan bagian-bagian vital dalam tubuh seperti ginjal, jantung dan otak.
Siapapun orangnya pasti akan tewas bila terkena racun ini. Walaupun, kinerjanya sangatlah lambat namun tidak mudah terdeteksi oleh rangkaian medis atau non medis.
Ingin rasanya Guntur marah, membalas apa yang sudah dilakukannya kepada kakeknya, Mugiman. Namun, disaat ingin meledakkan kemarahannya, tiba-tiba Anisa memeluknya dari samping kirinya.
Anisa yang melihat suaminya menangis, dan merasakan aura aksara Guntur yang mulai merembes keluar, Anisa langsung memeluknya.
Tidak lama setelah itu, Anisa menarik kepala Guntur lalu ia dekap di dadanya. Maksud Anisa adalah dengan melakukan itu, Anisa berharap agar suaminya itu menjadi tenang dan tidak mengeluarkan kemarahannya. Bisa bahaya jika Anisa melihat suaminya itu dalam kemarahan.
Anisa tidak tahu Guntur menangis karena apa namun Anisa yakin jika ada sesuatu yang membuat Guntur menjadi seperti ini.
Benar saja, setelah Anisa melakukan itu Guntur langsung menarik kembali aura aksaranya lalu menangis dengan keras didalam dekapan Anisa.
Guntur yang sedang dalam dekapan istrinya itu entah kenapa menjadi tenang dan nyaman. Kemarahan dan juga rasa ingin membalas semuanya itu berangsur menghilang.
Kesedihan yang meluap dan juga isakan tangis langsung saja pecah. Anisa yang mendengar itu hanya bisa memeluk suaminya itu dalam dekapannya.
Beberapa saat setelahnya, Guntur mulai bisa berfikir jernih dan tangisan Guntur mulai reda. Lalu, Anisa mulai melepaskan pelukannya secara berlahan.
" Mas... Istighfar, "
Guntur mengangguk dan menghapus air matanya.
" Astaghfirullah.... Anisa.... Terima kasih, mungkin jika tidak ada dirimu, a-aku... A-ku.... "
" Mas... "
" Astaghfirullah.... Astaghfirullah.... Astaghfirullah.... Ternyata kakek Mugiman bukan berpulang karena sakit tapi karena diracuni oleh Winga dengan racun pagering ndalu... "
Sontak, Anisa sangat terkejut dengan itu. Racun yang hanya bekerja pada cidera dan dikala malam hari disaat korban sedang beristirahat dan sangat susah untuk dideteksi.
" Pa-pagering ndalu? "
Guntur mengangguk pelan sambil menatap Anisa yang sangat terkejut. Racun yang sangat langka bahkan di bumi nusantara ini. Bahan pembuatan dari racun itu sendiri masih belum diketahui apa lagi penawarnya.
" Hahhh.... Aku sudah ikhlas dan merelakan itu... Anisa, mungkin mulai sekarang perjalanan kita akan semakin sulit... Kita tidak bisa lagi untuk terus berkutat di masa lalu, kita harus terus melangkah... Dan untuk mereka, semoga Yanci bisa mengatasinya. "
" Tenang saja, mereka hanyalah mayat hidup tanpa memiliki wadah inti dan sangat berbeda dengan Yanci, walaupun dia itu boneka namun dia memiliki wadah inti untuk kekuatannya sendiri yang sengaja aku ciptakan untuk itu... Tapi aku juga memiliki firasat buruk tentang ini..., "
" Lebih baik kita segera ke tempat senior Ragil mas... "
" Tidak Nisa, kita akan berjalan sendiri... Bukannya aku meremehkan mereka namun aku ingin melihat sejauh mana aku berkembang dan aku juga akan membuat kelompok sendiri. "
" Kelompok? Maksudnya tim? "
" Benar... Tapi bukan kita melainkan tim yang akan membantu kita di masa depan... Kita membutuhkan itu untuk melawan mereka, tidak mungkin hanya dengan kekuatan kita bertiga sanggup untuk melawan mereka semua..."
" Huh kita bertiga? "
" Anisa Ambar Wati... Apa kau melupakan dia? Walau bagaimanapun kalian bagian dariku dan aku ingin kelak kita terus bersama sampai di kasuwargan ning Gusti, " Jelas Guntur sambil tersenyum menatap langit malam yang masih mendung.
" Sebesar itu kah mas menanggung beban di masa depan kelak? Sebesar itu kah mas mencintai kami? Jika itu yang mas inginkan, aku berjanji akan terus berada di sisimu, " gumam Anisa dalam hati.
Walaupun Anisa sendiri masih terasa sakit didalam hatinya, namun Anisa terus menata hati dan pikirannya untuk mendapatkan ridho-Nya dan suaminya.
Tidak mudah bagi Anisa untuk menerima seseorang dalam keluarganya, namun Anisa juga tidak bisa untuk lepas dari apa yang sudah ditentukan.
Lalu, Anisa menyenderkan kepalanya di pundak kiri Guntur.
" Mas... Siapa orang yang akan mas pilih untuk menjadikan mereka tim? "
" Tentu dari beberapa orang yang kelak mereka akan datang sendiri kepada kita dan aku sudah memilih 3 orang untuk awal dari tim kita, "
" Siapa? "
" Tentu kau sudah mengetahuinya karena mereka adalah orang yang memiliki potensi jauh lebih tinggi dari semua orang yang berada di padepokan ini... "
Anisa yang mendengar itu langsung mengangguk dan mengetahui siapa saja mereka yang dimaksudkan oleh suaminya itu.
Namun, mereka kembali terkejut saat merasakan aura dari Aji Samudra yang merembes keluar dari tubuhnya. Aura seorang legenda yang sangat kuat kembali dirasakan bahkan semua orang di padepokan dan sekitarnya bergidik ngeri sambil berlarian keluar rumah.
" Haahhhh sepertinya malam ini akan terjadi pertarungan... "
" Ma-mas... I-ini, aura guru.... "
" Benar... Kita harus mencegah kakek untuk bertindak gegabah dan nekat, akan zangat berbahaya jika kakek mengamuk disembarang tempat... "
__ADS_1
Anisa hanya mengangguk saja sebagai jawaban. Guntur segera memeluk istrinya itu dengan tangan kirinya, lalu Guntur segera menggunakan teleportasi untuk pergi ke rumah kakeknya, Aji Samudra.
***
Ragil yang merasakan kembarannya datang dengan nafas terengah-engah dan panik itu mengerutkan keningnya.
" Bagaimana? " tanya Ragil dengan serius.
Lalu, Ragul menceritakan semua yang dialaminya selama mencari informasi di salah satu bukit daerah pandeglang.
Betapa terkejutnya Ragil mendengar semua itu.
" Kita harus cepat membicarakan ini kepada bapak... Ragul, terima kasih dan kau kau boleh kembali, " ucap Ragil serius.
Ragul pun mengangguk dan langsung kembali ke tubuh Ragil. Tidak mau berlama-lama lagi, Ragil langsung melesat ke rumah Aji Samudra.
***
Aji yang sedang terduduk diam sambil memikirkan semua kejadian yang sedang terjadi, tiba-tiba mendengar suara Ragil diluar pintu rumahnya.
" Pak... "
" Masuk Ragil. "
Ragil pun masuk dengan sedikit tergesa-gesa.
" Bagaimana? "
" Begini pak... "
Ragil lantas menceritakan semua yang Ragul alami.
Aji yang mendengarkan semua penjelasan dari Ragil tidak bisa lagi membendung rasa sakitnya terlebih, Winga yang sebenarnya telah meracuni sahabatnya yaitu Mugiman saat pertarungan terakhir mereka beberapa puluh tahun silam.
Air mata, kesedihan, kekecewaan, kemarahan menyelimuti dirinya. Ragil yang berada didepan Aji langsung bergidik dan mundur satu langkah kebelakang karena ketakutan.
Sementara itu Lastri yang sudah berada di kamarnya untuk beristirahat langsung melompat dari ranjangnya saat merasakan aura dari suaminya itu merembes keluar. Lalu, dengan segera dan berlari, Lastri menghampiri suaminya yang tengah duduk menunduk terdiam.
" Kang mas... "
Bukannya mereda, Aji malah semakin tidak karuan dengan perasaannya. Beberapa detik berikutnya, meledak sudah aura dari seorang legenda yang sangat-sangat kuat.
Sebagai seorang legenda yang bahkan sudah menembus dari seorang jawara yang bernama kanuragan. Aura Aji sendiri sudah lepas kendali dan sangat susah untuk dikendalikan oleh orang lain kecuali dari sang empunya sendiri.
Lastri dan juga Ragil sampai terlempar lalu keduanya menabrak sebuah tembok. Lastri sendiri masih bisa untuk menahan aura dari suaminya walaupun kesusahan karena Lastri juga seorang legenda namun tidak bisa menembus batasan menjadi seorang kanuragan.
Berbeda dengan Ragil yang terluka dengan luka dalam yang berada di dadanya sampai memuntahkan darah cukup banyak.
" Aaaaaarrrgggg... Kurang ajar kau Wingaaaaa.... Aku akan membunuhmu..... Aaarrggg.... "
Dengan berteriak kencang, seluruh tubuh Aji diselimuti api biru yang bekobar-kobar sampai-sampai kursi sofa yang didudukinya ikut terbakar.
" Kang maaaaasss..... "
Lastri yang berteriak kencang pun sudah tidak didengar lagi oleh suaminya itu. Aji pun langsung berdiri dengan raut wajah kemarahan yang memuncak. Sorot mata yang sangat tajam, melangkah keluar dari dalam rumah.
Disaat Aji sampai di halaman rumahnya, Guntur dan Anisa terkejut dengan perubahan Aji yang sudah dikuasai oleh aura membunuh yang sangat kuat dan menekan kuat.
Segera Guntur membuka aura aksaranya sampai di pintu ke 5 sedangkan Anisa yang sudah membuka pintu terakhirnya saja masih merasakan tekanan yang cukup kuat dari guru sekaligus gurunya itu.
" Ka-kakek.... "
Aji yang mendengar suara Guntur pun menoleh kearahnya, namun hanya terdiam. Hendak akan melesat, Aji sendiri seperti tertahan seperti gravitasi di sekitarnya menekan kuat Aji yang tidak memperbolehkannya untuk melesat pergi.
" Tahan kek... Istighfar... Bukan seperti itu caranya... "
" Diam kau... Ini bukan urusanmu! "
" Tentu ini juga urusanku... Tapi semua ini---"
Tiba-tiba Aji meledakkan lagi aura seorang kanuragan miliknya yang membuat Guntur terpental beberapa langkah kebelakang bersama dengan Anisa.
" Urgh.... Inikah kekuatan kakek yang sebenarnya? " Gumamnya dalam hati sambil memegangi dadanya yang sedikit nyeri karena terkena hantaman dari aura Aji.
Begitu juga dengan Anisa yang terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
" Astaghfirullah... Baiklah kakek, jika kakek ingin pergi untuk membalas dendam, maka kalahkan aku dulu... "
Aji yang mendengar itu langsung melesat menyerang Guntur. Namun, Guntur yang sudah siap dengan situasi seperti itu juga langsung melesat menerjang kakeknya, Aji Samudra....
SANG MACAN MERAPI
__ADS_1