
Suasana di padepokan pancanaka begitu suram dan mencekam. Semua orang nampak ketakutan akan kejadian yang sedang mereka saksikan.
Seperti layaknya film 3D yang ditampilkan di suatu wahana atau bioskop. Kejadian yang mereka lihat tampak sangat nyata. Akan tetapi mereka semua menyadari jika apa yang mereka lihat kali ini adalah nyata dan bukan film atau rekayasa. Kejadian dimana nampak seorang gadis yang sedang bertarung melawan ribuan makhluk dari bangsa lain yaitu Jin.
Didalam dimensi cermin....
Alisa yang sudah tidak nampak dimata semua orang bahkan makhluk dari bangsa lain itu pun melesat dengan kecepatan tinggi menyerang makhluk dari bangsa lain itu secara membabi buta.
Alisa tidak menyadari jika dirinya dibantu oleh kakak sepupunya. Melawan ribuan musuh bukanlah sesuatu yang mudah. Sangat berat dan penuh dengan resiko. Akan tetapi demi keadilan dan kebenaran, Alisa akan melakukannya dengan senang hati.
Dalam beberapa menit saja, Alisa sudah membantai puluhan musuh yang berada di jangkauannya dan yang pasti mendapatkan bantuan juga dari kakak sepupunya yang mana menambahkan bayangan cermin dirinya yang sedang menghilang.
Teriakan, lolongan, gemuruhnya peperangan yang semua orang dengar membuat bulu kuduk merinding.
Alisa yang masih dengan semangat juangnya terus menerus membabi buta. Cakar kanan, cakar kiri, tusukan dan berbagai macam jurus yang berhubungan dengan senjatanya terus menerus dia keluarkan.
Seolah tidak ada rasa rasa lelah yang Alisa rasakan. Hal itu dikarenakan energi negatif yang musuh keluarkan telah terlebur lalu terserap kedalam tubuh yang menjadikan kekuatan dan energi untuk Alisa. Dengan kekuatan unik milik Alisa yaitu pelebur jiwa angkara, apalagi dengan mendapatkan kekuatan dari ratu betari. Sudah dapat dibayangkan betapa ngerinya Alisa jika berhadapan dengan para kajinan dan mereka para makhluk dari bangsa lain tersebut.
Bukan berarti Alisa tidak terkalahkan, Alisa juga bisa kalah dengan mereka. Satu-satunya cara agar bisa mengalahkan Alisa adalah mental. Itu semua dikarenakan pengalaman dari Alisa sendiri yang bisa dikatakan masihlah kurang.
Seseorang yang bisa menggunakan kekuatan mental seperti ilusi atau hal-hal yang berhubungan dengan mental, sudah dipastikan akan menang melawannya.
Namun sayangnya, semua orang bahkan para kajinan itu tidak mengetahui akan hal tersebut, kecuali kakak sepupunya.
Semakin kuat mental Alisa maka semakin susah untuk mengalahkannya. Saat ini pun juga sama, Alisa yang sebenarnya masih lemah akan tetapi karena mendapat bantuan dari Guntur maka terlihat sangat kuat dan over power.
Beberapa saat kemudian, nampak berkurang sangat banyak para makhluk dari bangsa lain itu. Dari ribuan kini hanya nampak tidak sampai dua ratus saja yang masih hidup.
Setiap kali Alisa membunuh mereka maka Alisa selalu mengucapkan kalimat takbir di setiap hembusan nafasnya.
" Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... "
Dengan ini, para makhluk dari bangsa lain itu berlari tunggang langgang karena takut akan ganasnya Alisa membunuh sesamanya.
Sutaryo, Gundi dan Sabto pun sangat terkejut melihat kekuatan Alisa yang seperti tidak ada habisnya juga betapa ngerinya Alisa membantai para prajuritnya.
" Bagaimana mungkin gadis itu bisa memiliki kekuatan yang begitu mengerikan, bahkan prajurit gabungan kita saja dilibas habis olehnya dan hanya tinggal beberapa saja yang masih hidup sampai-sampai berlari tunggang-langgang menyelamatkan diri? " tanya Gundi keheranan.
Mereka tidak bisa melihat Alisa karena masih menghilang. Bahkan, aura dan hawa keberadaannya pun tidak mereka rasakan sama sekali.
Lalu tiba-tiba, Alisa menampakan dirinya didepan mereka beberapa meter dengan tubuh yang diselimuti oleh aura jawara sekaligus kajinan yang sangat kuat dan mencekam.
Lalu, mereka juga terkejut melihat mata Alisa yang berubah menjadi hitam secara keseluruhan, tidak ada warna putih dikedua matanya dan hanya warna hitam pekat bahkan pupil matanya pun tidak nampak oleh mereka.
Sutaryo yang terkejut melihat itu pun bergetar dan bertanya dalam hati " Siapa sebenarnya gadis ini? Kenapa jin yang terikat denganku juga bergetar hebat? " tanyanya.
Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka para kajinan merasakan hal yang sama dengan Sutaryo dimana jin yang terikat dengan mereka bergetar hebat.
Lalu Alisa yang melihat mereka bertiga itupun tersenyum lembut " Hanya tinggal kalian bertiga saja... Apakah kalian ingin kabur? Tapi sayang sekali kalian akan tamat disini, hihihihi, " ucapnya.
__ADS_1
Memang benar apa yang dikatakan Alisa, saat ini hanya tinggal mereka bertiga saja yang masih berada hadapan Alisa sedangkan untuk para makhluk dari bangsa lain itu sudah melarikan diri dan kembali ke alam mereka karena takut dengan Alisa.
" Sombong! Kakang Sabto, kakang Sutaryo... Biar aku saja yang melawan gadis sombong itu... Aku tidak sabar ingin sekali meminum darahnya! " ucap Gundi yang tiba-tiba maju selangkah dan ingin melawan Alisa.
Sutaryo dan Sabto mengangguk " Hati-hati dimas Gundi... Gadis itu bukanlah gadis sembarangan, " ucap Sutaryo memperingati Gundi.
Gundi hanya mengangguk saja lalu menatap Alisa dengan penuh nafsu angkara " Jika aku tidak salah namamu tadi betari... Maka hari ini darahmu akan aku minum sampai habis, wahahahahhaa.... Ayo segawon ireng, bersatulah denganku! " ucapnya.
Tidak lama setelah itu nampak siluet seekor anjing berwana hitam pekat dan besar di atas tubuh Gundi. Gundi menggeram serta mengencangkan otot tubuhnya. Lalu, siluet tersebut berlahan masuk ke dalam tubuhnya.
Secara perlahan, tubuh Gundi itupun berubah menjadi manusia setengah anjing dengan bulu-bulu panjang lebat, kepala yang terlihat seperti anjing dengan taring panjang menjulang ke bawah, air liur nampak terus menetes disela taringnya, kuku-kuku panjang dikedua tangannya yang berfungsi sebagai senjatanya nampak begitu tajam, badan yang kekar dan tingginya mencapai 2 meter.
Untuk pertama kalinya Alisa melihat perubahan seorang kajinan yang sudah sempurna.
" Astaghfirullah, " ucap Alisa bergidik ngeri.
Tidak ingin membuang waktu lagi, Gundi langsung melesat dengan sangat cepat. Alisa pun melakukan hal yang sama. Pecah sudah pertarungan antara Alisa melawan Gundi.
Keduanya saling bertarung dengan sangat sengit. Dalam beberapa menit saja puluhan jurus sudah mereka keluarkan.
Nampak Alisa dengan lues bertahan dan menyerang, begitu juga dengan Gundi. Alisa yang hanya seorang jawara pintu ke 4 sanggup mengimbangi seorang kajinan sempurna itu suatu hal yang tidak bisa diterima oleh akal semua orang yang melihatnya diluar dunia cermin.
Lalu, Alisa pun nampak menggunakan jurus menghilangnya lagi. Gundi yang menyadari itu meningkatkan kewaspadaannya dan semua inderanya.
Tiba-tiba dari arah belakang, Gundi mendengar suara langkah seseorang yang mendekat kepadanya. Reflek, Gundi membalikkan badannya dan langsung menyerang. Akan tetapi apa yang Gundi serang hanyalah udara kosong tanpa ada seseorang disana.
Namun setelah Gundi melakukan itu, punggungnya terasa sangat nyeri. Setelah diperhatikan ternyata ada tiga luka goresan sebuah cakar di punggungnya yang mengakibatkan darah segar segera mengalir cukup deras.
" Aaaarrrggghhhh.... "
Lalu Alisa pun muncul beberapa meter didepan Gundi yang sudah setengah lumpuh oleh Alisa.
" Bagaimana? Apa kau masih ingin meminum darahku? " tanya Alisa sambil tersenyum penuh arti sambil mengibaskan cakarnya karena terdapat sedikit noda darah pada cakarnya tersebut.
Gundi merasakan begitu geram oleh Alisa. Dia juga pengguna cakar jika telah bersatu dengan jin yang dia anut akan tetapi kenapa dirinya tidak bisa menghilang seperti halnya Alisa.
Nampak raut wajah bingung yang ditunjukkan oleh Gundi " Aku juga pengguna cakar tapi kenapa aku tidak bisa menghilang seperti dia? " tanyanya dalam hati.
Alisa yang melihat itupun seolah mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Gundi " Aku adalah seorang jawara murni yang mana memiliki jurus-jurus yang dikhususkan, berbeda denganmu... Kau adalah seorang kajinan yang mendapatkan kekuatan dari jin yang kau anut, " ucapnya dengan tenang.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Alisa. Seorang kajinan tidak seperti seorang jawara ataupun aksara. Akan tetapi seorang kajinan sanggup merubah bentuk fisiknya jika sudah bersatu dengan jin yang dia anut seperti halnya Gundi yang memiliki jin seekor anjing hitam yang bernama segawon ireng.
Segawon berarti anjing sedangkan ireng berarti hitam. Perubahan fisik yang dialami oleh Gundi adalah perubahan tipe manusia binatang.
Gundi menatap Alisa yang dengan tenang menatapnya itu mulai menyadari sesuatu. Walaupun dirinya sangat geram olehnya tetapi dia tidak bisa berbuat banyak. Apalagi Gundi merasakan jika kekuatannya perlahan berkurang secara bertahap. Bukan karena dikeluarkan olehnya tapi seperti melebur dan lalu menghilang entah kemana.
Menyesal? Memang benar apa yang dirasakan Gundi sekarang ini. Dia juga menyadari jika dirinya tidak akan sanggup bertahan terlalu lama dengan keadaan yang seperti ini yang mana terluka di bagian punggung dengan luka tiga sayatan dan juga tiga lobang dibagian paha kanannya.
Kehilangan banyak darah itu sudah pasti karena darah terus keluar dengan deras dari luka-luka itu.
__ADS_1
" Apakah ada kata terakhir? " tanya Alisa yang masih menatapnya sambil tersenyum.
Gundi melihat Alisa seperti melihat seorang malaikat maut yang siap mencabut nyawanya kapan saja.
" Anak dan istriku... Aku ingin kau menemuinya dan katakan pada mereka jika aku telah bebas, " ucap Gundi dengan lirih tapi masih bisa didengar oleh semuanya.
Alisa yang mendengar itu mengangguk. Namun didalam hatinya, Alisa menjerit dengan keras. Tega atau tidak tega, Alisa harus membunuhnya supaya keturunan dan orang yang terikat dengannya tidak bisa lagi berurusan dengan jin yang dianutnya. Hanya itu caranya agar seorang kajinan bebas dari jin yang dianutnya.
Alisa pun dengan berlahan berjalan mendekati Gundi yang tampak pasrah namun masih dalam manusia setengah hewannya.
" Akan kulakukan dengan cepat supaya kau tidak merasakan rasa sakit, " ucap Alisa dengan tegas.
Hanya tinggal beberapa langkah saja Alisa tiba-tiba menghilang kembali. Sutaryo dan Sabto yang melihat itu ingin sekali mencegahnya namun terlambat.
Satu detik berikutnya nampak kepala Gundi sudah menggelinding yang mana sudah terpisah oleh tubuhnya dan tubuhnya pun kembali seperti semula.
Gundi sang segawon ireng pun harus tewas ditangan Alisa.
Lalu nampak Alisa memunculkan dirinya kembali di belakang jasad Gundi. Alisa tidak melihat jasad Gundi akan tetapi menatap Sutaryo dan Sabto dengan tajam. Seolah mengerti dengan tatapan Alisa, Sutaryo dan Sabto pun tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan energi yang teredam. Ledakan itu karena kedua kajinan itu telah mengeluarkan semua kekuatan kajinan milik mereka.
Aura yang lebih mencekam dan gelap daripada sebelumnya nampak memenuhi area sekitar.
Sutaryo dan Sabto nampak seperti orang yang berbeda yang mana sangat nampak aura yang dikeluarkannya, pekat, hitam dan gelap.
Setelah itu Sutaryo dan Sabto memanggil jin yang mereka anut. Nampak siluet dua sosok yang begitu mengerikan.
Sutaryo yang mana dengan siluet seekor kera yang besar dengan wajah rusak, bulu-bulu panjang dan gimbal berwarna hitam pekat yang mengeluarkan bau busuk yang begitu menyengat.
Sabto yang mana dengan siluet genderuwo yang sangat besar dengan wajah menyeramkan, gigi-gigi yang nampak tajam dan juga empat taring yang keluar, bulu hitam pendek memenuhi tubuhnya, kuku-kuku panjang yang terlihat tajam dan kuat.
" Lutung Bathang... Bersatulah denganku! " ucap Sutaryo.
Dengan berlahan siluet kera tersebut masuk ke tubuh Sutaryo. Tubuh Sutaryo dengan perlahan nampak menyerupai sosok jin yang dia anut.
Lutung Bathang...
Begitu juga dengan Sabto yang mengucapkan kata-kata yang hampir sama dengan Sutaryo.
" Gendri... Bergabunglah denganku! " ucap Sutaryo.
Dengan perlahan siluet genderuwo tersebut masuk kedalam tubuh Sabto. Tubuh Sabto dengan perlahan nampak menyerupai sosok jin yang dia anut.
Genderuwo Edan...
Keduanya kini nampak sudah bergabung dengan jin mereka dan sudah sangat sempurna.
Alisa yang melihat itu pun bergidik ngeri melihat perwujudan dari mereka. Bulu kuduknya nampak berdiri, merinding tapi juga mual karena mencium bau busuk yang dikeluarkan oleh Sutaryo.
__ADS_1
" Astaghfirullah... Mereka benar-benar berada di tingkatan sempurna.... Apakah aku mampu melawan mereka? "