Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Putri Ayuning Samudra


__ADS_3

Seorang gadis berumur 15 tahun namun terlihat jauh lebih tua dari seorang gadis pada umumnya. Disamping itu, gadis itu juga terlihat cukup kumal dan juga berantakan. Dari segi rambut sampai pakaian yang ia kenakan.


Gadis itu sengaja untuk berpenampilan seperti itu dikarenakan dirinya tidak mau jika identitasnya terbongkar oleh siapapun kecuali Julian. Hal itu dikarenakan Julian sama dengan dirinya yang mana dari keluarga Samudra yang terpisah.


Gadis itu bernama lengkap Putri Ayuning Samudra. Namun, dia tidak mencantumkan marga Samudranya untuk masuk ke dalam padepokan pancanaka.


Saat ini Putri sedang duduk di taman padepokan. Merasakan hembusan angin sore dan juga menikmati kehidupan didalam padepokan pancanaka.


Sedari kecil, dirinya sangat ingin menjadi bagian dari padepokan ini dikarenakan dalam diamnya, dirinya sangat mengagumi guru besar padepokan pancanaka yaitu salah satu dari legenda jawara, Aji Samudra.


Dia tahu jika guru besarnya itu adalah kepala keluarga utama yang seharusnya dirinya memanggil Aji dengan panggilan kakek.


Silsilah dari Putri di keluarga Samudra cukup panjang daripada Guntur. Karena dari leluhur pertama keluarga Samudra cukup banyak dan juga bercabang karena menikah dengan selain dari keluarga Samudra itu sendiri.


Keluarga Putri terpisah dari keluarga utama dalam keluarga Samudra itu terjadi dikarenakan generasi ke tiga keluarga Samudra yang mana terdapat 7 bersaudara.


Keluarga Putri adalah saudara terakhir dari 7 bersaudara di keluarga utama dari keluarga Samudra yang bernama Damar Samudra.


Kenapa sampai terpisah dikarenakan Damar Samudra memiliki aib yang saat itu mencoreng nama baik keluarga Samudra.


Menikahi seorang gadis dari negeri Matahari Terbit atau Nippon yang bernama Yuki Suzuki. Pada saat itu, pernikahan diluar marga Samudra dianggap sebuah aib dan langsung dikeluarkan dari keluarga Samudra.


Walaupun begitu, Damar tidak berkecil hati dan sama sekali tidak memiliki dendam dengan keluarga Samudra. Dirinya menyadari hal itu dan menerima apapun dari kepala keluarga Samudra yaitu ayahnya, Hanum Samudra.


Demi sang istri, dirinya memulai hijrahnya meninggalkan tanah bumi nusantara dan menetap di negeri Matahari Terbit sampai ajal menjemput dan memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Ryu Samudra.


Sebelum Damar berpulang, dirinya sempat menitipkan pesan untuk Ryu " Jika kau ingin menikah maka menikahlah dengan gadis dari negeri Bumi Nusantara dan berpesanlah kepada anak-anakmu nanti, kelak akan ada seorang anak dari keluarga utama di keluarga kita yaitu keluarga Samudra yang akan sanggup menggunakan Gelandang Buta dengan sempurna, maka ikutlah dengannya, karena kelak anak itu yang akan menyatukan semua keluarga Samudra yang terpisah dari keluarga utama..., "


Dari situlah Ryu Samudra melanglang buana di Bumi Nusantara untuk mencari keberadaan anak yang dimaksudkan oleh ayahnya sebelum berpulang.


Pada akhirnya, Ryu memiliki 2 orang istri dari gadis Bumi Nusantara dan memiliki seorang anak dari istri pertama dan seorang anak lagi dari istri kedua. Walaupun tidak menemukan orang yang dimaksudkan tetapi wasiat dari ayahnya itu selalu diturunkan oleh anak-anaknya sampai pada masa sekarang.


Dari situlah silsilah dari keluarga Samudra yang terpisah dari keluarga utama. Jika putri adalah keturunan Ryu Samudra dari istri kedua lalu Julian keturunan Ryu Samudra dari istri pertama.


Kini, keluarga Samudra yang terpisah dari keluarga utama hanya terdapat 7 keluarga saja dan mereka berpencar satu sama lain kecuali keluarga Julian dan keluarga Putri dikarenakan ayah mereka kembar dan tinggal dalam komplek perumahan yang sama walaupun berbeda rumah.


Setelah ayah dan ibu Julian berpulang, Julian dirawat oleh kembaran ayahnya itu sampai dirinya bisa mandiri dan masuk ke dalam padepokan ini.


Untuk keluarga lainnya mereka terpencar ke seluruh Bumi Nusantara, namun mereka masih berhubungan satu sama lain dan sering kali mereka berkumpul hanya sekedar untuk memperkenalkan pada anak-anak mereka jika mereka adalah saudara walaupun dari keluarga Samudra yang terpisah dari keluarga utama.


Didalam padepokan sendiri Putri tidak memiliki seorang teman kecuali Julian yang dia panggil kakak karena Julian lebih tua dari pada Putri.


Alasan kenapa dirinya tidak memiliki seorang teman sudah jelas hal itu dikarenakan penampilannya yang kurang enak dipandang serta bau badannya yang cukup menyengat. Bahkan di asramanya saja dirinya tidur sendiri didalam kamarnya yang seharusnya diisi dengan 4 orang murid.


Mereka tidak tahan dengan bau badan yang menyengat dari putri dan melaporkannya kepada petugas yang menjaga asrama wanita yaitu Nining. Pada akhirnya, dirinya diberikan sebuah kamar sendiri bagian paling pojok atas di sisi kanan.


" Hahh.... Sampai saat ini pun aku masih belum percaya jika aku bisa menjadi seorang murid di padepokan ini walaupun aku sendiri belum mendapatkan seorang guru.... Setiap guru pasti menolakku karena penampilanku.... Yah mau bagaimana lagi... Hihihi, " ucapnya sambil cengengesan seperti orang gila.


" Mulai sekarang akulah yang akan menerimamu, Putri Ayuning Samudra...., " ucap seseorang yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.


Orang itu adalah Guntur yang ditemani oleh istrinya yaitu Anisa. Menatap Putri sambil tersenyum hangat.


Sontak saja Putri langsung menoleh ke belakang dan mendapati dua orang yang sedang menatapnya sambil tersenyum hangat.


" Si-siapa kau... Ke-kenapa kau tahu nama lengkapku? " ucap Putri yang sangat terkejut.


" Namaku adalah Guntur dan ini adalah srikandi bercadar, " ucap Guntur memperkenalkan diri.


Mendengar itu Putri semakin terkejut apalagi mendengar dan melihat seorang gadis bercadar yaitu srikandi bercadar yang namanya sudah terkenal di Bumi Nusantara. Namun Putri belum tahu siapa sebenarnya Guntur.


" Sri-srikandi ber-bercadar? " tanya Putri yang masih terkejut.


" Ikutlah dengan kami, tenang saja Julian juga ada di sana, " ucap Guntur sambil tersenyum.


" A-apa... Kak Julian? " tanya Putri kembali.


Guntur dan Anisa hanya mengangguk saja sebagai jawaban atas pertanyaan dari Putri.


" Tu-tunggu, jawab pertanyaanku sebelumnya.... Kenapa kalian tahu nama lengkapku? " tanya Putri yang sedikit ketakutan.


" Tenang saja, kami tidak akan menyakitimu... Kami hanya ingin menjemputmu saja untuk menjadi bagian dari kami..., " ucap Guntur sambil tersenyum.

__ADS_1


" Bagian dari kami? Apa maksudmu? " tanya Putri.


" Kau akan tahu nanti..., " ucap Guntur.


" Tidak... Aku tidak mau! " ucap Putri yang sedikit membentaknya.


Guntur dan Anisa yang mendengar itu tersenyum.


" Mas, lebih baik jangan memaksanya... Biarlah dia datang kepada kita dengan sendirinya..., " ucap Anisa yang menasehati Guntur.


" Hmm... Baiklah, lagipula dengan mengetahui jika Putri adalah salah satu dari keluarga Samudra yang terpisah saja aku sudah lega, " ucap Guntur sambil mengangguk.


Mendengar itu, Putri melebarkan kedua matanya karena terkejut.


" Eh... Tu-tunggu... Apa katamu tadi? Keluarga Samudra? Siapa sebenarnya kau? " tanya Putri terkejut.


" Hmm... Aku bukanlah siapa-siapa, hanya saja jika kau ingin bergabung dengan kami, kau cari saja Julian tapi untuk saat kau akan kesusahan untuk mencarinya karena Julian sedang masa latihannya bersama kami...., " ucap Guntur.


" Huh? Apa kelompokmu akan mengkudeta padepokan ini? " tanya Putri sambil menatap Guntur dengan tajam.


" Lah, kau bicara apa? Kelompok kami bukan untuk mengkudeta tapi mendidik mereka untuk menjadi lebih kuat lagi dan juga tetap berjalan di jalan yang benar, " ucap Guntur dengan santai.


" Naif sekali kau mengatakan hal seperti itu! " ucap Putri.


" Terserah saja kau mau berkata apa tapi aku sudah dipercayakan masalah ini dengan kakek... Ahhh... Maksudku guru besar Aji.... Hehehe, " ucap Guntur yang sengaja untuk salah mengucapkan guru besar padepokan supaya memberikan sebuah jawaban atas keraguan pada diri Putri.


Namun, Putri hanya terdiam sambil menatap Guntur dan juga Anisa dengan tatapan penuh arti.


" Baiklah, Putri... Kami pergi dulu, sampai jumpa lagi..., " ucap Guntur yang langsung menggunakan teleportasinya untuk kembali ke gubuknya bersama Anisa.


Sedangkan Putri langsung terkejut melihat kejadian itu.


" Eh... "


***


Sebuah rumah mewah di salah satu komplek perumahan keluarga Samudra. Seorang Gadis cantik bernama Alisa tengah duduk disebuah taman belakang rumahnya.


Seekor kucing jantan berwarna abu-abu dengan garis-garis hitam itu memiliki postur tubuh yang besar, tinggi dan juga gempal dengan berat mencapai lebih dari 15kg yang mana kucing ras Main Coon murni, salah satu ras kucing terbesar didunia. Jika dilihat sekilas, kucing itu sangat mirip dengan seekor singa jantan apalagi dengan postur tubuhnya yang besar.


" Hei Mueza.... Kira-kira kak Guntur sedang apa ya? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya, " ucap Alisa sambil mengelus elus Mueza.


" Meeoooww "


" Hihihi.... Begitu ya... Apa aku ke padepokan saja ya? Hm... Lebih baik aku ke sana saja.... Apa kau mau ikut, Mueza? " tanya Alisa sambil tersenyum.


" Meoooww "


Seolah mengerti apa yang dikatakan oleh Alisa, Mueza langsung menjawab dengan bahasanya.


" Hihi... Yasudah yuk ikut ke padepokan..., " ucap Alisa sambil berdiri lalu berjalan masuk ke dalam rumah sedangkan Mueza mengikutinya dari belakang.


Beberapa saat telah berlalu, Alisa yang sudah sampai di padepokan yang diantarkan oleh seorang supir pribadinya itu turun dari mobil mewahnya yang diikuti oleh Mueza.


" Pak... Kalau bapak mau pulang, pulang saja.... Nanti kalau aku mau pulang aku hubungi bapak, " ucap Alisa sambil tersenyum.


" Tidak non.... Bapak disini saja.... Lagipula bapak juga ingin berkeliling di padepokan, sudah lama bapak tidak jalan-jalan di padepokan ini, " ucap sang sopir.


" Hm.... Baiklah... Tapi hati-hati ya pak... Yasudah aku ke tempat kak Guntur dulu ya.... Assalamualaikum..., " ucap Alisa lalu berjalan ke arah gubuk milik Guntur bersama Mueza yang mengikutinya dari belakang.


Disaat Alisa melewati sebuah taman, tiba-tiba ia mendengar suara seseorang yang belum diketahuinya.


" Waahhhh.... Kucing Main Coon... Lucunya...., "


Sontak saja Alisa langsung menoleh ke belakang dan mendapati seorang gadis kumal dengan bau badan yang sangat menyengat. Alisa sangat terkejut melihat gadis itu dan juga Mueza yang langsung digendongnya dengan gemas.


" Ehhh...., "


" Hihihi lucunya.... Besar, tinggi, gempal halus pula bulunya.... Hei siapa namamu? " tanya gadis itu yang ternyata adalah Putri.


" Meow "

__ADS_1


" Hmm... Maaf, itu kucingku yang bernama Mueza.... Kau siapa? " tanya Alisa.


Walaupun begitu, Alisa merasa tidak terganggu dengan penampilan Putri dan juga bau badannya. Namun, entah kenapa dirinya seperti mempunyai perasaan dekat dengannya.


" Ehh... Maaf-maaf aku tidak tahu, " ucap Putri yang langsung melepaskan Mueza.


Mueza yang langsung berlari ke Alisa itu langsung menggosok-gosokkan badannya ke kaki Alisa.


" Maafkan aku, aku tidak bermaksud jahat hanya saja aku sangat suka dengan kucing dan saat melihat kucing itu aku sangat senang sekali.... Sayangnya dipadepokan tidak ada kucing..., " ucap Putri yang merasa tidak enak dengan Alisa.


" Tidak apa-apa... Lalu siapa kau? Kenapa aku baru melihatmu di padepokan ini? Apa kau murid baru? " tanya Alisa penasaran.


" Ah... Iya aku murid baru di padepokan ini.... Namaku Putri Ayuning, " ucap Putri memperkenalkan diri tanpa mengatakan marga Samudra pada nama lengkapnya.


" Hm... Putri ya... Namaku Alisa Zahra Samudra... Salam kenal, " ucap Alisa sambil tersenyum


Duarrr......


Putri seperti bermimpi di siang bolong mendengar bahwa gadis di depannya itu juga memiliki marga Samudra yang mana sama dengan dirinya.


" A-apa kau masih satu keluarga dengan guru besar? " tanya Putri dengan ragu.


" Benar, aku masih satu keluarga dengan kakek Aji.... Hmm... Memangnya ada apa? " tanya Alisa penasaran.


Semakin terkejutlah Putri mengetahui jika Alisa adalah salah satu keluarga Samudra dari keluarga utama.


Selama ini dirinya belum pernah bertemu dengan anggota keluarga utama keluarga Samudra.


Entah kenapa dirinya meneteskan air matanya namun segera dia usap air matanya itu. Hatinya merasa sangat senang dan juga lega.


" Kenapa kau menangis? Apa ada yang salah dengan namaku? " tanya Alisa penasaran.


" Aahhh.... Ti-tidak... Aku tidak apa-apa.... Oh iya Nona Alisa mau kemana? " tanya Putri.


" Hahhh... Jangan panggil aku dengan embel-embel nona atau yang lainnya, aku tidak suka... Bagaimanapun kita itu sama, hmm.... Aku ingin ke tempat kakakku, " ucap Alisa.


Putri yang terkejut dengan kata-kata Alisa barusan semakin penasaran dengan Alisa.


" Kakak? Siapa? " tanya Putri penasaran.


" Guntur.... Dia adalah kakaku... Yah wala--" ucap Alisa terpotong.


" Apa? Gu-Guntur? " tanya Putri terkejut yang mengingat beberapa saat yang lalu dia ditemui orang yang bernama Guntur dan srikandi bercadar.


" Lah... Iya Guntur.... Namanya Guntur Samudra.... Dia adalah cucu kandung guru besar dari anaknya yang bernama Panji Samudra yang telah berpulang.... Dia juga adalah cucu tunggal dari semua legenda karena paman Panji menikah dengan anak dari Sang Cakra dan Sang Pepet..., " jelas Alisa yang menjelaskan silsilah dari kakak sepupunya itu.


Seketika lemas sudah tubuh Putri sampai-sampai terjatuh terduduk bahkan tubuhnya menggigil ketakutan.


Alisa yang melihat Putri seperti itu langsung menghampiri Putri dengan perasaan khawatir.


" Hei Put... Kau kenapa? "


" A-aku... A-aku...., " ucap Putri yang susah untuk berbicara.


" Aku? Putri... Ada apa? Kenapa kau sangat ketakutan begini? Huh.... Jangan bilang kalau kau pernah menginggungnya? " tanya Alisa yang kangsung menatap Putri dengan tajam.


Putri yang melihat Alisa menataonya dengan tajam semakin menggigil ketakutan, namun tiba-tiba terdengar suara srikandi bercadar di samping mereka.


" Dia tidak bersalah Alisa, " ucap Anisa dengan lembut.


Sontak saja keduanya menoleh ke sumber suara itu.


" Ka-kakak ipar.... Ta-tapi kenapa dia sangat ketakutan? " tanya Alisa yang terkejut.


" Lebih baik kalian segera ke gubuk Guntur... Nanti Guntur yang akan menjelaskan semuanya..., " ucap Anisa.


" Baik kak..., " ucap Alisa yang langsung berdiri.


" Putri... Mari ikut, kau tidak usah takut disana juga ada Julian.... Kami juga tidak akan menyakitimu, " ucap Anisa sambil mengajukan tangan kanannya.


Putri yang melihat itu terdiam sesaat sebelum meraih tangan Anisa lalu berjalan bersama ke Gubuk milik Guntur dimana disana semuanya menunggu mereka terutama Putri Ayuning Samudra, salah satu dari keluarga Samudra yang terpisah dari keluarga utama.

__ADS_1


__ADS_2