
Beberapa saat sebelumnya...
" Apa yang harus aku lakukan... Entah kenapa aku juga merasakan bahaya yang lain dan aura mereka bahkan sampai disini walaupun sangat tipis.... Para kajinan itu benar-benar merepotkan, " gumam Guntur dalam hati yang saat ini Guntur merasakan aura dari gelapnya aura kajinan.
Sekarang, Guntur bisa membedakan aura dari para jawara, aksara, kutivator bahkan kajinan, untuk kajinan sendiri mereka memiliki aura yang sangat gelap dan membuatnya risih.
Sebelum Guntur menemukan solusi untuk masalah yang melanda padepokan terlihat Guntur sedang berada di dalam masjid padepokan.
Nampak raut wajah Guntur yang sedikit pucat dan lelah memikirkan semuanya. Sebenarnya bukan kewajiban Guntur juga untuk memikirkan masalah ini tapi Guntur merasa memilliki akan padepokan ini. Di samping itu Guntur juga seorang cucu dari pemilik padepokan ini jadi mau tidak mau Guntur ikut serta memikirkan sebuah solusi untuk kelangsungan padepokan.
Sengaja Guntur pergi ke masjid karena dirinya sudah buntu akan solusi untuk masalah padepokan. Segera Guntur melaksanakan shalat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Sang Hyang Tunggal kang Agung akan solusi terbaik untuk padepokan.
Setelah selesai sholat istikharah dan berdoa, Guntur keluar dari masjid dan berjalan untuk kembali ke gubuknya. Namun saat diperjalanan melewati sebuah taman, Guntur melihat Alisa adik sepupunya itu.
Seketika Guntur seperti diberi gambaran petunjuk akan solusi terbaik untuk padepokan.
" Semoga ini menjadi petunjuk terbaik, " gumam Guntur dalam hati.
Dengan langkah cepat Guntur menghampiri Alisa yang sedang duduk di taman padepokan yang nampak begitu ramai dipenuhi oleh murid-murid padepokan.
" Alisa!!! " teriak Guntur memanggil adik sepupunya itu.
Alisa yang sedang duduk di taman itu langsung menoleh ke arah si pemanggil yang ternyata itu adalah kakak sepupunya, Guntur.
" Kakak, " ucap Alisa yang langsung beranjak dan menghampiri Guntur.
Setelah sampai di depan Guntur segera Alisa bertanya kepada Guntur " Ada apa kak? Hm... Kenapa kakak nampak sedikit pucat? Kakak sakit? " tanyanya.
Guntur pun menggelengkan kepalanya " Tidak Lisa, ikut aku yuk... Aku akan meminta bantuanmu kali ini, " ucapnya.
" Kemana kak? Bantuan apa? " tanya Alisa penasaran.
" Sudah, ikut aku saja... Soalnya ini sangat penting, " ucap Guntur sambil berbalik lalu berjalan ke arah gubuknya sedangkan Alisa yang nampak bingung dan penasaran hanya mengikuti Guntur dari belakang.
Sesampainya mereka di gubuk, segera Guntur menjelaskan rencananya kepada Alisa. Alisa sendiri sangat senang bisa membantu Guntur dan padepokan tapi juga sangat kesal dan marah karena padepokan terancam bahaya.
" Kalau begitu aku harus bagaimana kak? " tanya Alisa.
" Pokoknya kau ikuti saja apa yang aku katakan, " ucap Guntur yakin dengan rencananya akan berhasil.
Alisa hanya mengangguk saja. Alisa sangat mengerti tentang rencana itu.
Sedangkan untuk Guntur sendiri akan menjadi orang yang berada dibalik layar dalam rencananya kali ini. Kenapa Guntur meminta bantuan adik sepupunya itu karena kekuatan Ratu Betari yang dimiliki olehnya. Maka dalam rencana penyelamatan padepokan pancanaka ini, Alisa lah yang akan menjadi pemeran utamanya.
Dengan begitu Guntur segera menghubungi kakeknya untuk memberitahu informasi yang Guntur rasakan tentang para kajinan itu yang mana akan ikut serta dalam penyerangan padepokan melalui telepati. Guntur sengaja untuk tidak memberitahu solusi tentang para kajinan itu karena itu akan membuat keluarga Samudra akan panik bahkan tidak menyetujui jika Alisa lah yang akan menjadi pemeran utamanya.
Setelah selesai menghubungi kakeknya, Guntur kembali merasakan jika istrinya sedang gelisah. Maka dari itu, Guntur segera menenangkannya dan mengatakan jika urusan kajinan itu urusannya.
Beberapa saat kemudian Guntur merasakan bahwa rombongan dari keluarga Ridwan telah memasuki padepokan pancanaka. Mengetahui itu Guntur pun segera untuk mempersiapkan semuanya. Sedangkan Alisa hanya duduk melihat kakak sepupunya itu memulai aksinya.
Guntur memejamkan matanya sesaat dan saat Guntur membuka matanya pupil mata Guntur menjadi putih untuk beberapa detik, setelah itu Guntur menjentikkan jarinya.
Seketika dimensi cermin terbuat dan melapisi bagian luar pelindung ilusi yang Guntur buat sebelumnya. Guntur juga menambahkan ilusi cermin pada dimensi cermin itu. Tujuannya untuk para kajinan itu tidak curiga dan dengan adanya itu mereka para kajinan itu akan melihat aktifitas dan semua orang yang ada di padepokan pancanaka yang nyatanya didalam dimensi cermin itu hanyalah bangunan padepokan tanpa penghuni.
Setelah selesai dengan semuanya Guntur kembali terduduk kursi teras gubuknya.
" Kak, aku sebenarnya ingin bertanya kenapa kakak tidak menjadikan satu saja dengan mereka? Malah membuat dimensi cermin hanya untuk para kajinan laknat itu? " tanya Alisa penasaran.
Baginya rencana Guntur sangatlah ribet dan terlalu membuang-buang energi.
Guntur pun tersenyum mendengar itu " Apa jadinya jika aku tidak menggunakan dimensi cermin yang mana mereka para kajinan itu membawa pasukan yang sangat banyak? Bisa saja untuk melawan para manusianya tapi untuk pasukannya yang mana bukan manusia tapi bangsa lain? Jumlah mereka mencapai ribuan dan itu tidak mungkin dari pihak kita tidak mendapatkan banyak korban, maka dari itu dengan cara ini kita bisa mengurangi bahkan menghalau adanya korban, " jelasnya.
Alisa pun mengangguk lalu bertanya lagi " Lalu, apakah kakak yakin dengan semua itu? " tanyanya lagi.
Guntur tersenyum sembari mengangguk " Kau boleh meragukanku tapi sebelum aku membuat semua ini aku melakukan sujud istikharah terlebih dahulu untuk meminta petunjuk dan inilah yang keluar, " ucap Guntur.
__ADS_1
Alisa hanya mengangguk saja, didalam hatinya sudah tidak ada lagi yang namanya ragu. Lalu Guntur berdiri " Sepertinya sudah waktunya untukmu menjadi pemeran utama, " ucap Guntur sedangkan Alisa hanya mengangguk setuju.
Setelah itu Guntur memindahkan Alisa ke dimensi cermin buatannya untuk menunggu para kajinan itu datang yang mana langsung masuk ke dalam dimensi cerminnya, lalu Guntur berjalan dengan santai berkeliling padepokan yang mana nampak sepi, hanya ada beberapa orang saja. Lalu ke arah arena padepokan untuk melihat jalannya turnamen dan melihat situasinya.
***
Disaat keluarga Ridwan datang.
Terlihat 20 truk muatan manusia dan beberapa mobil mewah memasuki padepokan pancanaka.
Mereka adalah rombongan dari padepokan kerambit hitam dan padepokan gagak hitam. Nampak ratusan orang turun dari kendaraan mereka.
" Apa semuanya sudah turun? " ucap sesepuh Daeng kepada rombongannya.
Wara yang langsung menghadap sesepuh Daeng itu berkata " Sudah sesepuh, mereka juga telah siap untuk menggempur padepokan ini, " ucap Wara.
Sesepuh Daeng dan sesepuh Dalu pun tersenyum " Baiklah, saat ini jangan sampai nampak mencurigakan dan tunggu aba-aba dariku untuk menyerang, sekarang menyebar! " ucap sesepuh Daeng yang di anggukan oleh semua rombongannya dan menyebar ke segala penjuru padepokan.
Setelah itu sesepuh Daeng, sesepuh Dalu, Gani dan Wara berjalan santai menuju arena turnamen di padepokan pancanaka.
Mereka nampak kagum dengan padepokan ini yang jauh lebih besar dan megah daripada padepokan lainnya.
" 10 tahun aku tidak bisa masuk di padepokan ini bahkan untuk menemukan padepokan ini pun nampak kesusahan dan sekarang aku bisa masuk kembali dengan mudah, aku harus mengucapkan terimakasih kepada anak tidak berguna itu, " ucap sesepuh Daeng.
" Ayah, aku juga tidak percaya bahwa anak itu bisa masuk ke padepokan ini, " ucap Gani, ayah dari Ridwan.
Setelah itu nampak seorang guru dari padepokan pancanaka menghampiri mereka " Apakah kalian keluarga dari murid Ridwan? " tanya guru tersebut dengan sopan dan ramah.
Sesepuh Daeng pun mengangguk " Benar, aku adalah kakeknya, ini adalah ayahnya dan yang ini juga kakeknya, " ucap sesepuh Daeng dengan pura-pura sopan dan ramah.
" Kalau begitu mari ikut saya, kalian sudah di tunggu oleh guru besar dan para sesepuh dari padepokan lain yang sudah berada di arena, kami tidak bisa memulai turnamen tanpa kalian, " ucap guru tersebut.
Setelah itu mereka mengikuti guru tersebut untuk menuju arena.
Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di arena pertandingan dan sudah disediakan kursi khusus untuk mereka yang bersebelahan dengan para sesepuh padepokan lain dan juga Aji juga Lastri yang melihat mereka dengan senyuman ramah dan sopan.
Terlihat Aji yang mana guru besar mereka pun berdiri. Dengan suara keras dan tegas supaya dapat di dengar semua orang.
" Assalamualaikum, selamat pagi para tamu undangan yang terhormat, para guru dan murid... Saya sebagai guru besar dari padepokan pancanaka ini akan mengumumkan peraturan dan hadiah di dalam turnamen kali ini... Peraturannya adalah tidak diperbolehkan untuk membunuh, tidak diperbolehkan melukai sampai cacat dan jika lawan sudah mengatakan menyerah maka tidak boleh dilanjutkan, Di turnamen kali ini juara pertama akan mendapatkan senjata berkualitas tinggi sesuai dengan pegangannya dan uang sebesar 100 juta rupiah, juara kedua mendapatkan senjata berkualitas sedang yang sesuai dengan pegangannya dan uang sebesar 75 juta rupiah, juara ketiga akan mendapatkan senjata berkualitas rendah dan uang sebesar 50 juta rupiah, sedangkan untuk juara keempat akan mendapatkan uang sebesar 25 juta rupiah dan yang menjadi juara kelima akan mendapatkan uang sebesar 10 juta rupiah... Untuk keenam sampai kesepuluh masing-masing mendapatkan 2 juta rupiah... 10 besar teratas nama kalian akan ditulis di batu nama yang berada di pintu masuk arena.... Apa ada pertanyaan? Hm... Jika tidak, tanpa membuang waktu lagi pertandingan pertama yaitu babak eliminasi, dimulai!!! " ucap Aji.
Begitu guru besar menyatakan dimulainya pertandingan semua orang berteriak dan bersorak dengan keras, sampai-sampai suara mereka menggema di segala penjuru padepokan dan area disekitarnya.
Terlihat Ragil yang mana menjadi wasit di turnamen kali ini memimpin pertandingan di arena. Ragil berdiri di depan para kontestan yang berjumlah 50 orang yang berbaris rapi.
" Apa kalian sudah jelas? " tanya Ragil.
" Sudah guru! " ucap semua kontestan secara serempak.
" Kalau begitu keluarkan semua kemampuan dan kekuatan kalian, babak ini hanya mengambil 16 orang yang masih bertahan di arena, jika yang sudah keluar dari arena, pingsan atau menyerah, maka dinyatakan gugur... Sekarang.... MULAI!!! " ucap Ragil yang langsung melompat dan berdiri di tiang sebelah arena tempat dimana wasit itu berada dan mengawasi para kontestan.
Langsung saja 50 kontestan yang berada di tengah arena itu berpencar secara acak. Mereka semua nampak begitu semangat. Setelah mereka berpencar secara acak lalu mereka langsung menyerang secara acak juga untuk mengeluarkan lawan-lawan mereka dari arena.
Suara penonton di tribun arena pun tidak kalah ramai. Dengan suara keras mereka menyoraki para jagoan mereka.
Guntur yang sudah sampai di arena dan duduk di tribun penonton paling atas. Guntur melihat jalannya babak eliminasi pada turnamen ini berjalan sangat seru, dimana para kontestan berusaha untuk bertahan dan menyerang kontestan lain untuk mengeluarkan mereka dari arena.
Akan tetapi di dalam arena tersebut ada satu orang yang bahkan tidak melakukan apa-apa. Jangankan untuk menyerang bahkan dilirik oleh peserta lain pun tidak.
" Entah kenapa aku merasa tidak ada gunanya ikut turnamen ini, " gumam Ridwan yang saat ini tengah berdiri di salah satu sudut arena setelah turnamen dimulai.
Semua peserta saling menumbangkan satu sama lain bahkan peserta peringkat atas pun berusaha untuk melawan dan bertahan.
" Apa aku ini benar-benar tidak dianggap oleh mereka? " tanya Ridwan dalam hati.
Ridwan dengan tampang bodohnya serta membawa tombak kesayangannya itu memutuskan untuk duduk. Duduk dengan santai sambil menyenderkan tombaknya di pundaknya.
__ADS_1
" Sepertinya aku hanya bisa menunggu sampai tersisa 16 orang, " gumam Ridwan dalam hati.
Lalu, Ridwan tidak sengaja melihat ke arah tribun penonton khusus untuk para tamu dan orang tua peserta. Di sana nampak semua wali murid duduk dengan tegang melihat jalannya pertandingan. Ridwan lalu melihat kakek dan ayahnya yang melihat pertandingan ini dengan malas.
Ridwan tahu mereka datang ke padepokan pancanaka bukan karena dirinya tapi ingin membuat huru-hara serta menyerang padepokan ini. Bahkan Ridwan juga tahu jika mereka tidak segan-segan untuk membunuh yang sekiranya mengganggu mereka.
" Hahhhhhhhhh.... Entah apa jadinya nanti, aku tidak tau... Yang jelas, aku hanya bisa percaya dengan Mas Guntur dan padepokan, " gumam Ridwan sambil menghela nafas.
Lalu Ridwan menyapu pandangannya ke arah tribun penonton dan melihat Guntur yang sedang duduk dengan tenang sambil tersenyum melihat Ridwan. Ridwan pun juga tersenyum lebar.
Beberapa saat kemudian, di arena sudah semakin sedikit peserta yang masih bertahan diatasnya. Ridwan pun masih duduk sambil melihat mereka dengan tatapan heran.
Disaat hanya tersisa 16 orang menurut peserta yang lain, semua itu adalah peserta peringkat atas. Mereka bersorak dengan gembira karena berhasil maju ke babak selanjutnya, lalu dengan percaya diri, Umar mengatakan kepada wasit untuk mengakhiri pertandingan babak eliminasi.
" Wasit.... Segera umumkan akhir dari babak ini karena hanya kita yang mampu bertahan di atas arena ini, " teriak Umar dengan lantang.
Ragil yang mana sebagai wasit pun menggelengkan kepalanya " Apa kalian ini buta? Babak ini masih akan terus berlanjut sampai tersisa 16 orang sedangkan ini masih 17 orang, buka mata kalian lebar-lebar, jangan buat malu diri kalian sendiri! " ucap Ragil yang menatap mereka dengan tajam.
Seketika semua orang yang di atas arena itu terkejut dan bahkan para penonton pun tertawa terbahak-bahak.
Setelah itu mereka mulai memeriksa dan menghitung jumlah dari mereka. Lalu mereka dikejutkan oleh suara seseorang dibelakang mereka.
" Apakah kalian tidak menganggapku? Apa kalian hanya menganggap diri kalian sendiri yang mana kalian adalah peringkat atas sedangkan aku hanya murid terlemah di sini? " ucap Ridwan dengan cukup keras.
Seketika semua orang yang tersisa di atas arena itu terkejut dan menoleh kebelakang mendapati Ridwan yang sedang duduk dengan tenang dipinggir arena.
" Ka-kau, sialan.... Aku tidak menyadarinya dari tadi, " ucap Umar terkejut.
Begitu juga dengan yang lainnya. Lalu salah satu peserta langsung maju ke arah Ridwan yang sedang duduk dipinggir arena. Peserta itu bernama Hamdan, murid peringkat 8 teratas di padepokan pancanaka.
" Kurang ajar, aku akan mengeluarkanmu dari arena! " teriaknya sambil berlari dan mengayunkan gada miliknya.
Disaat Hamdan sampai didepan Ridwan yang duduk di pinggir arena, tiba-tiba Ridwan menusuk udara kosong dibawah kaki Hamdan dengan tombaknya lalu mencongkelnya keatas setelah itu diayunkannya tombaknya itu kebelakang dimana dibelakang Ridwan adalah area luar arena. Dari kejadian itulah babak pertama selesai.
" Babak eliminasi pada turnamen tahun ini, SELESAI! " teriak Ragil lalu langsung turun ke arena.
Semua orang terdiam bahkan para penonton yang sedari awal berisik meneriaki jagoan mereka pun terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Ridwan itu adalah sesuatu diluar nalar mereka. Mereka tidak menyangka akan terjadi suatu kejadian yang memalukan bagi Hamdan yang mana terkenal cukup kuat.
Para peserta yang lain pun juga sama, terdiam dengan ekspresi tidak percaya.
Akan tetapi ada satu orang yang malah tertawa terbahak-bahak disaat semuanya terdiam, orang itu adalah Guntur.
" Wahahahahaa.... Bodoh.... Wahahahahaha, " tawa Guntur yang membahana, bahkan semua orang yang ada di sana mendengar tawa Guntur.
Sedangkan untuk Anisa sendiri yang berdiri tepat dibelakang Lastri untuk menjaganya di tribun khusus hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Hahaha... Sesepuh Daeng, aku tidak menyangka jika cucumu itu sangat cerdik, " ucap Aji.
" Hohoho... Kau terlalu memuji... " ucap sesepuh Daeng sambil tersenyum yang dipaksakan.
Sebenarnya, sesepuh Daeng juga terkejut dengan apa yang dilakukan Ridwan, begitu juga yang lainnya termasuk Gani, ayahnya.
Setelah itu terdengar suara penonton yang sangat heboh dengan apa yang dilakukan oleh Ridwan. Ada yang senang dan ada pula yang tidak terima sampai ada yang marah. Bahkan ada salah satu penonton yang marah melemparkan botol air mineral ke arah Ridwan. Tapi, saat botol itu melesat ke arah Ridwan dan memasuki batas antara tribun penonton dengan area arena, botol itu terpental kembali ke orang tersebut dan mengenai kepalanya sampai memar. Ternyata di area arena pertandingan terdapat pelindung agar serangan peserta tidak sampai di tribun penonton. Orang itu adalah salah satu murid yang cukup dekat dengan Hamdan dan duduk bersebelahan dengan Guntur.
Guntur yang melihat itu menggelengkan kepala " Hahhhh... Bro... Marah boleh tapi bodoh jangan... Enak kan kena getahnya sendiri, " ucap Guntur sambil menepuk pundak sebelah kanan orang itu.
Orang itu hanya terdiam malu dengan apa yang dilakukannya. Bahkan penonton yang lain pun tertawa karenanya.
Ridwan yang saat ini pun berdiri dari duduknya sambil berkata " Hehehe.... Aku lolos... " ucap Ridwan kegirangan sambil menancapkan tombaknya ke arena.
Seketika semua peserta dibuat tidak menyangka dengan Ridwan. Lalu terlihat Umar maju berhadapan dengan Ridwan " Aku tidak menyangka kau ikut turnamen dan berhasil lolos di babak selanjutnya, Ridwan... Entah kenapa aku sangat ingin melawanmu, jadi jangan sampai kalah sebelum kita bertarung, " ucapnya sambil tersenyum, begitu juga dengan Ridwan.
Nampak juga dengan peserta lain. Mereka juga merasakan apa yang Umar rasakan. Lalu, Wasit pun berkata " Baiklah, 15 menit dari sekarang akan dimulai lagi babak selanjutnya jadi gunakan waktu itu untuk beristirahat... Lawan bertarung kalian akan dipilih secara acak jadi jangan berharap untuk siapa melawan siapa, sekarang.... BUBAR!!! " teriak wasit.
Dengan segera 16 peserta yang berhasil lolos ke babak selanjutnya pun turun dari arena, kembali ke ruangan istirahat mereka.
__ADS_1
Saat Ridwan turun dari arena, Ridwan melihat ke arah Guntur dan Guntur pun tahu akan hal itu jadi Guntur mengangguk sambil mengacungkan jempol tangan kanannya sambil tersenyum.
Ridwan yang melihat itu mengangguk sambil tersenyum, lalu meneruskan langkahnya untuk kembali ke ruang istirahat.