Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Alisa vs Para Kajinan


__ADS_3

Didalam dimensi cermin...


Terlihat seorang gadis cantik yang bernama Alisa itu sedang duduk di sebuah bangku cukup lama. Gadis itu menunjukkan raut wajah bosan dan juga mengantuk. Walaupun didalam dimensi cermin Alisa dapat melihat aktifitas semua orang di padepokan milik kakeknya itu tapi Alisa tidak bisa berkomunikasi dengan mereka karena berada didalam dimensi cermin milik kakak sepupunya, Guntur.


" Kenapa mereka lama sekali... Aku sudah bosan dan mengantuk, " ucap Alisa dengan kesal.


Lalu tiba-tiba, Alisa melihat beberapa orang di sekitarnya itu terdiam dan mematung " Huh... Kenapa mereka tiba-tiba terdiam begitu? Raut wajah mereka juga tiba-tiba pucat dan ketakutan, apa kakak sudah mengaktifkan kubah ilusi itu dan orang itu adalah murid-murid dari padepokan licik itu? " tanyanya dalam hati.


Sambil terus memperhatikan mereka tiba-tiba Alisa terkejut karena orang-orang itu jatuh tersungkur dan pingsan.


" Innalillahi... Semoga mereka baik-baik saja dan segera bertaubat setelah ini, " ucap Alisa dengan pelan.


Tidak lama setelah itu, Alisa merasakan aura yang membuatnya risih. Bahkan sampai membuat bulu kuduknya berdiri. Alisa pun memicingkan matanya dan menyapu pandangannya untuk mencari pemilik dari aura tersebut.


Setelah itu, Alisa melihat 5 orang yang berjalan mendekat kepadanya dengan mengeluarkan aura mereka yang cukup kuat. Bagi Alisa, aura dari seorang kajinan bukan apa-apa dan tidak akan berpengaruh kepadanya karena disamping dirinya mempunyai kekuatan tersembunyi yaitu pelebur jiwa angkara yang bisa melebur jiwa angkara seseorang untuk menjadi kekuatannya jika energi atau aura mereka mengenainya dan juga Alisa mempunyai kekuatan dari Ratu Betari. Maka dari itu Alisa adalah satu-satunya seorang jawara yang memiliki kekuatan seorang kajinan.


Alisa tersenyum senang melihat mereka " Kenapa kalian lama sekali? Aku sudah bosan menunggu kalian, " tanyanya kepada mereka berlima yang sudah dekat dengan dirinya dan mengeluarkan aura kajinan miliknya.


Kelima kajinan itupun mengerutkan keningnya. Mereka terkejut karena melihat seorang gadis cantik yang tengah duduk dengan bosan dan memiliki aura seorang kajinan yang begitu kuat.


" Huh... Aku tidak menyangka bahwa kita menemukan seorang gadis cantik yang mana juga seorang kajinan, " ucap Sutaryo yang mana pemimpin mereka.


" Hahhh... Apa kalian memujiku? Wah terima kasih... Lagipula aku senang dengan kedatangan kalian, hehehe, " ucap Alisa dengan tersenyum manis.


" Gadis manis siapa namamu? Apakah kau juga memiliki misi yang sama dengan kami? " tanya Dungul yang melihat Alisa sambil mengeluarkan air liurnya.


Alisa yang melihat Dungul ingin memuntahkan isi perutnya. Alisa tidak menyangka bahwa dia berbicara sambil mengeluarkan air liurnya.


" Namaku Betari... Hmm... Bisa iya bisa juga tidak... Hihihi, " ucap Alisa sambil terkikik manja.


Sutaryo yang mendengar itu mengerutkan keningnya. Dia merasa jika gadis cantik yang mengaku bernama Betari itu bukan gadis sembarangan. Sutaryo memiliki firasat buruk tentang ini tapi menyangkalnya karena gadis yang sedang duduk didepannya itu adalah seorang kajinan, sama seperti dirinya dan teman-temannya.


Karun yang sedari tadi hanya terdiam ikut berbicara " Hati-hati... Aku merasa gadis itu sangat berbahaya, " ucap Karun memperingati teman-temannya.


Mereka pun setuju dengan Karun karena memiliki firasat yang sama tapi ada salah satu diantara mereka yang menyangkal dan tidak percaya kepada firasat itu, dia adalah Dungul. Dungul terkenal dengan julukan Kajinan Cabul karena dia melakukan praktek darah perawan sebagai tumbalnya.


Benar saja, Dungul langsung berjalan mendekati Alisa yang tengah duduk sambil tersenyum manja kepadanya. Dengan terus meneteskan air liurnya Dungul berhasil mendekati Alisa dan berhenti tepat didepan Alisa yang tengah duduk dengan tenang.


Teman-temannya terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Dungul, lalu memperingati Dungul " Dungul... Apa yang kau lakukan... Hati-hati! " ucap Sabto khawatir.


Dungul yang mendengar teriakan dari temannya itu menoleh kebelakang " Tidak apa-apa... Kau tenang sa-, " ucao Dungul terpotong.


Saat Dungul ingin menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba tanpa dia sadari kepalanya sudah menghantam tanah dengan cukup keras, sedangkan tubuhnya masih berdiri.


Sontak kejadian itu membuat teman-temannya itu terkejut. Mereka tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Setelah beberapa detik barulah tubuh Dungul terjatuh dengan kondisi tidak bernyawa.


Pandangan tajam mereka langsung tertuju kepada Alisa yang masih duduk dengan santai.

__ADS_1


" Innalillahi waa innailahi roji'un... Aku turut berduka cita... Semoga amal ibadahnya dapat diterima disisi-Nya, " ucap Alisa sambil mengangguk, melihat mayat Dungul.


Ternyata disaat Dungul membalikkan badannya dan lengah, Alisa langsung menebas leher Dungul dengan senjatanya yang berupa cakar itu. Alisa hanya mengeluarkan satu mata pisau saja untuk menebas leher Dungul.


Setelah menebas leher Dungul, Alisa langsung memasukan kembali mata pisau tersebut pada tempatnya dan kembali duduk dengan tenang. Alisa melakukan itu dengan sangat cepat sehingga orang awam sangat susah mengikuti gerakan cepat Alisa. Tapi, tidak bagi mereka yang mempunyai kekuatan dan kemampuan yang semua itu tergantung dengan tingkatan mereka. Semakin tinggi tingkatan mereka, maka semakin jelas mereka melihat kecepatan gerakan yang dilakukan oleh lawan atau teman mereka.


Sontak, kejadian dan kata-kata yang dilontarkan oleh Alisa itu membuat semua teman-teman Dungul murka oleh Alisa karena mereka melihat dengan jelas gerakan Alisa dan


Aura kajinan yang sangat kuat mereka keluarkan. Bahkan sampai ledakan energi pada tubuh mereka.


" Aaaaarrrggghh.... Akan ku bunuh kau! " teriak Sabto yang langsung melesat ke arah Alisa.


Sabto melesat dengan cepat sambil melemparkan bola-bola energi berwarna hitam kemerahan yang dia buat dari kekuatan kajinan miliknya. Ada lima bola energi yang dia buat lalu dilemparkannya kepada Alisa.


Alisa yang melihat itu teraenyum senang dan merentangkan tangan kanannya itu kedepan. Bola-bola energi itu langsung berhenti tepat didepan tangan kanan Alisa. Setelah itu kelima bola energi itu berubah warna menjadi putih dengan cepat lalu masuk kedalam tubuh Alisa melalui tangan kanannya.


Sabto pun terkejut dengan kejadian itu dan menghentikan langkahnya. Sabto dan yang lainnya tidak habis pikir oleh Alisa. Bagaimana mungkin bola energi yang dapat menghancurkan suatu desa itu berganti warna menjadi putih dan masuk kedalam tubuh gadis itu melalui tangan kanannya.


Alisa yang melihat ekspresi mereka tersenyum " Hihihi... Kalian jangan terkejut seperti itu... Hmm.... Nih aku kembalikan, " ucapnya sambil mengangkat tangan kanannya keatas lalu bola energi tercipta dengan warna ungu.


Bola itu semakin lama semakin besar dan tekanan yang dihasilkan oleh bola energi itu cukup kuat. Begitu Alisa merasa cukup, lalu melemparkan bola energi itu ke arah para kajinan itu.


Bola energi itu melesat cukup kuat dan siap untuk menghantam mereka berempat. Lalu Sutaryo lekas maju tiga langkah dan mengeluarkan kekuatannya yang mana terlihat siluet dari bangsa lain itu.


Siluet itu memperlihatkan wujud seperti monyet dengan bulu-bulu yang panjang berwarna hitam legam, kuku-kuku pada jari-jari tangannya sangat panjang. Muka dari monyet tersebut sangatlah mengerikan dimana nampak seperti kulit wajahnya yang mengelupas serta bau dari monyet itu sangatlah busuk.


" Baannnggg... "


Seketika, bola energi itu melesat dengan cepat mengarah ke arena pertandingan yang dimana disanalah orang-orang sedang menonton jalannya turnamen.


" Wussshhh.... Boooommm... "


Terdengar suara ledakan yang begitu memekakkan telinga bak seperti bom nuklir yang meledak. Kepulan asap pun memenuhi arena tersebut. Alisa langsung menggelengkan kepalanya " Untung saja di dimensi cermin... Coba kalau tidak? Kiamat sudah padepokan ini, " gumamnya dalam hati.


Terdengar suara tawa dari Sutaryo " Hahahaha.. Aku ucapkan banyak terima kasih kepadamu karena telah membantu kami untuk meratakan padepokan ini, hahaha, " ucapnya dengan senang.


Sedangkan untuk Alisa sendiri masih dalam senyum manjanya " Menurutmu? Sepertinya kau terlalu dini untuk merasakan kesenangan, " ucap Alisa sambil tersenyum.


Mendengar itu, para kajinan itu langsung terdiam. Awalnya mereka sangat senang karena bola energi dari Alisa yang dipantulkan Sutaryo meledak di arena tapi saat mereka mendengar Alisa mengatakan itu mereka kebingungan.


Tiba-tiba Alisa mendengar suara kakak sepupunya itu didalam otaknya " Alisa... Apa kau baik-baik saja? " ucapnya.


Alisa terkejut mendengar suara itu lalu suara kakak sepupunya itu kembali terdengar " Tidak usah mencariku, aku menggunakan telepati dan kau hanya perlu membalasnya di dalam hati atau pikiranmu saja... Jadi walaupun aku berada diluar dimensi cermin tapi aku mengetahui semuanya, " ucapnya kembali.


" Kak... Aku baik-baik saja... Bahkan aku sangat bersemangat menghadapi mereka, " ucap Alisa dalam hati.


" Baiklah... Aku akan membantumu dari luar jadi kau tenang saja... Fokus saja pada mereka, " ucap Guntur melalui telepati.

__ADS_1


" Baik... Serahkan kepadaku kak, " ucapnya dalam hati.


Lalu, terdengar suara salah satu dari para kajinan itu " Apa maksudmu bocah? " tanya Sabto keheranan.


Alisa tidak menjawab pertanyaan dari Sabto dan hanya terdiam sambil tersenyum. Sutaryo yang menyadari itu langsung waspada dengan Alisa.


Benar saja tiba-tiba Alisa menghilang dari penglihatan mereka dan membuat kebingungan. Namun tidak lama setelah itu Karun merasakan perutnya sangat nyeri dan saat dia melihat perutnya, ternyata tiga buah mata pisau menancap dengan sempurna di perutnya. Lalu Alisa pun langsung mencabut cakarnya dan menghilang kembali.


Sakit...


" Aaaaaarrrrggghhhh.... " Teriak Karun histeris saat menyadari semua itu.


Teriakan tersebut mengagetkan semua temannya dan langsung menoleh kearah Karun yang meringkuk menahan rasa sakit yang teramat sangat karena perutnya terdapat tiga lobang tusukan benda tajam bahkan sampai tertembus kedepan. Nampak darah segar mengalir begitu deras dan organ vital rusak parah.


Tidak berhenti disitu, Alisa yang tiba-tiba menghilang bahkan aura dan keberadaannya tidak dapat mereka rasakan itu menusukkan kembali dari belakang di bagian punggung karun sampai tertembus ke dada, lalu Alisa pun mencabut cakarnya dan kembali menghilang.


Tidak lama setelah itu, Karun yang malang itu pun harus tewas di tangan Alisa.


Dengan meninggalnya Karun, ketiga temannya itu langsung murka dengan kemurkaan yang tidak terbendung lagi.


Ketiganya langsung memanggil para prajuritnya yang mana dari bangsa lain. Tidak membutuhkan waktu lama, terlihat ribuan makhluk bangsa lain dengan berbagai bentuk dan rupa.


Alisa yang melihat itu bukannya takut tapi tersenyum senang. Lalu, Alisa kembali menampakkan dirinya kembali beberapa meter didepan mereka semua.


" Wah... Banyak sekali... Sampai bertebaran kemana-mana, " ucap Alisa sambil tersenyum senang.


" Banyak omong! Habisi dia! " teriak Sutaryo memerintahkan semua prajuritnya.


Alisa yang mendengar itu terkejut. Sebenarnya ini adalah pengalaman pertamanya bertarung sekaligus membunuh. Walaupun saat membunuh Dangul dan Karun tadi sempat mengalami mual dan sedikit trauma, akan tetapi dalam kondisi seperti ini, Alisa tidak bisa untuk menunjukkannya dan harus tetap fokus pada pertarungan. Jika tidak, Alisa sudah tewas dari tadi.


Ribuan prajurit dari bangsa lain itupun langsung mengangguk dan melesat kearah Alisa. Mereka sangat senang jika berurusan dengan manusia karena dengan begitu, mereka sanggup meningkatkan kekuatan mereka. Dimata mereka, manusia hanyalah tumbal yang harus mereka makan.


Alisa melihat ribuan prajurit itupun menjadi pucat. Selain belum berpengalaman dia juga masihlah lemah untuk menghadapi ribuan prajurit itu sendirian.


" Bagaimana aku bisa melawan mereka semua? Mereka sangatlah banyak, " tanya Alisa dalam hati.


Lalu Alisa mendengar suara Guntur melalui telepati " Alisa... Jangan panik dan tenanglah, " ucap Guntur.


" Tapi kak... Apa yang harus aku lakukan? " tanya Alisa dalam hati.


" Bukankah kau memiliki kekuatan dari ratu betari dan pelebur jiwa angkara? " tanya Guntur.


" Astaghfirullah... Aku lupa... Baiklah... Aku tau apa yang harus aku lakukan, " ucap Alisa dalam hati.


Alisa langsung menatap ribuan makhluk dari bangsa lain yang berlari ke arahnya dengan senyuman. Alisa seperti mendapat suatu rencana untuk melawan mereka.


Tidak ingin membuang banyak waktu lagi, Alisa langsung berlari ke arah arena. Tujuan Alisa memancing mereka untuk ke arena, disana adalah tempat yang sangat cocok untuk bertarung daripada diluar.

__ADS_1


Ribuan makhluk dari bangsa lain itu pun terus mengikuti Alisa, begitu juga dengan Sutaryo, Sabto dan Gundi yang merasa sangat senang Alisa berlari ke arah arena karena disana terdapat banyak sekali tumbal yang bisa meningkatkan kekuatan mereka dan para prajuritnya.


__ADS_2