Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Alisa vs Para Kajinan : Kemenangan dan Dimulainya Kembali Turnamen


__ADS_3

Kelegaan sangat nampak di arena padepokan. Semua orang kembali bersemangat dan merasa tenang melihat Alisa baik-baik saja.


Semua itu tidak luput dari rasa antusias mereka semua dan juga rasa benci terhadap para kajinan.


Kehadiran mereka sangatlah mengganggu semua orang, baik itu awam atau berkemampuan seperti halnya mereka yang telah menjadi seorang jawara ataupun aksara.


Keberadaan mereka juga sangat tidak diterima oleh masyarakat dikarenakan mereka hanya merugikan dan merusak.


Didalam dimensi cermin....


Alisa yang kini telah bangkit dalam keadaan baik-baik saja itu pun tersenyum. Padahal, beberapa waktu yang lalu dirinya menjadi bulan-bulanan oleh para kajinan sampai-sampai siapapun yang melihatnya pasti akan merasa tidak sanggup.


Darah, suara tulang patah, teriakan, jeritan semua mendengarnya. Akan tetapi sekarang ini seolah-olah tidak mengalami semua hal itu.


Itulah yang menjadi pertanyaan semua orang termasuk para kajinan itu. Hanyalah Alisa dan kakak sepupunya saja yang mengetahui mengetahui semuanya.


" Hihihi... Kalian tidak perlu tahu bagaimana aku bisa baik-baik saja, yang jelas sekarang kalian harus bersiap untuk menghadap Sang Hyang Tunggal kang Agung, " ucap Alisa.


Sebuah kalimat yang dilontarkan oleh Alisa membuat para kajinan itu sedikit gentar didalam hati mereka, juga didalam hati mereka sangat penasaran kenapa Alisa baik-baik saja padahal mereka sudah membuat Alisa selayaknya bola hidup.


" Apa yang sebenarnya terjadi? Jelas-jelas aku dan Sabto sudah menghajarnya habis-habisan, tapi--- " gumam Sutaryo dalam hati.


Alisa yang masih tersenyum melihat mereka langsung melepas aura dari ratu betari, sampai-sampai gelombang kejut tercipta dari besarnya energi yang dikeluarkan oleh Alisa.


" Baanngg.... Wuuuussshhh... Nggiiinngg... "


Dengan keluarnya aura berwarna ungu gelap tersebut, semua orang diluar dimensi cermin nampak terkejut. Terlihat juga di tribun khusus semua orang yang berada disana juga terkejut, termasuk Aji dan Lastri yang belum tahu kekuatan asli dari Alisa.


Guntur yang melihat itu pun tersenyum puas karena Alisa sudah jauh lebih baik dan kuat dari terakhir bertemu.


Lalu, Guntur juga melihat Aji dan Lastri yang sangat terkejut melihat Alisa yang mempunyai aura yang sangat mengerikan.


Segera Guntur menelepati keduanya untuk memberitahu semuanya.


" Kakek, nenek inilah alasan kenapa aku memilih Alisa sebagai pemeran utama untuk menangani para kajinan itu... Ini belum seberapa dan lihatlah setelah ini, " ucap Guntur menggunakan telepati.


Sontak Aji dan Lastri yang mendengar suara Guntur pun sangat terkejut. Dalam hati mereka penuh dengan pertanyaan akan tetapi suara Guntur kembali terdengar oleh mereka.


" Setelah ini, akan aku jelaskan semuanya... Sekarang lihat saja bagaimana Alisa mengalahkan mereka, " ucap Guntur menggunakan telepati.


Terlihat juga ditengah arena Sutaryo dan Sabto nampak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


" A-aura ini... Tidak mungkin.... " ucap Sutaryo sambil tubuhnya bergetar hebat.


" Ra-ratu Betari, " ucap Sabto yang langsung menggigil.


Berbeda dengan Alisa yang terus tersenyum melihat mereka " Akan aku tunjukan bagaimana kekuatan seorang kajinan yang sebenarnya, " ucapnya dengan nada lembut akan tetapi dengan kalimat yang mengancam.


Lalu, Alisa segera menggunakan kekuatan ratu betari dengan maksimal. Seketika terciptalah siluet seorang wanita dengan mata yang masih tertutup yang mana sangat mirip dengan Alisa yang menggunakan sebuah mahkota diatas kepalanya.


Dengan munculnya siluet tersebut, terciptalah keributan diluar dimensi cermin tapi mereka masih dalam posisi mereka masing-masing.


Sutaryo dan Sabto yang melihat siluet milik Alisa pun sangat bergetar pada tubuhnya. Lalu mereka melihat siluet wanita itu membuka kedua matanya.


Seketika sepasang mata berwarna hitam dengan pupil mata berwarna merah tersebut terlihat dan juga menatap Sutaryo dan Sabto dengan tajam.


Bersamaan dengan itu sebuah tekanan yang sangat kuat menimpa mereka berdua sampai-sampai mereka jatuh tersungkur diatas arena. Mereka juga langsung mengeluarkan seteguk darah mereka.


" Aaaaaarrrrgghhh..... " Teriak Sutaryo dengan kencang, begitu juga dengan Sabto.

__ADS_1


" Kalian sudah melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh Sang Hyang Tunggal kang Agung jadi kalian harus musnah sekarang juga, " ucap Alisa dengan lirih tapi siluet milik Alisa tersebut mengikuti apa yang Alisa katakan dan suara yang terdengar lembut tersebut terdengar oleh semua orang yang mana suara tersebut membuat bergidik ngeri.


Lalu, Alisa menggerakkan tangan kanannya kedepan. Kemudian telapak tangan itu seperti melambaikan sesuatu di udara kosong.


Bersamaan dengan itu Jin yang bersatu dengan Sutaryo dan Sabto tersebut keluar dengan paksa dari tubuh mereka.


Dengan keluarnya jin-jin itu, tubuh Sutaryo dan Sabto, kembali menjadi manusia seperti awalnya. Sedangkan mereka para jin yang keluar dari tubuh tuan mereka pun melayang diatasnya dengan keadaan tidak bisa bergerak.


Alisa yang melihat itu pun langsung mencengkram telapak tangannya dengan kuat.


" Ja-jaaangaaaaaaannn.... " Teriak mereka berdua dengan keras.


Seketika kedua jin itu langsung meledak lalu terbakar dengan api yang cukup besar. Hanya beberapa detik setelah itu kedua jin itu musnah tanpa meninggalkan jejak apapun.


Sedangkan untuk Sutaryo dan Sabto langsung memuntahkan banyak darah dari mulut mereka. Tubuh mereka seketika lemas dan merasakan jika tulang-tulang mereka remuk.


Sudah dapat dipastikan jika Sutaryo dan Sabto telah kalah dan sudah tidak bisa menggerakkan anggota tubuh mereka.


Jika seorang kajinan bertarung setelah bergabung dan jin mereka musnah maka tuan mereka juga merasakan apa yang jin mereka rasakan, begitu juga sebaliknya. Apalagi dengan membunuh tuannya langsung, maka jin mereka juga akan mati. Hal itu dikarenakan mereka berbagi tubuh antara tuan dan jin mereka.


Masih dengan kekuatan maksimalnya, tangan kanan Alisa tiba-tiba mengeluarkan sebuah bola energi kecil berwarna ungu gelap. Setelah itu, Alisa melemparkan bola tersebut kearah Sutaryo dan Sabto yang sudah tidak berdaya.


Bola energi itu melesat cepat ke arah mereka. Ketika bola energi itu mengenai mereka, tiba-tiba bola energi itu meledak bersama dengan mereka.


" Wussshhh... Boooommm.... "


Hanya beberapa detik saja bola energi itu meledak. Setelah itu ledakan itu pun padam dan menghilang yang menyisakan tubuh Sutaryo dan Sabto yang sudah terpanggang.


Sutaryo dan Sabto telah tewas ditangan Alisa.


Setelah itu Alisa segera menarik semuanya kembali kedalam tubuhnya. Semua sudah berakhir. Pertarungan yang melelahkan fisik dan mental. Jika digabungkan, entah berapa ratus nyawa melayang kembali ke sisi-Nya.


Tiba-tiba di padepokan pancanaka terlihat dan terdengar suara seperti kaca yang terpecah. Hal itu sangat mengejutkan semua orang.


" Krakkkk... Pyarrrr... "


Dimensi cermin itu pun sudah pecah dan hilang dari padepokan pancanaka. Nampak seseorang melompat dan melesat ke arah Alisa yaitu kakak sepupunya, Guntur.


Alisa yang melihat kakak sepupunya itu yang kini sudah berada di hadapannya itu sambil tersenyum.


" Semua telah berakhir Alisa... Kau menang, " ucap Guntur sambil tersenyum.


Alisa yang mendengar itu pun nampak rapuh. Air mata mengalir deras melewati wajah cantiknya yang kini terlihat dipenuhi dengan debu dan sedikit bercak darah.


" Hiks... Hiks.... A-aku.... A-aku-- "


Guntur yang melihat Alisa seperti itu langsung saja memeluk Alisa dengan erat. Guntur sangat tahu, sebenarnya Alisa sangatlah ketakutan. Mentalnya sedang diuji dengan pertarungan, nyawa dan juga darah. Siapa yang kalah maka akan mati, itulah yang dirasakan Alisa saat melawan para kajinan tadi.


" Ka-kakak... Huaaaaaa..... Takut... Aku takut... Huaaaaa... "


Tangisan Alisa menggema di dalam arena. Aji dan Lastri pun langsung saja turun dari tribun khusus setelah melihat dan mendengar suara kaca yang terpecah.


Mereka juga langsung menghampiri Alisa. Rasa khawatir dan cemas mereka rasakan.


" Sudah-sudah... Semua telah berakhir, " ucap Guntur menenangkan Alisa.


Beberapa saat kemudian Alisa melepas pelukannya terhadap Guntur. Kini, Alisa sudah tenang dan berhenti menangis. Segera dia menoleh ke samping kanan. Terlihat kakek dan neneknya sangat mengkhawatirkan dirinya.


" Kakek... Nenek, " ucap Alisa yang langsung memeluk keduanya dengan erat.

__ADS_1


" Kau hebat Alisa... Kau hebat, " ucap Aji sambil memeluk Alisa. Begitu juga dengan Lastri, dia juga memeluk Alisa yang bersamaan dengan Aji.


Guntur yang melihat itu seperti melihat seorang anak yang dipeluk oleh orang tua mereka. Sempat Guntur terketuk mengatakan " Jika bapak masih ada.... Astaghfirullah... Mikir apa aku, " gumamnya.


Beberapa waktu kemudian acara Turnamen yang sempat tertunda itu diteruskan. Alisa pun langsung dibawa ke rumah sakit padepokan guna mendapatkan perawatan dan beristirahat.


Semua kekacauan juga sudah dibereskan oleh panitia turnamen. Mayat-mayat para kajinan pun segera dilarikan ke rumah sakit padepokan. Begitu juga dengan 470 orang dari padepokan kerambit hitam dan padepokan gagak hitam untuk mendapatkan perawatan karena mental dan kejiwaan mereka terganggu.


Kejadian itu sangat membekas disemua orang. Dari kejadian itu banyak pelajaran dan hikmah untuk diri mereka sendiri. Contoh yang nyata bagi mereka untuk terus berusaha dalam hal apapun. Mereka juga menyadari jika nyawa adalah hal yang paling penting. Menyadari jika bukan Alisa yang bertarung melawan para kajinan itu entah bagaimana nasib mereka.


Kini, gadis cantik yang bernama Alisa itu dikenang dihati mereka. Nampak juga di keluarga Ridwan. Kesadaran dan pikirannya terbuka lebar. Bahwa diatas langit masih ada langit. Seorang gadis berumur belasan tahun sanggup menang melawan para kajinan yang sudah sempurna itu sesuatu yang sangat mengejutkan.


Nampak Aji dengan lantang memberi tahukan bahwasanya turnamen segera dilanjutkan.


" Maaf atas ketidak nyamannya untuk semuanya karena ada kejadian diluar rencana. Maka kini acara turnamen tahun ini akan segera di lanjutkan!! " ucap Aji yang langsung semua orang dapat mendengarnya.


Sontak semua orang nampak riuh dan semangat. Seolah olah melupakan kejadian yang beberapa saat yang lalu mereka lihat dan alami.


" Woooaaaaahhhh.... Semangat!!! " kali ini Guntur yang berteriak dengan keras di tribun penonton untuk ikut memeriahkan turnamen.


Akan tetapi disamping itu semua Guntur menyadari jika di tribun khusus ada orang yang menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk dikatakan. Mereka adalah sesepuh Tamrin dan sesepuh Werang.


Mereka menyadari sesuatu jika Guntur bukanlah orang yang sederhana. Bagaimanapun mereka adalah seorang jawara yang telah hidup lama bahkan lebih lama dari Aji dan Lastri.


" Aku sangat penasaran dengan anak laki-laki yang memeluk gadis yang bertarung dengan para kajinan itu, " ucap sesepuh Werang.


" Benar dimas Werang... Aku juga dapat merasakan jika anak itu bukanlah anak yang sederhana, " ucap sesepuh Tamrin.


Sedangkan Guntur yang mendengar semua itu dari mereka berdua hanya menggelengkan kepala.


" Sepertinya aku harus lebih rapi dan sesenyap mungkin untuk bertindak.... Mereka juga sepertinya menyadari sesuatu yang ada pada diriku... Hmm... Aaahhhh aku lelah, " gumam Guntur dalam hati.


Sedangkan Anisa yang sedari tadi terus menatap suaminya itu " Kau pasti sangat lelah mas, " Gumamnya dalam hati sambil meneteskan air matanya.


Anisa sangat tahu apa yang suaminya itu rasakan. Betapa rumitnya dan beratnya Guntur merencanakan semua ini. Sebenarnya, yang paling berat adalah suaminya itu karena semua itu dia lakukan sendiri tanpa campur tangan orang lain.


Perancangan rencana, laku rencana sampai akhir rencana semua dia lakukan seorang diri. Sedangkan Alisa sendiri hanyalah untuk membantu Guntur dalam rencananya dalam bentuk fisik.


Membayangkan betapa susah dan rumitnya itu, Anisa merenungkan suaminya itu. Lastri yang tidak sengaja menoleh kebelakang dan melihat Anisa meneteskan air mata dan merenung segera menyadari semuanya.


" Sebenarnya, pemeran utama dari kejadian itu adalah Guntur bukan Alisa.... Hahhhh.... Mungkin jika bukan karena dia pasti padepokan ini sudah hancur... Guntur... Kau memiliki jasa besar pada padepokan ini, " gumam Lastri dalam hati.


Waktu terus berlalu, sampai dimana turnamen kali ini siap untuk dilanjutkan. Layar besar itu terus mengacak nama peserta yang akan menunjukkan pertarungannya.


Sampai dimana layar itu menampilkan dua nama yaitu...


RAHMAT VS RIDWAN


Sontak hal itu membuat riuh akan teriakan penonton yang meneriaki mereka.


Tidak lama setelah itu nampak Ridwan dan Rahmat yang mempunyai peringkat 12 teratas itu memasuki arena, sedangkan Ragil yang sudah di atas arena segera mengumumkan kepada mereka berdua akan peraturan turnamen.


" Peraturan tetap sama... Tidak boleh membunuh, tidak boleh membuat cacat.... Jika salah satu diantara kalian menyerah atau keluar dari arena maka dinyatakan gugur... Kalian mengerti? " tanya Ragil kepada Rahmat dan Ridwan.


" Mengerti, " ucao mereka serempak.


" Kalau begitu.... Mulai! " ucap Ragil yang langsung kembali ke tempat wasit yaitu sebuah tiang yang berdiri di luar arena.


Terlihat keduanya saling tatao dengan tajam. Mereka seperti musuh bebuyutan yang siap untuk mengalahkan satu sama lain, menunjukkan siapa yang terkuat di turnamen tahun ini.

__ADS_1


__ADS_2