Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Alisa vs para kajinan : Bagaimana Mungkin?


__ADS_3

Semua orang tampak tegang melihat perubahan langsung seorang kajinan. Walaupun mereka berada di luar dimensi cermin, tapi apa yang mereka lihat dan dengar sudah cukup untuk membuat ketakutan.


Akan tetapi berbeda dengan mereka yang berada di tribun khusus. Mereka pernah berurusan langsung dengan para kajinan di masa lalu.


Nampak Aji dan Lastri sangat tegang dan ketakutan. Bukan takut perkara para kajinan tapi takut bila terjadi sesuatu dengan Alisa.


Guntur yang melihat kakek dan neneknya itu pun bisa memakluminya.


Setelah Alisa berhasil mengalahkan Gundi sang segawon ireng, nampak Aji dan Lastri sedikit lega. Akan tetapi mereka belum benar-benar lega karena pertarungan Alisa melawan para kajinan itu masih berlanjut.


Sedangkan untuk para tamu, mereka sangat kagum dengan Alisa. Disamping melihat Alisa yang bertarung sendirian melawan para kajinan, mereka juga dapat melihat potensi dan bakat yang dimiliki oleh Alisa.


Mereka belum mengetahui darimana Alisa mendapatkan kekuatan yang begitu mengerikan.


" Jika aku tidak melihatnya langsung, aku tidak akan mempercayai semua ini, " ucap sesepuh Tamrin.


" Benar kakang Tamrin, aku sangat kagum dan tertarik dengan gadis itu, benar-benar gadis yang sangat berbakat, " ucap sesepuh Werang.


Begitu juga dengan para tamu lainnya. Bahkan keluarganya Ridwan pun sampai mengeluarkan keringat dingin melihat pertarungan Alisa dengan para kajinan itu.


" Aku benar-benar menyesal dengan kebodohanku, " ucap sesepuh Dalu.


Sesepuh Daeng dan Gani langsung menoleh kearah sesepuh Dalu. Sebenarnya mereka berdua memiliki pemikiran yang sama tapi semua sudah terlambat. Dengan kebodohan mereka, 470 orang dari padepokan mereka belum tahu akan kabar mereka, entah mati atau tidak.


Mereka sangat menyesalkan kecerobohan dan kebodohan mereka tanpa melihat bagaimana lawannya.


Didalam dimensi cermin...


Alisa yang melihat lawannya sudah bersatu dengan jin mereka dengan sempurna, memiliki rasa ragu didalam hatinya.


Namun tiba-tiba suara Guntur terdengar kembali " Alisa... Jangan ragu... Aku selalu berada dibelakangmu, " ucap Guntur melalui telepati.


Alisa yang mendengar itu pun mencoba memantapkan hatinya kembali. Alisa sangat percaya dengan kakak sepupunya itu " Tidak mungkin kak Guntur mengatakan sesuatu jika tidak melakukan sesuatu, " gumamnya dalam hati.


Setelah itu Alisa memejamkan kedua mata sejenak lalu mulai membuka kedua matanya. Apa yang dia lihat masih sama dengan sebelumnya.


" Masih tersisa dua lagi yang aku merasa mereka jauh lebih kuat dari sebelumnya, tapi aku tidak boleh kalah... "


" Kak Guntur sudah mempercayakan semua ini kepadaku, aku tidak boleh membuatnya kecewa, " gumamnya dalam hati sambil menatap kedua kajinan yang menjadi musuhnya.


Para kajinan, Sutaryo dan Sabto yang baru saja bergabung dengan jin mereka menatap Alisa dengan tajam. Didalam benak mereka, mereka sangat geram dan dendam dengan Alisa karena ketiga temannya tewas olehnya.


Sabto yang memang memiliki nafsu angkara yang tidak terkontrol, langsung melesat dengan cepat tanpa memberi aba-aba kepada Sutaryo.


Sutaryo ingin mencegah Sabto pun terlambat. Sabto sudah melesat dengan cepat kepada Alisa yang masih berdiri kokoh.

__ADS_1


" Dasar bodoh! " ucap Sutaryo.


Nampak Sabto semakin mendekat kepada Alisa. Begitu jarak Sabto hanya tinggal beberapa langkah lagi, Alisa langsung menghilang kembali.


Nampak raut wajah kesal dari Sabto. Jurus menghilang dari Alisa benar-benar membuatnya kerepotan karena tidak bisa mendeteksi atau merasakan kehadirannya bahkan auranya.


Lagi-lagi Sabto merasa frustasi dengan jurus menghilang Alisa.


" Aaarrgghhh... Sialan, " teriak Sabto.


Namun, walaupun Sabto tidak merasakan kehadiran Alisa bahkan auranya juga tapi bulu-bulu genderuwo miliknya itu sangatlah sensitif. Beberapa kali Sabto merasakan seperti ada pergerakan yang sangat cepat.


Alisa yang telah menyadari itu pun sangat berhati-hati untuk melawan Sabto dan terus menjaga jarak dengan Sabto.


Akan tetapi karena terlalu fokus dengan Sabto, Alisa melupakan salah satu dari para kajinan yang masih tersisa yaitu Sutaryo.


Sutaryo yang terus mengawasi Sabto dengan sangat teliti dan cermat " Hanya ada satu cara untuk mengetahui keberadaan gadis itu, " gumamnya dalam hati.


Benar apa yang dirasa oleh Sutaryo. Alisa kali ini membuat suatu kesalahan yang sangat fatal yaitu secara tidak sengaja, Alisa menginjak genangan darah dari Gundi yang sudah tewas dan masih tergeletak disana.


" Srett... Tak... Tak... "


Nampak jejak kaki berwarna merah dilantai arena. Mengetahui itu, Sutaryo langsung melesat dengan sangat cepat menuju jejak Alisa.


Alisa yang tidak mengetahui itu tiba-tiba sebuah bogem mentah mengenai punggungnya.


Alisa terpental beberapa meter setelah menerima pukulan telak dari Sutaryo.


" Aaaaaa..... " Teriakan Alisa langsung menggema di arena.


Sutaryo pun lekas tertawa dengan keras " Wahahaha... Kau sangat ceroboh gadis kecil... Ahhahaha, " ucapnya.


Alisa yang langsung menyadari kecerobohannya itu mengeluh. Dia tidak menyangka jika membuat suatu kesalahan fatal dan sekarang Alisa merasakan sakit di punggungnya.


Sabto yang melihat Alisa terkapar itu juga tertawa puas. Lalu beberapa detik setelah itu, Sabto melesat dengan cepat menghampiri Alisa.


Alisa yang masih syok dan kesakitan itu terlambat untuk menyadari jika Sabto sudah berada didepannya.


" Bugh... "


Sabto pun dengan geram menendang perut Alisa dengan cukup keras sampai terpental beberapa meter kebelakang.


Sakit...


Itulah yang dirasakan oleh Alisa. Belum juga rasa sakit itu mereda, tiba-tiba sebuah tendangan dari belakang yang langsung mengenai punggungnya.

__ADS_1


Ternyata Sutaryo yang melesat melewati Sabto lalu menendang punggung Alisa dari belakang.


" Bugh... "


Kembali Alisa terpental kembali sampai didepan Sabto. Sabto pun juga langsung menendang kembali perut Alisa sampai terpental kearah Sutaryo.


Kini, Alisa lah yang menjadi bulan-bulanan para Kajinan itu. Level keduanya jauh berbeda dengan ketiga temannya yang sudah tewas ditangan Alisa walaupun mereka juga sudah sempurna. Itu dikarenakan jin yang mereka anut. Semakin tinggi tingkatan jin mereka, maka semakin kuat pula para kajinan itu.


Diluar dimensi cermin....


Semua orang nampak sangat ketakutan dan juga cemas. Betapa kejamnya para kajinan itu menyiksa Alisa bagai sebuah bola.


Aji dan juga lastri yang melihat menjadi tidak karuan. Marah, benci, kesal, geram semua mereka rasakan. Begitu juga dengan para tamu lainnya.


Tidak ada ampun bagi para kajinan itu yang telah menyiksa Alisa bak sebuah bola. Ingin sekali mereka menyelamatkan Alisa tapi apalah daya. Aji dan Lastri juga sudah memberitahu mereka perkara dimensi cermin, jadi mereka hanya bisa mendoakan Alisa agar selamat.


Diaaat semua orang panik, hanya ada satu orang yang tetap tenang melihat Alisa menjadi bulan-bulanan. Orang itu adalah Guntur.


Guntur tetap tenang melihat kejadian itu. Guntur tahu jika Alisa baik-baik saja. Luka luar maupun dalam yang dialami oleh Alisa terus menerus beregenerasi. Itu semua dikarenakan para kajinan itu menyentuh tubuh Alisa secara langsung.


Kekuatan pelebur jiwa angkara Alisa terus saja menghisap kekuatan dari mereka tanpa mereka sadari.


Walaupun Alisa juga merasakan sakit tapi semakin lama para kajinan itu menyentuh Alisa maka Alisa semakin kuat bahkan kebal dengan mereka.


Didalam dimensi cermin...


Alisa yang kini hanya tertawa dalam hati dan berekspresi kesakitan itu terus mempertahankan aktingnya supaya mereka tidak menyadari semua itu.


Alisa juga sudah tidak merasakan sakit pada tubuhnya malah, dia sekarang menjadi semakin kuat dan kebal.


Beberapa saat kemudian, para kajinan itu akhirnya menghentikan serangannya terhadap Alisa yang diakhiri dengan Sutaryo yang menendang Alisa sampai terpental beberapa meter kesamping sisi arena.


Alisa yang kini terlempar itu pun berpura-pura lemah dan tidak bergerak, bahkan berekspresi kesakitan.


" Hahahaha.... Gadis manis, apakah kau sekarang sudah tahu akan kekuatan kami? " tanya Sutaryo.


Begitu juga dengan Sabto yang merasa puas menyiksa Alisa. Mereka sangat yakin jika Alisa saat ini hanya menginginkan kematian secara cepat.


Tapi siapa sangka jika Alisa dengan perlahan bangkit dan berdiri sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang sudah terlihat sangat kotor.


" Waaaahhhhh.... Kalian memang tega menyiksa seorang gadis perawan sepertiku, " ucap Alisa.


Sontak saja para kajinan itu sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Begitu juga dengan semua orang diluar dimensi cermin. Bahkan Aji dan Lastri sendiri terkejut dan tidak percaya dengan itu.

__ADS_1


" Ba-bagaimana mungkin? " tanya Sabto tidak percaya.


" Hihihi... Kalian tidak perlu tahu bagaimana aku bisa baik-baik saja, yang jelas sekarang kalian harus bersiap untuk menghadap Sang Hyang Tunggal kang Agung, " ucap Alisa.


__ADS_2