
Tidak ingin terus menerus mengingat masa lalunya yang bahkan sampai membuatnya menjadi seorang iblis aksara, Gino akhirnya menatap semua pola aksara buatannya yang mana menghiasi langit padepokan.
Tersenyum bagaikan seorang predator yang sedang melihat mangsanya, tangan kanan Gino ia angkat keatas lalu ia turunkan dengan cepat.
Seketika itu semua pola aksara Gino yang terus berputar itu mengeluarkan sesuatu.
Aji Samudra dan juga semua orang yang melihat itu langsung melebarkan kedua matanya.
Ekspresi ketakutan jelas nampak pada raut wajah semua orang kecuali Guntur dan juga Anisa.
Setelah Guntur melihat semua pola aksara iblis itu pun langsung menundukkan kepalanya dan juga terdiam.
Dalam diamnya, Guntur sangat menyesali perbuatan Gino dan juga komplotannya karena Guntur mengetahui jika mereka semua dulu adalah para aksara yang cukup hebat terutama yang bernama Gino, entah itu dari bakat sampai pada pemahaman dan juga kekuatannya.
Sedangkan Anisa sendiri malah memiliki perasaan lain kepada para iblis aksara itu.
Lalu, dirinya menatap Guntur yang terdiam menunduk.
" Mas..., " gumamnya pelan.
Tidak lama setelah itu dari semua pola aksara itu mengeluarkan jutaan anak panah yang terbuat dari berlian hitam yang nampak sangat kuat kokoh dan juga sangat tajam.
Pola aksara itu adalah jurus aksara pamungkas dari seorang Gino yang dulu mendapatkan sebuah gelar Sang Lautan Pola Panah.
Gelar itu diberikan oleh Aji Samudra dikarenakan Gino mampu membuat ratusan bahkan ribuan pola aksara hanya dalam waktu yang sangat singkat.
Dan juga, semua pola itu bukanlah pola sembarangan tetapi pola yang sanggup mengeluarkan ribuan bahkan jutaan anak panah yang terdiri dari elemen milik Gino yaitu logam dan juga berlian.
Satu anak panahnya bahkan mampu untuk menembus tebalnya 12 tank yang berjejer rapi.
Tentu bukanlah sebuah permainan anak-anak mengingat jurus aksara panah milik Gino sangatlah berbahaya dan juga sudah terbukti akan kengeriannya.
" Aksa Panah : Panah Penghakiman "
Gino sengaja mengucapkan jurus pamungkasnya yang mana cukup ditakuti oleh semua orang di dunia persilatan.
Disisi lain Aji Samudra yang nampak tegang karena jurus pamungkas milik Gino itu tiba-tiba merasakan aura yang sangat familiar beberapa meter disamping kanannya.
Sontak saja Aji langsung menoleh ke arah aura itu yang ternyata aura itu milik cucunya sendiri yaitu Guntur.
Aji menatap Guntur dengan sangat serius, lalu beberapa detik berikutnya, darah yang ada pada dirinya seolah mendidih dan juga jantungnya tiba-tiba terpacu dengan sangat cepat.
" I-ini...., " ucap Aji Samudra yang mana langsung berbalik kebelakang.
Seketika itu juga Aji langsung berlari kebelakang dimana semua orang berkumpul.
Dalam situasi ini hanya Aji dan juga Guntur saja yang masih berada di baris depan walaupun melihat banyaknya pola aksara menghiasi langit padepokan yang menjadi sebuah ancaman, namun Aji dan juga Guntur seolah tidak punya rasa takut akan hal itu.
Bahkan Lastri, Ragil dan juga Anisa sendiri saat melihat jurus pamungkas dari Gino sendiri langsung melesat kebelakang, apalagi dengan yang lainnya?
Disaat Aji berlari kebelakang, Aji juga langsung berteriak dengan sangat kencang supaya dapat didengar oleh semua orang padepokan.
" TUTUP TELINGA KALIAN DAN JANGAN SAMPAI KALIAN MENDENGAR SUARA APAPUN!! CEPAT... CEPAT.... CEPAT!!! " teriak Aji yang berlari dengan sangat panik dan ketakutan.
Sontak saja semua orang langsung melakukan apa yang guru besar mereka perintahkan walaupun mereka kebingungan dan juga penasaran.
Dari semua penduduk padepokan hanya Alisa, Julian dan Putri saja yang langsung faham kenapa Aji memerintahkan hal itu.
__ADS_1
Mereka bertiga juga merasakan apa yang Aji rasakan pada diri mereka yaitu dari mendidihnya darah mereka, jantung terpacu sangat kencang dan juga semua bulu kuduk mereka berdiri.
Ketika Aji sudah berada di belakang menyusul semua orang, barulah Guntur mengangkat toya miliknya 10 centimeter dari permukaan tanah.
" Gelombang Buta : Toya Pemisah Sukma " ucap Guntur yang langsung menghentakkan toya miliknya ke tanah yang mana menimbulkan sebuah suara ketukan.
" Tukkkk "
Seketika itu Gino yang tadinya merasa sangat senang akan kemenangannya dan juga keberhasilannya membalaskan dendamnya itu mendengar suara ketukan dan langsung merasakan kepalanya seperti terbentur sesuatu yang sangat amat keras.
Itu semua juga berlaku kepada komplotan Gino yang mana tidak menutup telinga mereka.
Gino dan komplotannya langsung merasakan semua tulang yang ada pada diri mereka semua rontok dan juga hancur, semua indra mereka langsung tidak berfungsi, semua bagian vital seperti jantung sampai pada ginjal mereka meledak dan hancur.
Secara serempak, mereka semua langsung ambruk dengan keadaan tewas dan yang pasti dengan keadaan yang sangat mengerikan.
Tubuh mereka layaknya sebuah pakaian yang terjatuh atau tanpa ada penyangganya.
Terlipat-lipat, darah yang keluar di semua lobang pada tubuh mereka seperti mulut, telinga, hidung bahkan pada ******** mereka.
Jangankan untuk berbicara, untuk selamat dari ketukan maut itu pun mereka tidak mampu.
Tanpa ada kata-kata terakhir, mereka tewas secara mengenaskan dan dalam keadaan bentuk yang sangat menyedihkan.
Bersamaan dengan semua itu, semua pola aksara bahkan semua anak panah milik Gino itu langsung lenyap tanpa meninggalkan bekas.
Langit yang tadinya dipenuhi dengan pola aksara, suasana tegang dan mencekam pada padepokan pancanaka itu berganti dengan suasana yang sangat sulit untuk diungkapkan bahkan dilukiskan.
Setelah selesai, Guntur yang masih menunduk itu meneteskan air matanya.
Namun, disisi lain Guntur juga berfikir akan sangat menyakitkan bila Gino dan komplotannya terkena array pelindung itu.
Itu dikarenakan mereka akan disiksa didalam ilusi bahkan sangat menyakitkan walaupun pada ujungnya juga akan tewas.
Maka dari itu, Guntur memilih untuk menggunakan jurusnya itu untuk mengalahkan Gino dan komplotannya.
Disamping singkat, mereka juga akan tewas dengan sangat cepat dan tanpa rasa sakit yang berkepanjangan.
Disisi lain mereka semua yang melihat kejadian itu langsung lemas bahkan tidak sedikit dari mereka yang langsung pingsan.
Tubuh mereka langsung ambruk dan juga dengan cepat semua isi perut mereka keluar dengan sendirinya.
Bahkan Ragil dan juga Lastri pun juga mengeluarkan isi perutnya karena melihat semua kejadian itu.
Dari Lastri sendiri yang juga seorang legenda, ini adalah pertama kalinya ia melihat kematian yang begitu mengerikan.
Baginya, lebih baik melihat kematian dengan mutilasi dari pada melihat apa yang baru saja ia lihat.
" Se-sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka semua tewas seperti selayaknya pakaian yang terjatuh? " gumamnya dalam hati.
Sedangkan Anisa sendiri sebenarnya juga merasakan hal yang sama dengan yang lainnya, tetapi dirinya dengan cepat melindungi dirinya dengan auranya dan juga Anisa mendapatkan perlindungan dari sabit miliknya.
Maka dari itu Anisa tidak merasa mual ataupun lemas hanya saja mentalnya sedikit menurun dengan melihat kejadian itu.
Setelah mereka semua merasa lebih baik barulah Aji Samudra mengatakan sesuatu.
" Jika aku bukan dari keluarga Samudra pasti aku tidak akan pernah merasakan sensasi dari semua itu dan aku tidak akan menyuruh kalian untuk segera menutup telinga kalian serapat mungkin... Mungkin saat ini kita semua juga akan bernasib sama dengan mereka..."
__ADS_1
" Hanya darah dari keluarga Samudra saja yang bisa merasakan semua itu... Asal kalian tahu jika apa yang baru saja kalian lihat adalah sebuah jurus jawara yang sudah sangat lama punah, " ucap Aji Samudra dengan raut wajah yang sulit untuk dimengerti.
Sontak saja semua orang terkejut dan juga bertanya-tanya.
" Kangmas.... Sebenarnya apa yang terjadi? " tanya Lastri yang sudah merasa lebih baik.
" Guru besar... Apa maksud dari guru? Dan jurus, jurus apa? " tanya guru Taufik yang juga merasakan apa yang semua orang rasakan.
" Pak... Mungkinkah ini? " ucap Ragil yang sudah bisa menebak tentang jurus itu.
Aji pun langsung mengangguk lalu menjelaskan dengan singkat.
" Di keluarga Samudra ada sebuah jurus yang hanya bisa dipelajari oleh mereka yang dalam diri mereka mengalir darah keluarga Samudra... "
" Bahkan tidak semua orang di keluarga Samudra mampu untuk mempelajari jurus itu... Aku sendiri hanya mampu mempelajari jurus itu pada tingkat dasarnya saja... "
" Generasi ke generasi tidak pernah ada yang bisa mempelajari jurus itu di keluarga Samudra dan hanya pendiri atau leluhur pertama keluarga Samudra yang dapat mempelajari jurus itu karena beliaulah yang menciptakan jurus itu... "
" Bahkan generasi kedua sampai sekarang generasi ke 33 pun tidak ada yang bisa mempelajari jurus itu kecuali satu orang, yaitu Guntur... "
" Kalian tidak akan pernah menemukan kitab bahkan catatan tentang jurus itu dimanapun kecuali di keluarga Samudra... "
" Dan jurus itu bernama... Gelandang Buta... "
Sontak saja semua orang langsung menatap Aji dengan tatapan penuh dengan hormat lalu menatap Guntur yang saat ini telah terduduk sambil berpegang pada tongkatnya yang berdiri sambil terus meneteskan air matanya.
Setelah itu dengan segera Anisa mendekati Guntur lalu menepuk pundak kirinya.
" Mas... " ucap Anisa dengan penuh dengan kasih sayang.
Guntur yang mendengar itu langsung menoleh ke arah istrinya itu, lalu menghapus air matanya.
" Semua sudah menunggumu, lihatlah kebelakang, " ucap Anisa.
Dengan pelan Guntur berdiri lalu menoleh kebelakang.
Betapa hangatnya hati Guntur setelah melihat semua penduduk padepokan selamat tanpa luka dan tersenyum kearahnya bahkan Ridwan dan grupnya mengacungkan jempol mereka.
Guntur juga melihat Aji Samudra yang tersenyum menganggukkan kepalanya seolah memberi sebuah pesan isyarat.
Guntur melihat semua itu langsung mengangkat tongkatnya sambil berteriak.
" KITA MENANG! "
Langsung saja suara sorakan kegembiraan terdengar riuh dari semua penduduk padepokan.
" Yyeeeaaahhhh "
" Kita menaaaaang! "
" Uuuaaaahhhhh kau sangat hebat mas Gun "
Walaupun begitu, sebagai seorang istri tentu faham dan mengerti jika suaminya itu menutupi kesedihan dan rasa bersalahnya karena telah membunuh Gino dan komplotannya itu dengan senyum lebar dan kegembiraan.
" Kau mungkin bisa untuk menutupi semua itu kepada semua orang tapi tidak denganku mas, " gumam Anisa dalam hati dan terdiam dengan raut wajah datar.
Guntur yang mana mendengar suara hati istrinya itu merasa sangat bersyukur jika ia mendapatkan istri yang sangat mengerti dan memahaminya baik secara lahir maupun batin.
__ADS_1