
Guntur yang saat ini menatap cerahnya langit malam yang dihiasi oleh bulan sabit yang berwarna putih dan juga milyaran bintang dengan berbagai bentuk, ukuran dan juga warna itu seorang diri.
Terduduk di taman samping rumah kediaman kakek buyutnya itu terus menerus mengucapkan rasa syukurnya dengan apa yang sudah Sang Hyang Tunggal kang Agung berikan untuknya.
Semua kenikmatan yang belum tentu semua orang merasakannya, tidak membuat Guntur lupa siapa dirinya.
" Aku hanyalah seorang hamba yang tidak pernah luput dari dosa yang begitu memberatkanku di kehidupan selanjutnya, " gumamnya dengan pelan.
Guntur mencoba mengingat semua dosa yang pernah dia lakukan selama ini itu menghela nafasnya dengan berat.
" Masa lalu adalah sejarah, masa sekarang adalah anugrah dan masa yang akan datang adalah misteri, masya Allah, " gumamnya dengan pelan.
Lama Guntur meratapi semua itu sampai pada tengah malam, Guntur pun masih terdiam dan terduduk di sana sampai ada seseorang datang menghampirinya.
" Nak, kenapa kau belum juga tidur? Ini sudah tengah malam, " tanya orang itu.
" Aku belum mengantuk kek, aku masih ingin menikmati semua ini, " ucap Guntur tanpa melihat orang itu yang ternyata adalah kakek buyutnya.
" Apa kau mempunyai masalah? " tanya kakek Jin sambil duduk disebelah kiri Guntur.
Guntur pun lekas menggelengkan kepalanya " Tidak kek..., " ucapnya singkat.
Kakek Jin yang melihat buyutnya itu tahu jika sebenarnya Guntur sangat lelah dan juga banyak pikiran.
Kakek Jin juga tahu kebiasaan Guntur jika setiap malam Guntur selalu melihat langit jika dirinya merasakan lelah dan juga penat, walaupun dia sendiri jarang bertemu dengan buyutnya itu.
Entah itu ikatan batin orang tua kepada anak cucunya, yang jelas kakek Jin seperti merasa ikut larut dengan apa yang Guntur rasakan.
" Lalu, ada hal penting apa yang ingin kau katakan kepada kakek nak? Tidak mungkin kau kemari hanya kangen saja kan? " tanya kakek Jin yang juga ikut menatap cerahnya langit malam.
Lalu, Guntur pun langsung mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi sambil menatap sebuah cincin dengan batu mulia berwarna hijau yang melingkar di jari manisnya.
" Kek, apa kau tahu kenapa cincin ini tidak bisa lepas dari jariku? " tanya Guntur dengan heran.
Kakek Jin pun langsung menatap cincin itu dengan serius, lalu tiba-tiba dirinya sangat terkejut.
" Bu-Bun'er... Darimana kau mendapatkan cincin dimensi itu? " tanya kakek Jin yang langsung menatap Guntur dengan serius.
__ADS_1
Guntur pun langsung menurunkan tangan kirinya lalu menunjukkannya dihadapan kakek buyutnya itu.
" Apa kakek ingat saat aku melihat masa lalu dari pedang penghisap jiwa milik kakek? " tanya Guntur.
Kakek Jin pun langsung mengingat kejadian mengerikan itu " ya... Kakek ingat, " ucapnya dengan cepat.
Lalu, Guntur pun menceritakan semua yang dia alami saat melihat perjalanan dari pedang itu.
Juga, Guntur menceritakan jika dirinya bertarung mati-matian dengan leluhur pertama keluarga Jin yang bernama Jin Lan.
Kakek Jin yang mendengar semua penuturan buyutnya itu tidak bisa untuk tidak terkejut, sedih dan juga senang dengan semua itu.
Pasalnya dari semua keluarga Jin, tidak ada yang pernah mengalami apa yang Guntur alami saat memegang pedang itu.
" Kakek tidak tahu mau sedih atau senang... Kakek juga baru tahu jika pedang itu bernama pedang Bai Hu bukan pedang penghisap jiwa, " ucap Kakek Jin.
" Kek, kakek Lan mengucapkan salam kepadamu dan juga berpesan jika aku harus bisa untuk menggunakan cincin ini dan beliau juga mengatakan jika aku harus belajar dari kakek buyut untuk menggunakan cincin ini, " ucap Guntur dengan serius.
Kakek Jin yang mendengar itu tersenyum senang karena leluhurnya itu mengenalnya bahkan menitipkan salam untuknya, namun tiba-tiba langsung tertunduk lesu saat mendengar harus mengajari Guntur menggunakan cincin dimensi.
" Itu sangat susah nak... Kau bukanlah seorang kultivator seperti kami meskipun kau sendiri bagian dari keluarga kultivator, " ucap kakek Jin dengan lesu.
Kakek Jin pun mengangguk " Seorang kultivator jika ingin menggunakan cincin dimensi harus menyadarkan kesadaran dan juga energi Qi miliknya kepada cincin tersebut... Dengan begitu cincin dimensi akan terbuka dan menutup sesuai keinginan pemiliknya, " jelasnya.
Guntur pun faham dengan apa yang kakek buyutnya itu katakan.
" Maka dari itu sangat susah bagimu untuk menggunakan cincin dimensi tersebut, karena setahu kakek hanya seorang kultivator saja yang bisa melakukan itu, " ucap kakek Jin sambil menghela nafas dalam.
Setelah itu, mereka pun terdiam dan terlarut dalam pikiran mereka masing-masing yang menjadikan suasana menjadi hening untuk beberapa menit.
Namun tiba-tiba kakek Jin melebarkan kedua matanya lalu berkata.
" Tu-tunggu dulu... Tidak mungkin leluhur Lan memberikan sesuatu kepadamu jika beliau sendiri tidak tahu akan dirimu nak! " ucap kakek Jin tiba-tiba.
Guntur yang mendengar itu langsung mengerutkan keningnya dan juga bingung dengan apa yang dikatakan kakek buyutnya itu.
" Maksudnya kek? " tanya Guntur kebingungan.
__ADS_1
" Sekarang coba kau salurkan kesadaranmu dan tenaga dalammu kepada cincin dimensi itu... Begini, nama lain dari Qi adalah Mana, cakra dan itu sama saja dengan tenaga dalam, energi alam yang kita serap melalui pori-pori pada tubuh kita untuk menjadikan semua itu sumber dari kekuatan kita yang terkumpul di suatu tempat pada tubuh kita yang bernama dantian, kantung mana, pusaran cakra... Cepat nak coba kau lakukan itu, " ucap kakek Jin yang tidak sabar dengan itu.
Guntur langsung memahami ucapan dari kakek buyutnya itu langsung melakukan apa yang kakek buyutnya itu perintahkan.
Tidak lama setelah itu, sebuah segel kecil berwarna putih keemasan dengan aksara yang tidak dimengerti oleh Guntur itu pun muncul.
Lalu beberapa detik berikutnya, segel itu langsung pecah dan hancur dengan sendirinya.
Guntur yang melakukan itu langsung seperti dirinya masuk kedalam cincin dimensi itu dan melihat semua yang ada didalam cincin dimensi tersebut.
" I-ini..., " ucap Guntur sangat terkejut.
Pasalnya didalam cincin tersebut terdapat banyak sekali gunung harta.
Guntur sendiri langsung berhenti melihat cincin dimensi tersebut lalu menatap kakek buyutnya itu dengan ekspresi yang sangat rumit.
Kakek Jin yang melihat buyutnya seperti itu juga penasaran dengan apa yang berada didalam cincin dimensi milik buyutnya itu.
Langsung saja kakek Jin meraih tangan kiri Guntur yang terdapat cincin dimensi lalu menyalurkan kesadarannya.
Namun, saat dirinya melakukan itu, tiba-tiba kakek Jin terbatuk dan mengeluarkan seteguk darahnya.
Sontak saja Guntur terkejut dengan itu lalu dengan segera Guntur menggunakan kekuatan aksaranya untuk menyembuhkan kakek buyutnya.
Setelah beberapa saat, kakek Jin merasa jauh lebih baik dari sebelumnya itu menghela nafasnya.
" Nak, mungkin leluhur Lan memang sangat mempercayaimu dan juga beliau ingin cincin dimensi miliknya ini berada di tanganmu... "
" Hanya kau seorang saja yang bisa menggunakan cincin dimensi itu, selain dirimu sudah dipastikan akan mengalami apa yang kakek alami barusan, " jelas kakek Jin.
Guntur mengangguk pelan " Lalu kek, bagaimana dengan semua isi dari cincin dimensi ini? Jujur, aku bingung dengan semua harta ini, " ucapnya dengan serius.
" Memang ada apa nak? " tanya kakek Jin yang sangat penasaran apa yang ada didalam cincin dimensi itu.
" Aku sendiri tidak bisa mengiranya kek, banyak sekali gunung emas, batu permata, batu mulia, tumpukan senjata dengan kualitas dan kelas tinggi, tumbuh-tumbuhan, pil, tumpukan kitab-kitab, aaaahhh banyak sekali kek," ucap Guntur yang terlihat frustasi dengan isi yang berada di dalam cincin dimensi.
Kakek Jin yang mendengar itu sangat mengerti dengan apa yang Guntur rasakan.
__ADS_1
Kakek Jin bahkan tidak merasa iri ataupun ingin merebut cincin dimensi itu tapi kakek Jin juga kasihan pada Guntur karena Guntur bukanlah seorang kultivator.