
Husna yang mendengar semua cerita yang dialami oleh Anisa itu tidak bisa untuk tidak terkejut.
" Astaghfirullah Anisa... Karna itulah kau belum melakukan kewajibanmu? " tanya Husna.
" Be-benar Husna... A-aku belum siap dan takut jika Guntur mengetahui masa laluku dan aib ku dia akan menjauh dan murka terhadapku, " ucap Anisa yang kembali meneteskan air matanya.
" Astaga Anisa... Jangankan Guntur, bahkan aku saja tidak habis pikir denganmu! "
" Bisa-bisanya kau melakukan semua itu demi mendapatkan kekuatan untuk bisa bersanding dengan Guntur... "
" Dan disaat itu juga mendapatkan aib yang sangat dihindari oleh semua wanita... "
" Walaupun kau sudah menembus batasan itu tapi apakah aibmu itu bisa hilang? Lalu.... Astaghfirullah.... "
" Kau tahu? sebenarnya Guntur tidak membutuhkan semua itu Nisa... Yang dia butuhkan adalah kita yang sebagai bagian darinya! "
" Bukan juga kekuatan tapi ikatan dan kerjasama untuk saling menjaga dan melengkapi! "
" Astaghfirullah.... Entahlah Nisa... Aku benar-benar tidak tahu lagi mau bilang apa, " ucap Husna panjang lebar dan kesal terhadap Anisa sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
Anisa hanya menyesali perbuatannya di masa lalu dan terdiam.
" Nisa... Baiklah mungkin itu adalah masa kelammu tapi untuk sekarang cobalah untuk keluar dari rasa traumamu dan mencoba untuk memulai dari awal lagi, apalagi kau sudah menjadi istri dari Guntur..., " ucap Husna menasehati.
" A-aku akan berusaha, " ucap Anisa yang memang sudah merasa lebih baik dari sebelumnya karena bercerita semua unek-unek yang mengganjal dihatinya selama ini.
" Kau pasti bisa Nisa... Apapun itu aku akan selalu mendukungmu, " ucap Husna sambil memegang tangan Anisa.
" Hu-Husna..., " ucap Anisa yang kembali memeluk Husna.
" Sudah-sudah... Sekarang lebih baik kita ke gubuk Guntur, aku takut mereka akan mencari kita, " ucap Husna sambil melepas pelukannya.
Anisa hanya mengangguk lalu mereka menghilang dalam sekejap.
***
Satu hari telah berlalu kembali dan Guntur masih belum juga sadarkan diri.
Kini didalam kamar Guntur nampak Anisa yang masih menangisi Guntur karena belum juga siuman dari pingsannya.
Disaat Anisa sedang menatap wajah suaminya itu, Anisa merasakan jari Guntur bergerak dan seketika itu juga Anisa merasa lega.
" Mas... Maass.... " ucap Anisa sambil menggengam telapak tangan Guntur.
Beberapa saat kemudian, Guntur pun dengan berlahan membuka kedua matanya lalu menoleh ke arah Anisa.
" Anisa..., " ucap Guntur.
Mendengar itu, Anisa langsung memeluk Guntur dengan erat sambil menangis.
" A-apa yang kau lakukan? Aku bisa mati kehabisan nafas! " ucap Guntur sedikit keras.
Anisa yang mendengar itu langsung melepas pelukannya sambil bercucuran air mata.
" Ma-maafkan aku... Hiks... Hiks..., " ucap Anisa sambil menghapus air matanya.
" Berapa lama aku pingsan? " tanya Guntur sambil menatap Anisa.
" Em-empat hari..., " ucap Anisa sambil menghapus air matanya.
" Hahhhh... Lama juga..., " ucap Guntur sambil berusaha untuk duduk.
Namun belum juga duduk dengan sempurna seseorang langsung menubruk Guntur.
" Guntur! " ucap orang itu.
Brugh...
" Argh... Ne-nenek Lastri! " ucap Guntur yang kesulitan bernafas.
" Guntur.... Nenek sangat mencemaskanmu, " ucap Lastri sambil melepas pelukannya.
Setelah itu barulah semua keluarga berdatangan ke kamar Guntur.
***
Malam harinya yang mana hanya tinggal Guntur dan Anisa saja yang berada di gubuk Guntur.
Sedangkan Ridwan dan yang lainnya mereka kembali ke asrama mereka.
Guntur yang sedang menikmati malam cerah didepan gubuknya sambil membakar api unggun itu mendengar seruan Anisa.
" Ini mas kopinya, " ucap Anisa sambil menyerahkan gelas besi yang berisikan kopi pahit kesukaan Guntur dan duduk disamping kiri Guntur.
" Terima kasih Nisa..., " ucap Guntur sambil tersenyum lalu menyeruput kopi tersebut.
" Mas..., " ucap Anisa yang entah kenapa menjadi sangat gugup semenjak mengingat masa lalunya dan berhasil membunuh Indrajit.
" Aku sudah tahu Anisa...," ucap Guntur dengan santai.
" Ehhh, " ucap Anisa terkejut.
" Masa lalu biarlah menjadi sejarah dan yang perlu diingat jangan mengulangi hal ceroboh seperti itu lagi, memang benar kau sudah menjadi seorang kanuragan walaupun kau tutupi semua itu tapi kau juga mendapatkan kerugian yang sangat besar juga kan, " ucap Guntur menasehati.
" Ma-mas... Sejak kapan? " tanya Anisa terkejut.
" Sejak pertama kali melihatmu... Kau tahu aku bisa melihat semuanya dengan mata aksaraku, awalnya aku sangat kecewa, hanya untuk alasan konyol seperti itu kau rela melakukan hal yang sangat berbahaya seperti itu... "
" Tapi mau gimana lagi, toh itu masa lalu dan aku tidak akan mempermasalahkan semua itu dan tidak akan mengungkit hal itu, " jelas Guntur sambil melihat langit malam yang cerah.
" Ta-tapi mas... E-entah sudah berapa ribu nyawa orang yang aku layangkan dan itu membuatku merasa sangat berdosa dan kotor, " ucap Anisa menyesali masa lalunya.
Guntur pun langsung menatap Anisa dengan senyuman lalu mengelus kepala Anisa.
__ADS_1
" Selama kau tidak salah dalam hal itu dan terus berjalan di jalur yang benar, aku sama sekali tidak keberatan... "
" Bukan berarti aku mengijinkanmu melakukan hal itu tapi selama tidak bisa untuk bertaubat dan terus melakukan kerusakan dan keburukan yang dzalim maka aku tidak mempermasalahkannya, " ucap Guntur sambil tersenyum.
Lega...
Itulah yang dirasakan Anisa setelah mendengar ucapan Guntur.
" Te-terima kasih mas, " ucap Anisa sambil menunduk.
" Iya Nisa.... Oh iya bagaimana dengan Alisa? Kenapa aku tidak melihatnya tadi? " tanya Guntur.
" Alisa sedang ada ujian sekolahnya jadi butuh belajar dan fokus dan setelah pertempuran itu, Alisa berhasil menerobos menjadi jawara pintu ke 6," ucap Anisa.
" Syukurlah... Lalu bagaimana dengan warga? " tanya Guntur yang teringat warga yang terkena imbas pertarungan.
" Keluarga Jin, keluarga Samudra dan negara yang menanggung semuanya jadi tidak usah cemas, keluargaku juga ikut membantu sebab aku juga ikut andil dalam pertarungan itu bukan? Jadi aku juga harus bertanggung jawab untuk hal itu, " ucap Anisa.
" Ehh... Kalau begitu aku juga, " ucap Guntur yang ingin menghubungi kakek buyutnya itu.
" Tidak mas, kakek buyut melarang keras untuk hal itu, toh aku juga sudah membantu jadi Mas tidak usah khawatir..., " ucap Anisa menenangkan Guntur.
" Hahhh... Memang berapa kepala keluarga itu ya? " tanya Guntur penasaran.
" Hmm... Sekitar 9.347 KK, belum lagi tempat usaha dan bangunan seperti PT, CV, Perumahan, pasar, pokoknya lumayan banyak mas, " jelas Anisa.
" Hah? " ucap Guntur yang terkejut.
" Lah, kenapa mas? Pokoknya mas tenang saja walaupun hanya keluarga Jin saja yang menanggung semuanya, itu tidak akan menghilangkan 10% dari kekayaan keluarga Jin, " ucap Anisa yang mengingat bagaimana kekayaan keluarga Jin itu.
" Astaga! " ucap Guntur yang kembali terkejut.
" Asal Mas tahu, kekayaan keluarga Jin itu tidak ada nomor serinya jadi kecil untuk keluarga Jin melakukan itu, " ucap Anisa sambil tertawa terkekeh melihat Guntur yang terkejut.
" Duh... Aku kok jadi pusing, " ucap Guntur dengan polos.
" Hahahha... Sudah tidak usah dipikirkan, " ucap Anisa sambil tertawa.
***
Seminggu kemudian...
Suasana gubuk Guntur kembali ramai seperti biasa yang mana adanya pelatihan keras yang dilakuakan oleh Guntur dan Anisa kepada Ridwan Cs.
Ridwan cs sangat bersemangat setelah melihat bagaimana pertarungan tingkat tinggi itu apalagi melihat pertarungan guru mereka yaitu Anisa dan Guntur.
Ridwan sangat mengagumi Guntur setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri kehebatan Guntur yang berhasil mengalahkan Raja Angkara dan Winga.
Dalam benaknya, dirinya juga harus bisa menjadi lebih kuat lagi dari sebelumnya, begitu juga dengan yang lainnya.
Sedangkan Julian sendiri semakin gencar untuk mengasah kemampuan strateginya.
Umar, Yuni dan Putri juga tidak mau kalah dengan Alisa yang sudah membuka pintu ke 6 nya.
" Sepertinya mereka semakin hari semakin tidak terkontrol latihan mereka, " ucap Guntur yang merasa heran saat mengawasi Ridwan CS.
" Itu karena pertarungan terakhir yang mereka lihat... Jadi mereka termotivasi dari kejadian itu, " ucap Anisa yang berada disebelahnya.
" Hmm... Baguslah, " ucap Guntur lalu melesat ke arah Amir dan mencambuknya dengan selang sepanjang setengah meter karena salah pada gerakan jurus yang baru dia tekuni.
Plakkk....
" UAAADDDOOOOOHHHH!!! " teriak Umar yang langsung bergiling-guling karena merasakan panas pada punggungnya.
" Astaga, dulu aku juga dilatih dengan sangat keras oleh guru tapi ini lebih keras lagi dari pada guru... Guntur benar-benar totalitas dalam hal ini untuk menjadikan mereka seorang jawara yang tangguh, " gumam Anisa sambil menggelengkan kepalanya.
" Woeee... Yang bener dong! Jangan seperti anak teka! " teriak Guntur yang menggelegar.
Plakk...
Plakkkk....
Plakk...
Plakk...
" DJIANCOOOKKK! "
" ARRRGGGHH! "
" IIIYYYYUUUUUUNG! "
" SUAAAAKKKIIIITTTTT! "
***
Hari pun terus berganti mencapai 2 bulan kemudian mereka berlatih.
Tentu, Guntur pun juga ikut berlatih untuk dirinya sendiri, namun latihan Guntur tidak sama dengan yang lainnya karena bisa dibilang lebih ekstrim dari pada yang lainnya.
Saat ini semuanya telah berkumpul didekat api unggun dan saling mengobrol satu sama lain.
Tidak lupa Alisa juga berada di sana karena sudah menyelesaikan ujian sekolahnya.
" Mas Gun..., " panggil Ridwan.
" Hmm, " jawab Guntur yang masih sibuk dengan singkong bakarnya.
" Hmm... Bagaimana caranya Mas Gun mendapatkan kekuatan yang luar biasa kuat seperti itu? Padahal Mas Gun baru di pintu ke 4 tapi seperti jawara sempurna..., " ucap Ridwan penasaran.
" Huh... Bro Ri, apa kau lupa kalau Mas Gun itu Sang Hyang Aksara? " ucap Umar.
" Lah... Bro Mar, kekuatan jawara dan aksara itu berbeda, yang aku tanyakan itu jawaranya bukan aksaranya..., " ucap Ridwan.
__ADS_1
" Hey apa kau juga lupa jika Mas Gun memiliki gelandang buta? Tentu itu akan sangat berpengaruh kepada kekuatannya, " ucap Umar.
" Itu tidak ada hubungannya Bro Mir, yang aku tanyakan itu nasinya bukan lauk-pauknya..., " ucap Ridwan.
"... "
"... "
"... "
"... "
Guntur dan yang lainnya melihat perdebatan diantara dua rival itu menggelengkan kepalanya.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun berhenti dan terdiam.
" Sudah? " ucap Guntur sambil menatap mereka berdua.
" Ehh... Hehehehe maaf Mas Gun..., " ucap Ridwan sambil cengengesan.
" Hehehe, Mas Gun.... Hehehe, " ucap Umar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ada satu hal yang belum aku sampaikan kepada kalian, itu adalah tirakat..., " ucap Guntur.
" Ehh "
" Tirakat? "
" Benar... Latihan saja tidak cukup untuk menjadi lebih kuat... Ibarat kalian makan nasi tanpa ugi rampi yang lain seperti lauk-pauknya..., " ucap Guntur.
" Ehh... Benar juga..., " ucap Ridwan.
" Seorang jawara sebenarnya tidak terlalu membutuhkan tirakat untuk menjadi kuat karena tirakat hanya untuk para aksara saja tapi jika seorang jawara juga menggunakan metode tirakat maka akan jauh lebih kuat lagi, " jelas Guntur.
" Mas Gun... Sebenarnya tirakat apa yang Mas Gun Maksud? " tanya Julian.
Guntur tersenyum mendengar pertanyaan dari Julian.
" Tirakat yang tidak hanya untuk fisik kalian saja melainkan juga untuk Spiritual dan kebatinan kalian..., "
" Jika kalian ingin, aku bisa melatih kalian selayaknya seorang aksara juga... Walaupun kalian itu seorang jawara tapi dengan latihan aksara juga, kalian akan jauh lebih kuat, " ucap Guntur panjang lebar.
" Bagaimana? " tanya Guntur kembali.
Seketika itu, semuanya langsung bangkit dan berkata,
" Kami siap mas Gun! " ucap mereka semua.
" Baiklah, jam 2 pagi nanti kalian harus sudah ada disini, kebetulan besok adalah hari senin maka berpuasa senin kamis 7 kali berturut-turut terlebih dahulu, sekarang bubar! " ucap Guntur dengan tegas.
" Eee ta-tapi mas...., " ucap Yuni menunduk.
" Ada apa Yuni? " ucap Guntur dengan heran.
" A-aku kan non mas..., " ucap Yuni bingung.
" Ugh... Astaga aku baru tahu... Siapa lagi yang non? " tanya Guntur.
" Cuma aku mas... Tapi aku bersedia untuk login kok mas, " ucap Yuni.
" Ehh... Serius kau Yun? " ucap Umar terkejut.
" Iya Umar..., " ucap Yuni penuh keyakinan.
" Yuni... Sebaiknya kau renungkan kembali jika ingin berpindah keyakinan karena itu sakral dan keyakinanku tidak menerima keterpaksaan jadi harus siap, yakin lahir batin dan ikhlas, " ucap Guntur menasehati.
" Umm... Ba-baiklah..., " ucap Yuni menunduk.
" Tapi jika kau ingin ikut berpuasa itu tidak masalah jadi lakukan saja tapi jika kau tidak kuat jangan dipaksa karena itu dapat mempengaruhi fisik dan mentalmu, " ucap Guntur.
" Baik mas..., " ucap Yuni bersemangat.
" Baiklah sekarang kalian beristirahatlah karena sudah malam..., " ucap Guntur.
" Siap mas Gun! " ucap semuanya lalu membubarkan diri kembali ke asrama mereka.
Guntur pun tersenyum lalu menatap kembali langit cerah.
" Mas..., " ucap Anisa yang memang sedari tadi hanya duduk terdiam disamping Guntur.
" Hmm..., " ucap Guntur yang masih menatap Langit.
Anisa pun berpindah tempat duduk menjadi lebih dekat dengan Guntur lalu menyenderkan kepalanya di pundak kiri Guntur.
" Apa aku juga boleh ikut berpuasa mas? " tanya Anisa.
" Kenapa? " tanya Guntur heran.
" Sebenarnya aku juga tidak enak hati mas melihat mas selalu berdaut sedangkan aku tidak..., " ucap Anisa yang langsung menatap Guntur dengan penuh harap.
Guntur pun tersenyum lalu menatap istrinya itu " Baiklah..., " ucapnya.
Anisa pun langsung mengangguk dan tersenyum mendengar jika diperbolehkan untuk ikut berpuasa oleh suaminya.
" Uuuuaaaaaagghh.... Baiklah, sekarang waktunya untuk istirahat karena nanti jam 2 pagi kita juga harus bangun untuk mereka, " ucap Guntur sambil menggeliat melemaskan otot-ototnya.
" Baik mas, " ucap Anisa.
" Hmm... Nisa, kau mau tidur dimana? " tanya Guntur.
" Hmm... Digubuk mas saja..., " ucap Anisa sambil berjalan ke gubuk Guntur.
" Baiklah nanti aku tidur di lincak dalam saja..., " ucap Guntur sambil menyusul Anisa ke dalam gubuk.
__ADS_1