
" Apa yang harus aku lakukan? Sudah terlalu lama aku berada di sini dan mereka seperti tidak punya rasa lelah, " ucap Julian dalam hati.
Wuutt..
Wuutt...
Wuutt...
Benang-benang yang begitu rumit yang terajut seperti jaring laba-laba terus menerus menyerang Julian dari berbagai arah.
Julian sendiri sudah melakukan berbagai cara dan bisa keluar dari pelatihan yang tidak kunjung berhenti.
Pakaian yang terkoyak sana sini bahkan tubuhnya pun sudah tersayat dimana-mana tidak dia rasakan.
" Percuma... Semua jurus-jurusku tidak mempan terhadap mereka... Jika aku berakhir disini itu tidak akan lucu... Masih banyak hal dan tanggung jawab yang aku pikul didunia ini..., " ucap Julian dalam hati.
Classs....
Darah segar kembali keluar dari tubuh Julian tepat di punggungnya karena menyentuh benang jebakan yang saudaranya pasang sebelumnya.
" Ugh... Julian... Ayolah pikirkan sesuatu untuk bisa mengatasi ini..., " pikir Julian.
Seakan tidak diberikan untuk berfikir, tiba-tiba Julian merasakan sakit yang luar biasa pada tangan kirinya.
" Aarrggh... Ta-tanganku! " ucap Jilian sambil meringis dan memegangi tangan kirinya.
Sebuah benang berwarna hijau yang tiba-tiba tersulur ke arah Julian dan berhasil untuk memotong pergelangan tangan Julian hingga terputus.
" Hah... Hah... Hahh..., " deru nafas Julian yang semakin lama semakin pendek.
Keempat saudaranya pun tersenyum penuh kemenangan melihat Julian merasa kesakitan dan juga kelelahan.
" Menyerahlah kau tidak akan bisa mengalahkan kami, " ucap Julian berbaju merah.
" Hah... Hah... Hah... Tidak, aku tidak akan menyerah walau aku mati sekalipun..., " ucap Julian sambil terengah-engah dan menahan sakit.
" Julian... Kau tidak akan bisa mengalahkan kami karena kami sangat tidak percaya denganmu, " ucap Julian berbaju hijau.
Deg...
" Tidak percaya denganmu? Tu-tunggu... Aaaarrgghh... Kenapa aku begitu bodoh sampai tidak menyadari hal sepenting ini? "
" Kepercayaan! Itulah yang aku butuhkan kepada mereka... Ya, itu kuncinya! " pikir Julian sambil menunduk dan tersenyum.
" Kenapa kau diam? Apakah kau sudah berputus asa? " tanya Julian berbaju biru.
Julian yang masih menundukkan kepalanya itu tersenyum tanpa bergerak sedikitpun.
Senyum yang melambangkan akan kemenangan besar terhadapnya.
Walaupun rasa sakit yang luar biasa dia rasakan tetapi sebagai seorang jawara yang terlatih dan terdidik sejak kecil, apalagi dirinya dilatih oleh seorang Hyang dan Srikandi Bercadar membuat dirinya bangga dengan dirinya sendiri.
Bangga bukan untuk membanggakan dirinya terhadap kalayak namun bangga terhadap apa yang sudah dia dapatkan.
Arti dari sebuah keluarga, teman, sahabat bahkan sampai pada kekuatan, mental dan kehidupannya sebagai seorang jawara.
Dengan berlahan Julian membuang semua ego yang ada pada dirinya yaitu amarah, kecemburuan, tamak, nafsu, kesombongan, malas dan kerakusan.
Setelah semua sudah terbuang, Julian menatap keempat saudaranya dengan tatapan penuh dengan rasa bersalah.
Keempat saudaranya pun seketika terkejut melihat perubahan besar yang terjadi pada diri Julian.
" Apa kau sudah mengerti Julian? " ucap Julian berbaju putih yang sedari awal hanya terdiam tanpa bertarung bahkan tanpa menggerakkan tubuhnya.
" Terima kasih sudah menyadarku..., " ucap Julian tersenyum.
Seketika semuanya terdiam menatap Julian tersenyum dengan tulus walaupun dalam keadaan yang sangat memperihatinkan.
" Sekarang aku sudah mempercayai kalian sebagai teman bahkan keluargaku... Aku hanyalah sebuah wadah untuk kalian bernaung... Mulai saat ini, kalian bisa mempercayaiku sebagai wadah yang kalian anggap dan percayai..., "
" Ingatkanlah aku disaat aku membuat kesalahan walau sekecil biji sawi dan.... Maafkan aku bila aku sudah membuat kalian tersiksa sampai tidak mempercayaiku di masa lalu..., " ucap Julian sambil membungkukkan badannya dan menangis penuh penyesalan.
Berlahan satu persatu dari mereka tersenyum dan merasakan ketulusan, kesungguhan dan niat yang begitu kuat dari diri Julian.
Julian hijau secara berlahan tubuhnya diselimuti cahaya hijau lalu melesat cepat masuk kedalam tubuh Julian.
" Terima kasih Julian..., " ucap Julian hijau yang terngiang didalam pikiran Julian.
Disusul dengan Julian Biru dan juga merah dan mengatakan hal yang sama dengan Julian hijau.
__ADS_1
Hanya tinggal Julian putih secara berlahan berjalan mendekati Julian sampai tepat berada didepan Julian yang masih membungkuk.
" Angkatlah badanmu Julian..., " ucap Julian putih.
Julian yang mendengar itu pun langsung mengangkat tubuhnya.
" Kau sudah berhasil mendapatkan kepercayaan saudaramu yang lainnya... Mulai sekarang, kau akan menjadi orang yang sempurna dan ingat baik-baik Julian...., " ucap Julian putih.
" Perjalananmu akan lebih berat untuk kedepannya, kau adalah seorang pewaris Langkah Netra dan kelak kau juga akan berhadapan dengan seseorang dengan kekuatan yang tidak jauh berbeda denganmu..., " ucapnya lagi.
Seketika Julian terkejut mendengar hal itu, setahu Julian hanya dirinyalah yang memiliki Langkah Netra karena tidak mungkin akan ada dua orang dengan kekuatan unik yang sama.
Namun setelah berpikir sejenak, Julian langsung melebarkan kedua matanya.
" A-apa yang kau maksud adalah kekuatan unik yang itu? " ucap Julian.
" Benar... Namun, kau tidak boleh untuk membunuhnya karena dia adalah seorang gadis yang ditakdirkan untuk menjadi pendampingmu di masa depan..., " ucap Julian putih.
" Eh... Kenapa? " tanya Julian bingung.
" Langkah Netra memiliki pasangan walaupun saat ini gadis itu sedang tersesat namun dalam kenyataannya dia adalah orang yang sangat baik dan memiliki ketulusan hati yang luar biasa..., " ucap Julian putih lalu dengan berlahan masuk kedalam tubuh Julian.
Julian yang merasakan semua itu seketika tubuhnya menjadi lemas lalu memegang dada kirinya.
" Itu tidak mungkin... Aaaaaarrrgghhhh! " teriak Julian yang tiba-tiba tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa.
Seketika seluruh atmosfir lorong berubah menjadi berat.
Hawa murni kian menebal dan juga padat lalu secara paksa masuk kedalam tubuh Julian hingga Julian sendiri sampai terbatuk darah.
Namun secara berlahan semua luka yang dia alami sembuh secara berlahan, tangan kirinya yang terputus berlahan tumbuh menjadi tangan baru.
Lalu nampak dikedua matanya yang semula berwarna kecoklatan menjadi keemasan dan sangat terang.
Setelah itu terdengar suara ledakan teredam pada tubuhnya yang menandakan pintu ke 6 Julian terbuka dengan sempurna.
Boomm...
Seketika tubuh Julian ambruk tidak berdaya sambil menatap atap lorong yang dengan perlahan terpecah seperti halnya sebuah kaca.
Sebelum Julian tidak sadarkan diri, dirinya mendengar suara keempat saudaranya dalam pikirannya.
" Selamat saudaraku, " ucap mereka.
" Cindira Netra..., " ucap Julian lemah lalu tidak sadarkan diri.
Pyarrr...
Sebuah kaca dimensi dari Julian terpecah sempurna yang mana semua orang diluar dimensi melihat semua yang dialami Julian.
Dengan berlahan Guntur mengeluarkan elemen tanaman dan cahayanya untuk segera mengobati Julian.
Setelah itu, Guntur kembali fokus dengan yang lainnya yang belum juga selesai padahal waktu sudah berlalu hingga 3 hari.
" Hmm.. Terima kasih sudah sudi untuk membimbing dan melatih sang pewaris Langkah Netra.... Sang Hyang Aksara dan saudariku, Ma Yue Sang Mimpi Buruk..., " ucap seorang gadis yang didengar oleh Guntur.
Guntur tersenyum sesaat lalu kembali fokus kepada 5 orang lainnya.
Begitu juga dengan Anisa yang mana mendengar suara dari ucapan yang sama dengan Guntur.
Anisa yang mengenali suara tersebut kembali terkejut pasalnya suara tersebut adalah suara orang yang telah membebaskannya dari dunia bawah 3 tahun silam.
" Suara ini...?! " gumam Anisa pelan.
" Astaga Julian! " teriak Aji terkejut karena tidak percaya jika Julian berhasil untuk menyelesaikan pelatihan terlarang itu.
" Tenang saja, akar itu mengandung obat dan elemen cahaya jadi saat ini Guntur sedang mengobati Julian dengan akar itu, " ucap Gea yang masih menatap Guntur dengan tatapan khawatir.
Gea yang saat ini sedang menatap Guntur dengan khawatir dan juga cemas itu bukan tanpa alasan.
Melatih dengan pelatihan terlarang akan sangat menguras tenaga, mental dan juga pikiran karena harus membagikan dengan orang yang sedang berlatih agar mempunyai tingkat keberhasilan lebih dari 50 persen.
Apalagi dalam kasus Guntur yang harus terbagi menjadi tujuh orang, hal itulah yang membuat Gea sangat khawatir dan juga cemas.
Sebenarnya bukan Gea namun pemilik dari boneka itu sendiri yaitu Husna yang tengah melihat semua kejadian yang Gea lihat.
Sedangkan Anisa sendiri hanya terdiam menatap Guntur dengan perasaan yang tidak menentu.
Jauh didalam hati Anisa, Anisa berteriak kencang karena dirinya juga merasakan hal yang sama, apalagi tanda jawara yang ada pada dada kirinya bersinar redup yang menandakan jika Guntur mulai menggunakan kekuatan jawaranya sebagai penyokong dan penyeimbang dalam hal kekuatan aksaranya.
__ADS_1
Jika hanya mengandalkan kekuatan aksaranya saja, Guntur akan semakin cepat melemah karena terkuras habis apalagi hal ini memerlukan wakyu yang cukup panjang.
Julian sendiri dimana seorang jenius memerlukan waktu tiga hari untuk menyelesaikan pelatihan ini.
Roro pun juga dahulu memerlukan waktu 7 hari untuk menyelesaikan pelatihan ini.
Beruntung Roro memiliki orang tua yang sangatlah hebat dan kuat yang mereka gabungkan untuk pelatihan Roro, jika tidak bisa dipastikan saat Roro menjalani pelatihan ini sudah tewas sejak awal berlatih.
Sedangkan Guntur sendiri dahulu hanya memerlukan waktu 1 menit untuk menyelesaikan pelatihan ini karena Guntur adalah seorang Hyang.
Meski begitu, Guntur sempat beradu mulut dengan para saudaranya namun Guntur berhasil untuk memberi mereka kepercayaan dan juga pengertian.
Setelah saling percaya satu sama lain, mereka akhirnya kembali masuk kedalam tubuh Guntur hingga sekarang.
Mereka juga kerap membantu Guntur jika Guntur dalam keadaan kritis.
Membantu bukan dalam kekuatan melainkan pemikiran-pemikiran yang bisa membuat Guntur sendiri lepas dari bahaya, mengambil keputusan dan bisa menjadi sekarang ini.
Itulah salah satu rahasia Guntur selama ini karena menjadi seorang Hyang tidaklah mudah dan yang pasti segala ujian dan cobaan selalu Guntur alami.
Walaupun saat ini Guntur minim dalam hal pengalaman namun dengan adanya mereka, Guntur selalu menemukan jalan keluar untuk semua permasalahan.
***
Disebuah singgasana mewah dan juga megah namun sedikit gelap karena pencahayaan yang redup nampak seorang gadis yang memiliki kecantikkan diatas rata-rata dan sudah matang terduduk sambil memejamkan matanya.
Gadis itu ditemani oleh 7 orang kepercayaannya yang sangatlah setia kepadanya bahkan mereka rela mati untuk gadis itu.
Salah seorang gadis dari mereka melihat jika nona mereka memejamkan matanya sembari terdiam itu sangat penasaran.
Sebagai seorang yang telah menemani gadis itu sejak kecil dan tumbuh bersama tentu tahu kenapa nona nya itu melakukan hal itu.
Namun dirinya hanya terdiam tanpa bersuara dan membiarkan gadis itu melakukan hal tersebut.
Sedangkan yang lainnya juga sama ikut terdiam padahal mereka sedang melaksanakan sebuah rapat demi kelangsungan masa depan.
Tiba-tiba gadis itu membuka matanya lalu berkata...
" Teruskan lain waktu dan cukup sampai disini, " ucap gadis itu.
Seketika semuanya terkejut pasalnya rapat baru saja dimulai dan gadis yang dilayani mereka mengatakan hal seperti itu.
Tidak ingin membantah ataupun membangkang, mereka langsung mengikuti ucapan gadis itu dan langsung membubarkan diri mereka, melesat keluar dari istana.
Setelah itu gadis itu tersenyum cerah sampai-sampai giginya yang rapi dengan gigi taringnya sedikit lebih panjang terlihat.
" Pewaris Langkah Netra sudah bangkit walaupun belum sepenuhnya sempurna namun sudah cukup untuk tingkatannya yang sekarang..., "
" Aku berharap dia lebih cepat lagi menjadi seorang kanuragan untuk bisa membebaskanku dari jeratan jalan hitam yang sedang menyiksaku..., "
" Hmm.. Terima kasih sudah sudi untuk membimbing dan melatih sang pewaris Langkah Netra.... Sang Hyang Aksara dan saudariku, Ma Yue Sang Mimpi Buruk..., " Ucap gadis itu dengan tulus.
Tanpa dia sadari ada dua orang diluar sana yang mendengar ucapan gadis itu.
Tentu gadis itu tahu jika pada jaman ini akan ada seorang Hyang karena kekuatannya yang benar-benar luar biasa kuat bahkan melebihi gurunya sendiri.
Ditambah dengan kekuatan uniknya yang sangat langka yang bisa melihat keadaan dunia sekarang ini dan masa lalunya.
Sejak pertama kali dirinya melihat Ma Yue atau Anisa, gadis itu sudah tahu jika akan ada seorang Hyang pada jaman ini karena dirinya juga bisa melihat sebuah tanda jawara pada dada kiri Ma Yue.
Dari situlah gadis itu tahu siapa sebenarnya Ma Yue dan tanda apa yang ada pada dada kirinya itu.
Maka dari itu kejadian 3 tahun silam dia sudi untuk melepaskan Ma Yue terlebih Ma Yue adalah adik seperguruannya walau beda guru.
Itulah kekuatan unik yang disebut dengan Cindira Netra dari seorang gadis yang telah menyandang gelar sebagai seorang kaisar dunia bawah.
Langkah Netra adalah kekuatan unik yang bisa melihat masa depan dan Cindira Netra adalah kekuatan unik yang bisa melihat masa lalu bahkan masa lalu dunia.
Hanya saja Langkah Netra Julian belumlah sepenuhnya sempurnya, jika Langkah Netra sudah sempurna maka juga akan bisa melihat keadaan dunia beserta masa depannya.
Kaisar Dunia Bawah yang bernama asli Arisa Eka Samudra namun dirinya ubah menjadi Risa Ake tanpa ada marga Samudra dan mendapatkan gelar sebagai Risa Sang Penyelam Jiwa.
Hanya ada dua orang yang tahu siapa sebenarnya Arisa atau Risa ini yaitu Julian yang notabelnya Julian adalah sepupu jauh dari Arisa dan sahabatnya yang menemaninya sedari kecil sampai sekarang.
Hal itu dikarenakan dulu Julian saat berumur 5 tahun dirinya pernah diasuh oleh Arisa beberapa bulan sebelum Arisa menjadi seorang kaisar dunia bawah menggantikan kaisar sebelumnya yang seorang Esper bernama Astaroth dengan gelar Sang Raja Esper.
Maka dari itu Julian tahu siapa pemilik dari kekuatan unik itu dan begitu juga dengan Arisa yang tahu siapa pemilik dari Langkah Netra.
Arisa sudah menyadari semuanya jika Julian adalah masa depannya kelak maka dari itu Arisa mau untuk mengasuhnya walaupun hanya sebentar dan terpaut berbedaan umur yang begitu jauh yaitu 18 tahun.
__ADS_1
Namun hal itu tidaklah penting untuk Arisa karena umur tidaklah menjadi pembatas atau aib bagi seorang pasangan, malah Arisa merasa senang mengingat Julian adalah orang yang sangat baik, jujur dan memiliki ingatan fotografis yang mampu mengingat secara rinci dan jelas walaupun pada masa lalu.
" Aku selalu menunggumu... Julian Arga Samudra Sang Pemalas..., " gumam Arisa dalam hati sambil merubah matanya menjadi keemasan.