
" Srett... Wung.. Wung... Wung... Ting... Wuss... Boom "
Nampak Guntur terpentar beberapa meter kebelakang setelah mencoba menahan serangan sabit dari Anisa dengan tongkatnya.
Berhenti setelah menabrak pohon rambutan di samping gubuk. Berlahan bangkit lalu tiba-tiba tubuhnya kembali terlempar ke samping beberapa meter.
Namun walaupun begitu, Guntur sanggup untuk menangkis ayunan sabit milik Anisa dengan tongkatnya agar tidak terkena tubuhnya secara langsung.
" Duang.... Wung... Wusss.... Bukk "
Pertarungan latih tanding mereka sudah mencapai mode serius yang kini bahkan Anisa sendiri sudah membuka pintu ke 5 jawaranya sedangkan Guntur masih membuka pintu ke 3 jawaranya.
Bangkit sambil bertumpu pada tongkatnya, Guntur menatap Anisa dengan tajam. Walaupun ini hanyalah latih tanding biasa namun Guntur merasa jika ini adalah pertarungan yang akan dia hadapi di masa depan.
Baru saja Guntur berdiri dengan sempurna, dari arah kirinya sebuah sabit terayun mengarah tepat dileher Guntur.
Guntur yang menyadari akan hal itu langsung saja menunduk lalu dengan segera melepas tendangan dari jurus Gelandang Butanya yaitu Gajul tiga Arah.
Anisa yang menyadari itu langsung menggunakan salah satu jurusnya yaitu Tapak Kijang.
Jurus Tapak Kijang adalah dimana penggunanya sanggup berpindah tempat secara cepat dengan cara melangkahkan kakinya walaupun itu hanya berjalan saja namun dengan jurus itu, apa yang kita lihat adalah berlari dengan cepat.
" Wukkk... Wukkk... Wukk.. "
Tendangan dari jurus Guntur hanya mengenai udara kosong. Guntur sempat terkejut beberapa saat namun dirinya kembali fokus dengan pertarungannya.
Setelah Anisa menggunakan jurus Tapak Kidang dan berhenti beberapa meter didepan Guntur, Anisa segera mengayunkan sabitnya kembali ke udara kosong.
Siapa sangka jika hal itu membuat gelombang kejut yang cukup kuat menerjang tubuh Guntur.
Beberapa saat sebelum gelombang kejut itu mengenai tubuh Guntur, Guntur dengan segera menggunakan jurus Gelombang Butanya yaitu Panggedhe Pancilik.
Toya atau tongkat milik Guntur tiba-tiba membesar dan menutupi tubuh Guntur. Lalu, suara dentuman terdengar saat gelombang kejut dari ayunan sabit milik Anisa mengenai tongkat milik Guntur.
" Wuss... Boooom... Boommm.. Booommm "
Setelah gelombang kejut itu menghilang, Guntur segera mengecilkan lagi tongkat miliknya lalu memutar mutarkan tongkatnya sambil bergumam.
" Gelandang Buta : Toya Panggebluk tingkat pertama "
Seketika Guntur melempar tongkat miliknya dengan cukup keras.
Toya itu langsung berputar-putar secara cepat dan mengarah ke Anisa yang langsung bersiap untuk melancarkan jurusnya.
" Sabit Panca Sekar "
Jurus yang bisa menggandakan atau lebih berupa bayangannya untuk melakukan serangan ataupun bertahan, jurus itu termasuk jurus tingkat tinggi.
Dengan melakukan jurus itu, Sabit milik Anisa langsung menjadi 5 buah sabit yang sama. Semua sabit-sabit itu langsung menerjang tongkat milik Guntur yang terus menerus berputar dan menyerang Anisa.
Sedangkan Guntur sendiri tersenyum sambil mengendalikan tongkat miliknya itu.
__ADS_1
" Istriku memang hebat, tapi jurus itu tidak bisa untuk melawan Gelandang Buta, " gumamnya dengan pelan.
Benar saja, tidak lama setelah itu semua sabit itu hancur lalu hanya menyisakan satu sabit yang asli yang dipegang oleh Anisa sendiri.
Guntur yang melihat itu langsung saja melesat dengan sangat cepat lalu menangkap tongkatnya kembali sambil melancarkan serangan berikutnya.
" Gelandang Buta : Sang Aji Pambubar tingkat pertama "
Seketika setelah jarak Guntur hanya berjarak satu meter didepan Anisa, Guntur langsung melancarkan jurus itu.
Anisa yang mengetahui itu dengan reflek langsung menggunakan posisi bertahan dengan menempatkan sabitnya didepan tubuhnya.
Ketika Guntur menusukkan tongkat miliknya dengan jurusnya, tongkat itu langsung mengenai gagang sabit milik Anisa dan Anisa sendiri yang melakukan pertahanan itu langsung terpental puluhan meter kebelakang karena tidak kuat untuk menahan serangan dari jurus milik Guntur.
" Wuss... Duaakkkkk.... Sreeettt.... Bukkk... "
Anisa berhenti beberapa meter didepan Ridwan dan yang lainnya dimana mereka melihat pertarungan ini dengan tatapan berbinar dan juga dengan perasaan kagum oleh keduanya.
Setelah menangkis jurus milik Guntur, Anisa seperti ditabrak oleh sebuah logam yang sangat besar dengan kekuatan yang sangat kuat.
Tidak sanggup untuk menahan serangan itu, Anisa terpentar kebelang.
Namun, siapa sangka Anisa langsung terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya setelah menahan serangan dari jurus Guntur.
Tubuhnya langsung mendadak lemas dan juga merasa semua tulangnya terlepas dari engsel yang seharusnya.
" Uhukkkk... Jurus Gelandang Buta benar-benar sangat mengerikan.... Tubuhku sakit semua setelah menahan serangan dati jurus itu..., " gumamnya dalam hati sambil mengganti cadarnya dengan sangat cepat.
Melihat Anisa yang langsung terduduk dan bertumpu pada lutut dan sabitnya dengan nafas yang terengah-engah, Guntur langsung melesat cepat ke arah Anisa dengan perasaan yang sangat khawatir.
" Kau tidak apa-apa? " tanya Guntur sangat khawatir.
" Aku tidak apa-apa, " ucap Anisa sambil mencoba untuk berdiri.
" Baiklah... Kita sudahi saja..., " ucap Guntur.
Anisa yang telah berdiri dengan sempurna langsung memerintahkan senjatanya untuk kembali menjadi sebuah bros dan langsung terpasang kembali pada tempat semula.
Setelah itu, mereka langsung menatap Ridwan dan yang lainnya sambil tersenyum.
Namun, tiba-tiba Julian langsung melangkahkahkan kakinya sampai didepan Guntur dan Anisa.
" Brukkk "
" Tolong.... Tolong jadikan aku bagian dari kalian! " ucap Julian yang sambil berlutut didepan Guntur dan Anisa.
Sontak saja semua yang berada disitu terkejut dengan apa yang dilakukan Julian.
Siapa yang akan menyangka jika Julian akan melakukan hal itu. Sebagai seorang jawara, hal seperti itu akan sangat tabu untuk dilakukan.
Hal itu sama saja mencerminkan seorang pengemis yang tidak ada harga dirinya. Namun, Julian melakukan hal itu secara terang-terangan.
__ADS_1
" Woe... Woe... Woee... Lian.... Apa yang kau lakukan? " ucap Umar terkejut.
" Lian..., " ucap Yuni.
Sedangkan Ridwan menatap Julian dengan tatapan yang berbeda. Tatapan Ridwan bukan seperti tatapan menghina atau meremehkan, namun tatapan kagum dan juga hormat.
" Berikan aku alasan yang logis... Julian, " ucap Guntur yang menatap Julian dengan tajam.
Julian terdiam beberapa saat lalu mulai berbicara memberikan alasan kenapa dirinya sampai seperti itu.
" Gelandang Buta, " ucap Julian
Terkejut.... Tentu saja. Guntur dan juga Anisa bahkan sampai melebarkan kedua matanya dengan lebar setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Julian. Walaupun Ridwan, Umar dan juga Yuni tidak tahu apa itu Gelandang Buta.
Guntur langsung saja menggunakan mata aksaranya untuk melihat siapa Julian sebenarnya.
Setelah tahu siapa Julian yang sebenarnya, Guntur segera mengangkat Julian untuk berdiri, lalu berkata.
" Tidak usah sampai seperti itu, sebelum kau mengatakan hal itu aku sudah menerimamu, Julian Arga Samudra, " ucap Guntur sambil tersenyum.
Seketika itu pecah sudah tangis Julian dan langsung memeluk erat Guntur dengan erat.
Kejadian itu tentu membuat semua orang yang berada disitu sangat terkejut dan juga heran. Mereka tidak tahu jika Julian sebenarnya juga memiliki marga Samudra. Setahu mereka nama Julian adalah Julian Arga saja.
Beberapa saat kemudian, Julian melepaskan pelukannya sambil mengusap air matanya.
" Apa kakek tahu jika kau masih termasuk keluarga Samudra? " tanya Guntur.
Julian menggelengkan kepalanya " Tidak... Kakek Aji tidak tahu masalah ini.... Keluargaku terpisah dari keluarga utama karena aib kakek kandungku di masa lalu... Sebenarnya aku sangat malu tapi aku mendapatkan amanah dari orang tuaku sebelum mereka berpulang untuk menjadi murid dari padepokan ini... Ayahku sempat mengatakan sesuatu kepadaku beberapa hari sebelum berpulang..., " ucapnya.
" Apa? " tanya Guntur penasaran.
" Suatu saat salah satu keluarga Samudra yang sanggup menggunakan Gelandang Buta dengan sempurna, jika aku bertemu dengannya maka ayah menyuruhku untuk ikut dengannya karena hanya orang itulah yang kelak akan mempersatukan semua keluarga Samudra yang terpisah dari keluarga utama..., " jelas Julian dengan penuh kejujuran.
Guntur yang mendengar itu merenung sejenak lalu bertanya kembali kepada Julian.
" Apa kau tahu siapa saja keluarga Samudra yang terpisah dari keluarga utama dan apa di keluargamu masih ada orang selain kau Julian? "
" Total semuanya ada 7 keluarga dan salah satunya aku dan dari semua keluargaku hanya aku yang masih hidup karena aku anak tunggal... Dan juga selain itu ada satu lagi di padepokan ini namun dari keluarga Samudra lainnya yang terpisah dari keluarga utama..., " ucapnya dengan yakin.
" Eh.... Siapa? " tanya Guntur terkejut dan juga penasaran.
" Putri... Putri Ayuning Samudra... Salah satu murid baru... Tapi dia menutupi marga Samudranya menjadi Putri Ayuning saja, " ucap Julian.
Sontak saja semua orang yang berada di sana terkejut dengan itu, apalagi dengan Guntur. Guntur belum pernah melihat wajah-wajah baru di padepokan ini karena kesibukkannya.
" Mas... Lebih baik kita segera menemuinya..., " ucap Anisa dengan tiba-tiba sambil menyentuh pundak kiri Guntur.
" Hmm... Baiklah, untuk kalian segeralah berlatih kembali dan kau Ridwan.... Pimpin latihan mereka, berikan pemberat tubuh itu kepada Julian..., " ucap Guntur sambil menunjuk sebuah peti di lincak teras gubuknya.
" Baik mas Gun, " ucap Ridwan.
__ADS_1
Setelah itu, Guntur dan juga Anisa melesat cepat untuk mencari Putri. Salah satu dari keluarga Samudra lainnya yang terpisah dari keluarga utama.