Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Sang Hyang Aksara vs Raja Angkara Dimulai


__ADS_3

Booom


Booom


Booom


" Hahaha... Aku sangat senang... Sudah lama aku tidak melawan manusia kuat seperti kalian... Tapi, hari ini aku akan menjadikan kalian tumbalku, hahahaha..., " ucap Indrajit senang.


Kakek Jin dan Aji yang nampak mulai tersudut dengan pertarungan mereka melawan Indrajit itu nampak masam.


Walaupun mereka mendapatkan suplai tambahan kekuatan dan penyembuhan dari Guntur, tapi mereka tidak percaya jika Indrajit begitu kuat bahkan lebih kuat dari pada mereka dan suplai itu belum dapat mengimbangi Indrajit.


Nampak juga luka-luka di sekujur tubuh mereka karena keganasan sosok Indrajit yang melegenda.


Bukan tidak mungkin itu terjadi karena Guntur sendiri memberikan bantuan kepada mereka mengingat lawan mereka sebelumnya dan kapasitas dari musuh itu sendiri.


Namun karena Indrajit, bantuan itu seperti terlambat untuk tertransfer oleh mereka karena kekuatan Indrajit yang jauh lebih kuat dari sebelumnya dan menyerang mereka secara beruntun dan membabi buta.


" Huahahaha, bersiaplah.... Aku sudah bosan bermain dan sekarang waktunya untuk serius... Tapi sebelum itu aku akan merubah tubuhku menjadi manusia agar lebih leluasa, " ucap Indrajit yang langsung merubah bentuk dirinya menjadi seorang manusia.


Nampak asap hitam menyelimuti tubuh Indrajit sesaat sebelum nampak sosok Indrajit yang merubah dirinya selayaknya manusia.


Namun dari tampilan Indrajit, tetap saja tidaklah sempurna karena Indrajit bukanlah sosok manusia melainkan jin.


Bedanya, Indrajit memiliki rupa yang sangat buruk yang terlihat mulutnya sangatlah lebar dan tidak memiliki kulit pada mulutnya.


Dari tampilan itu, nampak semua gigi darinya yang menambahkan kesan ngeri pada yang melihatnya.


Setelah itu Indrajit menatap tajam Aji dan kakek Jin dan menyadari sesuatu jika terdapat sebuah pola aksara pada dada mereka.


" Hoooo.... Pantas saja kalian bisa terus mengembalikan kondisi kalian ternyata ada pola aksara yang melekat pada diri kalian... Tapi..., " ucap Indrajit yang langsung menghilang dari pandangan lalu tiba-tiba muncul didepan Aji dan kakek Jin.


Kecepatan Indrajit lebih cepat dari mereka berdua yang mengakibatkan keterkejutan kepada mereka.


Setelah itu, Indrajit langsung memukul dada mereka yang terdapat pola aksara itu hingga pola aksara itu hancur.


" Buuaaggghhh "


" Aaaarrgghhh "


Erang Aji dan kakek Jin yang langsung terpental beberapa meter kebelakang.


" Hehehe.... Kalian memanglah kuat tapi aku lebih kuat dari kalian, " ucap Indrajit sambil tersenyum.


" Sialan, dia benar-benar kuat... Ayah, apa kau baik-baik saja? " tanya Aji yang berlahan berdiri sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


" Aku tidak apa-apa nak.... Sepertinya pukulan dari si laknat itu bukan untuk melukai kita tapi menghancurkan pola itu, " ucap kakek Jin yang sudah berdiri sambil bertumpu pada pedang besarnya.


" Nak... Sekarang kita hanya bisa bertarung mati-matian untuk mengalahkannya, " ucap kakek Jin lagi.


" Benar ayah, tapi sepertinya kita akan mendapatkan bantuan dari mereka, " ucap Aji yang merasakan aura yang cukup kuat dari tiga arah yang berbeda.


" Huh? Siapa? " tanya kakek Jin.


Aji hanya tersenyum lalu nampak awan-awan dilangit semakin tebal dan muncul kilat-kilat berwarna biru keputihan menyambar-nyambar.


Tidak hanya itu, tiba-tiba muncul getaran-getaran gempa kecil di area pertempuran. Lalu disusul dengan tekanan sebuah bayangan hitam yang menyelimuti daerah itu.


" Hahhhhh, bahkan dia juga datang, " gumam Aji sambil menghela nafas.


Disisi lain Anisa melebarkan matanya karena merasakan aura dari seseorang yang dia segani.

__ADS_1


" Nisa, ada apa? " tanya Guntur yang sebenarnya sudah tahu akan kehadiran tiga sosok kuat lainnya.


" Kakak pertama, kakak kedua dan kak Ragil, " ucap Anisa.


" Mungkin sudah waktunya guru dan murid untuk berjuang bersama, pergilah Nisa... Bergabunglah dengan mereka, " ucap Guntur sambil menggenggam tangan kanan Anisa.


Anisa mengangguk pelan " Baik mas, " ucapnya singkat.


" Tenang saja kau sudah aku berikan semua berkat aksara pendukung dariku dan kau pun juga bisa terbang dan juga teleportasi, jadi gunakan ini sebaik mungkin, " ucap Guntur sambil tersenyum.


" Baik mas, " ucap Anisa yang langsung meledakkan auranya yang mana sebagai Srikandi Bercadar.


Setelah itu, Anisa melompat dari atas gedung lalu terbang menuju pertarungan.


" Sepertinya mereka juga telah sampai, " gumam Guntur yang menatap ke atas bagian timur yang mana terlihat dua sosok yang melayang di udara.


Lalu Guntur pun memejamkan matanya namun tiba-tiba membuka matanya dengan keterkejutan.


" Alisa..., " gumam Guntur terkejut.


" Kalian semua lindungi nenek Lastri sampai proses pembuatan Djarum Sukma Radja selesai, " ucap Guntur lalu menghilang dari pandangan mereka.


Mereka pun langsung terkejut karena Guntur tiba-tiba mengatakan itu dan melihat jika Guntur tampak panik dan mengkhawatirkan sesuatu.


Tiba-tiba terdengar suara yang sangat menggelegar dan juga sangat berat sampai-sampai pertarungan dan semua orang mematung.


" Uuuaaaaaaaaaa........., "


" I-ini..., " ucap semua orang dalam keterkejutannya.


Sedangkan Indrajit sendiri terheran-heran karena mendengar suara dari sosok yang sangat dia hormati dan takuti.


" Kenapa dia sampai turun tangan? Bukankah aku saja sudah cukup untuk menghancurkan alam manusia ini? " gumam Indrajit.


Beberapa saat sebelumnya...


" Bismillah..., "


" Sriiing "


Jlebb...


" Aaaarrrgghhg.... " teriak Winga merasakan sakit yang luar biasa karena tiga bilah pedang cakar yang menancap tepat didadanya hingga tertembus ke depan.


Tanpa membuang waktu lagi, Alisa segera menghisap semua kekuatan Winga dengan cepat.


Hingga tinggal menyisakan 3% dari kekuatannya, tiba-tiba tubuh Winga mengeluarkan asap hitam pekat dan juga aura yang sangat kuat.


Dengan cepat Alisa mencabut pedang cakar miliknya lalu melompat beberapa kebelakang.


" Padahal tinggal sedikit lagi, " gumam Alisa yang menatap Winga dengan rumit.


Dengan perlahan tubuh winga melayang dua meter di udara lalu, dengan cepat perubahan besar terjadi pada diri Winga.


Semula semua luka yang ada pada tubuh Winga menutup hingga sempurna, tubuh yang terlihat semakin kekar, kulit yang tadinya putih menjadi hitam, wajah tua Winga menjadi lebih muda, muncul sepasang tanduk seperti tanduk seekor banteng dengan mata merah menyala setelah Winga membuka kedua matanya.


Menatap tajam ke arah Alisa yang sedang menatapnya dengan rumit.


" Uuuuuaaaaaaaa......, "


Suara yang begitu menggelegar dan berat itu dikeluarkan oleh Winga yang kini telah bersatu dengan sempurna dengan salah satu jin terkuat yaitu Sang Raja Angkara, Dasamuka.

__ADS_1


Setelah itu, Dasamuka memgangkat tangan kanannya lalu dengan cepat muncul ratusan pola berwarna hitam.


Beberapa detik berikutnya, dari ratusan pola hitam itu banyak sekali jin-jin yang keluar dari pola itu hingga memenuhi sebagian langit di area pertempuran.


Namun, tiba-tiba saja sebuah cahaya putih kebiruan bersinar terang didepan Alisa yang langsung membakar sebagian besar jin-jin itu hinga hanya menyisakan beberapa puluh jin saja yang tentu mereka semua memiliki kekuatan yang sangat kuat karena mampu menahan cahaya itu walaupun terdapat beberapa luka permanen ditubuh mereka.


Setelah cahaya itu perlahan menghilang, muncul sosok pemuda yaitu Guntur dengan mata putih kebiruan yang menatap Dasamuka dengan tajam.


" Sang Hyang Aksara? " ucap Dasamuka yang tidak kalah tajam menatap Guntur.


" Raja Angkara, Dasamuka..., " ucap Guntur.


" Huahahahaa.... Setelah lebih dari 500 tahun kini aku bisa melihat lagi sosok Sang Hyang Aksara... Tapi malam ini akan menjadi malam terakhirmu... Semuanya, bunuh kedua kecoa itu..., " ucap Dasamuka dengan sombongnya.


Langsung saja puluhan jin langsung melesat ke arah Guntur dan Alisa dengan cepat untuk membunuh mereka.


Dengan cepat Guntur memindahkan Alisa ke tempat berkumpulnya semua orang diatas gedung dengan teleportasi lalu menatap musuh yang sebentar lagi akan datang kepadanya itu dengan senyuman.


" Waktunya untuk membersihkan para sampah-sampah itu, toya aksaraku..., " ucap Guntur sambil tersenyum.


Tidak membutuhkan waktu lama gelang toya aksara miliknya langsung berubah menjadi ikat kepala lalu terpasang di kepala Guntur dan toya aksara tiruan Guntur keluarkan dari cincin dimensinya.


" Gelandang Buta : Serambi Ilahi "


Seketika itu juga aura dari jurus Gelandang Buta milik Guntur meledak hebat membuat semua anak buah Dasamuka terlempar lalu tubuh mereka melepuh dan pada akhirnya meledak satu persatu hingga hanya menyisakan Dasamuka seorang.


Tentu hal itu membuat Dasamuka terkejut bukan main karena melihat jurus itu.


" Hooo.... Luar biasa... Tapi itu tidak bisa untuk melukaiku bahkan membunuhku, " ucap Dasamuka dengan sombong.


" Sekarang giliranku..., " ucap Dasamuka yang langsung menyerang Guntur dengan bola-bola energi yang keluar dari tubuhnya tanoa menggerakan tubuhnya.


Bola-bola energi itu melesat dengan cepat ke arah Guntur dan langsung meledak secara beruntun didepan Guntur dengan hebat.


" Boom "


" Booom "


" Boom "


Entah berapa kali ledakan terdengar menggema di langit pertempuran yang bahkan ledakan tersebut sampai merusak area sekitar hingga rata menjadi tanah sampai pada pertarungan Indrajit.


Bahkan mereka pun terpaksa menghentikan pertarungan mereka karena menjauhkan diri mereka karena ledakan itu sangatlah besar dan kuat.


" Apa-apaan ini! " teriak kakek Jin yang sangat kesal.


Begitu dengan yang lainnya bahkan Anisa sendiri langsung menatap pusat ledakan itu dengan tatapan rumit.


Mbah Pahing pun yang sedang melayang diudara hanya menggelengkan kepalanya saja setelah itu membuat pelindung maha guru tak kasat mata hingga sejauh 2 kilometer.


Sedangkan Husna sendiri masih terdiam dan terlihat dingin menatap sumber ledakan, namun sejatinya Husna sangat khawatir dan mencemaskan Guntur.


Ridwan dan yang lainnya yang menjaga Lastri pun juga merasakan kekhawatiran terhadap Guntur.


Itu sangatlah wajar karena ledakan dari bola energi itu terasa sangatlah kuat dan juga besar.


" Tidak usah khawatir, Guntur baik-baik saja, " ucap Lastri yang sudah selesai membuat Djarum Sukma Radja.


Sontak saja hal itu membuat semuanya langsung menoleh ke arah Lastri dan terlihat juga sebuah cahaya putih keemasan melayang di tangan kanannya.


" Nyai Guru, " ucap Ridwan.

__ADS_1


" Ini adalah Djarum Sukma Radja, jarum ini bahkan dapat menghancurkan satu negara dengan mudah, " ucap Lastri dengan serius.


" Hah? "


__ADS_2