
Dipagi harinya yang nampak sangat cerah.
Guntur dan Anisa yang sedang bersama Ragil di kantor untuk membahas mengenai turnamen antar padepokan yang diadakan setiap 10 tahun sekali.
Nampak Ragil sedang menunggu Aji Samudra begitu juga dengan Guntur dan Anisa.
Setelah beberapa saat, pintu kantor padepokan diketuk oleh seseorang yang ternyata adalah Aji Samudra dan juga 3 orang pengurus padepokan yaitu Ipang, Rudi dan Wulan.
Setelah mereka masuk dan duduk dikursi mereka maka rapat pun dimulai.
" Baiklah... Ragil bagaimana? " tanya Aji langsung masuk ke poinnya.
" Baiklah pak... Aku sudah mencatat data mereka dan hasilnya sangat luar biasa dan jauh melebihi ekspetasi..., " ucap Ragil sambil menyerahkan sebuah map yang berisikan data calon peserta untuk ikut dalam turnamen.
" Hmm... Jadi mereka berenam ya..., " ucap Aji saat selesai melihat data yang ada pada map.
" Maaf pak, sebenarnya siapa saja mereka? jujur kami bertiga belum tahu mereka, " ucap salah satu dari ketiga pengurus yang bernama Ipang.
" Lihatlah, " ucap Aji sambil menyerahkan map itu.
Langsung saja mereka bertiga langsung membaca map tersebut lalu terkejut saat melihat data mereka.
" I-ini serius pak? " tanya Rudi.
" Benar... Mereka berenam adalah kandidat yang cocok untuk ikut turnamen, " ucap Aji sambil tersenyum.
" Tapi pak, jika dilihat dari data mereka apakah tidak berlebihan? " tanya Ipang yang belum yakin.
" Apakah padepokan lain mengirim anak didik kecoa mereka? Tentu tidak kang Ipang, " ucap Ragil dengan serius.
" Benar... Kita tidak tahu apakah padepokan lain akan mengirim murid yang seperti apa tapi mereka berenam sudah berada dilevel yang lebih tinggi dari pada semua murid di padepokan kita..., " ucap Aji Samudra.
" Hmm... Pak, bukankah ada 7 orang yang harus kita kirim selaku peraturan turnamen sebagai tim dan individu? " ucap Wulan yang sedari tadi hanya terdiam.
" Benar, kalau masalah itu aku serahkan kepada cucuku Guntur yang akan mencarinya, " ucap Aji sambil menatap Guntur.
" Lalu bagaimana langkah strategi untuk tim pak? " tanya Rudi.
" Guntur coba kau jelaskan, " ucap Aji sambil tersenyum dan percaya kepada Guntur.
" Baiklah, " ucap Guntur.
" Pertama kita punya pintu ke 6 yaitu Alisa yang mana nantinya dia akan menjadi seorang stalker untuk menculik atau menciduk musuh dan mengganggu konsentrasi musuh... "
" Ridwan selaku orang terkuat kedua yang nantinya akan dibarisan terdepan bersama dengan Umar... "
" Lalu dibagian sayap kanan ada Yuni dan untuk sayap kiri ada Putri, walaupun masih di pintu ke 3 tapi kekuatannya tidak kalah kuat dengan Yuni di pintu ke 5... "
" Tu-tunggu, apa maksudmu? Dia kan murid baru yang sempat membuat heboh karena penampilannya kan? " ucap Wulan terkejut karena mengingat siapa Putri.
" Benar dan dia sekarang sangat berbeda jauh dari yang dulu dan kenapa aku memakai dia, disamping dia memang jenius, dia juga memiliki kekuatan unik yang langka yaitu Lebah Sari... "
" Apa? Lebah Sari?! " ucap Ipang, Rudi dan Wulan.
" Nanti saja terkejutnya, Guntur lanjutkan! " ucap Aji dengan serius.
" Baik... Lalu dibagian tengah ada Julian yang mana sebagai inti dari tim karena semua otak ada padanya sebagai ahli strategi yang nantinya dalam hal strategi aku akan percayakan penuh kepadanya sedangkan untuk posisi belakang masih kosong yang nantinya akan ada seseorang yang akan menempatinya..., " jelas Guntur.
" Tunggu... Kenapa Julian? " ucap Ipang bingung.
" Benar... Aku tidak setuju dengan anak malas itu, walaupun aku sudah melihat dan membaca datanya tapi aku ragu dengannya, " ucap Rudi dengan penuh keraguan.
" Hahhhhh... Sebenarnya dia berlaku malas itu karena menutupi kekuatannya, " ucap Guntur sambil menghela nafas panjang.
" Benar... Aku bahkan sangat kagum dan ingin menjadikan dia sebagai muridku tapi sudah keduluan Guntur..., " ucap Ragil.
" Ehh..., " ucap Wulan terkejut.
" Tu-tunggu dulu... Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berenam sampai-sampai kau mengincar Julian dan Guntur sedari tadi aku bingung kenapa kau sangat mengerti mereka? " tanya Ipang yang memang sedari tadi nampak kebingungan.
" Itu karena beberapa bulan ini Gunturlah yang melatih mereka secara diam-diam yang dibantu dengan Anisa..., " ucap Ragil.
" Apa?! " ucap mereka bertiga terkejut.
" Awalnya aku hanya melatih Ridwan karena dia adalah teman pertama dalam hidupku tapi seiring berjalannya waktu aku juga merekrut mereka sedangkan Alisa, dia terus merengek untuk ikut berlatih bersama mereka jadi aku meminta kepada kakek untuk status Alisa sebagai murid padepokan dan yah itulah data hasil dari latihan mereka, " jelas Guntur.
" Bahkan Panca Soka pun bertekuk lutut dengan mereka, hahahaha..., " ucap Aji sambil tertawa.
__ADS_1
Ragil yang mendengar itu langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya karena malu.
" Apa!? Be-benarkah itu? " ucap Rudi sangat terkejut.
" Dan otak dari semua itu adalah Julian... Aku sangat mengakui dan kagum dengannya, " ucap Aji sambil tersenyum bangga.
Sedangkan Ragil pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.
" Bagaimana? " tanya Guntur.
Ipang, Rudi dan Wulan pun langsung mengangguk setuju karena bahkan melihat Aji sendiri sangat percaya dan kagum dengan mereka terutama Guntur dan Anisa.
" Baiklah... Lalu bagaimana dengan yang terakhir? Guntur apa kau perlu bantuan kami untuk mencarikan seorang murid jenius lainnya? " tanya Ipang yang bersedia untuk membantu mencarikan kandidat terakhir.
" Tidak perlu... Itu karena aku sudah menemukannya tadi pagi saat setelah aku selesai sujud subuh di masjid, " ucap Guntur sambil tersenyum sambil menatap Anisa lalu mengangguk.
" Ehhh... Siapa? " tanya Wulan penasaran.
" Dia adalah satu-satunya murid jawara di padepokan yang memiliki elemen cahaya dan kekuatan unik, Cahaya Kencana..., " ucap Guntur.
Sontak saja semua orang sangat terkejut mendengar ucapan dari Guntur kecuali Anisa yang sudah tahu akan hal itu.
" Apa itu benar nak? " tanya Aji yang masih belum percaya.
" Benar kek... Aku sudah mengajaknya untuk bergabung dengan kami, walaupun dia masih ragu tapi sepertinya dia sangat tertarik dan mungkin tidak akan lama dia akan bergabung, " ucap Guntur.
" Baiklah... Soal turnamen kami serahkan kepadamu nak dan satu hal lagi, jangan terlalu memaksa mereka karena keselamatan dan nyawa mereka lebih utama dari pada turnamen itu sendiri, " ucap Aji dengan tegas yang dianggukkan semua orang yang ada di ruangan itu.
" Baik... Kalau begitu, aku dan Anisa pamit..., " ucap Guntur yang berjalan keluar bersama Anisa dari ruangan rapat meninggalkan semua orang.
" Pak..., " ucap Ragil.
" Bagaimana Ragil? " tanya Aji.
" Siapa murid yang dimaksud Guntur? " tanya Ragil penasaran.
" Hmm... Aku juga tidak tahu Ragil tapi aku merasa jika murid itu tidak hanya memiliki satu elemen saja untuk menutupi elemen cahayanya karena pemilik elemen cahaya sangat diburu oleh para jawara hitam, kajinan dan iblis aksara untuk dibunuh karena dapat mengancam kekuatan dan hidup mereka, " jelas Aji.
" Beruntung dia menjadi murid di padepokan ini, " ucap Wulan.
" Benar... Aku merasa dia sangatlah cerdik karena tahu resiko memiliki elemen langka itu, " ucap Ipang.
" Ohh iya pak, apakah lokasi turnamen kali ini sudah di tentukan oleh tujuh pilar siswa? " tanya Ragil.
" Padepokan Keling Emas..., " ucap Aji sambil tersenyum dan mengangguk.
***
Guntur dan Anisa yang sedang berjalan untuk kembali ke gubuk pun menghentikan langkahnya karena melihat seorang murid wanita yang terlihat sedang menunggu mereka.
Gadis itu langsung membalikan badannya saat mengetahui jika Guntur dan Anisa berada dibelakangnya.
" Gus..., " ucap gadis cantik yang terlihat sangat sederhana yang hanya memakai jilbab segi empat berwarna hitam, kemeja panjang berwarna hitam dan sarung batik hitam polos itu sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap Guntur secara langsung.
" Roro Zara Apsarini..., " ucap Guntur yang memanggil nama lengkap gadis itu.
" Wonten Timbalan..., " ucap Roro.
" Bagaimana? " tanya Guntur dengan serius.
" Roro bersedia..., " ucap Roro dengan serius.
" Baiklah... Ikut aku, " ucap Guntur sambil berjalan bersama Anisa kembali ke gubuk.
Sedangkan Roro pun langsung mengikuti Guntur dan Anisa berjalan dibelakang mereka.
Disaat mereka telah sampai di perbatasan wilayah gubuk milik Guntur, Roro seketika terkejut melihat apa yang dia lihat.
" I-ini? " gumamnya dalam hati karena merasa seperti masuk kedalam dimensi yang berbeda.
" Ada apa Roro? " tanya Guntur.
" Gus... Apakah ini masih di padepokan? " tanya Roro dengan heran saat melihat tempat itu sangatlah luas dan sangat rimbun dengan pepohonan selayaknya sebuah hutan.
" Kita telah masuk diwilayahku yang memang aku sengaja untuk membuat dimensi cermin dan menambahkan pepohonan untuk mereka yang sedang berlatih dengan bebas tanpa terjadi keributan di padepokan, ayoo... Sebentar lagi kita sampai, " ucap Guntur.
Namun baru satu langkah Roro langsung jatuh tersungkur dan terbatuk darah karena merasakan tekanan aura yang sangat kuat.
__ADS_1
" Ehh... Roro..., " ucap Guntur terkejut.
Anisa dengan sigap langsung menolong Roro dan memberikannya pil penyembuh.
" Ini, minumlah..., " ucap Anisa yang langsung meminumkannya kepada Roro.
" Mas... Suruh mereka berhenti dulu, " ucap Anisa.
" Baiklah, " ucap Guntur.
Dengan cepat Guntur menggunakan telepatinya kepada Ridwan cs untuk berhenti untuk bersemedi.
" Kalian berhentilah dulu karena tekanan dari aura kalian mencelakai seseorang dan tunggulah di depan gubuk, " ucap Guntur kepada mereka.
Tidak lama setelah itu, tekanan aura yang memadati area itu dan menekan Roro pun menghilang tanpa jejak.
" Hahhh... Baru 3 kali mereka bertirakat puasa senin kamis dan latihan dengan cara pelatihan aksara, mereka sudah mencapai titik ini, " gumam Guntur dalam hati.
" Roro... Apa kau baik-baik saja? " tanya Guntur saat melihat Roro yang sudah membaik.
" Su-sudah Gus... Sebenarnya aura siapa itu? " tanya Roro penasaran.
" Mereka yang nanti akan menjadi saudara-saudaramu disini, ayo bergegas karena mereka sudah berkumpul didepan gubuk, " ucap Guntur sambil tersenyum.
Dengan segera mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
***
Ridwan cs yang sedang bersemedi itu terkejut saat mendapat telepati dari Guntur dan langsung melaksanakan perintah Guntur.
Saat mereka sampai di gubuk, tiba-tiba nampak Julian mengerutkan keningnya lalu tersenyum.
" Ada apa Julian? " tanya Yuni yang menyadari itu.
" Adik seperguruan kita telah tiba, " ucap Julian.
" Ehhh... Maksudmu? " tanya Umar terkejut.
" Tuh..., " ucap Julian sambil menunjuk tiga orang yang sedang berjalan ke arah mereka.
Mereka pun secara serentak langsung menoleh dan menatap mereka yang ditunjuk oleh Julian.
Namun betapa terkejutnya Ridwan, Umar dan Yuni saat melihat sesosok gadis yang tidak asing dimata mereka.
" Ehh bukankah dia itu Roro? " tanya Umar sambil mengerutkan keningnya.
" Ehh... Iya kau benar itu Roro, " ucap Yuni.
Setelah beberapa saat, mereka pun sampai didepan Ridwan cs.
" Assalamu'alaikum..., " salam Guntur.
" Wa' alaikum salam..., " jawab Ridwan dan yang lainnya.
" Nahh Roro kau pasti tidak asing dengan mereka kan? " tanya Guntur.
Roro pun mengangguk sambil menatap Ridwan dengan sedikit heran.
" Ridwan si mata kepiting, Umar si pedang angin, Yuni si nunchaku dan Julian si malas..., " ucap Roro yang memang sebenarnya tidak akrab dengan mereka karena selalu menyendiri.
" Halah.... Kak Roro, aku bukan lagi si mata kepiting! " ucap Ridwan yang tidak senang dengan julukan itu.
" Sudah-sudah... Nah Roro bergabunglah dengan mereka... Oh iya yang gadis berjilbab biru itu bernama Alisa dan yang itu bernama Putri..., " ucap Guntur sambil mengenalkan Alisa dan Putri.
Roro pun mengangguk dan bergabung dengan Ridwan cs lalu mereka semua menatap Guntur kecuali Roro yang hanya menunduk tidak berani menatap Guntur.
" Baiklah, kalian lanjutkan lagi bersemedi dan untukmu Roro, kau tetap disini untuk menerima pelatihan awal, " ucap Guntur.
Dengan serentak mereka pun mengangguk lalu melesat dengan sangat cepat kembali ke persemedian mereka.
Roro pun terkejut saat dirinya tiba-tiba tidak lagi merasakan Ridwan cs berada disampingnya.
" Ehh... Menghilang? " gumam Roro dengan pelan.
" Suatu saat kau juga akan sekuat mereka Roro... Nah Anisa, tolong urus Roro sebentar karena aku akan membuatkan gaman untuk mereka, " ucap Guntur lalu berjalan masuk kedalam gubuk.
" Baik mas, " ucap Anisa singkat.
__ADS_1
Sedangkan Roro semakin terkejut melihat Anisa yang terlihat sangat patuh dengan Guntur bahkan sangat menghormati Guntur.
" Ikut aku, " ucap Anisa sambil berjalan menjauh dari gubuk sedangkan Roro sendiri langsung mengikuti Anisa dengan perasaan campur aduk dan penuh dengan pertanyaan dikepalanya.