
Keesokan harinya di padepokan pancanaka tepatnya di arena yang sebelumnya menjadi tempat ajang pertarungan yang sangat seru dan epic itu kini telah kembali dipadati oleh penonton.
Hal itu dikarenakan pembagian hadiah turnamen kepada mereka para peserta yang berhasil mendapatkan hak mereka atas turnamen.
Ditengah arena Aji, Lastri, Anisa, Ragil dan semua panitia turnamen berkumpul.
Semua orang menunggu acara penyerahan hadiah itu dengan tidak sabar. Dengan berlahan, Aji kembali memberikan pengumuman.
" Assalamu'alaikum warrohmatullahi wabbarokatuh... Selamat pagi... Terima kasih kepada semuanya yang hadir di pagi hati yang cerah ini untuk menyaksikan dan menjadi saksi acara seserahan hadiah kepada mereka yang menjadi juara dalam turnamen antar murid padepokan pancanaka kemarin... Baiklah tanpa membuang-buang waktu lagi kami memanggil mereka 16 besar turnamen tahun ini! " ucap Aji menggema di seluruh penjuru arena.
Penonton langsung saja heboh dengan masuknya para peserta yang berhasil masuk dalam 16 besar. Suara teriakan dan juga sorakan yang sangat menggelora.
Namun diantara 16 besar itu mereka tidak melihat Umar dan juga Ridwan. Mereka saat ini masih dalam perawatan medis di runah sakit padepokan.
Walaupun Guntur sudah menyembuhkan mereka namun kondisi mereka masihlah lemah dan belum juga tersadar dari pingsannya.
Setelah mereka berkumpul dan berbaris rapi, acara penyerahan hadiah pun dimulai. Mulai dari 16 sampai kepada yang pertama.
Nampak raut wajah bahagia diwajah mereka terutama Yuni. Dia yang mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar 100 juta rupiah dan juga senjata dengan kualitas tinggi yang sesuai dengannya yaitu Nunchaku, terlihat menangis haru katena bahagia.
Nunchaku itu terlihat sangatlah elegan dan keren. Dimana panjang disetiap pegangannya mencapai 21 cmn dengan diameter 3 cmn dan panjang rantai 20 cmn dengan bahan baja berkualitas tinggi. Nunchaku itu juga memiliki warna putih bersih sebagai warna utamanya dan ada sebuah gambar burung garuda yang sedang terbang berwarna hitam dan merah dan tidak lupa sebuah nama pemilik dari Nunchaku itu sendiri.
Setelah semuanya sudah mendapatkan hadiah mereka masing-masing. Lalu Aji memanggil Alisa yang telah menjadi pahlawan karena berhasil mengalahkan para kajinan seorang diri.
Alisa yang duduk di tribun penonton itu mendengar namanya dipanggil merasa sangat senang. Lalu, dia pun langsung saja melompat dari tribun penonton ke arena.
Setelah itu dia juga mendapatkan sebuah penghargaan dan juga sebuah senjata cakar dengan kualitas terbaik.
Rasa senang dan syukur terpancar dari raut wajah Alisa. Walaupun Alisa terlahir di keluarga berada namun mereka tidak memanjakan anak-anak mereka. Didikan keras dan disiplin sudah menjadi hal biasa untuk keluarga Samudra.
Setelah semua mendapatkan semua hak mereka, Aji segera mengumumkan sesuatu.
" Karena acara seserahan sudah selesai maka mulai besok acara pendaftaran murid baru padepokan pancanaka dibuka dalam waktu satu minggu... Dengan ini kami selalu panitia dan pengurus padepokan pancanaka mengucapkan banyak terima kasih, " ucap Aji menggema.
Semua orang nampak antusias dengan adanya pendaftaran murid baru. Bagi mereka, mendapatkan murid baru adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh mereka.
Hari libur, dengan adanya itu maka hari libur selama dua minggu pun dimulai. Kesempatan bagi mereka yang ingin pulang kampung atau sekedar reflesing selama dua minggu sudah cukup bagi mereka untuk beristirahat dari neraka pelatihan.
Namun siapa yang menyangka jika pelatihan yang diterapkan padepokan pancanaka masih sangat ringan dari pada pelatihan yang Guntur terapkan untuk melatih Ridwan.
Cambuk, pukul, angkat beban, berendam, sampai pelatihan pemberat beban Ridwan terima. Walaupun Ridwan terkadang mengeluh namun dia tetap menjalani pelatihan neraka dari Guntur. Tidak heran jika hanya dalam waktu beberapa bulan saja Ridwan dapat mengimbangi Umar yang terkenal dengan mutid terkuat padepokan pancanaka namun tidak termasuk dengan para murid Guru Ragil.
__ADS_1
Disamping Ragil melatih para muridnya tidak kalah keras seperti Guntur namun murid-murid Ragil yang memang sudah memiliki kekuatan bawaan yang sangat kuat bahkan juga kekuatan unik mereka. Itu salah satu faktor kenapa murid-murid Ragil jauh lebih kuat dari murid guru lainnya di padepokan pancanaka.
Bahkan murid terlemah Ragil pun dapat mengalahkan Umar hanya dalam satu kali serang saja. Perbedaan mereka bagai langit dan bumi. Namun murid-murid Ragil lebih memilih misi dan berlatih saja dari pada mengejar karier apa lagi menyombongkan diri didepan publik.
Mereka hanya menunjukan kesombongan mereka hanya dengan lawan mereka saja atau kepada orang yang memang perlu untuk diberi kesombongan akan kekuatan.
Saat ini Guntur yang tidak tertarik dengan acara seserahan hadiah itu memilih untuk menikmati makanannya di kantin dan juga jalan-jalan disekitar padepokan.
Bahkan semalam saja Guntur lagi-lagi tidak bisa tidur dengan nyenyak karena padepokan masih sangat ramai oleh tamu dan juga murid yang memang memanfaatkan momen itu dengan bergadang sampai pagi.
Nampak Guntur sekarang duduk di taman padepokan dengan mata yang sudah terlihat menghitam karena kurang tidur dan beristirahat.
" Hahhhh.... Sudah hampir satu minggu aku tidak bisa beristirahat dengan tenang... Semoga saja setelah ini aku bisa beristirahat dengan tenang, " gumamnya dalam hati sambil menatap langit pagi yang nampak cerah.
Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Malam harinya di padepokan pancanaka terlihat Guntur yang sedang duduk di sebuah bangku parkiran padepokan. Entah kenapa Guntur ingin sekali duduk disana. Suasana padepokan pada malam ini nampak sepi karena semua tamu dan wali peserta sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing.
Guntur yang tengah menatap bulan yang bersinar sangat terang itu merasakan kehadiran seseorang yang sangat dia kenal.
" Mas... "
Guntur tersenyum mendengar panggilan dari istri tercintanya itu. Namun ketika Guntur ingin menoleh ke istrinya tersebut, tiba-tiba atmosfer di padepokan pancanaka menjadi menebal dan tekanan dari daerah sekitar menekan kuat diseluruh area padepokan.
Hawa energi yang sangat murni seketika menguat dan berkumpul di padepokan pancanaka serta berputar kuat di tempat Guntur berdiri sekarang.
" Sepertinya sudah waktunya..., " ucap Guntur sambil tersenyum dan menoleh ke arah Anisa.
Anisa yang juga merasakan semua itu langsung merinding. Lalu melihat Guntur kepadanya, Anisa sedikit lebih tenang.
" Jaga aku sebentar saja Nisa, " ucap Guntur lalu langsung bersemedi untuk menyerap energi alam itu.
Anisa yang mendengar itu langsung mengerti maksud suaminya untuk menjaganya agar tidak ada yang mengganggu proses penyerapan energi alam apalagi energi alam ini sangatlah murni.
Segera Anisa duduk di samping suaminya itu untuk menjaganya. Anisa tidak tahu jika hampir semua penduduk padepokan juga menyerap energi alam yang sangat murni ini.
Setelah 3 jam Guntur menyerap energi alam itu tiba-tiba tubuh Guntur melayang dari tempat bersemedinya. Anisa yang melihat itu sangat terkejut, pasalnya selama ini tidak ada orang yang bisa melakukan itu.
Setelah Guntur beberapa saat kemudian lambang jawara di tangan kiri Guntur nampak bercahaya dan semakin terang.
Lalu beberapa detik kemudian terdapat suatu ledakan hebat dari tubuh Guntur sampai-sampai menciptakan gelombang kejut yang besar dan kuat. Anisa sendiri harus menahan dirinya sendiri dengan aura jawara pintu terakhirnya karena saking kuatnya, supaya tidak terlempar saat terkena gelombang kejut yang di ciptakan oleh Guntur.
Setelah gelombang kejut itu hilang, nampak aura jawara pintu ke 4 dari diri Guntur. Namun aura itu lebih kuat dari biasanya karena aura pintu ke 4 Guntur jauh lebih kuat dari jawara pintu ke 4 lainnya.
__ADS_1
Guntur pun turun dari melayangnya itu lalu menarik aura jawaranya dan menutupnya kembali.
Berjalan dengan berlahan ke arah Anisa yang sedang duduk dan menatap Guntur dengan tatapan kebingungan.
Setelah sampai, Guntur langsung duduk di sebelah kiri Anisa.
" Terima kasih Nisa sudah menjagaku, " ucap Guntur sambil tersenyum.
Anisa mengangguk pelan lalu berdiri. Guntur yang melihat istrinya tiba-tiba berdiri itu hanya menatapnya saja.
" Ikut aku yuk mas..., " ucap Anisa yang langsung meraih tangan kanan Guntur.
Karena Guntur merasakan tubuhnya diambang batas, dia hanya menurut saja. Lalu keduanya berjalan dengan pelan ke arah kawasan khusus wanita.
Guntur yang posisinya diambang batas dan setengah sadar itu tidak terlalu memperhatikan sekitarnya dan hanya menurut saja.
Anisa tersenyum dibalik cadar bandana hitamnya lalu menggunakan salah satu jurusnya yaitu ' Sabit Ilusi ' untuk menyembunyikan suaminya itu dari mata semua orang.
Sabit Ilusi adalah salah satu Jurus milik Anisa yang mana biasanya dia gunakan untuk misi pengawalan. Siapapun orangnya tidak ada yang bisa menyadari keberadaannya bahkan auranya. Jurus itu juga termasuk jurus peringkat tinggi.
Tujuan Anisa adalah membawa Guntur ke gubuknya supaya suaminya dapat beristirahat dengan nyaman.
Setelah mereka sampai, Anisa langsung membawa suaminya itu ke kamar miliknya yang nampak sangat rapi, bersih dan tentunya harum dengan aroma seribu bunga. Anisa sangat suka dengan aroma itu sedari dulu, makanya jika orang-orang mencium bau dengan aroma seribu bunga pasti tidak jauh dari mereka ada Anisa.
Setelah sampai di kamarnya, Anisa langsung membaringkan Guntur di kasur king size miliknya itu. Guntur pun hanya menurut saja. Saat ini Guntur yang setengah sadar dan sedikit linglung karena sangat kelelahan itu berbaring diatas kasur empuk dan juga nyaman.
Anisa melihat suaminya yang seperti itu tidak sadar jika air matanya mengalir dan juga Anisa merasakan hatinya seperti teriris iris oleh sebilah pedang yang sangat tajam.
Lalu, Anisa melepas cadar miliknya itu dan menunjukkan wajah cantik bak bidadari itu untuk pertama kalinya didepan suaminya.
" Istirahatlah mas..., " ucap Anisa lalu mencium kening suaminya itu.
Guntur yang setengah sadar dan sedikit linglung itu langsung memejamkan matanya. Dia sudah tidak bisa lagi untuk berfikir jernih dan mempertahankan kesadarannya.
Dalam diam Guntur tertidur pulas diatas ranjang istrinya untuk pertama kalinya setelah dia menikah dengan Anisa.
Anisa yang melihat suaminya tertidur pulas itu tersenyum manis.
" Mas... Walaupun aku belum bisa menjadi istri seutuhnya dan baik tapi ingatlah satu hal mas..., "
" Aku akan selalu mencintaimu, " ucap Anisa.
__ADS_1
Setelah itu Anisa membaringkan tubuhnya disamping suaminya yang sudah terlelap dalam tidurnya. Beberapa saat kemudian, Anisa juga ikut terlelap dalam tidurnya.
Di malam hari yang sepi dan juga sunyi, padepokan pancanaka menjadi saksi ketulusan cinta Anisa terhadap Guntur dan juga untuk pertama kalinya mereka tidur dalam satu ranjang....