
Ledakan teredam energi tenaga dalam mereka akhirnya meledak dari tubuh mereka. Semua pintu jawara mereka terbuka.
Kedua energi mereka sangat mendominasi. Tekanan dan aura mereka sangat mengintimidasi satu sama lain. Bahkan para penonton pun bergidik ngeri merasakan tekanan dari energi mereka.
Ridwan yang masih di pintu ke 4 jawaranya tidak kalah kuat dengan Umar yang sudah membuka pintu ke 5 nya. Itu dikarenakan Ridwan selalu bekerja sangat keras dan sering berendam di air dingin pada malam hari untuk menyerap energi alam disekitarnya.
Ridwan melakukan metode bersemedi Kungkum. Metode itu sebenarnya cukup berbahaya tapi karena Guntur yang selalu mengawasinya sebelum bisa bersemedi sendiri, jadi aman untuk Ridwan.
Metode semedi kungkum walaupun berbahaya karena dapat terserang penyakit dan pembekuan pembuluh darah tapi jika berhasil akan mempunyai manfaat yang jauh lebih kuat dan cepat.
Dari metode itulah aura dan energi tenaga dalam milik Ridwan sangat kuat bahkan bisa dikatakan abnormal untuk jawara pintu ke 4.
Aura dan tekanan milik Ridwan sanggup mengimbangi milik Umar. Umar sendiri juga terkejut melihat dan merasakan semua itu dari Ridwan tapi Umar lebih fokus dengan pertarungan. Baginya, Ridwan adalah sosok yang sangat kuat dan sulit untuk dikalahkan.
Ketika aura dan tekanan mereka meledak, keduanya langsung menyerap kembali aura dan tekanan mereka.
Setelah selesai menyerap kembali, nampak tubuh keduanya menjadi benar-benar fit kembali. Luka-luka yang ada di tubuh Ridwan pun kembali menutup walau tidak sempurna tapi sudah cukup untuk Ridwan.
" Kau siap Umar? " tanya Ridwan.
" Yeahh... Kapanpun, " ucap Umar.
Umar langsung terkejut karena tiba-tiba Ridwan menghilang dari pandangannya dan belum ada 1 detik kemudian tubuh Umar serasa dipukul oleh sesuatu.
" Bugh... "
Seketika Umar terlempar beberapa meter kesamping kanan. Ridwan pun muncul di tempat Umar berdiri tadi sambil mengacungkan tombaknya.
Umar berhenti setelah dia menancapkan pedangnya di bongkahan lantai arena yang telah rusak.
" Uaaarrgghh.... "
" Hoee Umar... Bangun! " ucap Ridwan sambil menatapnya dengan tajam.
Umar yang mendengar itu langsung terbangun.
" Astaga... Cepat sekali... Tubuhku sakit gara-gara dipukuk dengan tombak itu..., " gumam Umar dalam hati.
Ridwan tersenyum melihat Umar terbangun berdiri.
" Gitu dong... Aku tidak mau melawan jika kau lembek seperti itu, " ucap Ridwan mengejek Umar.
" Hei.... Aku tidak lembek... Baiklah karena kau meminta seperti itu maka aku ju-- " ucap Umat terpotong karena tubuhnya kembali terlempar beberapa meter kesamping kanan.
" Bugh... "
" Uaaaghhhh "
Kembali Ridwan menampakan dirinya.
" Uaagghh.... Hoee Aku bel--- " Ucap Umar terpotong lagi karrna terlempar lagi.
" Bugh... ".
" Aarrgghh "
Umar kembali berhenti ketika menancapkan pedangnya di bongkahan lantai arena.
" Sialan aku belum siap...., " ucap Umar dengan berteriak.
Ridwan tersenyum " Si Pedang Angin ternyata nama itu hanyalah isapan jempol " ejek Ridwan.
Umar yang mendengar itu langsung terdiam. Namun tiba-tiba tubuh Umar diselimuti angin tipis. Tidak lama setelah itu Umar menghilang.
Ridwan yang melihat itu tersenyum lalu ikut menghilang. Keduanya bisa melihat pergerakan satu sama lain. Jadi mereka langsung bertarung dengan keceoatan maksimal mereka.
" Bruuugghh... Traang... Buaghh... Traaang... "
" Boom.. Boomm... Bommm... "
Hanya percikan api dan ledakan yang bisa dilihat oleh penonton. Bahkan jawara pintu ke 5 pun tidak bisa melihat kecepatan mereka berdua, hanya bayangan yang bergerak sangat cepat saja yang mereka lihat.
Semua orang terlihat tegang dan penasaran. Bagi mereka pertarungan Umar melawan Ridwan adalah pertarungan yang tidak biasa.
Guntur terus memperhatikan pertarungan mereka dengan teliti.
" Wahhh ternyata Umar juga memiliki kekuatan Unik... Angin Alam dan Ridwan sebenarnya juga memiliki kekuatan unik yaitu Api Hitam... Tapi Ridwan masih belum bisa menguasai kekuatan uniknya itu 100% hanya 90% saja yang bisa dia kuasai... Sedangkan Umar sudah bisa menguasai kekuatan uniknya dengan sempurna... Semoga saja Ridwan tidak ceroboh menggunakan kekuatan uniknya sampai 100%, " gumam Guntur dalam hati.
Namun tiba-tiba semua penonton dikejutkan dengan munculnya kembali mereka berdua dengan keadaan yang sangat memperhatinkan. Sedangkan arena sendiri sudah tidak berbentuk lagi akibat pertarungan mereka.
Keduanya memiliki luka goresan dan sayatan ditubuh mereka disamping itu Umar juga nampak memiliki luka bakar pada lengan kirinya.
Anehnya mereka berdua masih belum menampakkan rasa kelelahan. Malah, mereka menampakkan rasa bahagia dan semangat juang yang tinggi.
__ADS_1
Saling tersenyum puas walaupun saat ini mereka bertarung.
" Ridwan... Kau sangat kuat..., " ucap Umar sambil menahan sakit karena luka bakar dan goresan pada tubuhnya yang mengakibatkan darah menetes dari tubuhnya.
Begitu juga dengan Ridwan tapi Ridwan tidak memiliki luka bakar karena Ridwanlah yang membuat luka bakar di tubuh Umar.
" Kau juga... Umar..., " ucap Ridwan.
Keduanya saling tatap dengan tatapan tajam lalu beberapa detik kemudian mereka kembali menghilang dari semua mata.
Kali ini pertarungan mereka semakin memanas. Arena yang sudah tidak berbentuk lagi itu semakin rusak. Bongkahan lantai arena pun dibuat hancur oleh mereka.
Ragil yang menjadi wasit terdiam disana. Dia ingin sekali menghentikan pertarungan mereka karena arena sudah rusak parah tapi dia urungkan karena tidak ada larangan dalam peraturan turnamen.
" Mereka benar-benar bibit monster... Dunia persilatan di bumi nusantara akan gempar setelah ini..., " gumam Ragil dalam hati.
Tiba-tiba, Ragil merasakan sesuatu yang menyelimuti tubuhnya dan terdengar suara Guntur di kepalanya.
" Guru... Aku memasang pelindung tingkat maya pada tubuh guru karena setelah ini mereka akan habis-habisan... Arena juga sudah aku buatkan pelindung tingkat maya jadi tidak usah memikirkan penonton... Fokus saja menjadi wasit..., "
Ragil tentu sangat terkejut mendengar telepati dari Guntur. Aray pelindung maya itu bukan tingkatan sembarangan. Adapun tingkatan aray pelindung dibagi menjadi 7 yaitu.
- tingkat Cadas
- tingkat Patih
- tingkat Maha Patih
- tingkat Raja
- tingkat Maya
- tingkat Guru
- tingkat Maha Guru
Tentu sangatlah jarang seorang aksara bisa membuat pelindung tingkat maya karena di tingkatan itu mereka harus kuat dalam hal kebatinan mereka dan betapa sulitnya membuat pola aksaranya.
Akan tetapi berbeda dengan Guntur. Tentu sangat mudah baginya karena Guntur adalah Sang Hyang Aksara itu sendiri, bahkan Guntur juga berhasil membuat beberapa pola aksara yang belum ada di dunia ini.
Sebagai contoh, pola aksara terbang yang Guntur gunakan untuk perjalanannya ke padepokan pancanaka dulu. Belum lagi pola aksara yang lainnya.
Nampak di arena yang sudah tidak berbentuk lagi. Kedua peserta masih bertarung dengan sengit. Beberapa menit saja mereka bertarung sudah membuat arena menjadi hancur tidak berbentuk. Keduanya bertarung dengan kecepatan maksimal mereka.
Umar dan Ridwan kembali menampakan diri mereka. Namun beberapa detik kemudian, tubuh mereka diselimuti aura dari elemen mereka.
Nampak aura api berwarna merah itu menyelimuti tubuhnya. Begitu juga dengan Umar yang sedari tadi sudah mengeluarkan aura elemennya.
Umar terkejut melihat Ridwan yang mengeluarkan aura elemennya.
" Astaga... Apa dia masih manusia? " gumamnya dalam hati.
Disamping itu di ruang istirahat peserta. Yuni, Cristian, Singgih dan Julian terus terkejut dengan Ridwan. Pasalnya, Ridwan mampu mengimbangi Umar bahkan bisa membuat Umar sampai terluka dan mengeluarkan aura elemen miliknya.
" Astaga... Apa dia benar-benar Ridwan? " tanya Cristian terkejut.
" A-aku benar-benar sudah kalah dengan Ridwan... Aku sering bertarung dengan Umar di arena peringkat tapi tidak sampai seperti ini, " ucap Singgih.
" Kekuatan mereka sudah abnormal, terlebih Ridwan.... Seorang jawara pintu ke 4 sanggup mengimbangi seorang jawara pintu ke 5 dan juga sudah bisa mengeluarkan aura elemennya... Julian, apa ini yang kau maksud? " tanya Yuni.
" Salah satunya... Kalian akan melihat kekuatan Ridwan yang sebenarnya juga Umar yang selama ini kita sangat jarang melihatnya...., " ucap Julian dengan serius.
" Level mereka sudah diatas kita... Untungnya bukan aku yang melawan salah satu dari mereka, " ucap Cristian.
" Kira-kira siapa yang akan menang? " tanya Yuni.
" Kita lihat saja... Siapapun yang akan menang itu tidak penting, yang terpenting adalah kita bisa untuk mengambil hikmah dan ilmunya dari pertarungan mereka, " ucap Julian.
Ditribun khusus, semua orang sangat tegang terlebih keluarga Ridwan. Mereka melihat Ridwan bertarung sampai seperti itu jelas mereka tidak menyangka.
Gani yang sebagai ayah dari Ridwan menyesali kesalahannya kepada Ridwan di masa lalu. Begitu juga dengan sesepuh Daeng. Sedangkan sesepuh Dalu hanya terdiam mengamati jalannya pertarungan.
Aji dan Lastri nampak kagum melihat keduanya. Terlebih Ridwan yang terkenal lemah namun sekarang begitu kuat. Semua itu tidak lepas dari ulah Guntur yang menjadikan Ridwan jadi seperti ini. Mereka sudah mengetahui dari Anisa, jika Ridwan dilatih oleh Guntur hingga menjadi abnormal seperti ini.
" Aku sangat kagum dengan Ridwan... Seekor katak yang menjelma menjadi seekor elang dalam waktu beberapa bulan, " ucap Aji sambil tersenyum.
" Benar mas, aku sangat tidak menyangka, " ucap Lastri.
Sedangkan sesepuh Werang dan sesepuh Tamrin tersenyum.
" Akhirnya anak itu mempunyai rival yang sama kuatnya, " ucap sesepuh Werang sambil menangis haru.
" Hahhhhh.... Kakek dan cucu sama saja.... Sama-sama melow..., " ucap sesepuh Tamrin.
__ADS_1
" Heiii... Aku tidak melow! " ucap sesepuh Werang yang tidak terima.
" Terus apa? Kalian memiliki tampang garang namun mempunyai hati helo kitty? " ucap sesepuh Tamrin.
" Wahahahaa... Aku setuju kakang Tamrin..., " ucap Aji menimpali.
" Arrgghhh... Terserah kalian saja lah..., " ucap sesepuh Werang dengan pasrah.
Kedua peserta yang sedang berhadapan itu kini nampak sangat serius. Keduanya mengeluarkan aura elemen mereka yang membuat heboh para penonton.
Namun kehebohan itu menjelma menjadi sunyi karena keduanya melesat dan menghilang. Bukan karena pertarungan mereka yang kembali mulai tapi ledakan keras yang terjadi karena bentrokan kekuatan mereka sampai-sampai melemparkan bongkahan-bongkahan lantai arena itu menuju ke tribun penonton.
" Booom... "
Semua orang langsung menutup mata mereka dan pasrah namun setelah beberapa saat mereka tidak merasakan apa-apa, mereka membuka mata mereka dan terkejut karena ada sebuah pelindung yang melindungi mereka.
Kembali bentrokan kekuatan yang berbeda elemen terjadi.
" Boom... Boomm... "
Beberapa kali ledakan terdengar kuat dan bongkahan lantai arena beterbangan.
Semua kekuatan mereka, mereka limpahkan dan keluarkan. Tidak peduli sekitar yang mereka inginkan hanyalah pembuktian siapa diantara mereka yang paling kuat.
Ridwan terus melancarkan serangan, menghindar dan menangkis. Begitu juga dengan Umar.
Saling Tusuk, saling tebas, saling sayat, saling tendang, saling pukul, semua mereka kerahkan. Jurus-jurus dari senjata mereka tidak lupa mereka gunakan.
30 menit sudah mereka bertarung tapi belum ada tanda-tanda untuk menyerah disalah satu dari mereka. Tubuh mereka penuh dengan luka.
Tampak keduanya memiliki luka yang cukup serius pada tubuh mereka. Umar memiliki luka sayatan dan luka bakar di sana-sini. Begitu juga dengan Ridwan yang bahkan di dada kanannya terdapat luka tusukan pedang sedalam 10 cm tapi tidak melukai organ vitalnya.
Tentu hal itu membuat Ridwan sedikit kesusahan untuk menggerakkan tangan kanannya namun Ridwan berusaha untuk tidak merasakan dan memikirkannya.
Keduanya yang telah menampakkan diri pun langsung terduduk dan bertumpu pada senjata mereka masing-masing.
Nafas mereka terengah engah dan juga merasakan sakit disekujur tubuh mereka. Tenaga dan kekuatan mereka terkuras bahkan sampai 95% dari kondisi fit mereka.
Lalu keduanya berjalan merangkak saling menghampiri sambil membawa senjata mereka.
Setelah mereka bertemu bertatap muka, tiba-tiba Umar memukul muka Ridwan dengan sisa tenaganya.
" Buagh "
Ridwan langsung terhuyung ke samping kanan.
" Menyerahlah Ridwan.... Biarkan aku yang memenangkan pertarungan ini! " ucap Umar sedikit berteriak.
Ridwan yang berlahan bangkit itu pun langsung membalas pukulan ke muka Umar.
" Buagh "
" Tidak akan... Aku tidak akan menyerah... Aku sudah berjuang sejauh ini... Umar... Kau yang menyerah! " teriak Ridwan.
Keduanya saling pukul hingga beberapa saat sampai dimana mereka berhenti karena kelelahan.
Wasit ingin melompat dari tempatnya dan mengakhiri pertarungan tapi saat hampir melompat, wasit melihat keduanya bergerak dan berdiri berlahan dengan bertumpu pada senjata mereka.
Hah... Hah... Hah...
Nafas mereka yang seperti berlari pulukan kilometer. Tubuh mereka sudah penuh dengan darah apalagi wajah mereka yang membengkak.
" Si-sialan kau... Hah... Hah... Hah... Aku sampai seperti ini...., " ucap Umar tidak jelas.
" Heehehe... Hah.. Hah... Wajahmu seperti babi... Hahaha..., " ucap Ridwan.
" Hahaha... Kalau aku babi kau itu apa... Kau sama saja...., " ucap Umar.
" Hahahaha.... "
Mereka tertawa karena melihat wajah bengkak mereka.
Semua penonton heran dengan mereka. Kondisi mereka sangat memperihatinkan tapi kenapa mereka masih bisa tertawa lepas.
Itu di karenakan mereka merasakan kepuasan tersendiri. Bagi mereka pertarungan ini sangat menyenangkan.
" Hah... Hah.... Ha... Ridwan... Sudah waktunya kita mengakhiri pertarungan ini..., " ucap Umar sambil mengatur nafasnya.
Ridwan pun mengangguk setuju dan segera bersiap.
" Semua jurusku sudah aku keluarkan pastinya Umar dapat menghalaunya.... Hanya ada satu jurus yang belum aku gunakan... Ya... Jurus ciptaanku sendiri..., " gumam Ridwan dalam hati.
Ridwan tidak tahu jika Umar juga memikirkan hal yang sama.
__ADS_1
" Ridwan... Kau sangat menyebalkan... Hanya tinggal satu jurus saja yang belum aku gunakan... Jurus warisan keluarga Maruto..., " gumam Umat dalam hati.
Keduanya terlihat bersiap dengan serangan terakhir mereka. Serangan yang akan menentukan siapa diantara mereka yang terkuat. Walaupun kekuatan mereka telah terkuras hampir 100% tapi mereka tidak menyerah sampai salah satu diantara mereka yang tumbang.