
" Aku tidak menyangka jika kakak memiliki sensitivitas yang sangat kuat, " ucap Guntur yang berdiri di belakang Jin Shu sambil tersenyum.
Mendengar jika cucunya itu sudah menampakan dirinya, Jin Shu langsung membalikkan badannya lalu menatap tajam Guntur.
" Apa yang dikatakan ayah itu benar? " tanya Jin Shu dengan penasaran.
Guntur tersenyum " Apa untungnya kakek berbohong? " tanyanya sambil berjalan ke arah bangku taman lalu menatap cerahnya langit malam.
Jin Shu pun mengikuti Guntur dan duduk disamping kirinya.
" Kini, pedang warisan itu sudah sempurna jadi aku berharap jika tidak hanya kakek saja tapi semua keluarga Jin untuk menjaga pedang itu sebaik mungkin... Aku merasa jika pedang itu sampai didengar oleh pihak lain, sudah dapat dipastikan bukan hanya kultivator saja yang mengincarnya tapi juga para jawara liar juga akan mengincarnya... "
" Tapi jika itu sampai terjadi maka mereka semua tidak akan ada yang sanggup untuk memegangnya karena pedang itu memilih tuannya sendiri dengan kata lain hanya pewaris dari keluarga Jin, " jelas Guntur dengan serius.
Mendengar itu semua, Jin Shu sudah dapat membayangkan betapa istimewanya pedang warisan itu namun Jin Shu tidak mengerti kenapa bisa sebuah pedang yang bisa memilih tuannya sendiri.
" Kenapa bisa? " tanya Jin Shu penasaran.
" Itu karena aku sudah menanamkan pola aksara pewaris kepemilikan pada pedang itu... Jadi selain pewaris tidak ada yang bisa menggunakannya, bahkan memegangnya pun mereka tidak akan mampu, " ucap Guntur dengan serius.
" Hahhhhh... Aku tidak minat menjadi matriak atau apapun itu, bahkan aku hanya ingin menjadi orang yang biasa-biasa saja, " ucap Jin Shu mengeluh.
" Sayangnya itu tidak akan terjadi, karena kita yang terlahir sebagai seorang petarung yang tidak memiliki kesempatan seperti itu, kita harus bisa untuk melindungi siapapun yang kita sayangi dan cintai dari mereka bala kurawa yang kian hari semakin meresahkan dan membuat kerusakan di dunia ini, " ucap Guntur.
Jin Shu yang mendengar ucapan dari cucunya itu tersenyum penuh arti.
" Ternyata disamping konyol tapi juga dewasa, " gumam Jin Shu dalam hati.
Setelah itu, mereka pun mengobrol sebentar di taman itu sebelum Jin Shu berpamitan untuk beristirahat di kediaman.
Kini, hanya Guntur seorang saja yang berada di sana sambil terus menikmati malam yang cerah sampai subuh menjelang.
***
Pagi harinya, dimana semua orang yang berada di kediaman kakek Jin duduk di depan meja makan.
Kakek Jin, Jin Fang, Jin Shu, Jin Shi dan 4 orang ajudan sedang menunggu seseorang untuk saparan bersama.
Tentu dengan hidangan yang mewah, bergizi dan dijamin dengan kualitas dan kebersihannya.
Karena sudah cukup lama akhirnya Jin Shi membuka suaranya karena selama di meja makan mereka semua tidak diperbolehkan untuk berbicara sebelum selesai makan.
" Astaga... Si gembel itu kenapa lama sekali, " ucap Jin Shi dengan kesal.
Jin Shi memang belum bisa menerima Guntur di keluarga Jin yang nyatanya memang Guntur masih termasuk dalam bagian dari keluarga mereka karena ada darah keluarga Jin yang mengalir di dalam tubuh Guntur.
" Jaga bicaramu Shi'er! " ucap kakek Jin dengan tegas sambil menatap Jin Shi dengan tajam.
" Ayah kenapa sih? Mana mungkin si gembel itu bagian dari keluarga kita... Secara keluarga kita itu keluarga terhormat dan terpandang, " ucap Jin Shi semakin kesal.
" Adik Shi... Bun'er memang masih bagian dari kita karena dia cucu dari cici Yue, " ucap Jin Fang dengan sabar.
Jin Fang memang memiliki sifat yang sangat sabar, ramah dan sangat royal kepada keluarganya.
Berbeda dengan Jin Shi yang memiliki sifat cukup angkuh, sombong dan keras kepala.
Padahal kakek Jin mendidik semua anak-anaknya itu sama dan setara, tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya.
" Aku tidak percaya jika dia itu cucu cici Yue.... Pasti dia mengada-ada atau berpura-pura menjadi bagian dari kita untuk menguras harta keluarga kita..., " ucap Jin Shi.
Mendengar ucapan Jin Shi yang cukup pedas itu, kakek Jin begitu murka dengan Jin Shi begitu juga dengan Jin Shu.
Sedangkan Jin Fang hanya menghela nafas dalam saja.
Namun ketika kakek Jin ingin mengucapkan sesuatu begitu juga dengan Jin Shu, tiba-tiba terdengar suara Guntur dibalik pintu dapur.
" Biarkan saja... Mungkin nenek Shi sedang kelelahan, " ucap Guntur sambil berjalan ke arah mereka.
Jin Shi yang langsung menoleh ke sumber suara itu geram melihat Guntur.
" Apa? Nenek? Siapa yang kau panggil nenek? Lagi pula ngapain lagi kau kesini? Pergi sana... Disini bukan tempat gembel sepertimu! " ucap Jin Shi dengan geram dan sedikit berteriak.
" Shi--" ucap kakek Jin terpotong.
__ADS_1
" Iya-iya aku juga mau pamit ini makanya aku kemari... Kakek, kakek Fang, kakak Shu, nenek Shi dan semuanya aku pamit, " ucap Guntur sambil tersenyum cerah.
Sontak saja semua yang ada di ruangan itu terkejut kecuali Jin Shi.
" Ohh... Baguslah kalau begitu..., " ucap Jin Shi sombong sambil melipat kedua tangannya ke depan.
" Tidak... Kau tidak boleh pergi dulu..., " ucap kakek Jin.
" Bun'er... Kenapa? " ucap Jin Shu.
Sementara Jin Fang dan yang lainnya hanya terdiam.
" Yaahhh kan aku sudah menepati janjiku untuk menginap semalam disini lagi pula aku tidak bisa meninggalkan Anisa dan anak didikku lebih lama di padepokan, " ucap Guntur yang masih tersenyum.
Guntur pun langsung menggunakan kekuatan mata aksaranya walau hanya satu detik pupil matanya menjadi putih, namun itu sudah cukup untuk membekukan semua orang yang ada di ruangan itu.
Setelah itu, Guntur mendekati kakek Jin dan mengeluarkan delapan kitab usang dan beberapa botol pil yang berisikan 10 butir di setiap botolnya.
" Kek aku sudah mempelajari semua yang ada di sana, jadi ini untuk kakek dan semuanya, dan untuk kakek segeralah untuk latihan tertutup, " ucap Guntur sambil menaruh semuanya di atas meja makan.
Setelah mengatakan itu, Guntur berjalan dengan santai sambil tersenyum.
" Aku pergi dulu...., " ucap Guntur dengan cengengesan.
" Siing "
Guntur langsung menghilang begitu saja di hadapan semua orang yang ada disana.
Itu karena Guntur menggunakan teleportasinya untuk kembali ke padepokan pancanaka.
Setelah itu, tiba-tiba mereka semua dalam kegaduhan.
" Astaga... Tubuhku akhirnya bisa bergerak, " ucap Jin Fang.
" Entah kenapa aku merasa tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali bahkan mulutku juga susah untuk berbicara, " ucap Jin Shi.
Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tidak tahu jika Guntur menggunakan kekuatannya untuk melakukan itu semua.
Namun, kakek Jin hanya terdiam saja sambil menatap Jin Shi dengan tajam.
Kakek Jin ingin marah dan memberikan hukuman untuk Jin Shi tapi sebelum Guntur pergi, Guntur sempat berbicara di dalam telepatinya kepada kakek Jin untuk tidak marah dan menghukum Jin Shi karena Jin Shi masih belum tahu siapa Guntur sebenarnya.
Lalu, kakek Jin menatap semua peninggalan Guntur untuknya dan yang lainnya.
Saat membaca apa yang tertulis pada semua barang itu, kakek Jin langsung melebarkan matanya.
" I-ini..., " ucapnya dengan gugup dan terkejut.
" Ada apa ayah? " tanya Jin Fang yang mengetahui jika ayahnya itu sedang gugup dan terkejut.
" Se-semua ini adalah kitab level surgawi dan..., " ucap kakek Jin.
" Hah? " ucap semua orang terkejut.
Lalu dengan cepat juga kakek Jin membuka salah satu botol pil yang diberikan oleh Guntur.
Setelah terbuka, semua orang yang ada di sana mematung karena terkejut dengan aroma pil yang begitu harum itu.
" Pil tingkat 9! " ucap semua orang dengan serentak.
" A-ayah... Pi-pil apa itu ayah? " tanya Jin Fang yang gemetaran di seluruh tubuhnya.
" Pil Teratai Surgawi level 9! " ucap
" APA!!! "
***
" Assalamualaikum, " salam Guntur ketika muncul di samping istri tercintanya.
Saat ini, Anisa sendiri berada di gubuk mewahnya dan sedang memasak untuk sarapannya.
Tentu Anisa sendiri menyadari jika Guntur akan datang dengan teleportasinya karena saat selesai sujud subuh, Guntur sempat memberitahu jika akan pulang saat matahari mulai terbit di ufuk timur.
__ADS_1
" Wa'alaikum salam... Mas sudah pulang, " ucap Anisa sambil tersenyum dan mencium kening serta tangan kanan Guntur.
" Maaf ya kalau semalam tidak pulang, " ucap Guntur dengan lembut.
Anisa pun hanya tersenyum dan mengangguk saja untuk menjawab suaminya itu.
Beberapa saat kemudian, Anisa nampak risih karena Guntur terus melihatnya yang sedang memasak untuk sarapan keduanya.
" Mas... Jangan melihatku seperti itu, aku risih..., " ucap Anisa yang sedikit malu dengan tampilannya saat ini.
Saat ini Anisa sendiri hanya memakai kaos lengan panjang berwarna hijau polos yang sedikit ketat, celana kolor panjang berwarna hitam dan kerudung kecil berwarna hitam polos tanpa cadar.
Tampilan Anisa memanglah luar biasa biasa jika orang lain yang melihat pasalnya Anisa sendiri adalah seorang wanita bercadar yang selalu memakai pakaian besar.
Sehingga jika Anisa memakai pakaian yang seperti itu maka akan sangat nampak bagaimana keindahan seorang Anisa yang sangat menggiurkan dan menggoda, apalagi dengan kecantikan Anisa di atas rata-rata.
Namun, Guntur masih saja berdiri terdiam sambil menatap istrinya itu dengan tatapan penuh arti.
Sebagai seorang laki-laki normal, mana mungkin tidak senang saat melihat keindahan didepan matanya.
Tapi selama ini Guntur hanya dengan Anisa saja melihat dengan tatapan seperti itu. Jika itu orang lain maka dengan cepat Guntur mengalihkan pandangannya.
" Maaaasss.... Sudah di depan saja sana! Iiihhh, " ucap Anisa yang sedikit memerah pada wajahnya karena malu.
Guntur yang mendengar itu pun hanya tersenyum saja lalu menuruti istrinya untuk duduk di ruang tamu.
***
Malam harinya disebuah rumah desa yang nampak sepi karena semua warna yang ada di sana telah terlelap dalam tidurnya.
" Brakkkk "
" Uhuukk "
" To-tolong... Jangan bunuh anakku... Uhuukkk " ucap seorang jawara pintu ke 5 yang sedang mencoba untuk melindungi putri kesayangannya yang masih berusia 6 tahun.
" Hehehe kau lihat nak... Ayahmu sedang memohon untuk tidak membunuhmu... Padahal aku hanya akan mencari bibit-bibit jawara sepertimu...., " ucap seseorang yang sedang berjongkok didepan anak kecil yang masih sangat renta dan memainkan jemari tajamnya di pipi kiri anak itu.
" Huaaa.... Ayahhhh..... Ayahhh..... Huaaa, " tangis anak kecil itu sambil tangannya mencoba untuk meraih wajah ayahnya yang sudah berlumuran darah.
" Kau benar-benar laknat...., " ucap jawara itu sambil mencoba untuk berdiri.
Pria malang itu merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat pertarungannya dengan seorang yang sedang berjongkok itu.
" Hoooooo..., " ucap orang yang berjongkok itu dengan singkat.
Lalu, dengan cepat orang yang sedang berjongkok itu menunjuk jawara itu.
Dengan sangat cepat sebuah kuku hitam tajam dari jari telunjuk itu memanjang dan menusuk jawara itu tepat di dahinya.
Seketika itu juga jawara itu telah gugur demi menyelamatkan putri malangnya itu.
Walaupun gagal namun usahanya yang sampai pada ajal menjemputnya pun dia tidak menyerah sama sekali.
"Yaa mati deh, " ucap orang itu dengan singkat.
Setelah itu dengan cepat orang itu langsung melesat dengan cepat sambil membawa seorang anak kecil untuk tumbalnya memperkuat kekuatannya sebagai seorang kajinan.
Disudut ruangan bekas pertarungan itu tengah muncul seorang gadis cantik yang berjalan dan menatap tajam mayat dari jawara itu.
" Sudah lebih dari 30 anak yang dia jadikan tumbal dan ratusan orang yang gugur ditangan mereka.... Sepertinya Kajin harus segera di bumi hanguskan, " ucap gadis itu sambil mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat.
Tiba-tiba datang sebuah pesan telepati dari seseorang yang sangat dia hormati terngiang didalam kepalanya.
" Ratakan Kajin sekarang juga... Yanci..."
Yanci pun langsung tersenyum mendengar pesan itu dari tuannya.
Sebenarnya Yanci sangat ingin menghancurkan Kajin dari dulu namun tuannya belum menginstruksikan untuk melakukan itu.
Sebagai seorang boneka, Yanci tidak bisa untuk melakukan itu, namun sekarang Yanci sungguh sangat bersemangat dan siap untuk menunjukkan taringnya untuk melenyapkan musuhnya itu.
Dengan tersenyum penuh arti, Yanci langsung menghilang menggunakan teleportasinya ke markas Kajin untuk menghapus keberadaan mereka.
__ADS_1