
Setelah perjalanan yang cukup jauh membuat seorang gadis yang beberapa hari yang lalu telah melangsungkan pernikahannya dengan orang yang sangat dia cintai dan sayangi itu masuk ke dalam gubuknya.
Perlahan tapi pasti Anisa membuka pintu gubuknya itu dengan perlahan " Assalamualaikum, " ucapnya memberi salam walaupun keadaan gubuknya itu tidak ada orang.
Anisa langsung saja berjalan ke kamarnya untuknya beristirahat. Setelah sampai, tubuh lelahnya itu langsung dia baringkan diatas kasur yang empuk serta nyaman " Lelahnya, " gumamnya pelan.
Sambil melihat langit-langit gubuknya yang terbuat dari gypsum itu, dia merenung sejenak. Gubuk milik Anisa sangat berbeda dengan gubuk milik suaminya itu. Jika kita melihatnya dari luar maka yang terlihat hanyalah gubuk yang terbuat dari susunan papan yang tersusun dengan rapi sedangkan untuk atapnya menggunakan asbes, nampak sederhana dan sedikit lebih bagus daripada milik Guntur. Namun, jika masuk kedalamnya sungguh berbeda yang mana didalam gubuk milik Anisa itu sangatlah mewah, itu dikarenakan lapisan pada dinding susunan papan tersebut adalah gypsum yang tertata dengan rapi yang mana akan terlihat seperti tembok yang terbuat dari bata dan semen.
Dinding gubuk milik Anisa itu dia cat berwarna putih bersih, nampak juga kaligrafi-kaligrafi yang tertempel pada dinding gubuk milik Anisa. Tidak hanya itu, bahkan diruang depan yang mana Anisa gunakan sebagai ruang tamu itu tertata beberapa sofa berwarna coklat yang empuk lagi nyaman bagi orang yang duduk disana serta satu buah meja cukup mewah yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat.
Lantai yang terbuat dari acian semen dan dilapisi dengan karpet plastik tapi cukup tebal berwarna silver, langit-langit yang terbentuk dengan layaknya rumah-rumah mewah berwarna putih dengan lampu gantung hias.
Kamarnya pun juga tidak kalah mewahnya dengan ukuran lebih lebar dari ukuran kamar milik Guntur. Kasur spring bed yang cukup lebar yang terlapisi dengan kain seprai bermotif bunga teratai senada dengan bantal gulingnya yang empuk lagi nyaman.
Lalu terdapat juga meja riasnya yang terbuat dari kayu jati dengan kaca yang cukup lebar juga kursi yang mana satu paket dengan meja rias tersebut dan Lemari kayu yang cukup lebar juga.
Ruang belakang yang berfungsi sebagai dapur juga tidak kalah mewah juga, dengan kitchen set sederhana tapi nampak mewah yang tersusun rapi, kompor listrik, lemari kecil yang tertempel di dinding, kulkas kecil dan disebelah kiri ruangan dapur tersebut juga terdapat kamar mandi dengan shower dan toilet duduk yang tersekat dengan mika buram. Walaupun begitu terdapat dua buah jendela disetiap ruangan bahkan di kamarnya sekalipun yang tertutupi dengan kain gorden.
Itulah gambaran gubuk milik Anisa yang sangat jauh berbeda dengan gubuk milik suaminya.
Dengan sedikit mengantuk tiba-tiba Anisa mengingat sesuatu " Astaghfirullah, kenapa aku bisa lupa jika aku akan memberikan itu kepadanya, " ucapnya sambil berguling ke samping melihat ransel yang masih tergeletak di depan lemarinya.
" Hmm... Nanti sajalah aku berikan, aku masih lelah, " gumamnya salam hati.
Malam harinya nampak Anisa keluar dari gubuknya sambil membawa bungkusan yang didalamnya terdapat sebuah kotak. Kotak itulah yang akan Anisa berikan kepada suaminya.
Berjalan dengan santai keluar dari kawasan wanita, saat Anisa masuk di kawasan trngah padepokan, Anisa melihat banyaknya murid berkumpul di sana tapi Anisa terus saja berjalan dengan santai dan menghiraukan murid-murid yang berkumpul itu.
Tiba-tiba Anisa mendengar suara laki-laki yang memanggilnya " Srikandi bercadar " teriak orang itu dengan cukup keras.
Anisa pun berhenti lalu menoleh ke belakang yang ternyata orang itu adalah Umar, juniornya di padepokan ini.
Umar pun menghampirinya dan Anisa pun hanya diam tanpa suara " Maaf kak, sore tadi kakak di cari guru Ragil dan menyuruh kakak untuk segera menemuinya, saat ini guru Ragil berada di kantor padepokan, " ucapnya sambil menatap Anisa dengan penuh kekaguman.
Tanpa bersuara Anisa langsung berbalik lalu berjalan menjauh dari umar untuk pergi ke kantor padepokan. Sedangkan Umar hanya melihatnya sambil menggelengkan kepalanya " Orang yang sangat dingin dan misterius, selama aku berada disini sejak 4 tahun yang lalu, aku belum pernah mendengar suaranya, apa dia itu bisu? Tidak mungkin! " gumamnya dalam hati.
" Oe.. Mar... Mau sampai kapan kau berdiri disitu? Lebih baik kau hati-hati dengannya jika kau tidak ingin masuk rumah sakit, ingat kau harus menang dalam turnamen kali ini! " ucap seseorang di belakang Umar.
Umar yang mendengar itu langsung berbalik dan mendapati temannya yang bernama Singgih " Hahaha, aku tidak akan kalah di turnamen kali ini, sebagai juara bertahan sekaligus murid peringkat pertama aku akan mempertahankannya, " ucap Umar dengan bangga.
Singgih yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya. Sebagai peringkat pertama dan juara bertahan 2 kali berturut-turut tentu siapapun akan merasa sombong. Jika pada turnamen kali ini Umar mampu mempertahankan prestasinya untuk memenangkan turnamen, tentu saja semakin tidak ada yang berani dengannya.
Dalam turnamen mendatang tentu murid-murid peringkat atas akan ikut serta dan mereka akan berusaha untuk menjadi yang terkuat di antara semua murid padepokan pancanaka.
Tentu saja itu akan menjadi tantangan tersendiri bagi Ridwan untuk menjadi pemenang. Akan tetapi tentu tidak akan mudah, pasalnya murid-murid peringkat atas tentu juga sangat kuat dan mereka rata-rata sudah membuka pintu ke 5 nya sebagai seorang jawara sedangkan Ridwan baru membuka pintu ke 3, perbedaan bagai langit dan bumi.
Disisi lain nampak Anisa yang sudah sampai di depan pintu kantor padepokan. Segera dia mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.
Setelah pintu terketuk segera seseorang membukakan pintu tersebut yang ternyata adalah Ragil " Masuk Nis, " ucapnya.
Segera Anisa masuk ke dalam kantor, lalu duduk di kursi yang sudah disediakan.
" Ada apa? " tanya Anisa langsung pada intinya.
Ragil berjalan ke arahnya lalu duduk di depan Anisa yang didepannya terdapat sebuah meja " Anisa, bapak memintamu untuk menjaga ibu saat turnamen besok, karena padepokan selain mengundang wali murid yang ikut dalam turnamen juga mengundang sesepuh dari padepokan Maruto Landep, Tongkat Emas, Kerambit Hitam dan beberapa padepokan lainnya... Kau tahu bahwa padepokan kita sempat memiliki konflik dengan padepokan Kerambit Hitam, " ucapnya.
***
10 tahun yang lalu padepokan pancanaka dan padepokan kerambit hitam terlibat konflik. Itu terjadi karena salah satu dari murid senior kerambit hitam tidak terima dengan kekalahannya di ajang turnamen antar padepokan.
Tentu kejadian itu membuat keributan yang cukup parah dan murid senior itu dengan penuh amarah dan dendam menyerang padepokan pancanaka beberapa hari kemudian setelah turnamen antar padepokan itu selesai di selenggarakan di padepokan Panca Wati.
Murid senior itu ternyata dibantu oleh 6 orang lainnya termasuk guru mereka juga. Saat itu hampir separuh dari padepokan pancanaka dilahap oleh si jago merah. Banyak dari murid padepokan pancanaka tewas karena itu.
__ADS_1
Aji dan Ragil yang saat itu berumur 18 tahun langsung bergegas kembali ke padepokan setelah mendengar kabar itu. Aji langsung menyuruh Ragil menggunakan kekuatan bayangannya supaya lebih cepat sampai di padepokan.
Benar saja hanya butuh beberapa menit saja Aji dan Ragil sampai di padepokan dan melihat hampir separuh padepokan hangus terbakat.
Saat itu Ragil langsung dilanda nafsu amarah yang memuncak saat melihat kondisi padepokan yang hancur hampir setengahnya, maka langsung menggunakan semua kekuatannya hingga semua orang di kawasan padepokan terkena ilusinnya termasuk 7 orang dari kerambit hitam.
Aji tidak melarang Ragil dan hanya membiarkan itu karena Aji tahu semarah-marahnya Ragil dia akan tetap sadar dan tahu batasannya.
Hanya beberapa detik saja orang-orang dari kerambit hitam itu berjalan mendekat ke arah Aji dengan linglung. Sedangkan Ragil yang masih dalam keadaan marah dengan tidak sabar menendang masing-masing dari mereka sampai terlempar di hadapan Aji yang menatap mereka dengan dingin.
" Ragil lepaskan mereka! " ucap Aji tegas.
Lalu Ragil pun melepaskan mereka dari jeratan ilusi miliknya. Setelah mereka tersadar, sontak mereka panik dan terkejut.
Aji menatap mereka seperti seperti harimau yang menatap mangsanya " Padepokan kerambit hitam... Kalian sudah merusak padepokanku, " ucapnya.
" Pak, 38 murid tewas, " ucap Ragil.
Seketika itu juga amarah Aji memuncak segera dia mengeluarkan kuku pancanaka miliknya. Tekanan seorang Legenda pun keluar dengan sangat kuat yang ditujukan kepada orang-orang dari kerambit hitam, seketika orang-orang dari kerambit hitam itu tersungkur dan tubuh mereka seperti tertimpa beban ratusan kilogram.
Tapi sebelum Aji mengeksekusi mereka tiba-tiba sesepuh dari padepokan kerambit hitam itu datang menyegah Aji " Hentikan Aji! " teriak sesepuh itu dengan keras.
Seketika Aji dan Ragil menoleh kearahnya dengan tatapan dan niat membunuh yang sangat kuat.
" Jangan mencegahku untuk mengeksekusi mereka karena kesalahannya, " ucap Aji penuh amarah.
" Aji, biarkan padepokanku yang akan menghukum mereka, itu adalah kesalahan kami yang telah gagal mendidik mereka dengan benar, " ucap sesepuh itu.
" Dengan apa kalian menghukum mereka? Penjara? Memusnahkan kekuatan mereka? Buka matamu dan lihatlah hampir setengah padepokanku hangus terbakar dan 38 muridku tewas.... "
" Astaghfirullah.... Baiklah kalau kau menginginkan mereka untuk di hukum aku berikan tapi aku dan Ragil akan ikut denganmu ke padepokanmu untuk melihat hukuman apa yang akan padepokanmu tentukan kepada mereka, jika aku jadi kau aku akan mengeksekusi mereka tanpa pandang bulu siapa mereka! " ucap Aji.
Setelah itu mereka lekas menuju ke padepokan kerambit hitam dengan kekuatan Ragil miliki. Dengan jurus bayangannya Ragil mampu melesat dengan sangat cepat.
" Baik, seret mereka di hadapanku! " ucap sesepuh itu.
Tidak lama, mereka sudah berlutut di depan sesepuh, Aji dan Ragil " Sesepuh Daeng... " ucap Aji dengan tegas.
Tapi bukannya segera untuk memberikan hukuman kepada mereka tapi malah berbalik dan menyerang Aji dan Ragil. Sontak Ragil dengan reflek menggunakan kekuatannya kekuatan bayangannya yang bernama jurus penjara bayangan.
" Penjara Bayangan : Ilusi senja! " gumam Ragil.
Seketika semua orang dari padepokan kerambit hitam mematung kecuali sesepuh Daeng. Sesepuh Daeng belum menyadari hal itu dan tetapenyerang Aji tapi Aji hanya melambaikan tangan kanannya saja seketika sesepuh Daeng terlempar beberapa meter didepan Aji.
" Padepokan ini benar-benar licik, aku sudah memberikan kalian kesempatan tapi kalian malah melakukan hal keji seperti ini, aku sudah menyadari hal ini sedari awal tapi aku mencoba berpikir positif kepadamu sesepuh Daeng, " ucap Aji dengan tenang namun tegas.
Sesepuh Daeng segera bangun dan menatap Aji sambil tertawa " Hahahaha... Kekuatan seorang legenda benar-benar berbeda.... Dari dulu kau tidak berubah Aji... Naif.... Itulah dirimu.... Hahahaha.... " ucap sesepuh Daeng.
Aji yang mendengar itu tersenyum " Aku naif? Lihatlah di sekitarmu... Tentu akan sangat mudah untukku menghancurkan padepokanmu ini, " ucapnya sambil menatap sesepuh Daeng dengan tajam.
Sesepuh Daeng langsung melihat di sekitarnya dan mendapati semua murid dan guru bahkan keluarganya terdiam mematung dengan wajah pucat dan menata ke atas yang mana ekspresi mereka sangat ketakutan, seperti sedang menatap malaikat maut yang siap mencabut nyawa mereka.
" I-ini.... Tidak mungkin! " ucap sesepuh Daeng tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
" Ragil, eksekusi mereka bertujuh! " ucap Aji dengan tegas sambil menunjuk mereka yang membuat kekacauan di padepokan pancanaka.
Ragil yang mendengar itu menganggukan kepalanya dan melempar 1 belati miliknya dengan cepat. Seketika belati tersebut melesat dengan sangat cepat dan langsung mengenai leher mereka. Saat belati itu kembali kepada pemiliknya barulah leher mereka terobek oleh belati tersebut dan segera darah segar menyembur dengan deras sampai-sampai mengenai sesepuh Daeng yang mana berdiri di depan mereka bertujuh.
Sesepuh Daeng melihat mereka yang terjatuh ke tanah tanpa nyawa tersebut langsung berlutut didepan mereka.
" Sesepuh Daeng... Apa kau mau semua murid, guru dan keluargamu bernasip sama dengan mereka? Ingatlah mereka hanya bertujuh sedangkan mereka telah mengeksekusi 38 murid-muridku tanpa tahu kesalahan mereka, apakah itu sebanding? " tanya Aji tegas.
Dengan penuh penyesalan sesepuh Daeng membalikan badannya menghadap ke arah Aji dan Ragil yang menatapnya dengan tataoan membunuh " Maafkan aku... Aku mengaku salah... Maafkan aku... Aku bersedia memberikan kompensasi untuk menebus mereka, " ucap sesepuh Daeng.
__ADS_1
Aji tersenyum mendengar itu dan bertanya kepada Ragil " Ragil... Apakah kau sudah mendapatkannya? " tanyanya.
Ragil mengangguk dan memberikan sebuah kotak yang cukup besar kepada Aji " Ini pak, aku juga sudah mengambil beberapa harta yang lain, " ucanya.
Aji yang menerima kotak itu langsung membukanya dan melihat sepasang kerambit hitam yang mana itu adalah salah satu harta terpenting di padepokan kerambit hitam yang menjadi lambang padepokan.
Seketika Aji mengambil kerambit itu dan menunjukkannya kepada sesepuh Daeng " Sesepuh Daeng, kerambit inilah yang akan menjadi kompensasi atas kesalahanmu dan beberapa harta yang lain didalam kotak ini, " ucapnya.
Seketika kedua mata sesepuh Daeng melebar " I-itu.... Ja-jangan ambil itu! Kalian boleh mengambil yang lain tapi jangan yang itu! " ucap sesepuh Daeng yang marah.
Aji tersenyum mendengar itu " Apakah sebuah harta lebih berharga daripada sebuah nyawa? " ucap Aji dengan tenang.
Lalu Aji menganggukan kepalanya kepada Ragil dan dalam sekejap Aji dan Ragil menghilang dibalik bayangan malam.
Seketika keadaan padepokan kerambit hitam kembali seperti semula. Semua orang yang ada disana berteriak terkejut saat melihat tujuh orang tergeletak tak bernyawa di belakang sesepuh Daeng.
Sesepuh Daeng hanya menunduk menahan amarah yang menggebu-gebu " Suatu saat nanti aku akan membalasmu dan mengambil kembali harta itu, aaaaaarrrggghhhh, " ucap sesepuh Daeng dengan memukul tanah sampai menciptakan sebuah lobang yang cukup beaar dan dalam.
Itulah dimana konflik yang terjadi antara padepokan pancanaka dengan padepokan kerambit hitam.
***
" Kak, bukankah kita sudah berdamai dan padepokan itu sudah meminta maaf akan hal itu? Bahkan mereka juga memberikan kompensasi atas kesalahan mereka? " tanya Anisa terkejut.
Ragil pun tersenyum mendengar pertanyaan Anisa " Anisa, memang benar kita sudah berdamai akan tetapi dibalik itu semua mereka masih tidak terima dengan pemberian kompensasi yang mana itu adalah salah satu harta terpenting yang selalu mereka jaga, maka dari itu mereka ingin harta itu kembali ke padepokan mereka mengingat padepokan kerambit hitam adalah padepokan yang cukup kuat dan menduduki peringkat ke 3 dari semua padepokan yang ada, " ucap Ragil.
" Kau benar kak tapi harta apa itu kak? " tanya Anisa penasaran.
" Kerambit Hitam... Kerambit itu bukan sembarang kerambit, itu karena kerambit itu adalah kerambit pertama yang diciptakan di Bumi Nusantara ini yang mana menjadi simbol dari padepokan mereka, juga di kerambit itu terdapat pola aksara yang mana itu mampu menambah kemampuan penggunanya sampai 30% dengan elemen ganda yaitu elemen kegelapan dan angin, " ucap Ragil dengan serius.
Mendengar itu, Anisa sangat terkejut mengingat bahwa senjatanya juga memiliki kemampuan tambahan pada penggunanya walaupun senjata milik Anisa jauh lebih kuat yang mana mampu menambah kekuatan hingga 7 kali lipat dari penggunanya.
" Lalu dimana kerambit itu kak? " tanya Anisa dengan serius.
" Saat ini hanya bapak dan ibu yang tahu dimana kerambit itu disimpan, " ucap Ragil.
" Lalu, kenapa padepokan mengundang mereka? Bukankah itu sama saja mengundang bahaya di padepokan kita? " tanya Anisa.
" Karena pemilik padepokan itu adalah keluarga Ridwan, " ucap Ragil dengan serius.
Sontak Anisa sangat terkejut mendengar itu. Anisa tidak menyangka bahwa Ridwan sebenarnya adalah anak dari pemilik padepokan itu.
Ragil melihat Anisa yang terkejut segera memberikan penjelasan kepada Anisa " Anisa, kau tenang saja, sebenarnya Ridwan sudah dibuang oleh keluarganya karena dia memiliki elemen yang berbeda dari mereka dan elemen Ridwan adalah api... Sedangkan mereka memiliki elemen kegelapan dan angin, karena hal itulah Ridwan dibuang oleh mereka, bagi mereka itu adalah aib yang harus disingkirkan, hanya bibinya saja yang membela Ridwan saat itu tapi setelah bibinya berpulang maka Ridwan sudah tidak ada lagi yang membelanya maka dibuanglah dia dan berakhir disini, awalnya kami tidak tahu masalah itu tapi bapak menyuruhku untuk mencari informasi siapa Ridwan dan yah seperti yang sudah dengar... "
" Maka dari itu bapak menyuruhku untuk memberikan amanah ini kepadamu karena tahun ini akulah yang menjadi wasit dalam turnamen kali ini maka aku tidak bisa melindungi ibu sedangkan Guntur akan menjadi pelindung bayangan dari padepokan ini, " jelas Ragil dengan serius.
" Apa!? Bahkan Guntur juga? " tanya Anisa terkejut.
Ragil mengangguk " Benar... Aku sudah memberitahu masalah ini dan menjelaskan semuanya kepada Guntur dan Guntur pun menerimanya bahkan Guntur sudah memiliki rencananya sendiri untuk masalah ini, jadi bagaimana Anisa? " tanya Ragil dengan serius.
" Jika itu keadaannya, baiklah aku akan melakukannya, " ucap Anisa yakin.
Ragil tersenyum mendengar jawaban dari juniornya itu " Dengan ini, semoga turnamen kali ini akan aman tanpa adanya masalah, " gumamnya dalam hati.
Setelah itu Anisa keluar dari kantor dan berjalan ke arah kawasan laki-laki. Saat sudah sampai, Anisa segera melesat dengan cepat dan senyap agar tidak ada yang mengetahuinya.
Gubuk Guntur nampak sangat sepi saat Anisa datang. Saat Anisa ingin mengetuk pintu gubuk itu, terdengar suara suaminya itu sedang bertadarus.
Suara yang begitu halus, jelas dan fasih, Anisa menghentikan niatnya untuk mengetuk pintu itu dan mendengarkan suaminya itu bertadarus " Aku tidak menyangka jika Guntur fasih membaca al-Qur'an, suaranya juga halus dan jelas, " gumamnya dalam hati.
" Sangat nyaman dan tenang, " ucap Anisa sambil duduk di kursi bambu teras depan gubuk milik Guntur dan memejamkan mata indahnya.
Saat sedang terhanyut dalam alunan kitab suci yang dibacakan oleh suaminya itu, tiba-tiba suara Guntur berhenti. Anisa tentu langsung membuka kedua matanya itu dan segera terkejut mendapati suaminya sudah didepannya melihat dirinya yang terkejut dengan senyuman.
__ADS_1
" Ma-mas... " Ucap Anisa terkejut.