
Ridwan yang tubuhnya sudah banyak lubang dengan gontai berdiri walau tidak setegap saat dirinya dalam kondisi prima, namun semangat dan niatnya untuk mencetak legendanya sendiri membuat dirinya sanggup bertahan sampai saat ini.
Siapapun yang melihatnya tentu tidak akan tega, darah yang terus keluar dari tubuhnya membuat pakaian dari kaos dan celana panjangnya menjadi serba merah.
Menatap keempat saudaranya dengan tatapan sayu dan ringisan rasa sakit yang luar biasa.
Pemberat tubuh yang sudah dia lepas dan melakukan berbagai jurus sampai jurus andalannya tombak pandawa pun tidak mempan kepada mereka.
Sedangkan untuk para saudaranya pun masihlah utuh dan seolah tidak memiliki rasa lelah.
" Apakah aku menyerah saja? Tidak... Tidak ada didalam kamusku untuk menyerah walau aku sudah tidak memiliki tangan dan kaki bahkan kepala sekalipun..., " gumamnya pelan.
" Bagaimana Ridwan? Apakah kau menyerah? " ucap Ridwan merah sambil memainkan tombaknya.
" Orang sepertimu tidak layak mendapatkan kepercayaan dari kami, lebih baik kau mati..., " ucap Ridwan hijau yang langsung menyerang Ridwan.
Sreett...
Slasshh...
Slaasshh...
Slasshh...
Slasshhh...
" Aaaaaaaaarrrggghhhh...., " teriak Ridwan yang terjatuh terlentang.
Setelah beberapa detik, Ridwan tidak lagi merasakan sakit pada tubuhnya karena kedua tangan dan juga kakinya sudah tidak lagi bersatu pada dirinya.
Dia hanya bisa tergeletak terlentang sambil menatap langit-langit bebatuan gunung berapi.
Air mata yang keluar di kedua matanya dan sedikit kram pada tubuhnya membuatnya tergeletak begitu saja.
Namun walau dengan keadaan seperti itu, semangat dan niat akan tekad Ridwan masihlah membara dan sangat kuat.
Disaat dirinya sedikit merenung, dia teringat akan kata kepercayaan dari saudaranya, Ridwan hijau.
Seketika itu juga Ridwan seperti mendapat pencerahan dari kata kepercayaan.
" Ahahahaha...., " gelak tawa Ridwan yang mengejutkan semuanya orang entah itu keempat saudaranya maupun orang yang sedang menyaksikannya dengan putus asa.
" Kenapa kau tertawa? " tanya Ridwan biru heran.
" Hahaha... Aku tertawa bukan karena rasa sakit ataupun kehilangan kedua tangan dan kakiku melainkan karena kalian, " ucap Ridwan dengan tenaga terakhirnya.
" Apa maksudmu?! " tanya Ridwan merah.
" Hahahha... Jika aku mati kalian juga akan musnah, maka dari itu sebelum aku mati dan kalian musnah, aku ingin sekali untuk mengucapkan sesuatu kepada kalian..., " ucap Ridwan yang semakin melemah.
" Katakan?! " ucap Ridwan Biru.
" Mulai saat ini aku sangat mempercayai kalian sepenuhnya seperti aku mempercayai mas Gun selayaknya keluargaku sendiri..., " ucap Ridwan yang pandangan matanya mulai menggelap.
Seketika itu juga keempat tubuh saudara Ridwan bersinar terang lalu melesat mengelilingi Ridwan.
" Dasar bocah sialan...! " ucap Ridwan merah yang langsung masuk kedalam tubuh Ridwan.
" Merepotkan...!" ucap Ridwan hijau yang langsung masuk kedalam tubuh Ridwan.
" Keparat kau bocah! " ucap Ridwan biru yang langsung masuk kedalam tubuh Ridwan.
Sedangkan Ridwan putih menatap Ridwan sambil tersenyum.
" Disaat seperti ini biasanya orang akan mempercayai satu sama lain untuk terus bertahan hidup dan menggapai masa depan yang cerah..., "
" Tapi masa depanmu akan dihiasi dengan banyaknya pertarungan bahkan peperangan..., "
" Sebagai salah satu pamong terkuat di Bumi Nusantara di masa depan, kau layak mendapatkan semua angan dan citamu..., "
" Teruslah berjuang dan menjadi semakin kuat lagi, Ridwan Sang Api Pandawa.... Kami percaya kepadamu..., " ucap jelas Ridwan putih lalu masuk kedalam tubuh Ridwan.
Dengan masuknya kembali keempat saudara Ridwan dan memperoleh kepercayaan mereka, penglihatan Ridwan tiba-tiba menjadi terang dan jelas.
Hawa murni tiba-tiba menguat dan menebal disekitar Ridwan.
Lalu, hawa murni itu masuk kedalam tubuh Ridwan dengan paksa secara cepat yang membuat tubuhnya mengejang hebat.
Sadar akan hal itu, Ridwan yang mendapatkan kembali kesadarannya langsung berteriak dengan kencang.
" Aaaaaarrrggghhg.....! " teriak Ridwan dengan kuat.
Tubuh yang berlubang mulai meregenerasi kembali, kedua tangan dan kakinya pun mulai tumbuh kembali secara utuh dan sempurna.
Hingga disaat semua sudah selesai, tubuh Ridwan melayang beberapa meter lalu terdengar suara ledakan teredam pada tubuhnya.
Boom...
Seketika itu juga ledakan kuat dari ledakan itu membuat daya kejut yang sangat kuat.
Tubuh Ridwan yang semula hanya melayang tiba-tiba terlihat api hitam yang menyelimuti tubuhnya.
Sedikit demi sedikit nampak goresan-goresan selayaknya retakan pada tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala Ridwan yang berwarna merah gelap namun sangat jelas.
__ADS_1
Hingga saat sampai pada keningnya, muncul sebuah seperti tato berbentuk api berwarna hitam kemerahan.
Seketika Ridwan pun yang semula memejamkan matanya dengan pelan membuka matanya yang nampak iris mata hitam kecoklatan lama-kelamaan menjadi merah kehitaman.
Aura pintu ke 6 terpancar kuat dan mengerikan dari dalam tubuh Ridwan.
Setelah itu, dimensi kaca yang mengurung Ridwan pun retak dengan cepat lalu pecah sempurna.
Pyarrr...
Seketika semua orang yang melihat Ridwan yang sedang melayang dengan kondisi seperti itu merasa senang pada diri mereka namun juga tertekan kuat dan merinding karena aura abnormal dari sosok Ridwan.
Tapi saat semuanya merasa senang akan keberhasilan Ridwan, tiba-tiba tubuh Ridwan terjatuh dari ketinggian karena pingsan saat tubuhnya melayang yang membuat kepanikan dari semua orang.
Seketika Guntur mengeluarkan akar-akar yang digabungkan dengan elemen cahayanya untuk menangkap Ridwan dan menyembuhkannya karena kondisinya yang sangatlah lemah dan lemas.
Setelah itu Guntur kembali fokus kepada keempat orang yang belum berhasil pelatihan terlarang mereka.
***
Rasa sakit yang luar biasa dan juga penderitaan dialami semua murid Guntur dan juga Anisa.
Umar yang saat ini juga sudah diambang batas pun mencoba untuk bertahan walaupun semua tenaga dan kekuatannya telah habis terkuras.
Dengan nafas pendeknya, Umar terus menatap tajam keempat saudaranya walaupun tubuhnya sudah tidak beraturan karena terluka parah dan darah terus mengalir keluar namun semangat juang, niat dan tekatnya begitu kuat sama seperti Ridwan, semua itu terpancar jelas di mata Umar.
Berbeda dengan Ridwan yang sedikit ragu dan mempunyai rasa putus asa dan menyerah walau hanya beberapa detik tapi Umar tidak memiliki itu semua.
Sebagai seorang cucu dari salah satu tujuh pilar siswa yang paling keras yaitu Werang Sang Dewa Tombak, Umar dididik dengan sangat keras dari kecil yang tidak mengenal kata menyerah ataupun berputus asa.
Beberapa saat Umar merenung teringat akan masa lalunya dengan sang kakek yang terus menerus menggojloknya dengan keras walaupun tidak sekeras Guntur pada saat melatihnya tapi sangat berkesan pada dirinya.
Dengan berlahan, Umar menegakkan tubuhnya lalu terdiam sambil menatap mereka.
" Hooo sudah mau mati tapi masih saja bersikap seperti itu, " ucap Umar merah.
Kata-kata pedas terlontar yang membuat siapapun akan terkena mental namun tidak untuk Umar.
Umar yang mendengar itu pun tersenyum tipis lalu dengan berlahan mengambil nafas panjang lalu dihembuskannya secara berlahan pula.
Dari sana Umar kembali teringat dengan bagaimana dirinya berlatih sejak kecil sampai menjadi murid Guntur.
Kerja sama, kekeluargaan, senang, bahagia, sedih, duka, semua dia lakukan bersama Ridwan dan yang lainnnya.
Sampai-sampai dirinya sangat mempercayai Guntur sebagai guru bahkan keluarganya sendiri.
Dengan adanya kenangan itulah secara tidak sadar dirinya membuang semua nafsu angkara yang ada hanyalah rasa syukur yang sangat besar.
" Baru kali ini aku merasakan semuanya disaat aku sedang diambang batasku... Hmm... Mereka adalah aku dan aku adalah mereka yang secara otomatis aku sangat mempercayai diriku sendiri lalu secara langsung pula juga mempercayai mereka..., " pikirnya.
Setelah sampai, Umar langsung memeluk Umar putih dengan erat.
" Terima kasih sudah menjadi bagian dariku..., " ucap Umar pelan.
Sedangkan Umar putih langsung tersenyum mendengar ucapan Umar.
" Apa kau sudah merasakannya? " tanya Umar putih.
" Yaa... Kepercayaan... Jika aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri aku juga tidak bisa mempercayai kalian... Sekarang kepecayaan itu mulai tumbuh dihatiku untukku dan kalian semua, " ucap Umar dengan pandangan yang mulai menggelap.
Tiba-tiba keempat saudaranya memancarkan cahaya lalu masuk ke dalam tubuh Umar secara bergiliran.
Namun sebelum masuk kedalam tubuh Umar, mereka tersenyum lega karena telah mendengar dan merasakan akan kepercayaan pada diri Umar kepada semuanya.
Umar putih yang memang masuk lebih akhir pun sebelum masuk ke dalam tubuh Umar sempat berkata kepada Umar.
" Sebagai salah satu pamong terkuat di Bumi Nusantara di masa depan, kau harus lebih kuat lagi..., "
" Takdirmu dan jalanmu masihlah panjang untuk bisa meraih semua angan dan citamu..., "
" Terima kasih sudah mempercayai kami sebagai bagian dan keluargamu... Kami akan terus ada untukmu, Umar Sang Pedang Angin..., " ucap Umar putih sebelum masuk kedalam tubuh Umar.
Dengan masuknya keempat saudaranya, Umar merasakan sesuatu yang sangat besar pada tubuhnya.
Disusul juga dengan hawa murni yang sangat kuat berkumpul disekitar Umar lalu masuk kedalam tubuh Umar secara paksa.
Setelah selesai, terdengar suara ledakan teredam pada tubuhnya yang menandakan pintu ke 6 nya terbuka secara sempurna.
Lalu tiba-tiba dipunggung Umar nampak semburat sepasang sayap burung elang transparan dari elemen anginnya.
Terdapat juga siluet burung elang dibelakang tubuh Umar dengan jelas berwarna biru kehitaman.
Iris mata coklat kehitaman menjadi oren dengan dihiasi titik hitam legam ditengah pupil orennya.
" Uuuaaaarrrggghh...., " teriak Umar dengan lantang yang mengakibatkan terciptanya gelombang kejut yang sangat kuat lalu Umar pun terbang memutari area tempatnya menjalani pelatihan dengan sangat cepat bahkan nampak menghilang bagi mereka orang awam atau jawara-aksara dibawah pintu ketujuh.
Setelah itu barulah Umar berhenti karena tubuhnya sangatlah lemas dan sangat lelah.
Dengan terjatuhnya Umar di ketinggian yang dibarengi dengan keadaan pingsannya, area tempat Umar pun terpecah dengan sempurna.
Guntur yang selalu sigap pun juga langsung mengeluarkan akar-akar dan elemen cahaya miliknya untuk menolong Umar.
***
__ADS_1
"Aku tidak menyangka jika Julian, Ridwan dan Umar berhasil menjalani pelatihan terlarang itu..., " ucap Aji yang selalu senantiasa menemani latihan para monster padepokan pancanaka.
" Benar pak... Aku juga yakin jika mereka bertiga juga segera untuk menyusul untuk keberhasilan mereka..., " ucap Ragil yang kagum dengan para murid Guntur dan Anisa.
" Mas... Ini sudah hari keempat dan mereka bertiga belum juga berhasil dan terlihat jika mereka sudah diambang batas, " ucap Lastri khawatir.
" Disamping aku juga senang aku juga khawatir dengan mereka bertiga tapi yakinlah jika mereka juga akan segera menyusul, " ucap Aji menenangkan Lastri.
Panca Soka yang melihat dengan jelas bagaimana pelatihan terlarang itu dari awal sampai saat ini pun semakin kagum dengan para juniornya yang bahkan mungkin mereka akan sangat melampaui Panca Soka.
Gea yang masih terdiam menatap Guntur bahkan tidak bergeming sedikitpun bagaikan sebuah patung namun ada kenyataannya jika Gea telah membagi penglihatannya dengan nona nya yaitu Husna yang sampai saat ini masih terdiam di gubuk mbah Pahing.
Sedangkan Anisa sendiri juga terdiam sambil terus menatap Guntur dan para muridnya yang belum juga berhasil.
Entah kenapa, Anisa merasa jika Gea atau Husna hanya peduli dengan Guntur saja sedangkan untuk mereka yang sedang menjalani pelatihan terlarang tidak.
Anisa sempat dibuat kesal oleh Gea yang terus menatap Guntur namun dengan kembalinya menatap Guntur dan murid-muridnya yang sedang berlatih, dirinya membuang semua itu dengan cepat.
" Mereka lebih penting daripada dia yang hanya menatap Guntur seperti itu..., " pikir Anisa.
***
Di gubuk tempat Husna sekarang terduduk diam merasakan apa yang Anisa rasakan saat ini.
" Maafkan aku saudariku Anisa.... Tapi aku yakin mereka akan berhasil mengingat mereka adalah muridmu dan Guntur tapi keadaan Guntur jauh lebih penting daripada mereka..., "
" Aku takut jika sampai Guntur tumbang maka mereka akan tewas seketika karena dampak dari latihan terlarang itu dan dimensi itu..., "
" Aku tahu jika kau mungkin sangat kesal dan cemburu tapi kunci dari pelatihan itu bukan dari kepercayaan mereka terhadap saudara mereka tapi Guntur karena pelatihan itu akan menguras semua tenaga, pikiran, mental dan kekuatan Guntur untuk terus mempertahankan kesadarannya..., " ucap Husna dalam hati.
Setelah beberapa saat kemudian, mbah Pahing berjalan mendekati Husna lalu duduk disampingnya.
" Nduk... Kau kenapa? Sudah 4 hari kau terdiam seperti ini, " tanya mbah Pahing.
" Maafkan aku nek tapi saat ini Guntur sedang melatih murid-muridnya dengan metode pelatihan terlarang dan itu 7 orang sekaligus walaupun satu diantara mereka sudah pernah mendapatkan pelatihan itu, " ucap Husna.
" Hah? Apa kau serius nduk? " tanya Mbah Pahing terkejut.
" Mana berani aku berbohong nek, " ucap Husna.
" Astaga itu anak... Kenapa jadi nekat begitu..., " ucap Mbah Pahing.
Mbah Pahing sangat tahu bagaimana melakukan pelatihan itu sebagai pelatihnya karena Guntur dan Husna Mbah Pahing sendiri yang melatih mereka.
Pelatihan itu akan membuat sang pelatih akan sangat tersiksa karena tenaga, kekuatan, pikiran bahkan mentalnya juga ikut merasakan semuanya.
Satu orang saja akan sangat beresiko jika terjadi kesalahan walau sedikit saja tapi yang Guntur lakukan benar-benar diluar batas kemampuan seorang aksara yang pernah mengalami pelatihan itu dan melatih muridnya.
" Lalu bagaimana sekarang? " tanya Mbah Pahing yang sangat mengkhawatirkan cucunya.
" Hanya tinggal 3 orang saja nek tapi aku yakin mereka juga akan berhasil tapi aku lebih khawatir dengan Guntur nek..., " ucap Husna yang entah kenapa semakin cemas.
" Lebih baik kita kesana saja nduk, " ucap Mbah Pahing.
" Tidak nek... Aku sangat percaya dengan Guntur, terlebih disana juga ada Anisa jadi sewaktu-waktu dirinya akan membantu Guntur dengan menyatukan kekuatannya jika terjadi sesuatu pada Guntur, " ucap Husna sambil memegang kedua tangan Mbah Pahing.
" Hmm... Apa kau tidak mau kesana? " tanya Mbah Pahing.
Husna hanya menundukkan kepalanya saja dan seketika Mbah Pahing tahu maksud dari Husna.
" Sabar nduk... Aku tidak pernah mengalami apa yang kau rasakan terhadap orang yang akan berbagi tapi ketahuilah jika Guntur akan sangat adil terhadap kalian nantinya, " ucap Mbah Pahing menenangkan Husna.
***
" Hohoho... Anak manja itu ternyata sudah membuka pintu ke 6 nya, tapi kenapa sangat berbeda dengan pintu ke 6 pada umumnya? " ucap seorang pria yang terlihat sangatlah garang sambil terduduk di singgasananya dan memegangi sebuah tombak berwarna biru keemasan.
" Kakek Werang, ada apa? " tanya seorang gadis cantik yang juga duduk disamping seorang pria yang ternyata adalah Werang Sang Dewa Tombak, salah satu dari Tujuh Pilar Siswa yang melegenda.
" Adikmu Umar sudah membuka pintu ke 6 nya nduk..., " ucap Werang sambil tersenyum.
" Hah... Serius kek? " tanya gadis itu yang ternyata adalah kakak kandung dari Umar yang bernama Anggita.
" Iya nduk tapi kakek merasakan jika auranya sangat berbeda dengan pintu ke 6 lainnya, " ucap Werang.
" Ehh... Kenapa bisa begitu kek? Hmm... Jangan bilang kalau ke abnormalannya mempengaruhi aura itu, " ucap Anggita yang memang sudah tahu sedari kecil jika Umar itu jawara abnormal sama seperti dirinya.
" Bisa jadi seperti itu nduk... Beberapa bulan yang lalu Aji mengatakan jika adikmu dilatih oleh salah satu dari keluarga Samudra yang sangat abnormal jadi mungkin juga hal itulah yang mempengaruhi adikmu saat ini, " jelas Werang.
" Hmm... Aku jadi penasaran seabnormal apa dimas sekarang kek, " ucap Anggita.
" Heleh... Kita akan tahu saat turnamen antar padepokan satu bulan lagi nduk, " ucap Werang.
" Ehh... Apakah dimas ikut dalam turnamen itu kek? " tanya Anggita penasaran.
" Ya... Yang akan mewakili Padepokan Pancanaka adalah mereka yang dilatih oleh orang dari keluarga Samudra itu... Kakek yakin jika mereka juga sama abnormalnya dengan adikmu, " ucap Werang.
" Hehehe aku tidak sabar seperti apa mereka kek, " ucap Anggita.
" Nduk... Aku tahu bahwa kau dan rekan satu timmu juga para jawara abnormal tapi kau jangan meremehkan mereka dari Padepokan Pancanaka karena padepokan itu telah banyak melahirkan para monster jawara dan juga jangan meremehkan padepokan lainnya... Kakek tidak mau jika kau akan membuat malu dirimu dan Padepokan Gunung Lumpeng kita ini, " jelas Werang.
" Aku tahu aku tahu... Tenang saja kek yang jelas aku akan serius untuk bertarung jika lawanku besok adalah dimas... Hehehehe, " ucap Anggita sambil cengengesan.
" Hahhhhhh terserah kau saja tapi ingat semua pesan kakek..., " ucap Werang lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Anggita yang tengah duduk sendiri di ruangan itu.
__ADS_1
" Hehehe... Para Monster Pancanaka... Kami tidak akan takut kepada kalian dan ketahuilah kami para monster Gunung Lumpeng yang siap untuk mengakahkan kalian terutama kau dimas... Kakakmu ini sangat menantikan dan sangat merindukanmu.... Hihihi, " ucap Anggita sambil tersenyum penuh misteri.