
Jin Juan yang sangat akrab dipanggil dengan kakek Jin itu benar-benar memiliki dendam yang sangat besar kepada Winga.
Di pertempuran terakhirnya puluhan tahun yang lalu saat negeri ini masih dalam jajahan, keluarga Jin telah dikalahkan oleh Winga dengan menewaskan puluhan orang dari keluarga Jin dan ribuan murid.
Dulu, keluarga Jin memiliki sebuah padepokan khusus untuk para kultivator bernama Sekte Jin.
Bahkan sekte itu telah memiliki ribuan murid dari berbagai belahan dunia dan menjadi salah satu sekte besar didunia.
Namun semua itu hancur dalam satu malam oleh Winga yang bekerja sama dengan Raja Angkara.
Dengan bergabungnya Winga dengan Raja Angkara, maka kekuatannya benar-benar luar biasa kuat.
Dari kejadian itulah Winga memperoleh kekuatan yang sangat mengerikan karena menyerap ribuan tumbal beserta kekuatannya.
" Wingaaaaa!!! " teriak kakek Jin yang langsung menghilang dari pandangan.
Winga yang belum seutuhnya berdiri tegap itu kembali terlempar 20 meter akibat serangan dari kakek Jin dengan tendangannya.
Tidak berhenti sampai disitu, kakek Jin kembali menendang Winga kembali sehingga Winga menjadi bulan-bulanan kakek Jin.
Ratusan bahkan ribuan serangan dilancarkan kakek Jin yang hanya dalam kurun waktu satu menit.
Sedangkan Yanci dan yang lainnya hanya bisa menonton pertarungan itu dengan perasaan campur aduk.
Senang karena mendapatkan bantuan yang sangat kuat namun juga kesal karena mereka tidak bisa membantu banyak.
Tiba-tiba Winga berhasil menangkap kaki kanan kakek Jin saat akan menendangnya lalu melempar kakek Jin dengan sangat kuat.
" Booom "
Kakek Jin yang terlempar itu berhenti saat dirinya menabrak sebuah pohon besar.
" Uhhuukk "
" Sialan, " gumam kakek Jin.
Tubuhnya terasa sangat sakit akibat dilempar oleh Winga.
Kini, Winga yang menatap tajam kakek Jin itu berkomat-kamit sehingga area pertempuran itu menjadi lebih mencekam dengan aura kajinan puluhan kali lebih kuat.
Asap hitam kembali menyelimuti tubuh Wingga hingga kedua mata Winga menjadi merah menyala.
" Huuurrrrreaaaaa "
Winga berteriak sangat kencang dan meledakkan auranya sehingga kini nampak berbeda dari Winga yang sebelumnya.
Dengan tumbuh sepasang tanduk dan taring panjang, tubuh yang membesar dan semakin berotot bahkan bulu-bulu hitam nampak tumbuh lebat di tubuh Winga.
" Aku tidak menyangka jika aku harus menggunakan penggabungan dengan salah satu Jin yang aku kontrak, Jin Juan... Hari ini, kau harus mati! " ucap Winga dingin sambil mengangkat tangan kanannya.
Dari telapak tangan winga yang terangkat itu muncul bola energi berwarna hitam keunguan yang begitu besar.
Sontak saja tekanan gravitasi pada area pertempuran menjadi berlipat-lipat ganda.
Bola energi itu semakin bertambahnya waktu semakin membesar dan kini bola energi itu sudah menjadi sebesar separuh dari stadion bola di negeri ini.
Dengan kilatan petir yang terdapat pada bola energi itu, semakin nampak kekuatan yang bahkan sanggup melenyapkan kota Batavia itu sendiri.
" Mati! " ucap Winga dingin yang langsung melemparkan bola energi itu ke arah kakek Jin yang berlahan berdiri.
Bola energi itu melesat cepat hingga tepat dihadapan kakek Jin yang sudah siap untuk menghalau bola energi itu, tiba-tiba muncul seorang gadis didepannya.
" Alisa? " gumam kakek Jin menyadari jika gadis itu adalah salah satu dari keluarga Samudra.
Tanpa berkata-kata, Alisa menghisap bola energi itu dengan sangat cepat sampai bola energi itu hilang terserap oleh gadis itu lalu menghilang tanpa jejak sedikitpun.
" Ehh "
Nampak raut wajah kebingungan pada semua orang termasuk Winga yang mengerutkan keningnya.
Setelah itu, Yanci dan semua boneka langsung menoleh ke tempat Alisa yang pingsan namun mereka tidak menemukannya.
__ADS_1
" Alisa, " ucap Yanci dan yang lainnya.
Saat bola energi itu terbentuk, kesadaran Alisa langsung kembali dan menatap bola energi itu dengan berbinar lalu tersenyum.
" 300 tumbal... Aku tidak boleh melewatkan hal ini, " gumam Alisa yang langsung menghilang dan melesat dengan kecepatan tinggi untuk menghisap bola energi itu.
Alisa tidak menyadari jika bola energi itu sanggup untuk membuat kota Batavia itu sendiri porak-poranda, yang dia tahu hanyalah kekuatan yang sangat kuat dan juga sumber kekuatan yang sangat menggiurkan.
Sebagai pemilik kekuatan unik penghisap jiwa angkara dan kekuatan Ratu Betari, dirinya sanggup menghisap apapun yang berhubungan dengan kajinan asalkan sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya, kebetulan bola energi itu Alisa sanggup untuk menghisapnya.
Alisa yang langsung menghilang itu muncul kembali di samping para kajin yang masih tergeletak setengah sadar akibat serangan dari pedang besar Bai Hu milik kakek Jin yang mengandung kekuatan cahaya pemurnian dari salah satu tujuh artefak berbentuk pedang yang bersatu dengannya.
Dengan kecepatan tinggi, Alisa menghisap semua jiwa angkara mereka tanpa sisa bahkan para kajin itu sendiri tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk sekedar merespon.
Para kajin itu dalam hitungan detik, mereka kembali menjadi mayat yang kering yang mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat.
Setelah itu, Alisa menjauh dari area pertempuran untuk melakukan semedi sejenak agar kekuatan yang dia serap dapat segera dinetralisir oleh tubuhnya.
Sebenarnya bisa saja Alisa langsung membantu kakek Jin akan tetapi jika itu dilakukan maka semua energi yang dia serap akan sia-sia karena dikeluarkan kembali.
" Lagi pula aku tidak di izinkan oleh kak Guntur untuk membunuh dan hanya menyerap kekuatan mereka saja, " gumam Alisa yang percaya oleh kakek Jin dan para boneka untuk mengalahkan Winga.
Hal ini tentu tidak di sia-siakan oleh Jin Juan yang sudah tersulut oleh dendam, maka dengan kekuatannya yang sekarang, kakek Jin langsung mengerahkan semua kekuatannya untuk membalaskan dendam yang telah lama dia rasakan.
***
Dipadepokan Pancanaka, Guntur yang mengetahui kalau kakek buyutnya itu turun langsung untuk membantu mengalahkan Winga itu terkejut.
" Kakek Jin..., " ucap Guntur sambil tersenyum.
" Mas, " ucap Anisa yang mengetahui jika suaminya itu tiba-tiba tersenyum.
" Apakah kalian ingin melihat bagaimana pertarungan tingkat atas? " ucap Guntur kepada Ridwan dan yang lainnya.
Mereka yang mendengar itu langsung saja senang akan hal itu.
" Tapi ingat, apapun yang kalian lihat nanti kalian jangan sampai ikut campur dan ambil ilmu sebanyak-banyaknya dan hikmah dari pertempuran itu, " ucap Guntur dengan tegas dan serius.
***
Kini, Guntur telah berada diatas gedung tingkat 5 500 meter dari area pertempuran yang begitu mengerikan dan terlihat jelas oleh mereka.
Pertarungan yang sungguh mengerikan dimana energi mereka bertubrukan satu sama lain yang mengakibatkan ledakan dimana-mana.
Tidak sampai disitu, kitalan, benturan, sayatan pedang yang terus menerus terjadi.
" I-ini..., " ucap Ridwan ketakutan akibat aura dari seorang kajinan dan seorang kultivator ranah high Saint yang tinggal satu langkah lagi menuju ranah immortal.
" Beginikah pertarungan tingkat atas? " tanya Yuni yang ketakutan akan pertarungan itu.
Guntur pun mengangguk lalu menjentikan jarinya untuk membuat dimensi cermin.
Namun belum juga Guntur menjentikkan jarinya untuk membuat dimensi cermin, tiba-tiba sebuah cahaya putih melesat dengan cepat ke arah Winga hingga menciptakan sebuah ledakan yang sangat besar dan kuat.
" WINGAAAAAAA! " terdengar suara teriakan yang menggema dengan keras.
200 meter dari area pertarungan diatas pohon terlihat dengan jelas sepasang manusia dengan aura yang sangat kuat, lebih kuat dari Winga dan kakek Jin.
" Gu-Guru besar?! " ucap Ridwan yang bergidik ngeri.
Tanpa membuang waktu lagi, terlihat Aji langsung melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi untuk menyerang Winga yang bahkan Ridwan dan yang lainnya tidak bisa mengikuti gerakan itu.
" Srriiiing "
" Booom "
Terlihat Winga langsung terpental beberapa meter ke belakang dan wujudnya pun langsung kembali sepertu semula.
" Ugh... Sialan, hanya dengan serangan kecil saja jin kontrakku langsung tewas, jika sedikit saja aku terlambat untuk memisahkan diri dan menjadikan jin itu sebagai tameng, sudah pasti aku akan terluka lebih parah dari ini karena jin kontrakku tewas..., " gumam Winga dalam hati.
" Aaaarrrgghhhh..... Wingaaaa! " teriak Aji dengan amarah yang memuncak karena dendamnya.
__ADS_1
Setelah itu Aji langsung kembali menghilang untuk menyerang Winga.
Kakek Jin yang melihat menantunya yang seperti itu, segera untuk membantu menantunya untuk mengalahkan Winga.
Winga yang posisinya sudah tidak menguntungkan, dengan secepat kilat kembali bersatu dengan Jin kontraknya yang lain karena Winga memiliki tujuh Jin kontrak dan salah satunya adalah Raja Angkara.
" Huuuurrrrraaaaaaa " Teriak Winga yang langsung meledakkan auranya hingga membuat daya kejut yang sangat besar menghempaskan semua yang berada dalam radius 200 meter.
Kini nampak sosok bulu hitam legam dengan lidah menjulur panjang sampai ke dada, mata yang melotot merah, wajah yang rusak, kuku-kuku panjang dan terdapat kalung rmas yang melingkar dileher Winga.
" Bethara Kalung? " ucap Guntur yang melihat perubahan dari Winga.
" Huh? Apa itu mas? " tanya Ridwan yang bergidik ngeri.
" Bethara Kalung adalah raja dari Bethara Karang.... Lidah yang menjulur itu mengandung racun yang bisa membuat tubuh kita menjadi lebam lalu membusuk hanya dengan satu tetes dari air liurnya.... Juga, kukunya itu juga sangat tajam yang sanggup merobek bongkahan baja, " ucap Guntur.
Sontak saja penjelasan Guntur membuat Ridwan dan yang lainnya lemas dan jatuh terduduk.
" Disamping itu, kecepatan serangannya juga sangat mengerikan.... Jin tipe ini mengandalkan kecepatan serangan dan racunnya untuk menyerang musuhnya, " ucap Guntur lagi.
" Apa tidak ada kelemahannya? " tanya Anisa.
" Kalian lihat kalung emas yang melingkar di lehernya itu? Jika kalung itu dihancurkan maka dia akan kalah karena sumber kekuatannya ada disana, " ucap Guntur.
" Didunia ini banyak sekali misteri dan pengetahuan yang belum kita kita ketahui jadi dalam pertarungan ini kita bisa untuk membuka wawasan kita dalam melihat dunia dan melangkah ke depan, " ucap Guntur kembali.
Aji yang melihat perubahan Winga yang menjadi Bethara Kalung itu semakin geram, begitu juga dengan kakek Jin.
" Dasar manusia laknat! " ucap Aji yang langsung melesat ke arah Winga.
Kakek Jin pun juga tidak tinggal diam dan membantu Aji untuk menyerang Winga.
Nampak sudah ketiga sosok kuat namun berbeda kekuatan itu bertarung dengan kekuatan maksimal mereka.
Percikan api, kilat, asap hitam, bahkan asap ungu dari racun itu pun nampak jelas di area pertarungan.
Sedangkan Lastri ingin sekali untuk ikut bertarung menemani suaminya itu mengurungkan niatnya karena suara Guntur didalam pikirannya untuk tidak ikut dalam pertempuran secara langsung.
" Nenek, jangan ikut dalam pertarungan secara langsung karena aku mempunyai rencana untuk nenek, " ucap Guntur menggunakan telepati.
Setelah itu, dibawah kaki Lastri muncul pola aksara teleportasi dan langsung memindahkan Lastri ketempat Guntur berada, begitu juga dengan para bonekanya.
Diatas gedung itu, nampak banyak orang dari pihak Guntur yang mengamati jalannya pertarungan.
" Guntur, " ucap Lastri.
" Tuan, " ucap para boneka.
" Hmm... Nenek, gunakan jurus Jarum Sukma Raja dan kalian pulihan dulu tenaga kalian, " ucap Guntur dengan serius.
" Hah? Nak jurus itu sangat berbahaya dan membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk membuatnya menjadi sempurna, " ucap Lastri.
" Lakukan saja nek, aku juga akan membantu kakek Aji dan kakek buyut, " ucap Guntur sambil menjentikkan jarinya.
" Baiklah, " ucap Lastri yang langsung melakukan apa yang Guntur ucapkan.
Lalu secara perlahan muncul dua pola aksara yang sangatlah kecil.
Dengan cepat Guntur melesatkan kedua pola itu ke area pertarungan dengan tujuan Aji dan kakek Jin.
Setelah pola itu masuk kedalam tubuh Aji dan kakrk Jin, mereka berdua merasa jika kekuatan dan semua indranya nampak jauh lebih tajam dari sebelumnya dan juga tubuh mereka kembali bugar kembali.
" Guntur, " gumam Aji dan kakek Jin dalam hati.
Setelah mendapatkan kekuatan tambahan dari Guntur, Aji dan kakek Jin kembali menyerang Winga dengan kekuatan maksimal mereka yang sebelumnya mereka sempat tersudut dengan serangan Winga.
" Sriiiinggg "
" Booom "
" Booom "
__ADS_1