Perjalanan Guntur Samudra

Perjalanan Guntur Samudra
Sempurnanya Srikandi Aksara


__ADS_3

Sore harinya, Yuni yang sudah sadar dari pingsannya itu berdiri didepan gubuk milik Guntur bersama dengan Ridwan dan juga Umar. Keadannya pun jauh lebih baik dari pada sebelumnya.


Guntur dan juga Anisa menatap mereka bertiga dengan serius. Pandangan Anisa jauh lebih tajam daripada Guntur yang menatap mereka bertiga.


" Baiklah, mulai sekarang kalian akan memulai pelatihan kalian dan tolong persiapkan mental dan juga fisik kalian untuk ini, " ucap Guntur dengan serius.


Lalu, tiba-tiba Umar mengangkat tangan kanannya dan bertanya.


" Mas Gun, bagaimana jika kita membuat suatu kelompok atau organisasi tersendiri..., " ucapnya dengan semangat.


Sedangkan Ridwan dan Yuni mengangguk setuju dengan usul dari Umar.


" Dengarkan baik-baik... Sebenarnya aku sudah meminta ijin dari guru besar untuk membuat suatu kelompok bahkan organisasi tersendiri di padepokan dan beliau mengijinkannya, jadi mulai sekarang aku dan srikandi bercadar yang akan bertanggung jawab atas kalian dan aku juga ingin pelatihan kalian dengan guru kalian juga berjalan tanpa ada kendala apapun..., "


" Kalau boleh jujur aku hanya akan merekrut Ridwan, Umar dan satu lagi yaitu Julian... Namun karena Julian belum tahu akan hal ini jadi biarkan saja dulu dan untukmu Yuni..., "


" Kau pengecualian... Nanti kau akan banyak berlatih dengan srikandi bercadar secara langsung jadi siapkan mentalmu dan fisikmu jika kau masih ingin bergabung dalam kelompok ini, " Jelas Guntur panjang lebar.


Yuni yang mendengar itu langsung berkata...


" Mas Gun... Aku tidak akan mundur dan aku tahu jika kelompok ini memiliki pelatihan neraka sekalipun.... Dan aku juga akan berusaha kalau untuk kedepannya aku tidak akan mengecewakanmu dan menjadi beban untuk semuanya, " ucap Yuni yang oenuh dengan tekad.


Guntur yang mendengar itu langsung tersenyum senang melihat tekat dan juga semangat Yuni yang sangat tinggi dan pantang menyerah.


" Baiklah... Hmm... Srikandi, aku pasrahkan Yuni kepadamu, " ucap Guntur serius.


Anisa yang mendengar itu langsung mengangguk mengerti walaupun tanpa bersuara.


" Baiklah karena kalian sudah berada di sini maka pelatihannya dimulai dari sekarang..., " ucap Guntur.


" Lari keliling area ini 500 kali dengan batas waktu sampai magrib tiba, " ucap Guntur dengan tegas.


Sontak saja Umar dan juga Yuni terkejut mendengar itu. Pasalnya waktu hanya menunjukkan 2 jam saja. Untuk berlari 500 putaran memerlukan waktu yang cukup lama, apalagi luas area gubuk milik Guntur cukup luas.


Ingin sekali mereka mengajukan protes, namun tiba-tiba mereka tidak melihat adanya Ridwan di samping mereka saat mereka menoleh ke samping.


Ternyata Ridwan sudah mulai berlari dari beberapa detik yang lalu dan jarak mereka sudah lebih dari 200 meter.


Sontak saja mereka berdua langsung ikut berlari tanpa memnuang waktu lagi.


" Woeee Bro Ri.... Tunggu kami woooeee...., " teriak Umar dengan keras.


" Duhh anak itu bener-bener ngeselin, " ucap Yuni sambil berlari di samping Umar.


" Lebih baik kita cepat untuk menyusul dia..., " ucap Umar yang menambah kecepatan larinya.


Guntur melihat mereka berlari tersenyum, entah kenapa Guntur merasa senang sekaligus sedih melihat keakraban mereka bertiga.


" Mas... Kenapa mas tersenyum? " tanya Anisa yang berada di samping kirinya.


" Entah kenapa aku senang melihat mereka tapi aku juga sedih melihat mereka..., " ucap Guntur.


" Kenapa? " tanya Anisa.


" Aku senang semangat mereka yang sangat tinggi tapi secara tidak sadar, kelak mereka akan menghadapi mara bahaya yang pastinya mengakibatkan pertarungan antara hidup dan mati..., " ucap Guntur.


" Mas... Kita dilahirkan untuk menjadi seorang petarung... Memang benar kita hidup di jaman modern yang mana perdamaian antar negara pun masih berjalan dengan cukup baik tapi takdir kita yang mana menjadi seorang petarung itu seperti kita hidup di sisi lain dari perdamaian itu sendiri..., " ucap Anisa dengan serius.


" Hahhhhh.... Kau benar Nisa, walaupun begitu mereka bala kurawa juga tidak bisa kita biarkan begitu saja, mereka adalah orang-orang yang bisa mengancam perdamaian itu menjadi pecah dan mungkin akan kembali terjadinya perang dunia kembali, " ucap Guntur.


Anisa yang mendengar itu mengangguk setuju dengan ucapan suaminya itu.

__ADS_1


" Maka dari itu aku membuat sebuah kelompok yang mulai diawali dari sini itu untuk memberantas mereka walaupun aku juga tahu diluar sana juga banyak sekali kelompok bahkan organisasi yang jauh lebih besar dan kuat dari kita namun aku akan membuat kelompok ini menjadi jauh lebih kuat dari mereka..., " ucap Guntur dengan tekat yang kuat.


" Insya Allah... Oh iya mas aku lihat cara pandang mas ke Yuni berbeda dari yang tadi? " tanya Anisa dengan tatapan tajam.


" Tenanglah Nisa, aku bukan bermaksud apa-apa namun tadi sempat melihat penggalan masa lalu Yuni yang ternyata dia adalah yatim dan juga aku melihat pola aksara segel di keningnya saat ujian yang kau berikan itu berakhir, " jelas Guntur dengan serius.


" Pola aksara segel? Maksud mas? " tanya Anisa.


" Ada sesuatu yang disegel oleh seorang aksara mata ungu di dalam diri Yuni... Tapi aku belum tahu itu apa, " ucap Guntur sambil menatap mereka bertiga yang tengah lari memutari area gubuk.


" Apa itu kekuatan tersembunyi? " tanya Anisa penasaran.


" Entahlah aku juga belum tahu tapi dari apa yang aku lihat dari penggalan masa lalunya, mungkin itu adalah segel yang diberikan oleh orang tuanya untuk menyegel sesuatu yang berada di tubuh Yuni.... Besar kemungkinan itu adalah kekuatan Uniknya, " jelas Guntur.


Lalu, Anisa yang mendengar itu menatap Yuni yang sedang berlari bersama dengan Umar dan Ridwan.


" Lebih baik kita melatih mereka terlebih dahulu... Masalah segel, nanti juga kita tahu apa itu... Baiklah sepertinya aku akan membuatkan pemberat tubuh untuk Umar sedangkan Yuni aku pasrahkan kepadamu Nisa..., " ucap Guntur sambil berjalan masuk ke dalam gubuknya.


Anisa mengangguk, lalu kembali menatap mereka bertiga dengan serius.


" Jangan kecewakan kami..., " gumam Anisa dalam hati.


***


Malam hari di puncak bukit...


Air Terjun Semanggi...


Nampak seorang gadis bercadar sedang bersemedi dengan tenang dibawah derasnya guyurna air terjun yang tampak cukup deras.


Bersemedi diatas batu yang dulunya pernah digunakan oleh Guntur untuk bersemedi membuka pintu aksara terakhirnya.


Mbah Pahing yang bertengger diatas pohon yang cukup rindang dan juga besar itu terua mengawasi muridnya itu dengan sabar.


" Sudah 7 hari dia bersemedi untuk menemukan aksaranya sendiri, namun belum juga menemukan hasilnya.... Jika saat matahari terbit nanti dia tidak juga menemukan aksaranya, aku akan membangunkannya, " gumam Mbah Pahing yang sedikit khawatir dengan muridnya itu.


Waktu terus berlalu sampai dimana sepertiga malam. Tiba-tiba energi murni disekitar air terjun lanhsung memadat dan berpusar tepat diatas gadis bercadar itu.


Dengan berlahan tanda aksara di dada kanan nya bersinar terang bahkan sampai menembus pakaian syar'inya.


Mbah Pahing tersenyum melihat kejadian itu. Menandakan jika muridnya kini telah membuka pintu aksara terakhirnya dengan sempurna.


Namun, siapa sangka jika sebuah pola muncul diatas gadis itu dengan lambang matahari berwarna putih dengan tulisan jawa berwarna hitam.


" Ini.... Subhanallah.... Pola itu..., " ucap Mbah Pahing tidak percaya.


Pola aksara berbentuk matahari itu semakin lama semakin bersinar terang.


Setelah mencapai maksimalnya yang mana menyinari air terjun semanggi, beberapa detik kemudian pola aksara itu mengecil lalu masuk kedalam tubuh gadis bercadar itu.


Dengan berlahan, gadis bercadar itu membuka kedua matanya dan betapa terkejutnya Mbah Pahing melihat kedua mata muridnya tersebut.


" Ti-tidak mungkin... Putih dan hitam..., " ucap Mbah Pahing sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Gadis bercadar itu berlahan menarik nafas pelan lalu membuangnya secara berlahan. Namun hal itu membuat energi kejut yang cukup besar.


Beberapa saat kemudian, Mbah Pahing segera menghampiri muridnya itu sambil tersenyum.


" Bangunlah nak... Kini kau telah menjadi seorang aksara sempurna...., " ucap Mbah Pahing.


Gadis bercadar itu mengangguk cepat lalu berdiri. Namun, ketika hampir berdiri dengan sempurna tubuhnya mendadak lemas dan langsung tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Mbah Pahing yang melihat itu langsung menangkap tubuh muridnya itu lalu dengan segera membawanya ke gubuk tempat tinggal mereka yang mana Anjani tengah menunggu.


***


Guntur yang sedang melatih Ridwan dan juga Umar di depan gubuknya itu merasakan adanya suatu energi yang sangat besar meledak dengan hebat walaupun itu sangat jauh.


Lalu dengan segera dirinya melihat tanda aksara di tangan kanannya itu bersinar dengan terang bahkan Ridwan dan Umar sendiri dapat melihat dengan jelas cahaya yag tiba-tiba muncul pada tangan kanan Guntur.


" Mas Gun... Tanganmu..., " ucap Ridwan.


" Mas..., " ucap Umar.


Guntur yang melihat Ridwan dan juga Umar terkejut melihat tangan kanan Guntur bersinar terang itu tersenyum.


" Apa kalian bisa menjaga rahasia terbesarku? " tanya Guntur.


Sontak saja keduanya terkejut lalu mengangguk dengan keyakinan yang kuat.


" Lihat baik-baik, " ucap Guntur sambil merubah pupil kedua matanya menjadi putih kebiruan.


Ridwan dan Umar semakin terkejut melihat Guntur yang merubah pupil matanya. Mereka tahu hanya seorang aksara yang bisa merubah pupil matanya. Sementara orang yang berada di depannya kini juga merubah pupil matanya bahkan berwarna putih, pupil aksara dengan kedudukan puncak.


" Ma-mas kau..., " ucap Ridwan tidak percaya.


Guntur mengangguk " Selain aku seorang jawara gapi aku juga seorang aksara..., " ucap Guntur tersenyum.


Hening untuk sesaat namun setelah itu langsung heboh dengan teriakan Ridwan dan juga Umar.


" Astaga.... Maaassss....., " ucap Umar.


" Hahahaha..... Ternyata aku tidak salah mengikuti orang wahahahaha, " ucap Ridwan sambil tertawa.


" Benar bro Ri.... Wahahahaha.... Mas Gun... Aku berjanji dan bersumpah aku akan selalu setia kepadamu...., " ucap Umar penuh tekat.


" Benar Mas... Aku juga tapi bukannya mata putih itu adalah mata dengan kedudukan tertinggi? Ehh... Mas kau??? " tanya Ridwan sambil terkejut melihat mata Guntur yang masih memutih.


" Ehh... Benat... Mas Gun kau..., " ucap Umar.


Guntur mengangguk sambil tersenyum " Akulah Sang Hyang Aksara.... Tapi kalian harus berjanji untuk tidak membocorkan siapa aku, " ucap Guntur dengan serius.


Keduanya langsung mengangguk yakin dan bertekad untuk tidak membocorkan rahasia Guntur kepada siapapun.


" Lalu mas Gun... Kenapa tangan kananmu tadi bercahaya? " tanya Ridwan penasaran.


Guntur tersenyum " Entah itu lama atau tidak, dia akan bergabung dengan kita, " ucap Guntur sambil menatap langit yang dipenuhi bintang.


" Siapa mas? " tanya Ridwan.


" Dia-" ucap Guntur terpotong dengan suara Anisa yang tiba-tiba datang dari kejauhan yang melesat cepat ke arah Guntur.


" Mas..., "


Tentu mereka semua langsung menoleh ke arah Anisa yang kini sudah berada di samping Guntur.


" Mas... Dia...., " ucap Anisa sambil menatap Guntur.


Guntur pun tersenyum " Dia sudah sempurna... Sepertinya aku juga harus segera membuka semua pintu jawaraku...., " ucap Guntur.


Anisa mengangguk walau didalam hatinya masih merasakan sakit tapi Anisa terus tidak memikirkan hal itu.


Setelah itu, mereka melanjutkan latihan mereka dengan penuh semangat dan Anisa juga segera kembali ke gubuknya mengingat sedang melatih Yuni dengan pelatihan neraka.

__ADS_1


__ADS_2