
Levi dan beberapa mobil lainnya saling mengejar, kira-kira ada 4 mobil lainnya yang sedang berada dibelakang mobil yang ditumpangi oleh pria itu. Kecepatannya kura berada diatas rata-rata, mereka memilih mencari jalan pintas yang tak ramai dengan kendaraan agar bisa tiba disana dengan cepat.
Sementara Azka, ia terus memeluk kakaknya dengan tangan yang bergetar serta air mata yang hentinya menyurut, air mata itu selalu deras keluar dari kedua matanya.
"Ten-ang-lah, a-ku tak apa-apa." ujar Axila coba menghibur Azka sebelum pertolongan datang pada mereka.
Azka menggelengkan kepalanya keras, ia tahu kakaknya tak berada di kondisi yang baik-baik saja saat ini, darah terus menerus keluar dari dalam sana.
Kesadaran Axila memang tak sepenuhnya sadar, namun dia merasakan kekhawatiran yang dirasakan oleh Azka. Axila bisa saja menggunakan elemen ataupun masuk kedalam ruang dimensinya agar diobati oleh Louis, namun ia tak ingin agar Azka merasa terkejut ataupun yang lainnya, belum saatnya Azka mengetahui kebenaran tentang kakaknya yang telah 'pergi' itu.
Dan benar saja, beberapa menit kemudian terdengar suara kendaraan yang sedang melaju ke arah mereka, ada tiga mobil yang berhenti dan sana.
Levi, pria itu langsung membuka pintu dengan tak sabaran, ia berlari kencang kearah mobil yang sudah ia kenali itu.
"Axila!.... Azka!"
"Kak Levi." ujar Azka lirih, pintu mobil yang terbuka membuat Levi bisa melihat Axila yang saat itu sedang berbaring dengan tubuh yang didekap oleh Azka.
"Azka, tenanglah. Aku akan menolong kalian, oke?" ujar Levi coba menenangkan Azka dulu, ia menyuruh Azka agar tetap membuat kesadaran Axila bersama mereka, gadis itu tak boleh menutup matanya.
Levi memutar tubuhnya, ia duduk dibelakang kemudi dan mulai menjalankan mobil itu pergi dari sana.
Kebetulan Azka tak mematikan mesin mobil tadi, tiga mobil itu mengikuti mobil Axila, beberapa ratus meter dari tempat Azka menghentikan mobil ada dua mobil disana yang juga berhenti.
Beberapa orang pria disana memperhatikan mobil yang terbalik dengan seorang penumpang yang telah kehilangan nyawa, hanya satu saja. Lalu yang lainnya dimana?
Levi tak mempedulikan hal itu, biarlah anak buahnya yang mengurus hal itu. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Axila, yah. Keselamatan Axila yang menjadi nomor satu kali ini.
Mobil Mercedes Benz berwarna merah berhenti didepan rumah sakit terbaik itu, sang pengemudi turun dengan tergesa-gesa. Menghampiri kursi penumpang dan mengeluarkan seorang gadis yang sudah banyak mengeluarkan darah segar, hingga pakaian wanita itu sudah berlumuran darah saja.
Levi menggendong Axila dengan bridal style, berlari memasuki pintu rumah sakit.
Begitu jelas dengan Azka yang menyusul dibelakang sana.
Robin, pria itu yang bertugas untuk menerima pasien. Saat melihat seorang pria masuk dengan panik, dia langsung berlari kesana. Melihat pasien yang baru saja masuk, namun tubuhnya membeku saat melihat siapa yang dibawa masuk dan dibaringkan diatas bangsal itu.
"A-axila?" gumam Robin.
"Dokter!.. Dokter!!" pekikan Levi menyadarkan Robin yang masih terpaku disana, pria itu langsung mendekat dan sungguh melihat wajah itu.
__ADS_1
"UGD!" ujar Robin, para perawat mengikut perintah dari Robin.
"A-apa yang terjadi pada Axila?" tanya Robin, tangannya langsung bergerak untuk memeriksa keadaan Axila dengan bangsal itu yang didorong.
"Tolong.... tolong selamatkan kakakku... aku mohon..." kaki Azka sedikit berlari mengikuti arah mereka membawa kakaknya, mulutnya terus menggumam kan kakaknya.
Pintu UGD terbuka, mereka melarang kedua pria itu agar tak masuk kedalam sana.
Azka terduduk lemas didepan sana, matanya terus menatap kearah pintu kaca buram yang bertuliskan "UGD".
Ia memeluk lututnya, menggumam nama sang kakak terus menerus, hatinya tak pernah berhenti mengucapkan doa-doa agar kakaknya bisa diselamatkan.
Asisten Levi mendekat, ia mengatakan jika dia telah mengurusi pendaftaran dan administrasi.
Robin keluar bersama seorang perawat.
"Tolong hubungi dokter Maria, kita harus melakukan operasi." ujar Robin memerintah, perawat itu mengangguk dan meninggalkan Robin bersama dua orang yang membawanya.
"Apa, apa yang terjadi pada kakakku?!" tanya Azka to the point, ia harus mengetahui keadaan sang kakak didalam sana.
"Kami harus melakukan operasi pengangkatan peluru karena sangat dalam, dan harus mendapatkan ijin dari pihak keluarga terlebih dahulu." ujar Robin.
Sementara diruang kerja Maria.
Wanita itu baru saja melakukan konsultasi dengan pasiennya, namun perawat yang menjadi asistennya masuk dengan sangat tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Maria terkesan biasa saja.
"Dokter, Putri anda--"
Dengan tergesa-gesa Maria keluar dari ruang kerjanya, dia tak mempedulikan orang-orang yang berada disana. Asistennya juga menyusul dibelakang sana sambil meminta maaf pada beberapa orang yang tak sengaja ditabrak oleh atasannya.
"Azka!" panggil Maria sedikit kencang, membuat remaja itu mengangkat wajahnya dan melihat wanita yang sedang berjalan dengan sangat tergesa-gesa.
"Bunda...." lirih Azka pelan, ia langsung berdiri saat tubuh wanita itu memeluknya erat.
"Bunda... hikss...hikss..." tangis Azka kembali pecah.
"Tananglah.... Bunda akan masuk dan melihat keadaan kakakmu. Kau harus tenang dan percayakan semua nya pada kami, oke?" ujar Maria sedikit menenangkan Azka.
__ADS_1
Matanya menatap sang asisten. "Siapkan semuanya, aku akan masuk!"
"Baik, Dok." balas perawat itu.
Maria masuk setelah persiapan nya selesai, melihat wajah sang putri ya g sudah dibius dan tak sadarkan diri benar-benar suatu tamparan baginya.
Hanya perlu mengeluarkan peluru saja, tidak lebih.
Tiga puluh menit berlalu, lampu operasi sudah padam. Itu artinya operasi telah selesai dilakukan.
Maria keluar, melihat pintu yang terbuka membuat Azka segera mendekat.
"Bagaimana keadaan Noona, Bunda?" tanya Azka.
"Syukurlah, pelurunya tak terlalu dalam dan menembus pundaknya. Operasi juga berjalan dengan baik, kakakmu akan dipindahkan keruang rawat setelah ini." balas Maria membuat Azka segera memeluk Maria dengan perasaan lega.
"Terima kasih, Bunda." ujar Azka tulus, ia tak tahu apa yang akan terjadi jika kakaknya sampai sekarat nantinya.
Michael berjalan dengan tergesa-gesa di koridor rumah sakit, langkahnya sangat tegas. Disusul Putra dibelakangnya.
Pintu didorong dengan kasar, membuat beberapa orang didalam sana segera melihat kearah pintu yang menampakkan pria berumur 50-an dengan seorang pemuda tampan.
"Sayang, apa yang terjadi?" sarkas Michael, ia bisa melihat keadaan putrinya yang terbaring lemah diatas bangsal rumah sakit dengan selang infus mengalirkan cairan bening dan merah. Karena Axila kekurangan darah, ia harus mendapatkan transfusi darah lagi.
"Ini kecelakaan." balas Maria, matanya menatap Azka yang sejak tadi berwajah muram.
Putra berjalan kesisi Axila, ia mengecup lama kening Axila.
"Dek, bangun yah. Jangan buat kakak khawatir sama kamum" ujar Putra pelan, terkesan berbisik.
"Jangan khawatir, Nak. Adikmu sebentar lagi akan bangun." balas Maria, ia khawatir namun tetap harus menenangkan Putra yang adalah orang pertama yang ditemui Axila.
Levi menatap dan menyaksikan semuanya. Ia sudah memantapkan hatinya, ia akan tetap mengejar Axila. Biarpun Axila adalah si wanita Teratai, Levi akan mengejarnya.
Meskipun mereka berdua bertantangan, ia akan merubah semuanya. Ia akan merubah segalanya agar dia dan Axila bisa bersatu.
Yah, Ini adalah keputusan Levi yang sudah ia bulatkan. Tak boleh ada yang berani mengganggu keputusannya.
Ia harus menjadi pelindung Axila, bukan menjadi musuh Axila.
__ADS_1
Perubahan bukanlah hal besar bagi Levi, hanya membutuhkan sedikit waktu saja.