
Axila sibuk dengan tumpukan kertas yang berada di hadapan nya, tangannya terkadang berlarian sebentar diatas keyboard dan matanya mengarah pada dokumen yang berada persis di samping laptopnya.
Meeting baru saja selesai, dan gadis itu kembali sibuk dengan pekerjaan yang lainnya.
Tak lupa Axila menyimpan semua data itu di aplikasi yang iya buat, agar tak ada kebocoran data dan tak ada jalan yang bisa ditembus oleh orang lain untuk membuatnya jatuh.
Beralih pada Azka.
Kini remaja itu sedang uring-uringan tak jelas, makan jajanan dengan malas, menonton animasi, jika dia tak suka pada yang lain maka akan berpindah channel di YouTube.
"Ahhhkkk!
Aku bosan." wajahnya ditekuk, tak ada kegiatan yang bisa dia lakukan. Bahkan jika biasanya dia akan mengerjakan tugas sekolah, kini tak ada.
Tiba-tiba matanya menatap Moonbin dengan senyum seringai.
Moonbin merasa bulu dukuknya berdiri, dia hanya melirik kilas Azka yang saat itu sedang berada diatas bangsal, sedangkan dirinya duduk santai di sofa.
"Kak Mo-"
"Aisss.
Aku harus ke kamar kecil dulu." Moonbin beranjak dari sofa, berjalan kearah toilet dan menghilang disana.
"Aahhh.
Menyebalkan!" dia melemparkan bungkusan Snack yang dia makan dengan sembarangan.
Moonbin keluar, melihat bungkusan Snack yang tak masuk kedalam tempat sampah lalu menatap Azka.
"Kau kenapa?"
"Aku bosan." Balas Azka.
"Lalu?"
"Aku ingin cepat keluar dari sini, kak.
Ini sangat membosankan." keluh Azka, rambutnya diacak dan menjadi berantakan.
Namun hal itu malah terlihat menggemaskan Dimata Moonbin.
"Mengapa tak menemui temanmu saja? sepertinya dia juga berada di rumah sakit ini." usul Moonbin, lagi pula Azka tak sakit berat.
Malah kini infusnya sudah dilepas, hanya tersisa kasa yang menempel di pupil matanya.
"Dia juga disini?" tanya Azka dengan cepat.
Moonbin mengangguk, "Sepertinya, iya."
"Aku akan kesana." langsung saja dia meraih ponsel nya dan keranjang buah yang masih tersisa beberapa butir buah apel, pisang dan anggur.
"Memangnya kau tau dimana dia dirawat?" tanya Moonbin.
"Ah, benar juga." Azka menghentikan langkahnya, lalu menatap Moonbin.
"Bantu aku yah, kak." pinta Azka.
"Baiklah." balas Moonbin pasrah.
Azka langsung saja memutar handle pintu dan keluar dari sana, namun menemukan dua pria yang langsung menunduk hormat padanya.
"Anda mau kemana, tuan muda?" tanya salah satu dari mereka.
"Tuan muda mau menjenguk temannya yang juga dirawat disini.
Apa kalian tahu informasi nya?" sambung Moonbin yang berada dibelakang Azka.
"Maaf, Tuan muda. Akan saya tanyakan pada resepsionis." balasnya.
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku akan kesana sendiri." tolak Azka cepat.
"Ini merupakan tugas kami, Tuan muda.
Harap anda tunggu sebentar didalam."
Azka berdecak kesal, lalu berjalan tak mempedulikan mereka.
Moonbin mengangguk, tanda tak apa lalu mengikuti langkah Azka.
Mereka turun kelantai satu, berjalan kearah resepsionis dan menanyakan dimana ruangan temannya. Sementara ketiga pria itu masih terus saja mengikuti langkahnya.
Sementara itu didalam ruangan dimana Sehun dirawat, kini dia sedang berbaring dan mengobrol dengan ibunya.
"Eomma." panggilnya.
"Hmm, apa?" balas ibu Sehun.
"Bagaimana keadaan Azka, apa eomma tau sesuatu?" tanya Sehun.
Ibunya menggeleng, "eomma bahkan tak tahu bagaimana keadaan anak itu." jedanya lalu menatap Sehun. "Entah bagaimana anak itu melewati ibu dan kakak tirinya yang kejam itu."
Sehun mengangguk, "mereka terlalu kejam.
Aku membenci mereka." umpat nya.
Tatapannya mengarah pada ibunya, "tapi aku rasa, kak AL bisa memberikan mereka pelajaran yang mengerikan."
"Siapa dia?" tanya Ibunya.
"Wanita misterius yang menolong Azka waktu itu. Dia bahkan memberikan Azka smartphone yang sangat mahal, ditambah setiap hari Azka selalu dibawakan makanan enak disekolah." jedanya.
"Semua makanan yang dikirim sangat enak." Sehun berdecak kagum saat mengingat kembali rasa makanan yang pernah dia makan bersama Azka di kantin sekolah.
Azka sudah tiba dimana kamar dimana Sehun dirawat, Moonbin segera mendorong pintu lalu Azka masuk kedalam sana.
Terlihat deretan bangsal yang ditempati oleh beberapa orang yang hanya dibatasi dengan tirai.
Azka berjalan mendekati dan melihat keadaan temannya.
"Sehun." panggilnya.
Kedua ibu dan anak itu segera mengalihkan pandangan mereka pada orang yang memanggil nama Sehun.
"Azka?" ujar Sehun.
Azka mendekat lalu menundukkan kepalanya pada ibu Sehun, lalu menatap temannya.
"Hei, kau jadi ninja Hatori?" ejek Azka.
"Hei! apa yang kau lakukan disini?" tanyanya tanpa mau menanggapi ejekan Azka, matanya menangkap sosok yang sudah beberapa hari ini terus mengikuti temannya bersama dua orang lain yang masih asing dimatanya.
"Tentu saja aku menjengukmu. Aku juga dirawat disini." balas Azka.
"Ini, aku bawakan buah. Tapi maaf, sudah beberapa yang kumakan sebenarnya ini punyaku tapi aku sudah malas memakannya." tangannya memberikan keranjang buah pada ibu Sehun.
"Nak, kau tak perlu membawanya.
Jika kau mau makan buah bagaimana?" tanya Ibu Sehun.
"Tak apa bibi. Noona akan membelikan nya lagi nanti." balas Sehun.
"Ah, anak ini selalu saja." ibu Sehun meletakkan keranjang buah diatas lemari kecil, lalu kembali menatap Azka.
"Lalu bagaimana keadaan mu?"
"Aku sudah lebih baik, Bik. Bagaimana dengan Sehun?" balas Azka bertanya.
"Dia mendapatkan banyak pukulan dan lebam, untung saja tak ada masalah yang terlalu serius." balas Ibu Sehun.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mu?
Bukankah kau dipukuli dengan tongkat baseball?" tanya Sehun pada temannya.
"Hmm." Azka mengangguk menandakan itu benar.
"Tapi aku sudah mendingan, hanya tubuhku saja yang sakit dan pelipis serta bibirku saja yang luka.
Tapi sudah mendingan."
"Tadi kau mengatakan jika kakakmu akan membelikan buah lagi.
Apakah dia itu Soo-hyun?" tanya Ibu Sehun.
Azka menggeleng. "Kakakku, Axila. Dia sudah berada di sini."
"Sungguh?" tanya Sehun dengan semangat.
"Ya. Dia si wanita misterius yang menolongku malam itu." balas Azka
"Daebak!"
"Jadi, dia yang selalu mengirimkan makan siang untuk kalian?" tanya ibu Sehun.
Azka mengangguk. "Iya, Bik."
Tampak raut wajah mereka ikut senang, "kami ikut senang.
lalu bagaimana dengan ibu dan kakak tirimu?" tanya ibu Sehun.
Azka mengangkat kedua bahunya, tanda jika dia tak tahu.
"Ah, iya." dia mengingat sesuatu. "Bik, tolong berikan aku segelas air." pinta Azka.
Ibu Sehun mengambilkan segelas beserta air pada Azka, dia pikir Azka haus dan ingin minum air.
Namun perkiraan nya salah, Azka mengeluarkan botol tetes dan meneteskan tiga tetes cairan kedalam gelas beserta air itu.
"Itu apa?" tanya Sehun.
"Entahlah. Noona bilang ini obat herbal untukku, ini akan membantu mempercepat pemulihan kondisi tubuhku yang begini." jedanya lalu memberikan gelas itu pada Sehun.
"Minumlah, luka dan lebam ku menghilang setelah minum ini."
"Kau yakin?" tanya Sehun ragu. Melihat Azka yang mengangguk yakin, dia sedikit bangun dan meneguk air yang diberikan Azka.
Hanya setengah gelas dia sudah tak mau lagi, ibunya yang membantu Sehun minum kembali menarik gelas itu dan menyimpannya.
Matanya menatap putranya, seketika matanya melebar dengan sempurna.
Lebam disekitar wajah Sehun menghilang, bahkan luka dibibir nya juga ikut menghilang.
"Omo!" ujarnya dengan terkejut, bahkan terjatuh dan duduk diatas kursi yang tersedia saking terkejutnya.
Azka juga ikut terkejut, dia tak menyangka jika itu memang langsung pulih.
Bahkan wajah Sehun tak ada bekas terjadinya kekerasan.
Moonbin dan kedua pengawal juga ikutan terkejut, mereka merasa ini adalah sulap.
"Eomma! Azka, apa yang terjadi?" tanya Sehun bingung, kenapa semuanya menatapnya dengan terkejut.
Dengan cepat Azka memberikan ponselnya agar Sehun berkaca diponsel nya.
Sehun menerima ponsel temannya, lalu melihat wajahnya.
"Omo!" pekiknya, dia langsung meraba wajannya dan mencari sekitar wajahnya yang sempat terasa sakit dan lebam bahkan robek, namun kini sudah menghilang.
"Eomma. Wajahku kembali." ujarnya dengan senang.
__ADS_1
sementara Azka kembali menatap obat tetes yang diberikan oleh kakaknya dengan tak percaya. Dia bahkan membuka kasa yang menutupi pelipisnya namun sudah menghilang lebam dan luka disana.