
"Anda ingin memesan sesuatu?" tanya Nam-Joo sedikit sopan, wanita itu menatap nya dengan pandangan mengejek.
"Aku kesini bukan untuk membeli sesuatu." ujarnya.
"Lalu, apa yang bisa saya bantu, Nona?" balas Nam-Joo.
"Mengambil kembali apa yang sudah menjadi hak adikku." ujarnya, matanya menatap datar pada Nam-Joo.
"Em, maaf. Tapi, apakah adik Nona melupakan sesuatu disini? Aku akan coba untuk mencar-"
"Dia lupa jika tempat ini adalah miliknya, jadi aku kesini untuk mengambil kembali apa yang menjadi milik adikku." Potong Axila cepat, jangan lupa nada datarnya.
"Adikmu, maaf sia-"
Nam-Joo mengingat wajah ini, kata-kata yang ingin dia ucapkan langsung tercekat sendiri.
"Apa maksudmu?!" sambung Nam-Joo lagi.
Seorang pria berjas hitam masuk, ia berjalan kearah Axila dan Nam-Joo lalu menundukkan kepalanya pada gadis muda itu.
"Kau membawanya?" tanya Axila.
"Tentu saja, Nona." Balas Nam-Joo, ia mengeluarkan sesuatu dari koper kecil yang ia bawa. Itu adalah map yang berisi sesuatu.
"Ini, Nona." ujarnya sambil menyodorkan benda itu.
Axila menerimanya, membuka map dan membaca sesuatu.
"Ini adalah buktinya, sertifikat yang menunjukkan bahwa Caffe ini adalah milik pamanku, yang diwariskan kepada putranya. Azka Leon Remanov." ujar Axila, matanya menatap pada Nam-Joo yang sudah menegang ditempatnya.
Tiba-tiba terdengar sarine polisi yang mendekat, mereka berhenti tepat didepan Caffe dan keluarlah dua orang polisi pria. Mereka berjalan masuk.
"Kalian sudah datang?" ujar Axila.
"Segera tangkap dia." lanjut Axila lagi.
"Apa yang terjadi?" tanya Nam-Joo yang masih terkejut.
"Apa benar, anda adalah Nyonya Kim Nam-Joo?" ujar salah satu polisi.
"Ada apa?" balas Nam-Joo.
"Anda kami tangkap, karena telah melakukan kekerasan terhadap anak dibawah umur." ujar salah seorang polisi, bahkan dengan sigap memasang borgol ditangannya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini?!.... Aku tak melakukan apapun!... Cepat lepaskan aku!!" ia diseret keluar dari Caffe, teriakannya membuat beberapa orang memperhatikan apa yang terjadi.
Mereka membicarakan apa yang terjadi sehingga warga itu ditangkap dan dibawa kekantor polisi.
Begitu juga dengan Axila, matanya tertuju pada mobil polisi yang sudah menjauh.
Keluarlah Lee Gong-Min dan Myung-Jun, mereka memasuki Caffe sambil terus menatap kearah pintu.
"Pekerjaan ku selesai?" ujar Myung-Jun, diangguki oleh Gong-Min.
"Yah, begitulah.
Tapi belum sepenuhnya selesai, ikuti dia ke kantor polisi dan berikan semua bukti yang sudah kalian dapatkan.
Aku ingin dia dipenjara selama beberapa tahun, seharusnya ia akan sadar setelah itu." ujar Axila, ia berjalan kearah meja kasir dan mengambil sesuatu.
Kunci itu dia ambil, "kalian perintah seseorang untuk mengganti kuncinya. Ada kemungkinan ia menyimpan kunci cadangan dirumahnya." ujar Axila.
"Bukankah, seharusnya rumah itu juga kita ambil?" ujar Gong-Min, Axila mengangguk.
"Itu benar, Min-Hyuk yang akan bekerja lagi. Kalian selesaikan tugas kalian dulu." sambung Axila dan berlalu dari sana tak lupa memberikan kunci itu pada mereka berdua.
"Hyung, kau lapar?" tanya Gong-Min tiba-tiba.
"Aku lapar, belum sarapan karena aku belum sempat membeli bahan makanan ku yang sudah habis." lanjut Gong-Min.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, mari masak." ajak Myung-Jun, dia dan Gong-Min terkekeh lalu berjalan ke pantry, membuat sarapan mereka disana.
...----------...
Beralih pada Levi, ia sedang duduk ditempat kebesarannya. Mendengar laporan dari bawahannya tentang Axila yang kembali lagi ke Seoul, membawa seorang pemuda bersamanya.
Levi segera menyuruh bawahannya yang berada disana untuk mencari tahu apa yang akan gadis muda itu lakukan disana.
Ia juga mencari tahu siapa pemuda yang dibawa Axila ke Seoul, dan ternyata pemuda itu adalah seorang mahasiswa di fakultas teknik, mengambil jurusan arsitektur.
Pemuda itu bernama Exsel, ia tinggal sendirian dirumahnya. Orang tuanya sudah meninggal, ibunya meninggal ketika ia masih berusia 5 tahun, dan ketika usianya menginjak 15 tahun ayahnya menyusul. Sekarang ini ia diadopsi oleh robot ciptaan ayahnya.
Semua kebutuhannya disediakan oleh robot wanita yang mirip dengan ibunya, dan sudah ia anggap juga sebagai ibunya.
Levi menutup berkas itu, dimana ia sudah membaca keseluruhan seperti apa latar belakang pemuda bernama Exsel itu. Tak menjadi masalah baginya, asalkan Exsel bukanlah saingannya juga.
"Sebenarnya, apa yang direncanakan oleh gadis itu?" ujar Levi.
__ADS_1
Wanita bermasker hitam juga belum diketahui sampai saat ini, semuanya seakan ditutup rapat oleh pemerintah. Lebih tepatnya server itu tak bisa diakses apa lagi ditembus olehnya.
Ini mengingatkan Levi pada Axila juga, Axila juga tak bisa diakses informasi dan latar belakangnya.
Sedikit petunjuk untuknya, namun Levi menepisnya.
"Yang terpenting wanita itu tak mengacaukan pekerjaan ku saja." Ujar Levi sambil melihat kembali wanita bermasker hitam dengan lambang teratai itu.
Ditempat yang berbeda.
Mike benar-benar frustasi. Ia bahkan tak mempunyai kesempatan untuk kembali bersama Axila, ditambah ibunya terus memaksanya untuk segera menikah.
Ia mengatakan jika sudah ada wanita yang ia cintai, namun saat ibunya meminta untuk dipertemukan. Mike tak bisa melakukan apapun.
Bahkan malam ini, pria itu harus melangsungkan pertunangan nya dengan wanita lain yang bahkan tak ia kenal. Jangankan untuk mengenalnya, Mike bahkan tak peduli saat wanita itu mencoba untuk mendekatinya.
Hatinya hanya tertuju pada sosok gadis cantik itu saja. Gadis cantik yang mengenakan seragam militer, tersenyum dengan lembut, mempunyai watak yang keras dan tak mudah goyah. Gadis cantik yang sudah memporak-porandakan hatinya, namun gadis itu telah pergi dari sisinya.
Gadis cantik yang pernah memberikan nya kesempatan untuk bisa dekat dengannya, menjalin hubungan meskipun itu hanyalah pura-pura, namun ia menikmati saat-saat mereka bersama.
Gadis cantik yang selalu saja penuh dengan kejutan.
Apakah ia harus menyerah sekarang?
Ada banyak pria diluar sana yang juga mengejar gadis itu. Mike juga tahu siapa Levi sekarang, bahkan perusahaannya juga bekerja sama dengan perusahaan pria itu.
Pria yang lebih berkuasa darinya dan tak pernah menampakkan dirinya.
Dan pria itu juga adalah saingan cintanya.
Entahlah, tapi hatinya sakit dan teras diiris saat melihat kembali wajah kecewa itu. Kesalahpahaman itulah yang membuat hubungan mereka berakhir. Padahal ia sudah berencana untuk lebih serius lagi dengan gadis itu, bahkan ingin membawa gadis itu keatas pelaminan, berjalan bersama diatas altar pernikahan dan mengucapkan janji suci mereka.
Namun semua itu seperti hanya mimpi baginya.
Ia sekarang ini dikurung oleh orang tuanya sendiri didalam kamarnya. Sedangkan diluar sana terdengar sangat ribut dengan segala urusan mereka yang menyiapkan acara pertunangan sang Tuan muda ketika malam tiba.
"Aku sungguh mencintaimu dan akan terus mencintaimu.
Axila, bisakah kau datang dan menghentikan semua ini?
Aku ingin kau mengulangi semuanya, bersama mu mengulangi pertemuan kita, mengulangi hubungan kita.
Aku menginginkan dirimu bersamaku, Axila." gumam Mike dalam gelapnya kamar itu, tak ada sinar mentari yang masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
Bahkan hanya setitik saja tak ada