
Bunyi sandal yang beradu dengan lantai menggema dirumah itu, Azka melirik kesegala arah namun tak menemukan siapapun disana.
"Kemana semua orang?" Gumam Azka, tentu saja yang ia maksud adalah para pelayan dirumah ini. Jika teman-teman kakaknya, ia tahu jika mereka telah pergi sejak kemarin dan ini adalah hari kedua dia ribut dengan Axila.
Jika diingat-ingat lagi, Axila memang tak terlihat sejak mereka bertengkar.
Pikir Azka, ia lebih memilih untuk duduk diruang keluarga dan bersantai disana.
"Tuan muda," panggil Anna yang kini sudah berdiri disamping sofa.
Azka menoleh, "Ada apa, Bik?" Tanya Azka.
"Sarapannya mau Bibik bawakan kemari?" Tanya Anna.
Azka mengangguk, "Iya, Bik. Buatin sandwich aja sama susu."
"Baik, Tuan muda. Bibik permisi kebelakang dulu." Pamit Anna, ia berlalu dari sana dan membuatkan pesanan tuan mudanya.
Azka menekan tombol 'On' diremote televisi, mencari chanel yang menampilkan film kartun yang bisa menghiburnya.
Melihat tikus dan kucing yang saling mengejar membuat Azka tertawa lepas, ini adalah salah satu film kartun yang ia sukai.
Azka seperti mendengar bel yang berbunyi, namun ia biarkan karena Anna atau yang lainnya lah yang akan membukakan pintu untuk tamu itu.
Azka juga mendengar suara langkah kaki yang sedang mendekat, langkah itu terasa berat, sudah ia tebak. Itu pasti Levi.
Dan benar saja, suara Levi terdengar di indera pendengarannya.
"Pagi, Azka." Sapa Levi, ia mendudukkan bok0ng nya diatas sofa depan Azka sehingga mereka berdua saling berhadapan.
"Pagi, Kak." Balas Azka.
Anna kembali dengan membawa nampan, diatasnya ada piring sandwich dan segelas susu serta satu cangkir kopi.
"Silahkan Tuan, Tuan muda." Anna kembali kebelakang setelah meletakkan semuanya diatas meja dan menjalankan tugasnya lagi.
Azka meraih piring, mengambil sepotong sandwich lalu memasukkan nya kedalam mulutnya.
Sedangkan Levi meneguk kopi yang sudah dibuatkan oleh Anna barusan.
"Dimana Axila?" Tanya Levi.
Azka mengangkat bahunya, tanda jika ia tak tahu.
Levi mendesah pelan, "kalian belum baikan?" Tanya Levi.
"Untuk apa? Lagi pula dia bukan kakakku." Balas Azka terdengar ketus.
__ADS_1
"Terserah padamu, tapi sebaiknya kau mendengarkan penjelasan nya dulu.
Aku tak bermaksud menguping, hanya saja kalian bertengkar tepat di depanku dan itu artinya akulah yang mengetahui pertengkaran kalian." Ujar Levi namun tak mendapatkan respon dari Azka.
"Reinkarnasi, aku mencari tahu hal itu semalam," Levi melihat raut wajah Azka namun tak ada tanda jika ia penasaran dengan apa yang dibahas oleh Levi.
"Itu terdengar seperti dongeng namun, Axila mengatakan jika tubuh dan jiwanya berbeda. Kemungkinannya saat kakakmu meninggal, jiwa lain masuk kedalam tubuh kakakmu itu.
Harusnya kau juga mendengarkan ceritanya bagaimana dia bisa berada ditubuh kakakmu.
Lagi pula, dia yang sudah menjagamu dengan baik sampai sekarang." Ujar Levi panjang lebar.
Levi kembali meneguk kopinya, Azka yang sebenarnya tak ingin mendengarkan ucapan Levi tetap mendengarnya karena hanya mereka berdua sajalah yang berada di ruangan itu. Azka juga sedikit tertarik dengan ucapan Levi sehingga ia mulai melihat pada Levi.
"Kau tahu?" Jeda Levi, "Axila terlihat sangat keren saat menyelamatkan mu dari Zain.
Dia bahkan berdebat dengan atasannya karena ingin menyelamatkan mu sementara pria itu mengatakan jika itu adalah kewajiban polisi.
Axila sangat marah, ia pergi dari sana dan memintaku untuk membantunya membawamu kembali.
Kalau aku tak salah ingat, sepertinya dia membunuh 17 orang saat memasuki markas Zain.
Dan yang lainnya, aku tahu kau melihatnya juga." Ujar Levi lagi.
Levi menceritakan bagaimana Axila menghabisi nyawa mereka, tekanan udara yang mengurang hingga membuat beberapa orang terjatuh dan pingsan.
Pembicaraan Levi dan Azka terhenti karena kedatangan Asisten Kang.
"Selamat pagi, Tuan muda, Tuan." Sapanya pada Azka dan Levi, pria itu menundukkan wajahnya pada mereka.
"Tuan Kang?" Azka tentu saja mengenali pria ini, yang adalah asisten dari kakaknya.
Ralat! Orang yang mengaku sebagai kakaknya.
"Silahkan duduk." Ujar Azka menggeser tubuhnya.
Asisten Kang menggeleng, "Terima kasih, Tuan muda. Tapi, aku hanya sebentar saja." Ujarnya.
"Ah, ada apa?" Tanya Azka.
"Saya kemari hanya untuk mengambil barang Nona." Ujar asisten Kang.
"Barang?" Ujar Levi dan Azka bersamaan.
"Ya, barang Nona yang disimpan di ruang ini." Asisten Kang melangkah kearah meja yang berada disudut ruangan, disana terdapat meja yang diatasnya terdapat peti kaca, dan didalamnya terdapat pedang serta sarungnya yang di simpan dengan baik.
__ADS_1
Asisten Kang mengambilnya, lalu menyimpannya didalam suatu kotak khusus.
Azka yang penasaran juga melihat bagaimana bentuk pedang itu, sama halnya juga Levi.
"Apa itu pedang asli?" tanya Azka.
Asisten Kang tersennyum tipis, "Tentu, Tuan muda.
Aku tak tahu dengan pasti tapi, Nona menyuruhku untuk berhati-hati saat membawa pedang ini karena, pedang ini sudah memakan banyak korban."
"Dan salah satunya adalah Zain." timpal Levi membuat dua pria itu melirik padanya.
"Bisa kupegang sebentar?"
Asisten Kang mengangguk, "pedangnya cukup berat, sekitar 25-30 kilogram.
Silahkan." asisten Kang memberikannya pada Levi, membuat pria itu menyiritkan keningnya.
"Bagaimana bisa dia memegang pedang seberat ini hanya menggunakan satu tangan?" ujarnya, "ditambah menggendong Azka ditangan yang satunya lagi." sambung Levi.
"Kak Levi, kau mengenal pedang ini?" tanya Azka ragu.
Levi mengangguk, "ini adalah pedang yang Axila gunakan hari itu, untuk menyelamatkan mu."
"Apa kau yakin?" tanya Azka ragu.
"Aku tak pernah ragu dalam ucapanku, Azka."
Levi mengambil sarungnya lalu memasukkan pedang itu kedalam sana, lalu menyimpan didalam kotak yang sudah asisten Kang siapkan.
"Saya juga harus mengurus sesuatu dengan Anda, Tuan muda." ujar asisten Kang pada Azka.
"Aku? memangnya ada apa?" balas Azka.
"Ini terkait dengan warisan yang Nona berikan pada Anda." ujar asisten Kang.
"Warisan?"
"Ya, dan saya sudah membawanya saat ini," balas asisten Kang. mereka berbalik kesofa, susuk disana lalu pria itu mengeluarkan beberapa berkas yang terlihat penting.
"Ini adalah sertifikat atau surat kepemilikan rumah yang Nona berikan pada Tuan Azka, serta sebagian kekayaan Nona diberikan pada Tuan muda.
Harap anda memberikan tanda tangan." ujar asisten Kang.
"Apa maksudmu?" tanya Azka tak mengerti.
"Beberapa hari yang lalu, Nona menelpon saya dan menyuruh saya untuk membuat surat warisan yang ditujukan pada Tuan muda, rumah, mobil dan sebagian kekayaan Nona diberikan pada adiknya, yaitu anda."
__ADS_1