
Axila berjalan dengan santai, disampingnya ada Azka yang mengikuti langkah kakaknya tanpa disuruh.
Moonbin dan dua pengawal lainnya juga mengikuti langkah tuan dan Nonanya.
Azka memasang wajah Cool nya, dia tak lagi memasang wajah cute. Karena dia sadar, jika keluar dari kamar maka akan banyak pasangan mata yang menatapnya terlebih kakaknya. Sekarang ini dia adalah tuan muda dari seorang gadis hebat dan jenius, dia tak ingin membuat reputasi kakaknya menjadi buruk, dia cukup sadar. Pasti kakaknya Bekerja keras untuk menjadi seperti sekarang ini.
Azka mengenakan baju kemeja putih berlengan pendek, ditambah selutut dan tak lupa sepatu sneaker yang melindungi kakinya.
Kepalanya diangkat dan tak menunduk seperti sebelumnya, bukan apa-apa tetapi Axila yang menyuruhnya seperti ini.
"Angkat kepalamu dan bersikap angkuh. Aku tak ingin melihat lagi adikku diinjak oleh mereka yang hina." ujar Axila saat mereka didalam kamar.
"Tetapi, merendah lah bagi mereka tulus padamu.
Ingatlah untuk menolong seseorang yang sungguh membutuhkan bantuan mu dan jangan memalingkan wajah mu dari mereka." kata Axila lagi.
"Lalu bagaimana jika mereka malah memanfaatkan ku, Noona?" tanya Azka.
"Jika itu terjadi. Maka, aku yang akan membalasnya untukmu seribu kali lipat dari apa yang sudah mereka lakukan!" ucapan Axila membuat Azka merinding, ucapan kakaknya mengandung banyak arti.
............
Azka menatap seseorang yang sudah menunggu mereka disalah satu meja, kakinya dan Axila berjalan kearah meja yang sudah dipesan itu.
Tanpa menyapa, Axila menarik salah satu kursi dan mendudukkan bok0ng nya disana, sementara Adiknya yang menyapa pria itu.
"Selamat malam, kak." sapa Azka.
Levi yang menatap Axila sebentar segera mengalihkan pandangannya pada Azka.
__ADS_1
"Malam, duduklah." balas Levi. Untuk pertama kalinya dia menyuruh seseorang untuk duduk, biasanya hanya dengan tatapan orang itu sudah tahu apa yang mereka lakukan, namun tidak berlaku untuk Azka sekarang.
Axila tak mempedulikan mereka, dia malah mengambil smartphone nya dan memainkan game tanpa menghiraukan keduanya.
Azka merasa canggung, dia tak tahu harus melakukan apa. Melihat kakaknya yang biasa saja, Azka menyenggol lengan Axila.
"Noona-a" bisik Azka.
"Hmmm" balas Axila.
"Apa yang harus kukatakan?" tanya Azka.
"Terserah mu." balas Axila, tangannya terangkat lalu memanggil waiters.
Tak ada pembicaraan disana, ketiganya terdiam. Terlebih Azka yang terlihat semakin canggung, sepertinya dia tak nyaman ditatap oleh orang-orang sekitar. Karena memang banyak tamu yang juga makan malam disana.
"Kukira, ada yang ingin kau sampaikan." ujar Levi tiba-tiba.
"Iya, tapi aku tak tah-"
"Bersikaplah santai dan jangan merasa canggung. Anggap saja aku kakakmu, karena sebentar lagi aku akan menjadi kakak ipar mu." ujar Levi.
Axila mengalihkan pandangannya pada Levi, percaya diri sekali dia bicara seperti itu.
"Cihh!"
Tak lama waiters datang, membawa buku menu dan membagikannya pada ketiganya.
"Aku steak dan seporsi spaghetti." ujar Axila tanpa melihat buku menu. "Dan minumnya orange jus"
__ADS_1
Azka melongo, "aku samakan saja dengan kakakku." ujar Azka. "namun ganti steak dengan pizza, aku ingin memakannya." Azka kembali menatap buku menu tapi tak membacanya. "Aku ingin minumnya softdrink."
Waiters menatap pada Levi, dia sudah mencatat pesanan kedua kakak beradik itu.
"Steak dengan bumbu yang sedikit lebih banyak." ujar Levi.
"Minumnya, Tuan?" ujar Waiters.
"Anggur. Kalian punya, bukan?" ujar Levi.
Waiters mengangguk lalu mencatat pesanan Levi, dia segera mengambil kembali buku menu dari ketiganya dan berlalu dari sana.
Setelah waiters berlalu, Azka segera angkat bicara.
"Terima kasih, kak. Sudah menolong ku tadi. Mungkin, aku akan ditendang jika kau tak segera datang tadi."
"Tak apa, lagi pula aku mengenal kakakmu." balas Levi, matanya tak lepas dari Axila.
Dari jauh, seorang pria tampan mengepal tangannya.
Dia masih berdiam diri, ingin melihat sejauh apa tindakan mereka. Terlebih kekasihnya, namun untunglah saat ini kekasihnya itu hanya berdiam diri dan memainkan ponselnya tanpa mempedulikan kedua orang itu.
Namun, setelah beberapa menit kemudian dia sudah tak tahan lagi. Setelah waiters kembali mengantarkan pesanan mereka, dia melihat bagaimana pria itu mengajak kekasihnya bicara.
Segera saja dia melangkah mendekat.
"Axila!" pekiknya, kakinya terus berjalan mendekat.
Tangannya menarik lengan kekasihnya agar berdiri, kedua pria itu juga ikut berdiri.
__ADS_1
"Mike?" balas Axila.
"Sedang apa kau dengan lelaki itu?!" tatapan tajam mengarah pada Levi, begitu pula dengan Levi yang menatapnya tajam.