Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Berkunjung ll


__ADS_3

^-^Author POV^-^


..."Gege, ini aku. Liu Mei"...


terlihat wajah Lio Guan yang sangat terkejut..


"Mei'er.." lirihnya.


Air mata yang tadinya telah berhenti menetes, kini kembali lebih deras lagi.


"Mei'er... itu sungguh kau?" ucap Lio Guan.


Liu Mei melepaskan tangan Yi Feng sebentar, ia kemudian mengusap pipi kakaknya dengan lembut.


"Ini aku, Gege.. aku disini." ucap Liu Mei.


Lio Guan merasakan hawa dingin disekitar wajahnya, matanya menatap kearah Yi Feng.


"Nak-"


"Ayah, Bibi cantik mengusap pipi ayah. Bibi sedang menangis juga," ucap Yi Feng polos, ia benar-benar sedikit bingung karena semua orang didalam ruangan itu tak melihat Liu Mei, hanya dia seorang.


"Mei'er... ini sungguh kau?"


"Ya, Gege... ini aku, Mei'er kalian.... aku disini.."


"Ayah. Bibi bilang... ini aku, dan aku disini." ucap Yi Feng mengikuti ucapan Liu Mei sebagai perantara.


Tangis Lio Guan semakin pecah, istri dan anak-anaknya bingung apa yang terjadi. Para prajurit yang berada diluar sana segera masuk karena mendengar isakan dari sang Kaisar.


"Yang Mulia, apa yang terjadi?" tanya sang pengawal, sedang yang lainnya telah bersiap dengan pedang mereka, ditakutkan adalah penyusup yang masuk kedalam ruang kerja Kaisar dan melakukan sesuatu.


"Ayah.... Huaa... hikss.. hikss..." panggil si Twins, kedua bocah itu menangis, mereka ketakutan saat para prajurit menerobos masuk kedalam ruangan itu.


Axila ingin mengatakan sesuatu, namun ucapan Axila membuatnya tersadar.


"Yang Mulia, satu batang dupa hampir berlalu, tinggal dua lagi," ucap Axila.


Liu Mei mengangguk, ia masih ingin bicara dengan sang kakak, namun ia juga tak punya banyak waktu.


Dupa telah pertama dibakar saat mereka tiba, dan sekarang tinggal 1/4 lagi lalu akan digantikan dengan dupa kedua.


Itulah yang dikatakan oleh Axila sebelumnya.


(Note: Satu batang dupa\=44-60 menit)


"Maafkan aku, Gege. Aku harus pergi, aku menyayangimu," ucap Liu Mei, ia memeluk kakaknya dan pergi dengan menembus dinding.


Lio Guan merasakan hawa dingin disekitar tubuhnya, ia tersentak kaget. Namun hawa dingin itu tiba-tiba saja menghilang,


"Feng'er.... apa Bibi masih disini?" tanyanya sambil terisak.


Yi Feng yang masih menangis menggeleng keras, ia menunjuk kearah dinding yang baru saja ditembus oleh Liu Mei dan Axila.


"Bib-bi su-dah pergi... di-a men-embus din-ding itu, A-yah."


Lio Guan merasa dadanya sangat sakit, adik nya kembali pergi. Dia harus bicara pada adiknya, dia masih ingin bersama adiknya meski tak melihat gadis itu. Tapi ia masih bis merasakan kehadiran Adiknya, salah satu Putranya juga melihat Mei'er nya, dan itu sudah merupakan sebuah berkah.


Lio Guan menggendong kedua Putranya, ia bergegas pergi dari sana. Menghentikan langkahnya sebentar tepat berada disamping permaisuri, "Anak-anak bersamaku, pergilah dan istirahat."


setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, kakinya kembali melangkah keluar dari ruang kerjanya.


Kasim dan beberapa prajurit segera mengikuti langkah sang Kaisar, kemana pria itu pergi.


Sedangkan Lio Guan menggendong kedua Putranya, yang satunya sebelah kiri dan yang lainnya di sebelah kanan.


Yi Fang dan Yi Feng sudah berhenti menangis, mereka merangkul leher Lio Guan dengan tangan kecil mereka. Agar mempunyai keseimbangan didalam gendongan sang ayah.


Lio Guan mempercepat langkahnya, ia menebak jika adik nya berada disini, pasti akan pergi ke kediaman sang pensiunan Kaisar, Adiknya pasti ingin menemui ayah mereka.


"Cihh!!" kekesalan tentu saja datang pada Lio Guan, mengapa kediaman ayahnya bisa sejauh ini?


Padahal biasanya terasa sangat dekat, namun sekarang malah terasa sangat jauh.


Jantung pria dengan status tertinggi di kerajaan itu berdetak dengan kencang.


Ia berharap adik nya itu pergi ke kediaman sang ayah, ia masih ingin bicara pada adiknya.


Hatinya terasa di iris lalu diberi garam, terasa sangat nyeri dan sesak.


Mengingat bagaimana Adiknya selalu berusaha untuk melindungi nya, bagaimana Adiknya selalu berada di Medan perang dan bermandi darah segar, bagaimana gadis dingin yang tak berperasaan itu membuatnya selalu merasakan kerinduan. Banyak hal yang dilakukan oleh gadis itu untuk nya, untuk ayahnya, dan untuk semua orang yang berada dibawah lindungan kerajaan, dan masih banyak lagi.

__ADS_1


Namun.. Ia bahkan tak bisa melindungi gadis itu.


Ia tak bisa memberikan kasih sayang seorang kakak seperti umumnya.


Dia belum memanjakan Adiknya dengan apa yang ia punya.


Belum menghabiskan waktu bersama.. dan masih banyak lagi yang belum mereka lakukan.


Dada Lio Guan semakin terasa sakit saat mengingat semua itu.


Gadis itu bisa melindungi semua orang, namun mengapa tak bisa melindungi diri sendiri?


Mengapa harus gadis itu yang pergi dengan cepat? Bukan orang lain saja?


Lio Guan mengumpat kesal, sejak tadi ia berjalan namun belum tiba juga.


Haruskah ia memindahkan kediaman ayahnya agar dekat dengan mereka?


Ketahuilah, jika istana sangatlah luas.


Masing-masing keluarga dengan kediaman nya sendiri, bahkan sejak berusia 10 tahun, pangeran atau putri harus tinggal di kediaman masing-masing, bukan lagi tinggal di kediaman orang tua.


Sedangkan ditempat yang berbeda. Liu Mei terus mencari kediaman ayahnya. Orang Nyang harusnya bisa temui terlebih dahulu dibandingkan dengan sang kakak, tapi sudahlah.


Sejak tadi ia terus mencari di kediaman lama sang ayah, pensiunan Kaisar. Namun kediaman itu terlalu sunyi, seperti tak ada penghuninya.


Waktu terus berlalu, Liu Mei tetap berusaha untuk mencari pria paruh baya yang menjadi ayahnya.


capek. Itulah yang ia rasakan didalam hatinya, ia hanya ingin bertemu dengan ayahnya lagi. Masih ada yang harus ia kunjungi selagi kedua pria yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.


Tiba-tiba saja ia teringat akan Ibu Suri, neneknya. Entah mengapa, ia merindukan kediaman yang pernah menjadi tempat tinggalnya itu.


Kakinya kembali melangkah, meskipun tak menyentuh tanah.


Hingga ia tiba didepan kediaman yang sangat luas, terlihat bersih dan terdapat aura kehidupan didalam sana.


Terlihat juga ada beberapa prajurit dan pelayan yang sedang berlalu-lalang, mengerjakan tugas mereka masing-masing.


Kakinya melangkah, siapa yang tinggal di kediaman neneknya?


Tak ada seorangpun yang boleh tinggal ditempat ini selain neneknya, para pelayan juga hanya datang untuk memberitahu saja, lalu pergi dan datang lagi setelah beberapa hari.


Kediaman ini juga merupakan tempat yang sangat strategis bagi orang yang suka ketenangan, seperti sang nenek, yang lebih menyukai ketenangan dari pada politik. Ia merasa tak terganggu oleh orang-orang yang suka menjilat, dia lebih suka menghabiskan waktunya bersama sang cucu tercinta, Liu Mei dan Lio Guan.


Paviliun yang terletak ditengah-tengah danau buatan, terdapat seseorang yang sedang duduk dan menatap kearah ikan-ikan yang berenang dibawah sana.


Hatinya terasa sesak saat mengingat wanita yang sangat ia cintai telah pergi dari sisinya, bahkan anak gadis yang ia miliki juga pergi seperti ibunya. Tak pernah kembali.


Cairan bening lolos dari matanya saat mengingat kembali kenangan-kenangan indah bersama keduanya, bersama istri dan putri yang sangat ia sayangi.


Entah mengapa, ia seperti merasakan tatapan dari seseorang. Saat menengok, ia tak mendapati siapapun disana.


Tatapan kembali tertuju pada ikan-ikan, beserta air yang bergoyang karena ikan-ikan yang berenang didalamnya.


Tatapan pria paruh baya itu tertuju pada dua ikan dewasa yang dikelilingi oleh ikan kecil,


"Mereka terlihat sangat bahagia, aku menjadi iri pada mereka. Bisa bersama anak-anak, dan orang yang disayangi.


Sementara aku.." ucapan terputus, senyuman sang istri kembali terlintas diingatnya.


"Lian'er (Ibu Liu Mei). Andai kau masih bersamaku, kita pasti sangat bahagia. Bisa melihat anak kita menikah, dan menggendong cucu.


Namun, mengapa kau pergi?


Mengapa kau membawa Mei'er ku juga?..."


Deggg...!


Liu Mei yang sejak tadi berada disana terus mendengar ucapan yang keluar dari bibir sang ayah.


Sama seperti ketika berhadapan dengan sang kakak, Axila terus memanggil pria itu. Namun tak mendapatkan jawaban, bahkan jika berteriak pun sama saja.


Ia berusaha untuk memeluk ayahnya, agar pria itu bisa merasakan kehadiran nya disana.


Pensiunan Kaisar merasakan hawa dingin disekitar tubuhnya, ia juga merasakan kehadiran sang Putri disana.


"Mei'er... ayah merindukanmu.. sangat merindukan kalian berdua... maafkan ayah karena tak becus menjagamu.." Pensiunan Kaisar terus bergumam, membuat Liu Mei semakin terisak.


Dengan cepat ia berfikir, bagaimana bisa menyampaikan pada ayahnya jika ia berada disini?


Saat di ruang kerja sang kakak, ia bisa meminta Yi Feng untuk membantunya.

__ADS_1


Namun, ini berbeda.


Tak ada bocah itu disini, sehingga tak bisa membantunya.


Tatapan Liu Mei tertuju pada ikan-ikan dibawah sana, ia teringat jika kemampuannya adalah bicara dengan hewan-hewan. (Salah satu kemampuan Liu Mei, berada diawal cerita)


"Bisakah kalian membantuku?" ucap Liu Mei pada ikan-ikan didalam air. Ikan-ikan yang melihat Liu Mei segera mengangguk, salah satu kemampuan hewan itu bisa melihat jiwa seseorang yang telah meninggal.


Mereka membentuk huruf, sesuai dengan instruksi dari Liu Mei.


Ikan dewasa melompat dari dalam air, lalu kembali menyelam, menyebabkan percikan air dan menimbulkan bunyi.


Hal itu dilakukan agar bisa memancing perhatian sang Pensiunan Kaisar.


Setelah dilakukan beberapa kali, perhatian pria itu teralihkan, matanya masih memancarkan kesedihan, ia menatap ikan-ikan yang berada dibawah sana.


Namun sesuatu membuatnya terkejut.


ikan-ikan yang masih kecil membentuk sesuatu, itu adalah sebuah kalimat pendek.


......"Ayah. Jangan menangis lagi, itu membuatku sesak... Mei'er"......


Deggg..!


Mata pria paruh baya itu melotot tak percaya, ia sangat terkejut. Ia mengedipkan matanya untuk melihat ikan-ikan itu lagi, namun tatap saja. Ia melihat ikan-ikan itu membentuk kata itu.


"Mei'er.."


Ikan-ikan kembali berhamburan, mereka kembali membentuk kalimat pendek yang lain.


..."Ini aku ayah, aku berada disini. Bersamamu."...


Cairan bening keluar lebih deras lagi, "Mei'er... Nak, apa itu sungguh kau?... Mei'er..."


Hawa dingin menempa wajah nya yang mulai keriput itu, Ia merasa seperti seseorang sedang memeluknya dari depan.


"Mei'er... Nak.. ayah minta maaf.... maafkan ayah karena tak bisa menjagamu.. maafkan ayah, karena ayah kau harus pergi.. andai ayah tahu, ayah tak akan membiarkan mu pergi ke sana.. ini salah ayah.. maafkan ayah, Nak.." ucapan yang keluar dari bibir pensiunan Kaisar malah membuat Liu Mei semakin terisak.


Ikan-ikan kembali berhamburan, membentuk kata yang sedikit lebih panjang.


..."Ayah. Ini bukan salahmu, inilah takdirku.. Maafkan aku, Ayah."...


Pensiunan Kaisar semakin terisak, hawa dingin disekitarnya masih terasa, ada aura yang ia kenal disana, itu seperti milik putrinya. Ia merasakan kehadiran putrinya bahkan seperti sedang memeluknya.


..."Aku menyayangimu, Ayah. Terima kasih karena telah menyayangi dan mencintai ku. Maafkan aku karena membuat ayah kecewa. Aku menyayangi kalian berdua."...


Mata pensiunan Kaisar kembali melihat kalimat yang dibentuk oleh ikan-ikan kecil dibawah sana.


"Ayah sangat menyayangi mu, Nak. Sangat..." balas pensiunan Kaisar.


..."Sampaikan salam ku pada Gege, Terima kasih karena telah memberikan dua ponakan yang tampan untukku. Salam sayang, Xian Liu Mei."...


Itu adalah kalimat terakhir yang dibaca oleh pensiun Kaisar. Hawa dingin disekitarnya perlahan menghilang, ia merasakan jika kehadiran putrinya kian menipis, lalu menghilang.


Bersamaan dengan itu, Putranya tiba disana.


"Ayah.." panggil Lio Guan.


Terlihat wajah sang ayah yang terlihat sedih sekaligus bahagia.


"Ayah, Bibi cantik bisa terbang." ucapan Yi Feng sontak membuat kedua pria berbeda generasi itu memandangnya.


"Ayah, aku juga ingin terbang seperti Bibi cantik, apa boleh?"


Lio Guan mengangg,"Tapi setelah kau besar nanti."


"Feng'er, apa Bibi masih disini?" lanjutnya.


Bocah itu menggeleng, "Bibi cantik pergi. Dia terbang seperti burung, tapi tak mempunyai sayap." ucap polos Yi Feng.


Pria paruh baya itu menceritakan apa yang barusan terjadi padanya kepada sang Putra, Lio Guan juga menceritakan apa yang terjadi padanya ketika berada di ruang kerjanya.


.............


Waktu Liu Mei sudah tak banyak lagi, tersisa satu batang dupa.


Tinggal mereka yang harus ia temui, berpamitan karena tak sempat berpamitan dulu.


Meskipun hanya dengan mengamati mereka, namun itu sudah cukup.


Yah, mereka.

__ADS_1


Axila menemani Liu Mei pergi ke tempat yang sangat ingin dikunjungi oleh Putri Mahkota ini. Tempat yang menyimpan banyak kenangan bagi sang Putri Mahkota.


Barak militer.


__ADS_2