
Semua orang didalam ruang rawat Azka sedang menatap Axila dengan tanda tanya,
Tiga orang cewek dan empat lainnya adalah cowok. Sedangkan Axila sedang duduk disamping Azka dengan terus menyuapi potong buah apel ada adiknya. Sedangkan Jin-Na dan Moonbin hanya terdiam saja.
"Jadi, kau kakak dari Azka?" tanya salah satu cowok yang berpenampilan layaknya anak nakal dan berantakan.
Sementara teman-temannya terdiam dan menunggu Axila menjawab.
Axila menatap mereka, "Kalau iya memangnya kenapa?"
"Aiss! Wanita ini." geram yang bertanya tadi.
"Kak Jong-un, dia kakakku. Jangan seperti itu padanya." potong Azka, matanya sudah menatap cowok yang dia panggil Jong-un dengan wajah yang cemberut.
Jong-un memalingkan wajahnya menghindari tatapan Azka.
'Aisss!. Kenapa dia jadi menggemaskan seperti itu, sih?' batinnya.
"Hei, kau yakin?
Wajah kalian saja tak mirip layaknya kakak beradik." sambung yang lain.
"Kami memang bukan saudara kandung ataupun berasal dari gen yang sama." sambung Axila.
"Maksudmu?" tanya yang lain.
"Ayah kami bukan saudara kandung, paman di adopsi oleh kakek dan nenek sebelum ayahku ada.
Tapi kami tetap saja saudara dan memiliki nama belakang yang sama. Iya 'kan Noona?." sambung Azka, Axila mengangguk sambil mengelus puncak kepala adiknya dengan gemas.
"Jadi artinya, kalian tak bisa melakukan tes DNA untuk mengetahui kemiripan gen. Begitu?" timpal yang lainnya.
"Ya, memangnya kenapa?" tanya Axila.
Mereka menggeleng serempak, lalu bermain dengan pikiran masing-masing.
Beberapa saat kemudian, ada empat orang pengawal yang masuk dengan menenteng kantong belanjaan. Semuanya hanya menatap bingung pada para pengawal itu tak terkecuali Axila.
"Nona, sudah semuanya." ujar salah satu dari mereka.
"Terima kasih. Kalian sudah ambil punya kalian?" tanya Axila.
"Sudah, Nona. Terima kasih." balasnya, lalu meninggalkan semua remaja yang berada didalam sana.
"Noona. Apa itu?" tanya Azka.
"Jajanan. Tadi aku menyuruh mereka untuk membelikan kita jajanan, bukankah kalian bosan?" ujarnya, lalu menatap yang lain.
"Sungguh?" mata Azka berbinar, dengan cepat dia mengambil satu kantong belanja dan menumpahkan isinya diatas bangsal.
"Wooo.. Banyak sekali." ujarnya dengan senang.
Yang lain mengarahkan matanya pada jajanan yang berada diatas bangsal Azka.
"Ambillah, ini semua untuk kalian." ujar Axila pada yang lain.
"Ini sebagai ucapan terima kasih karena telah menjaga adikku selama ini." lanjut Axila.
Jin-Na dengan tak malunya langsung membuka kantong belanja dan menumpahkan nya diatas meja depan sofa dimana teman-temannya sedang duduk.
"Wooo... Ada roti kesukaan ku." dengan cepat tangannya mengambil apa yang dia mau.
Yang lain menatapnya, kemudian mengambil kantong-kantong yang lainnya dan menumpahkan semua isinya lalu berebutan mengambil jajanan yang mereka mau.
Ahhh.
Bad boy dan bad girl juga sama saja, mereka membuatnya tersenyum tipis.
"Noona tak makan?" tanya Azka dengan mulut yang penuh dengan keripik kentang, dia memang sangat suka dengan jajanan itu.
"Aku punya sendiri." balas Axila. Tangannya mengambil tas yang lainnya, sebenarnya kosong namun Axila mengeluarkan beberapa jajanan khas Indonesia didalam sana dan mengambilnya.
Mata Azka yang menangkap pergerakan kakaknya yang mengeluarkan sesuatu dari dalam tas segera melongo.
"Noona-a. Kau curang!" pekik Azka, membuat semuanya menatap kearah dimana Azka sedang menatap Axila.
"Apa? apanya yang curang?" tanya Axila bingung.
Azka mengangkat tangannya dan menunjuk pada Snack yang saat itu sedang dipegang oleh kakaknya.
"Itu! Aku mau itu juga." ujarnya dengan cemberut.
Oh, ayolah.
__ADS_1
"Kau sudah punya lalu mau ini lagi?" balas Axila dengan mengangkat Snack yang Axila pegang.
"Ya. Aku mau itu, kau curang membelikan kami jajanan Korea sedangkan punyamu jajanan Indonesia." celetuk Azka.
"Jajanan Indonesia?"
"Wahh"
Yang lain juga ikutan menggeleng tak adil.
"Hei. Aku sudah membelikan mu itu, makanlah sana.
Ini punyaku." ujar Axila, dia mundur dan tak mau berdekatan dengan Azka.
"Noona-a." Azka menyimpan keripik kentang miliknya, lalu beranjak turun dari bangsal namun dihalangi oleh infus yang masih melekat dipunggung tangannya. Remaja itu mengangkat tiang dimana tempat infusnya terpasang dan berjalan kearah Axila.
Namun dengan cepat Axila berdiri dari duduknya dan menghindari Azka.
"Noona-a." Azka menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu berjongkok disana.
Axila tertawa terbahak-bahak melihat tingkah adiknya yang menggemaskan layaknya anak kecil.
"Ayo tangkap aku kalau bisa." ejek Axila.
Azka menundukkan kepalanya, lalu menekuk wajahnya dengan cemberut. Dan tangannya seperti sedang melukis diatas lantai yang dingin, menggambar lingkaran namun tak terlihat.
Semuanya memasang wajah terkejut, remaja yang selalu memasang wajah dingin dan tak tersentuh itu bersikap layaknya anak kecil saat ini.
"Apa itu sungguh Azka?"
"Aku rasa bukan."
"Mengapa?"
"Jika itu Azka, dia tak akan mungkin seperti anak kecil yang sedang merajut."
"Tapi bukankah dia menggemaskan?"
"Benar juga sih. Dia menggemaskan seperti itu."
Para cewek hanya menatapnya dengan menggemaskan, begitu juga yang cowok.
"Hei, Azka." panggil Moonbin.
Azka mengangkat kepala menatap Moonbin.
Azka bukannya menurut, dia malah kembali menundukkan kepalanya dan melukis dengan jarinya tanpa adanya kuas dan cat air.
Axila berjalan mendekat, lalu berjongkok dan memberikan Snack yang tadi diinginkan oleh Azka.
"Ambillah, Noona masih punya yang lain."
Azka mengambil Snack yang dipegang Axila, lalu memeluk Axila.
"Noona, kau yang yang terbaik.
Aku menyayangimu." dikecupnya pipi Axila dan berdiri lalu membawa tiang infus nya dan kembali keatas bangsal.
Axila menyusul, dia segera mengambil tissue basah diatas nakas dan membersihkan tangan Azka yang dipakai untuk bermain dilantai.
Sedangkan bocah itu membiarkan kakaknya membersihkan tangannya lalu membuka bungkusan Snack dan mulai memakannya.
"Dasar bocah!"
"Wah, aku juga mau seperti itu."
"Daebak. Aku bahkan tak pernah diperlakukan dengan baik oleh kakak perempuan ku. Aku iri pada si bocah."
Ketenangan mereka tak berlangsung lama, karena alarm Jin-Na berbunyi di ponselnya.
"Omo! Aku lupa, hari ini ada kuis. Aku harus pergi." ujarnya, yang lain menatapnya lalu mengalihkan perhatian mereka pada jam yang menggantung dekat jendela.
"Omo! Aku harus pergi kerja paruh waktu."
"Aku juga harus kuliah."
Dengan cepat mereka berpamitan dan berjanji akan datang lagi setelah selesai dengan urusan masing-masing.
"Azka, kami harus pergi. Nanti kami datang lagi." ujar Jin-Na.
"Ah, baiklah. Hati-hati di jalan, kak." balas Azka sambil melambaikan tangannya pada mereka yang mau pergi.
"Tunggu sebentar." tahan Axila, mereka mengalihkan pandangan pada Axila.
__ADS_1
Sedangkan gadis itu mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.
"Ini, aku tak punya banyak uang cash, jadi pakai saja untuk naik bus." ujarnya dengan memberikan masing-masing 40 ribu won.
"Tidak perlu, Nona. Kam-"
"Terima saja, Nona akan merasa bersalah jika kalian tak menerimanya." potong Moonbin cepat, dengan segera mereka mengambil uang yang Axila berikan tak lupa mengucapkan terima kasih lalu pergi dari sana. Mereka mungkin anak nakal, namun mereka masih mempunyai hati agar tak menerima pemberian orang, terlebih itu pemberian dari kakak adik bungsu mereka, ditambah Axila memperlakukan mereka dengan baik.
Ingatlah! Mereka akan bersikap baik jika orang itu juga menghargai mereka.
Namun akan berulah jika mereka tak dihargai orang lain.
Siapapun dia, pasti akan mempertahankan harga dirinya jika ada yang menginjak-injak harga dirinya. Karena apa?
Karena semua orang mempunyai harga diri yang harus dipertahankan!
(Author "Adakah yang sama kayak gini?")
Ruangan itu kembali hening, apa lagi setelah mereka pergi dari kamar inapnya.
Azka memilih untuk nonton film animasi dari pada tak tahu harus berbuat apa. Dia sudah malas mengunyah jajanan.
Ponsel Axila berdering, menandakan jika seseorang menelponnya.
"Ya, ada apa?" tanya Axila.
"....."
"Baiklah, aku kesana sekarang." ujar Axila lalu mengakhiri panggilan.
"Ada apa, Noona?" tanya Azka yang mengalihkan perhatiannya pada Axila.
"Aku harus pergi, ada yang harus diselesaikan terlebih dulu.
Aku akan kemari setelah selesai." ujar Axila.
"Kenapa? memangnya harus Noona?" ujar Azka dengan kesal. Ayolah, dia masih ingin bersama Axila disini.
"Maaf, Azka.
Sebagai pemilik baru, masih ada beberapa hal yang belum sempat diselesaikan kemarin.
Moonbin akan menjagamu disini." lanjut Axila.
"Apakah harus?" tanyanya polos.
Axila mengangguk, "Ya. Ini semua juga untuk kebaikan mu. Aku tak punya penghasilan jika kau mau ditemani disini terus, ditambah aku sedang mengambil cuti agar menemuimu disini." ujar Axila berbohong.
Tak punya penghasilan? Ayolah.
Ada banyak hartanya yang berada didalam ruang dimensinya, yang sangat melimpah dan tak akan pernah habis dipakai.
"Baiklah." Azka pasrah. Bagaimanapun Axila lah yang selanjutnya akan menanggung jawab dirinya, sebagai seorang kakak sekaligus wali nya.
Axila mengeluh lembut pipi Azka, "Aku akan kembali. Jangan sedih, oke?"
Azka mengangguk.
"Ini, teteskan pada air yang akan kau minum. Ini akan mempercepat pemulihan tubuhmu." Axila memberikan obat tetes yang sama pada Azka, sama seperti yang dia berikan pada Tuan Kang dan Shin-Young.
"Aku pergi dulu." Axila mengambil tasnya dan meninggalkan Azka dan Moonbin.
Azka melambaikan tangannya, semangatnya hilang ketika Axila menghilang dari pandangannya.
"Ahhkkk, aku bosan." ujarnya, lalu kembali menonton animasi dilayar ponselnya.
...-------...
Note!
Kabar si Babang Mike gimana, Thor?
Kabarnya Si Levi gimana, Thor?
Thor, si Shin-Young udah sembuh belum?
Kabar yang lain gimana, Thor.
Tenang yah, raiders ku tercinta.
Kabar mereka bakal author munculin di chapter-chapter yang akan datang.
Untuk sekarang, Azka sama Axila dulu yah. Biar kangen-kangenan dulu gitu.
__ADS_1
Nanti setelah itu bakal author munculin si Babang Mike, Levi sama yang lainnya.
Oke?!