
"Bagaimana sekolah mu hari ini?" tanya Gong-Min tiba-tiba, membuat Azka yang sedang mengobrol dengan Sehun mengalihkan pandangannya pada salah satu Hyung nya itu.
"Baik, seperti sebelumnya." balasnya, kembali menggigit pizza yang berada ditangannya.
"Lalu, bagaimana dengan Nona. Apa kau merasa nyaman tinggal bersamanya?" sambung Jin-Na.
Azka kembali mengangguk, "tentu saja. Semuanya sudah disiapkan oleh Noona, tapi tentu saja ada yang membuatku kesal." adunya.
"Kesal?,,, Mengapa?,, Apa karena nona terlalu sibuk bekerja?" tanya Soo-Ah.
Azka menggeleng, "bukan" bantahannya cepat.
"Itu karena pria semalam, mungkin dia pacar Noona. Dia sepertinya datang dari Indonesia untuk menemui Noona, tapi datang diwaktu yang yang tepat." ujarnya, aisshh. Mengikatnya saja sudah membuat Azka kesal.
"Pria? Indonesia?" ulang Myung-Jun.
"Hmmt." balas Azka, "tanyakan saja pada Hyung Bin." lanjutnya, kemudian mengambil cola yang berada didepannya dan meneguknya.
Pandangan mereka semua mengarah pada Moonbin, meminta penjelasan. Karena memang Moonbin lah yang menjadi pengawal Azka.
"Itu benar, Nona juga kelihatannya sedikit kesal dengan keberadaan pria itu. Kurasa, dia juga menginap di hotel Nona." ujar Moonbin menjelaskan.
"Simpan dulu masalah itu, yang harus kita lakukan adalah tugas dari Nona sekarang." timpal Violet tiba-tiba, membuat semuanya menjadi terdiam dan memasang wajah serius mereka.
Yang tadinya sedang tersenyum dan sedikit tertawa, kini menjadi wajah poker termasuk Sehun juga. Jika Azka, jangan tanya lagi bagaimana reaksi remaja itu sekarang. Dia bahkan sudah menantinya sejak semalam ketika pulang dari rumah makan Sehun.
"Play The Game!" ujar mereka bersamaan.
..................
Tuan Kang, atau bisa dibilang asisten Kang. Pria itu sudah bersiap sejak tadi, menunggu adik dari bos nya tiba dan setelah itu mulai melakukan aksinya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Violet dan Min-Hyuk yang sudah mengeluarkan laptop mereka dari dalam ransel yang dibawa, lalu memetakannya diatas meja dengan menyingkirkan piring dan gelas minuman mereka.
Sedangkan Azka, remaja itu mengambil dompetnya dan mendekati kasir.
"Permisi, aku minta tagihan nya." ujar Azka.
Ibu tiri Azka yang saat itu sedang menghitung uang di dalam laci segera mendongkak, "totalnya-" ucapannya terhenti saat melihat wajah familiar itu.
"Apa yang kau lakukan disini?!
"Tagihannya." ulang Azka, dia sungguh malas menghadapi ibu tirinya itu, tak ada lagi rasa takut yang ia rasa jika berhadapan dengan ibu tirinya seperti dulu lagi.
Senyum sinis keluar dari wajah wanita itu, "berani juga kau datang kesini, yah!" ujarnya.
"Nyonya, berikan aku tagihannya. Aku tak ingin ribut denganmu." balas Azka, wajah nya bahkan sudah terlihat kesal. Ini sudah keempat kalinya ia mengucapkan kata yang sama.
Mata wanita itu tertuju pada kumpulan anak muda, lalu kembali pada Azka. "Totalnya satu juta won." ujarnya.
"Kau gila?!.... Semua ini tak sampai satu juta!" ujarnya, tentu saja Azka tahu total pesanan mereka.
"Hei! Ini pemerasan!" bentak Azka. Ia tak ragu untuk membentak wanita itu, untuk apa ia takut jika semua kakaknya ada sini, ditambah semua ini sedang diawasi CCTV.
"Kau membentak ku?!" balas wanita itu, dia keluar dari meja kasir dan berdiri dihadapan Azka.
Semua pengunjung menatap mereka, ditambah dengan kelompok anak muda itu.
"Hei, kau tak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu? bagaimana anak seperti mu bicara kasar dengan orang yang lebih tua!" ocehnya.
"Tidak! Karena kau tak pernah mengajariku sopan santun pada orang yang lebih tua!" balas Azka, "Andaikan kau tak merebut ayahku maka aku akan belajar dari nya, tapi kau ini seorang jal@ng, bagaimana bisa menahan diri dengan harta yang melimpah dari ibu-"
*Plakkk!!*
__ADS_1
Tamparan yang begitu keras menghantam pipi mulus Azka, kepala nya masih mengarah kesamping ngikut arah tamparan panas itu.
Sungguh, ini sangat panas bahkan bekas tamparan itu langsung terlihat dipipi kirinya.
"Jaga ucapan mu anak bodoh!" bentak wanita itu, "ayahmu saja yang seorang baj!ngan yang selal-"
"DIAM!!" bentak Azka, matanya memerah menatap wanita itu.
"Keluar kau dari sini!!!" bentak Azka lagi.
Semua orang pada berbisik, membicarakan keduanya. Mereka terus menyaksikan apa yang sedang terjadi.
"Kau mengusir ku?" ujar wanita itu, "memangnya kau siapa yang berani mengusir ku dari Caffe milik-"
"Ini milikku!!!" bentak Azka, nafasnya sudah memburu. Tangannya mengepal dengan sangat keras, ingin rasanya ia memukul wanita ini sampai masuk rumah sakit.
Jika wanita itu memakinya, tak apa.
Jika wanita itu menampar nya juga tak apa.
Ingin menyiksanya juta tak apa.
Tapi jangan sesekali membawa ayah ataupun ibu nya, karena itu merupakan hal yang paling dilarangnya.
Dan wanita itu juga sudah tahu, apa yang paling sensitif terhadap anak tirinya itu.
...----_----...
Jreng-jreng-jreng....
Pembalasan dendam udah dimulai terhadap ibu tiri dan saudara tirinya Azka.
__ADS_1
Siap-siap yah, buat olahraga jantung nya. Karena disini akan banyak banget aksi yang mengguncang psikologis mereka..
Zero^-^