Perjalanan Waktu Putri Mahkota

Perjalanan Waktu Putri Mahkota
Moonbin


__ADS_3

Azka sudah selesai dengan seragamnya, lalu memasukan beberapa buku kedalam tas sekolahnya. Saat hendak keluar, pintunya malah diketuk oleh seorang dari luar sana.


"Kak Jin-Na? annyeong." sapa Azka, dia sedikit terkejut dengan Jin-Na yang sudah berdiri didepan kamarnya sambil membawa satu mangkuk sereal dan segelas susu.


"Sarapan dulu baru berangkat, ini sudah kakak buatkan untukmu." ujar Jin-Na dengan tanpa permisi memasuki kamar Azka yang rapi tidak seperti remaja lainnya yang kamarnya akan berantakan.


"Kak, kau tak perlu membuatkan ku sarapan seperti ini." ujar Azka tak enak hati.


"Aku tak merasa kerepotan, karena ini sudah menjadi tugasku." balas Jin-Na.


"Tugas? kak, kau lucu hari ini."


"Huh, aku hanya menjalankan perintah saja, lagi pula kau memang seperti adik kecilku." tangan Jin-Na mengacak rambut Azka, "Sarapan lah, aku harus berangkat kuliah dulu." Jin-Na segera keluar dari kamar Azka, lalu memasuki kamarnya mengambil tas dan buku cetak miliknya dan pergi dari rumah.


Azka yang hanya menatap sereal yang dibuatkan oleh Jin-Na, segera saja dia duduk didepan meja dan mulai melahap sarapannya, tak lupa diteguknya susu hangat itu.


"Azka, ayo berangkat." ujar seorang pria tampan didepan kamar Azka yang terbuka pintunya.


"Kak Moonbin?"


"Hmm, ayo cepat sebelum kau terlambat." ujar Moonbin lagi.


"Ah, baiklah." balas Azka lalu mengambil tas sekolahnya dan keluar dari dalam kamar, tak lupa untuk menguncinya. Azka jadi bingung sendiri saat melihat tampilan Moonbin yang tak seperti biasanya, pria itu mengenakan setelan jas tanpa dasi saat ini.


Didepan rumah sudah tersedia satu motor sport berwarna hitam, Moonbin segera menaiki motor itu dan melirik Azka dari kaca spion.


"Ayo naik, sebentar lagi kau akan terlambat." ujarnya.


Azka kembali mendapatkan kesadarannya, segera saja dia duduk dibelakang Moonbin, pria itu segera melakukan motornya dan meninggalkan rumah yang merupakan kost mereka.


Azka pikir Moonbin akan pergi bekerja dan akan melewati jalan yang sama dengan arah sekolahnya.


Namun perkiraan Azka salah, Moonbin malah membawanya ke sekolah dan memarkirkan motornya diparkiran para murid.


"Kak Moonbin, kau tak berangkat kerja?" tanya Azka ragu, melihat Moonbin yang juga ikut turun dari motornya.


"Aku sedang bekerja saat ini." balasnya.


"Ah, kau menjadi guru magang disini?" tebak Azka asal.


Moonbin menatap remaja itu, "tidak. Aku tak cocok menjadi seorang guru, namun saat ini aku sedang bekerja." balas Moonbin.


"Bekerja? tap-"


"Aku hanya menjalankan perintah, aku menjadi pengawal mu bocah." potong Moonbin.


"Menjalankan perintah? memangnya siapa yang menyuruhmu, kak?"


"Kau jadi semakin cerewet yah, masuklah dan belajar dengan giat. Jangan mengecewakan nona." Moonbin mendorong pelan tubuh Azka.


Azka hanya mengikuti kata Moonbin tanpa melawan. Sepanjang jalan, semua mata tertuju padanya, dia berhasil mendapatkan perhatian seluruh siswa.


Sehun yang melihat temannya digiring oleh orang asing segera mendekat, meskipun dia merasa takut saat itu.


"Azka." panggil Sehun.


Azka menghentikan langkahnya, menoleh pada Sehun yang saat itu berlari kecil kearahnya.


"Annyeong." sapa Sehun, matanya tertuju pada Moonbin yang berada persis di samping Azka.


"annyeong." sapa Sehun, Moonbin menjawab dengan mengangguk. Lalu pria itu mundur dua langkah kebelakang.


"Siapa dia?" tanya Sehun pada Azka dengan berbisik. mereka juga berjalan kearah kelas mereka dengan menaiki anak tangga diikuti Moonbin dibelakang kedua remaja itu.


"Kak Moonbin, dia serumah denganku." balas Azka.


"Lalu mengapa dia mengikutimu kesini?" tanya Sehun lagi.


"Aku juga tak tahu, dia bilang hanya menjalankan perintah. Tapi aku bahkan tak tahu siapa yang menyuruhnya." Balas Azka, mereka terdiam dan terus melangkah sampai didepan kelas.


Moonbin bergerak dengan cepat, membukakan pintu untuk Azka.


"Silahkan, Tuan muda." ujar Moonbin, membuat Sehun, Azka, dan lainnya menatapnya dengan tak percaya.


Bahkan tatapan seluruh siswa beralih pada Moonbin yang saat ini sedang berdiri didepan pintu kelas. Kelas yang tadinya ribut tiba-tiba sunyi saat melihat Moonbin membuka pintu kelas.

__ADS_1


Moonbin memang sengaja memanggil Azka dengan sebutan "Tuan Muda" agar seluruh siswa tahu, jika Azka adalah seorang tuan muda dari keluarga terpandang.


Dengan bingung Azka melangkah, memasukinya kelasnya diikuti Sehun yang ditarik tangannya oleh Azka.


Remaja itu duduk ditempatnya, sedangkan Moonbin berdiri dibelakang Azka.


Kelas masih sunyi, mereka terus memandangi Moonbin yang saat ini melirik mereka satu persatu.


"Aku keluar sebentar, Tuan muda." pamit Moonbin dan lalu menundukkan kepalanya lalu keluar dari kelas itu.


Tiba-tiba saja yang tadinya hening kini kembali ribut, mereka dihebohkan dengan Azka yang saat ini sudah menundukkan kepalanya diatas meja.


"Kau dengar itu? dia seorang tuan muda."


"Daebak, apa mereka sedang berakting?"


"Akting yang bagus."


Keributan didalam kelas tak membuat Azka menanggapi omongan-omongan pedas dari teman sekelasnya, dia malah memasang headset ditelinga nya agar tak mendengar ucapan mereka.


Beralih pada Moonbin yang saat ini sudah berhadapan dengan kepala sekolah, dia menatap pria setengah baya itu dengan malas.


"Jadi, apa yang bisa kubantu, Tuan?" tanya kepala sekolah.


Moonbin mengeluarkan satu kertas putih dari dalam kantong jasnya dan menyodorkan pada kepala sekolah.


Kepala sekolah menerimanya, lalu membuka lipatan kertas dan menemukan beberapa huruf yang dicetak dengan mesin.


Kepala sekolah membaca tiap kata yang tertera disana, lalu menyimpan kembali kertas itu.


"Siapa yang memerintah mu, tuan?" tanya Kepsek.


"Nona ku. Aku hanya menjalankan perintah, Pak." balas Moonbin.


"Itulah mengapa aku bertanya, siapa dia."


"Kau tak perlu tahu tak perlu repot-repot mencari tahu, kau tak akan tahu siapa dia." balas Moonbin. "Jangan menyusahkan pekerjaanku, pak. Karena aku bukan orang yang baik." Ujar Moonbin dingin.


"Aku hanya memberitahu saja, jika aku akan berada disekolah ini dan mengawasi tuan muda kami. Aku tak peduli jika kau keberatan, karena ini adalah perintah dari nona ku." ujar Moonbin, dia kemudian menundukkan kepalanya dan pergi dari sana.


"Haiisss. Siapa lagi anak dari keluarga terpandang yang bersekolah disini?" gumam Kepala sekolah.


"Buka buku kalian halaman 136 bab 2." ujar seorang pria yang berada didepan kelas, dia yang memimpin berjalannya pelajaran hari ini.


Tiba-tiba saja pintu terbuka dan masuklah Moonbin, dia menundukkan kepalanya pada guru yang saat ini sedang menatapnya dengan terkejut. Semua tatapan dari siswa juga mengarah pada pria tampan berpostur tinggi itu.


"Lanjutkan saja, aku hanya menjalankan tugasku disini." ujar Moonbin, dia sudah berdiri dibelakang Azka. Bahkan remaja itu juga ikut terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Moonbin.


Guru menetralkan rasa gugupnya, dia jadi kikuk saat menatap wajah Moonbin yang terlihat dingin dan tak tersentuh.


Pelajar kembali berlanjut, namun tidak berjalan dengan baik karena kehadiran Moonbin didalam kelas.


Akhirnya, jam istirahat datang. Semua siswa langsung saja berhamburan keluar kelas setelah menyimpan buku mereka didalam tas.


Azka juga melakukan hal yang sama, remaja itu segera menatap kearah Moonbin.


"Kak Moonbin." panggil Azka.


"Ya, tuan muda."


"Aihh, kenapa kau berada didalam kelasku sepanjang pelajaran?" tanya Azkal.


"Sudah saya katakan tadi, jika saya hanya menjalankan perintah, Tuan muda."


"Kenapa kau jadi format padaku, kak? siapa. sebenarnya orang yang memerintahkan mu?" ujar Azka yang sedikit kesal.


"Saya hanya menjalankan perintah dari nona mu-"


"Aku bahkan tak tahu siapa nona yang kau maksud kak."


Dia bangun dari duduknya, lalu meninggalkan kelas dengan Sehun yang mengikutinya dari belakang.


Moonbin menerima pesan dari seseorang, segera saja dia keluar dan menjumpai seorang gadis yang berada persis didepan gedung sekolah dengan mobil Ferrari hitam.


"Kau datang, Nona?" tanya Moonbin.

__ADS_1


"Hmm, ini makan siangnya. Aku harus pergi sekarang, ada yang harus ku jumpai." ujar Axila, yah dia adalah Axila. Axila memberikan tiga kotak makan siang untuk Moonbin, duanya berwarna merah dan yang satunya lagi berwarna biru.


"Punyamu dan temannya berwarna merah, sedangkan adikku berwarna biru. Aku pergi dulu." Segera saja gadis cantik itu menginjak pedal gas, lalu meninggalkan lingkungan sekolah.


Moonbin kembali ke gedung sekolah, apa Azka sedang makan siang di kantin? pikir Moonbin.


Segera saja pria tampan itu melangkah mencari kantin, dengan sesekali bertanya pada siswa.


Azka yang saat itu sudah selesai mengantri sedang duduk dan menikmati makan siangnya, dengan Sehun yang berada disampingnya.


Ketenangan mereka tak berlangsung lama, karena ada beberapa orang siswa datang dan mengganggu ketenangan kedua remaja itu.


"Woy Azka!" pekik seseorang dengan suara yang lantang. Disaat yang bersamaan, Moonbin sampai didepan kantin dan mendengar seseorang meneriaki nama Azka.


Para siswa yang beberapa hari lalu mengganggu Azka ketika pulang, yah itulah mereka.


Azka menengadah, melihat siswa lain yang sudah menghindari tempat duduk mereka saat ini.


"Ada apa?" tanya Azka dengan sedikit ketakutan. Moonbin masih berdiri ditempatnya, mengamati apa yang terjadi dengan satu pena yang menggantung didepan jasnya.


"Wah wah. Sudah berani sekarang kau, huh?!" bentak si pemimpin.


Sehun yang berada disamping Azka sudah ketakutan, dia menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya.


"Sepertinya makan siang mu enak sekali," jedanya, "tapi ada yang kurang."


Tangannya menuangkan susu kotak pada makanan Azka.


Didepan pintu, Moonbin sudah menahan kesalahannya. Kakinya langsung melangkah kedepan.


"Makanlah, ini sudah lengkap." ujar siswa itu lagi, dengan ditertawai oleh teman-temannya.


"Hei, kubilang makanlah! apa kau tak mendengarku?!" tangannya mulai menampar pipi Azka.


Saat tangannya kembali berayun, tiba-tiba saja ada yang memegang tangan itu dengan sangat kuat.


"Ahh...!" pekiknya, bagaimana tidak, tangannya diputar kebelakang.


Semua siswa terkejut dengan apa yang mereka lihat, Moonbin sedang menatap siswa itu dengan tajam.


"Apa yang kau lakukan, bocah?!" suara Moonbin begitu dingin, membuat para siswa jadi ketakutan.


"Siapa kau brengs3k! lepaskan tanganku!Aaahh" ujar siswa itu mengaduh kesakitan.


"Maaf, Tuan muda. Makan siang anda jadi terganggu karena kecoak kecil ini?" ujar Moonbin menunduk pada Azka.


Sedangkan Sehun, dia menatap Moonbin dengan kagum. Pria itu terlihat sangat keren saat ini.


"Pergilah sebelum aku mematahkan tanganmu, bocah." ujar Moonbin lalu melepaskan tangan siswa itu, dengan segera saja dia dan teman-temannya pergi dengan ketakutan.


Moonbin langsung menggeser piring makan Azka, lalu meletakkan dua kotak bekal berwarna merah dan satu lagi berwarna biru didepan Azka, lalu mendorong bekal itu pada Azka setelah dibuka tutupan nya


"Silahkan dinikmati, Tuan muda."


Azka menatap bekal yang diberikan oleh Moonbin, ada nasi goreng telur dengan beberapa lauk lainnya seperti rendang, ayam kecap dan sayur. Tak lupa ada beberapa buah anggur, kiwi dan semangka yang sudah dipotong dadu. Makanan khas negara Indonesia, namun tak diketahui oleh remaja itu.


"Ini?"


"Makanan yang baru saja diantara oleh nona. Nona juga minta maaf karena tak sempat menemui anda karena masalah pekerjaan."


Azka belum makan makan siang yang dikirimkan Axila, hingga terdengar notifikasi yang dikirimkan oleh seseorang.


"AL^-^"


'Apa sudah makan siangnya? maaf karena tak menemuimu di sekolah. Semangat belajarnya.'


'Dia? jadi dia yang menyuruh Kak Moonbin untuk menjagaku?' batin Azka.


Segera saja remaja itu mengambil sumpit dan menikmati makan siang nya.


Sehun yang sejak tadi menatap makan siang Azka sudah disodorkan bekal yang lain dari Moonbin.


"Makanlah, nona juga memberikannya padamu."


"Ah. terima kasih." balas Sehun, dengan tak ragu lagi dia mulai melahap makan siang yang sama dengan punya Azka.

__ADS_1


Moonbin juga melakukan hal yang sama, dia makan siang di kantin bersama dua remaja itu. Dengan tatapan aneh dari para siswa lainnya.


Mereka iri dengan makanan Azka yang terlihat sangat enak.


__ADS_2