
Barak militer.
Satu kata yang dapat mengguncang mental seseorang, apa lagi seseorang dengan mental kecil dan penakut.
Tentu saja, siapapun tahu jika barak militer bukanlah tempat untuk bermain, itu adalah salah satu tempat yang cukup menyeramkan.
Kau bisa melihat gagahnya para kesatria atau prajurit diluar sana, namun tidak tahu bagaimana perjuangan mereka.
Mereka harus di tempah fisik dan mentalnya agar menjadi orang yang kuat, berani dan tegas.
Dunia militer tak membutuhkan orang yang lunak, alias pengecut.
Karena mereka dibentuk untuk melindungi negaranya, melindungi area kekuasaannya, melindungi orang-orang yang mereka cintai, Tanah kelahiran mereka.
Terlebih, orang-orang sang DEWI PERANG yang membentuk mereka agar menjadi kuat.
meskipun gadis itu sudah tak berada bersama mereka, tetapi rasa kepedulian yang diajarkan oleh nya tak pernah hilang, keberanian yang diajarkan tak pernah luntur, dan rasa persaudaraan yang dibuatnya semakin erat.
Sang mendiang Putri Mahkota, siapapun tak pernah melupakannya, wanita pertama yang berani turun langsung ke Medan perang Lalu memukul mundur pasukan musuh, memenangkan peperangan pertama yang ia ambil sebagai tugasnya.
Wanita yang berani mengambil keputusan terbaik untuk semua orang yang berada dibawah perlindungan kerajaan.
Saat mendengar jika Dewi Perang mereka telah meninggal, hal itu memukul para kesatria/prajurit yang ada. Mereka sangat shock dengan kabar itu, bahkan tak percaya.
Namun, saat Jendral, panglima dan Kapten mereka yang mengatakannya dengan serius, mereka sangat bersedih.
Bagaimana bisa Dewi mereka meninggal diluar sana? sedangkan dalam peperangan tak pernah sekalipun gadis itu terluka parah yang menyebabkan nyawanya dalam bahaya.
Lalu, terjatuh kedalam laut lalu meninggal?
Ini terdengar seperti omong kosong!
Membantah, namun inilah kenyataannya.
Namun akhirnya, mereka kembali bangkit. Mereka masih harus melindungi apa yang sudah menjadi tugas mereka. Tak ingin menjadi pengecut karena Gadis itu telah pergi, mereka harus mempertahankan apa yang sudah dilakukan oleh Gadis itu. Bahkan, mereka harus lebih kuat lagi untuk membuktikan jika mereka mampu tanpa gadis itu.
Harus membuatnya bangga pada mereka. Itulah prinsip mereka.
Tak ada pemimpin sebaik Putri Mahkota Xian Liu Mei, hanya dia seorang.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, Liu Mei dan Axila tiba ditempat itu.
Pandangan kerinduan tertuju pada tempat itu, tempat dimana Liu Mei menghabiskan waktunya lebih banyak disini dari pada di Istana.
Saat memasuki tempat itu, matanya disuguhkan dengan para pria yang sedang berlalu-lalang. Ada pula yang sedang berlatih, ada yang bersantai, dan beberapa yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Mata Liu Mei tertuju pada tempat yang selalu ia tempati, itu adalah tempat pemimpin mereka.
Bahkan setelah Liu Mei meninggal, tak ada yang berani berada disana. Karena dilindungi oleh pilar-pilarnya.
Tempat itu berada persis di bangunan yang menjadi kantor sekaligus tempat yang strategis untuk mengamati pelatihan yang dilakukan oleh para kesatria/prajurit.
Tempat itu seperti balkon, hanya ada satu pintu untuk kesana, dan itu terhubung langsung dengan kantor Dewi Perang mereka.
Dengan lantai paling atas, yaitu tingkat ke 5, dengan ruangan paling luas dan sedikit lebih mewah dari yang lainnya.
Jendral, panglima dan para kapten, kantornya berada satu tingkat dibawah Liu Mei.
Ada pula asrama mereka, ruang makan, dan lapangan pelatihan yang berada persis dibelakang kantor.
Liu Mei terbang kesana, balkon itu agar melihat semua anak buahnya dari atas sana, sama seperti yang sering ia lakukan.
Terlihat para kapten yang melatih prajurit yang sepertinya adalah baru, panglima yang mengamati sesekali melontarkan sesuatu dari bibirnya, namun tak ada Jendral disana. Sepertinya para jenderal itu masih sama, pergi ke daerah perbatasan bersama sebagai prajurit senior.
Aura kepemimpinan yang sangat kuat menyeruak di barak militer. Semua orang merasa seperti sedang diawasi oleh pemimpin mereka.
Aura kepemimpinan yang kuat itu menekan mereka, terlebih para kesatria/prajurit baru, mereka merasa sesak nafas.
Salah satu Kapten segera melaporkan hal ini kepada atasan mereka.
Dikatakan jika aura itu datang dari tempat terlarang (balkon). Tempat itu memang dilarang oleh semua orang, mereka tak boleh berada disana, meskipun hanya untuk mengamati karena itu adalah tempat Sang Dewi Perang. Dan tempat itu sendiri dilindungi oleh ke tujuh pilar.
Pilar yang dimaksud adalah, 7 orang anak yang menjadi kepercayaan Liu Mei sendiri.
Meski usia mereka sangat muda, namun mereka mempunyai aura kepemimpinan yang hampir sama seperti Liu Mei sendiri, yang bahkan tak dimiliki oleh para Jenderal dan panglima besar.
Bahkan, bisa dibilang, 7 pilar ini adalah anak-anak dari Liu Mei.
Mereka dirawat, dibesarkan dan diajari langsung oleh Liu Mei.
Mempunyai kedudukan lebih dari para jenderal dan panglima besar. Anak-anak korban peperangan didapati oleh Liu Mei sendiri.
Namun, wajah mereka selalu saja tak dikenal orang, selalu menyamarkan identitas mereka. Hanya orang-orang dengan status tinggi yang dapat melihat wajah 7 pilar ini.
Usia mereka dimulai dari yang tertua 14 tahun, hingga yang termuda 10 tahun.
Tapi jangan salah, mereka sama sadisnya dengan Liu Mei.
Mo Xie, dia adalah anggota tertua. lalu disusul oleh yang lainnya, dan terakhir adalah An Chen, dia lah yang termuda.
Mo Xie yang mendengar seseorang berada di balkon Liu Mei sangat geram, bagaimana bisa ada orang lain yang berani pergi kesana?
Apa mereka sudah malas untuk bernafas?
Saat kakinya akan melangkah keluar, telinganya mendengar tangisan yang berasal dari An Chen.
Segera saja ia pergi kesana, yang dilihatnya 6 orang Adiknya sedangkan berkumpul sambil menatap kearah balkon Liu Mei, dengan An Chen yang terus menangis.
Meskipun mereka bukanlah adik kakak sedarah, namun ikatan batin itu terhubung dengan erat.
"Ada apa?... apa yang terjadi?.. mengapa An'er bisa menangis?" hardik nya saat tiba disana.
Namun anak itu, tangisnya semakin keras.
"Ya-yang Mulia... Huaaa.... Ibu.... Huaaa..." tangis An Chen semakin keras, membuat keenam kakaknya sangat panik.
"K-kau melihat sesuatu, An'er?" tanya salah satu kakaknya.
"Ibu... Yang Mulia... Ibu... huaaa..."
Deggg....!
Tatapan mereka tertuju kearah balkon itu, aura kepemimpinan itu sangat kuat, sehingga menekan semua orang yang ada.
Apa jangan-jangan An Mei melihat...
Deggg...!
"K-kau melihat nya?"
"Apa itu sungguh, Ibu?"
"Katakan! Jangan terus menangis saja!"
Beberapa orang dengan pangkat tinggi keluar dari tempat mereka, melihat kekacauan apa yang terjadi di barak militer ini.
Tubuh mereka menegang saat merasakan aura kepemimpinan yang sangat kuat, mereka tahu persis siapa pemilik dari aura ini.
Liu Mei melihat semua orang dibawah sana yang menekuk lutut kearahnya balkon, dimana ia berdiri saat ini.
Matanya menatap penuh kerinduan pada rombongan orang dibawah sana, semua bawahannya.
Terlebih pada 7 anak asuhnya itu, 7 pilar menjadi miliknya yang ia latih sendiri dan tak ada campur tangan orang lain.
Tangisan An Chen benar-benar mengalihkan perhatiannya, ia lupa jika An Chen adalah seorang indigo.
Seseorang yang dapat melihat hal-hal diluar dugaan.
Panggilan "Ibu" dari An Chen membuat dadanya sesak, anak itu...
Tanpa diketahui oleh orang-orang, ada seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam yang melesat pergi.
Ia menggunakan jurus peringan tubuh agar cepat tiba di tempat tujuannya.
20 menit kemudian, ia tiba disana. Membungkuk dan memberitahu kepada tuannya, apa yang terjadi di barak militer.
Pensiunan Kaisar beserta Lio Guan yang mendengar laporan dari salah satu penjaga bayangan saling tatap, mereka pergi dari sana.
Dengan membawa Yi Fang serta Yi Feng. Ada pula beberapa penjaga bayangan yang melindungi tuan mereka.
Sementara di barak militer, ketujuh pilar itu sudah melesat ke tempat Liu Mei.
Mereka tanpa hambatan tiba disana.
Liu Mei menatap ketujuh anak asuhnya dengan penuh kerinduan, anak-anak itu juga terisak sama seperti An Chen.
Anak laki-laki itu memeluk Liu Mei, dan dibalas oleh gadis itu. Liu Mei terisak, namun tak bisa didengar oleh keenam anak lainnya.
__ADS_1
"Ibu... ibu..." mereka menangis, dan merasakan hawa dingin yang mengusap pipi serta rambut mereka.
Tangis semakin pecah, mengapa mereka dipertemukan dengan alam yang berbeda seperti ini?
Mereka tak meragukan kemampuan An Chen yang dapat melihat makhluk tak kasat mata, sebab Ibu asuh mereka sendirilah yang mengatakannya pada keenam anak yang lebih tua dari An Chen.
Mau marah, namun tak bisa. Terkadang mereka kesal pada An Chen yang sering ketakutan sendirian, namun tetap berusaha untuk menghibur anak itu
Hingga saat ini, mereka merasa bersyukur dan iri pada anak itu.
Mengapa hanya An Chen saja yang bisa melihat? Mengapa mereka tidak?
"Aku bangga pada kalian, sangat bangga... Kalian bisa menjaga dan melindungi satu sama lain saat aku tak bersama kalian..." ucap Liu Mei pada mereka.
"Terima kasih, Ibu... Kami selalu berusaha agar bisa membuatmu bangga." balas An Chen dengan mengusap air matanya, ia berusaha agar tersenyum.
"Apa yang dikatakan oleh, Yang Mulia. An Chen?" tanya anak yang lain.
"Ibu mengatakan jika dia sangat bangga pada kita, Dage."
Mereka segukan, berusaha agar terlihat tegar dihadapan Liu Mei yang tak terlihat.
"Kalian telah tumbuh lebih besar, aku merasa bersalah karena tak melihat kalian tumbuh seperti saat ini." ucap Liu Mei.
"Mengapa ibu pergi?... Mengapa meninggalkan kami sendiri?... Aku ingin memeluk ibu... Jiejie sering memarahiku saat berlatih.. aku ingin diajari oleh Ibu..." anak ke 6 mengeluh pada Liu Mei.
Mendengar salah satu saudaranya mengeluhkan apa yang terjadi, yang lain juga mengikuti anak itu. Mereka melaporkan apa saja yang dilakukan oleh saudara-saudaranya kepada Liu Mei.
Sedangkan orang-orang dibawah sana menahan diri mereka, merinding namun tak bisa melakukan apapun.
Mereka mendengar jika pilar terakhir dapat melihat makhluk tak kasat mata, dan saat ini mereka melihat sendiri bagaimana anak itu menangis dan memeluk sesuatu yang tak bisa mereka lihat.
Lio Guan beserta rombongan tiba di barak militer setelah sekian menit, yang mereka lihat adalah semua kesatria/prajurit yang memberikan hormat kepada salah satu gedung, dimana terlihat 7 orang anak yang sedang berdiri di balkon Liu Mei.
Aura kepemimpinan yang sangat kental menyeruak, mereka sangat mengenal aura ini.
"Ayah... bibi tadi disana, bersama Jiejie dan pada Gege." ucap Yi Feng.
Menyadari seseorang yang datang, para Jenderal dan bawahannya yang lain segera memberikan salam hormat saat mengetahui siapa yang tiba disana.
Tanpa disadari oleh Liu Mei, matahari sudah mencondong ke sebelah barat, dan siap untuk terbenam.
Harapan mereka yang berada di barak militer saat ini hanya satu. Melihat sang Putri Mahkota.
Mereka hanya dapat merasa kehadiran sang Putri Mahkota, namun tak dapat melihatnya. Sangat beruntung yang dapat melihatnya, seperti An Chen dan Yi Feng.
"Mei'er... ayah hanya ingin melihatmu, Nak..."
"Mei'er... Perlihatkan dirimu, aku merindukanmu."
Semua memiliki permohonan yang sama, Liu Mei juga memiliki harapan yang sama. Dapat memperlihatkan dirinya kepada semua orang yang menyayanginya
Matahari benar-benar akan tenggelam, cahayanya menyoroti Liu Mei yang berada disana. Tanpa mereka sadari, permohonan itu terjadi.
Yang pertama kalinya melihatnya adalah Yi Fang,
"Ayah... Ada bibi cantik disana, namun mengapa dia terlihat tembus? (transparan)"
Lio Guan mengangkat wajahnya melihat kearah apa yang dikatakan oleh putra sulungnya.
Matanya terbelalak saat mendapati adik nya berada dihadapannya, "Mei'er.." gumam Lio Guan.
Yang lain juga mengangkat wajah mereka, melihat kearah pandangan Kaisar yang sekarang.
"Mei'er..?"
"Ibu..?"
Terlihat Liu Mei yang mempunyai tubuh transparan, dan cahaya matahari yang menembusnya.
Hingga akhirnya Liu Mei memiliki tubuh utuh dan tak lagi transparan.
Terlihat mata Liu Mei yang mengeluarkan cairan bening, matanya terbelalak saat mengetahui jika dirinya bisa dilihat oleh semua orang, bukan hanya Yi Feng dan An Chen.
Pensiunan Kaisar seakan tak percaya, kini ia sedang berhadapan dengan mendiang Putri nya.
"Mei'er..." Lirihnya, segera saja ia memeluk Liu Mei dengan erat. Lio Guan juga melakukan hal yang sama, kedua putranya ia serahkan pada dua anak yang berdiri bersama mereka.
Tentu saja Karena mereka saat ini berada di balkon.
"Yang Mulia....!" Dengan serempak mereka memberikan hormat, mata mereka dipenuhi cairan bening yang mulai menetes.
"Yang Mulia, waktu anda tak banyak lagi. Hanya sampai matahari benar-benar meredup," ucapan seseorang merebut perhatian mereka yang berada diatas balkon.
"Baiklah, Axila." Balas Liu Mei.
Mendengar waktu gadis itu yang tak lama lagi, kesedihan meliputi semua orang.
"Lihatlah, Ibu. Aku sudah besar, aku akan kuat sepereti mu."
"Aku akan selalu membuatmu bangga."
"Aku akan melindungi banyak orang."
"Aku..."
"Aku..."
Ketujuh anak itu mengungkapkan apa yang terlintas dipikiran mereka.
"Nak... Maafkan ayah.. karena ayah, kau-"
"Ayah. Ini bukanlah salahmu, ini adalah takdirku.... Terima kasih karena sudah mencintai ku dan Ibuku. Aku sudah bertemu dengan Ibu,Dia wanita yang sangat cantik." Ucap Liu Mei
"Gege.." pandangan Liu Mei tertuju pada pria muda didekatnya, "Kau sangat tampan sekarang.... Terima kasih karena telah memberikan ku dua ponakan yang tampan seperti mu... Jadilah Kaisar yang adil dan penuh kasih.. Aku menyayangimu."
Lio Guan mengangguk, "Baik, Mei'er."
"Maafkan aku karena tak menjagamu, aku juga sangat menyayangi mu." Lio Guan kembali memeluk adiknya dengan penuh cinta.
Pandangan Liu Mei tertuju pada 7 anak asuhnya.
"Hiduplah dengan benar, jangan pilih-pilih makanan. Saling menjaga, jika ada yang salah kalian tahu harus melakukan apa bukan?...
Aku bangga pada kalian semua, jaga diri kalian baik-baik.."
Tatapan Liu Mei kini tertuju pada para bawahannya.
Senyuman bangga tertuju pada mereka, "aku sangat bangga pada kalian semua. Dapat mempertahankan apa yang sudah aku ajarkan, dan mengambil keputusan yang benar.
Terima kasih karena tetap setia dan selalu bersamaku disetiap Medan yang kita tempuh, dulu. Aku sangat bahagia selalu bersama kalian semua. Sampaikan salam ku pada mereka yang tak berada disini, aku bangga pada kalian para Kesatria ku." Ujar Liu Mei dengan penuh kebanggaan.
Para kesatria/prajurit yang berada dibawah sana sangat terharu, mereka membalas ucapan Liu Mei.
"Aku sangat bangga bisa berperang bersama Yang Mulia dulu."
"Aku merasa terhormat bisa bersama Yang Mulia dalam peperangan dulu."
"Terima kasih karena Yang Mulia telah berperang bersama kami dulu."
Banyak prajurit yang dulunya bersama Liu Mei mengungkap isi hati mereka.
Kini tatapan Liu Mei tertuju pada dua ponakannya yang tampan dan imut itu.
"Kalian harus bisa membuat kerajaan ini bangga di keesokan hari nanti. Kalian berdua adalah harapan kerajaan ini kelak, tumbuhlah dengan baik dan penuh cinta." Ucapnya kepada si Twins.
Tanpa disadari, matahari mulai redup.
Tubuh Liu Mei perlahan mulai kembali transparan.
"Mei'er..."
"Ibu.."
"Yang Mulia..."
Liu Mei tersenyum pada semua orang, "Aku sangat menyayangi kalian. Akan tiba saatnya penggantiku datang." Ucap Liu Mei.
Ketujuh anak itu segera memeluk Liu Mei untuk terakhir kalinya. Begitu pun dengan Pensiunan Kaisar dan Lio Guan. Hingga tubuh Liu Mei benar-benar transparan.
"Aku sangat menyayangi kalian semu. Sampai nanti..." Bersamaan dengan itu, tubuh Liu Mei benar-benar hilang dari pandangan mereka.
"Mei'er.... Mei'er... Jangan pergi lagi... Mei'er..."
"Ibu... Huaaa...."
"Ibu... Hikss..hikss..."
__ADS_1
"Yang Mulia..."
"Yang Mulia..."
Semua orang terisak, tak ada yang tak mengeluarkan air mata.
Suasana di barak militer benar-benar sangat menyedihkan.
Liu Mei menyaksikan semua itu, ia belum pergi dari sana. Hanya waktunya saja yang hampir berakhir.
"Chen.. An Chen.." panggil Liu Mei.
Anak itu mengangkat wajahnya, ia bisa melihat Liu Mei disana.
"Ib-"
"Syuttt.." Liu Mei menyuruh An Chen untuk diam saja.
"Ini perintah terakhir ku. Kau mau mendengarkan nya?"
An Chen mengangguk, "Ya."
"Aku meminta kalian, 7 pilar ku untuk melindungi anggota kerajaan.
Dan khusus untukmu, tolong jaga kedua pangeran. Banyak orang yang ingin mencelakai mereka....
Bisakah kau mengatakan hal ini pada Jiejie dan Gege mu?"
An Chen mengangguk, "Baik, Ibu."
Mereka yang berada disana melihat An Chen yang mengangguk, apakah Liu Mei masih berada disana?
"Baiklah. Aku senang mendengarnya...
Aku menyayangimu, sampaikan salam ku untuk semuanya.."
Liu Mei memeluk satu persatu mereka yang berada di balkon,
"Selamat Tinggal.."
bersamaan dengan semua yang Liu Mei ungkapkan, gadis itu perlahan menghilang lawaknya uap air. Menyatu dengan udara dan tak terlihat lagi.
Waktunya benar-benar telah habis.
Liu Mei dan Axila kembali ke tempat itu lagi, ke taman yang bunga yang sangat cantik.
Liu Mei benar-benar sangat bersedih. Axila membiarkan Putri Mahkota itu untuk menenangkan dirinya.
Setelah tenang, Axila mengungkapkan apa yang sebelumnya ia ingin katakan.
"Kehidupan di Zaman modern adalah milikmu mulai sekarang. Aku tak akan lagi mengganggu mu, kau tal lagi mempunyai kewajiban untuk semua itu.
Kau bebas untuk bahagia, inilah kehidupan mu...
Menikahlah, dan hidup bahagia bersama pasangan mu yang sekarang.
Tapi tolong, jagalah adikku." Ucap Axila.
Liu Mei mengangguk, "Baiklah. Terima kasih, aku bisa melihat dan memeluk mereka lagi."
"Yang Mulia, meskipun anda tak bisa lagi berada disana. Namun takdir memilih seseorang kesana, untuk membantu keluarga mu dan membuat mereka bahagia." Ujar Axila.
Liu Mei menatap Axila dengan serius, "Maksudmu?"
"Azka. Takdir memilihnya, akan tiba saatnya dia pergi kesana dan melihat keadaan keluarga mu." Ungkapan Axila.
"Apa yang akan terjadi pada mereka?" Tanya Liu Mei.
"Aku tak berhak untuk mengatakan nya, namun Azka akan berkunjung kesana." Ujar Axila, "Aku meminta hal ini untuk terakhir kalinya. Tolong ajarkan Azka cara untuk melindungi dirinya, Anda sendiri tahu bagaimana kerasnya kehidupan di Zaman itu." Lanjut nya.
"Baiklah, aku tahu... Lalu, bagaimana Azka bisa kesana?"
"Kuncinya ada padamu," tunjuk Axila pada kalung yang selalu dikenakan oleh Liu Mei.
"Sekarang, saatnya kau kembali. Semua orang mengkhawatirkan mu..
Hiduplah dengan bahagia.
Terima kasih, Yang Mulia" ucap Axila, setelah itu cahaya menyelimuti seluruh tubuh Liu Mei.
Ia tak tahu apa yang terjadi lagi, namun setelah itu ia merasa tubuhnya sangat lemas.
Di Dunia nyata...
Dalam suatu ruangan serba putih, terdapat seorang gadis cantik yang tertidur pulas.
Tubuhnya terdapat banyak alat yang melekat, dan wajahnya juga terlihat pucat.
Dokter mengatakan jika dia hanya tertidur, tak terdapat penyakit apapun yang ada pada tubuhnya. Hanya tertidur saja, hingga waktunya ia akan bangun dengan sendirinya.
Tak ada siapapun didalam sana, semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Azka masih berada disekolah, dirinya sedang bersiap-siap untuk ujian kelulusan dua Minggu lagi.
Levi sedang berada dikantor, sibuk dengan dokumen-dokumen yang menumpuk dimejanya.
Begitupun dengan Michael dan Putra, kesibukan di dunia militer membatasi mereka untuk bisa bebas menjaga Axila di rumah sakit.
Maria sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter, memeriksa pasien.
Dan gadis yang tertidur pulas, kini menunjukkan tanda-tanda kesadaran.
Matanya yang terus tertutup akhirnya mulai bergerak, ia membuka matanya.
Namun cahaya matahari membuat matanya silau, ia berusaha untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya itu.
Pergerakan nya membuat salah satu alat berbunyi, membuat dokter yang berada di ruang kerja segera pergi kesana.
Takut terjadi sesuatu, ia segera memeriksa. Namun alangkah terkejutnya ia yang mendapati di gadis yang telah membuka matanya dan sedang menatapnya.
Hal gembira itu segera diberitahu pada sang wali, mereka memeriksa keadaan gadis itu.
Maria mendapati pesan dari sang asisten, jika putrinya telah sadar segera pergi ke ruangan Axila. Tak lupa ia beritahu hal gembira ini pada yang lainnya.
Azka yang sedang berada di kantin mendapatkan pesan jika kakaknya telah terbangun segera bolos dari sekolah, pergi ke rumah sakit untuk melihat sendiri.
Levi mendapatkan pesan itu juga meninggalkan pekerjaannya dengan terburu-buru.
Michael yang menerima pesan jika Putrinya telah tersadar memberitahu Putra, mereka segera pergi untuk melihat keadaan gadis yang sangat disayangi itu.
Ungkapan kebagian tak terlukiskan lagi, mereka sangat bahagia mengetahui jika gadis itu terbangun setelah 3 Minggu tertidur pulas.
Ruangan yang tadinya sepi, kini ramai dengan orang-orang yang menyayangi. Wajah mereka terlihat sangat bahagia, dan itu tak bisa dilukiskan lagi.
Dan inilah.
kisah dari Perjalanan waktu Putri Mahkota
.
.
.
.
.......
......~THE END~......
.....................................................................
Selamat hari raya idul Fitri.
Mohon maaf lahir batin.
Author minta maaf yah kalau selama ini ada salah sama semuanya... (Bagi umat Muslim)
Dan juga.. Selama hari Kenaikan Isa Al-Masih. Damai menyertai kita semua. (Bagi umat Nasrani)
Maaf yah, kalo selama ini author buat kalian kesel dengan bolong-bolong update nya, typo yang bertebaran, dan kesalahan penulisan yang di buat sama aku sampai buat kalian bingung bacanya..
Aku berterima kasih buat kalian semua yang sudah nge-support aku, ngasi dukungan dari kalian. Akhirnya karya ini tamat juga.
Sekali lagi Terima kasih
^^^Tertanda : Zero^-^^^^
__ADS_1