
Axila mengendarai mobil Putra dengan kecepatan sedang, diikuti oleh empat mobil lainnya.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju Pelabuhan kota Nc, dimana akan ada transaksi ilegal serta pengiriman wanita dan anak-anak yang dijadikan budak nafsu di luar negeri.
Dan diantara mereka semua, terdapat dua orang polisi wanita yag ugamenjadi korban mereka.
Sebenarnya, kedua polwan itu sedang menyamar lalu memasuki markas mereka, namun secara tak terduga identitas mereka langsung diketahui oleh lawan sehingga di sandra dan menjai mainan mereka.
Awalnya, dua orang polwan ditugaskan untuk menyelidiki kasus yang sering terjadi akhir-akhir ini, yaitu penculikan gadis muda dan anak-anak dibawah umur yang menjadi misteri..
Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswi ataupun wanita muda yang sedang mencari pekerjaan. serta anak SD dan remaja lainnya.
Semua itu membuat orang tua resah, terlebih kejadian itu berlangsung didepan sekolah ataupun universitas..
Dan kemunculan suatu komunitas yang memberikan kesempatan bagi para kaum hawa yang berasal dari desa agar bekerja, yang menggiurkan adalah mereka tak memanda status ataupun seberapa tingkat ilmu yang dimiliki oleh calon anggota mereka dan sudah pastinya bayaan mereka sangat menggiurkan.
Siapa yang tahu, jika komunitas itu sebenarnya adalah tempat untuk mengumpulkan penuntas nafsu para b@jingan?!
...
Axila dan yang lainnya memasuki area pelabuhan kota Nc, mereka memang membutuhkan waktu yang sedikit lama karena harus mengendarainya mobil selama 2 jam agar sampai di pelabuhan ini, mengingat mereka datang ke kota lain.
Hanya empat mobil yang beriringan, sedangkan satu mobil lainnya sudah berhenti disalah satu gedung.
Dia adalah Dony, ia mengambil senjatanya yang berada dalam ransel lalu berjalan memasuki salah satu gedung yang entah berapa lantai namun terlihat sangat tinggi hanya untuk mengawasi keadaan dari sini beberapa saat sebelum ia menyusul teman-temannya.
Axila dan yang lainnya berhenti di pos penjagaan, mereka mengambil karcis lalu memasuki area pelabuhan.
Sebelum itu, Axila juga mencari tahu siapa pria yang saat itu sedang menjaga pos penjagaan itu. Dengan mengandalkan kemampuan membaca pikiran miliknya.
Dia lah yang membawa mereka, dibelakangnya ada Dara, Daren dan Josua yang terakhir, belum benar-benar terakhir karena Dony masih berada di belakang sana.
"Dia adalah orang yang mengawasi kita, jangan sampai dia melihat wajah kalian. Paham?!" ujar Axila setelah mobilnya terlebih dahulu lolos dari mereka.
"Paham, Capt!" balas yang lainnya, mereka tahu siapa Axila sebelum ia bergabung dengan mereka, karena Letkol Bobby sudah memberitahu siapa Axila pada mereka berempat.
"Jadi, dia akan mengenali wajah tampanku juga?" timpal Dony yang saat ini sedang kemasan senjatanya dari atas gedung.
"Jangan begitulah, wajahmu bahkan lebih jelek dari punyaku yang super tampan ini." balas Josua, mereka bahkan masih sempat-sempatnya berdebat soal siapa yang lebih tampan dibandingkan dengan siapa.
__ADS_1
"Aisshh!! Kalian membuat gendang telinga ku hampir pecah karena suara kalian." ujar Dara acuh.
"Kau menyakiti empedu ku, Dara." timpal Dony dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil, namun bukan membuat orang gemas melainkan kesal.
"Diamlah kalian berdua, aku mau menerima telepon dari adikku. Jangan ada yang berani bersuara, paham?!" ujar Axila tiba-tiba karena mendapat telepon dari Azka.
"Paham, Capt!" balas yang lainnya dengan berat hati, namun bonusnya mere bisa mendengar percakapan kedua kakak beradik itu.
Aisshh..!
Apa lagi sekarang? dia sedang sibuk namun masih harus mementingkan Adiknya dari pada semua urusannya.
"Ya, ada apa?" ujar Axila setelah memenangkan anggotanya, karena memang dia lah yang memimpin regu ini seperti beberapa waktu lalu saat memimpin tim nya waktu bencana alam lalu.
Ucapan Axila yang bukan menggunakan bahasa Indonesia membuat mereka mengerutkan kening masing-masing.
Sepertinya ini bahasa Korea. pikir mereka.
"Noona-a..." ujar Azka yang masih ingin bermanja-manja.
"Katakan, Azka. Aku sedang sibuk saat ini." ujar Axila dingin, puluhan nyawa sedang terancam saat ini dan Adiknya malah...
"Ka-kau sedang sibuk? Apa aku mengganggu waktu, Noona?" balas Azka dengan suaranya yang sudah tak seceria tadi.
Axila merasa tak enak hati.
"Maafkan aku, setelah ini aku akan menelponmu.
Jangan simpan dihati Azka, kau mengerti?" ujar Axila lagi.
"Baiklah, Noona. Aku akan menunggu telepon mu." balas Azka.
"Belajarlah dengan baik, gunakan waktumu sesukamu disana.
Dan jangan hubungi aku untuk 7 jam mendatang, aku sedang bekerja saat ini. Paham?!" ini bukanlah pertanyaan namun perintah.
"Ya, Noona.
Sampai nanti, aku menyayangimu." ujar Azka sebelum mengakhiri panggilan nya.
__ADS_1
"Aku Juga menyayangimu." balas Axila namun tak bisa didengar oleh yang Adiknya.
Ini juga kesalahannya karena tak menonaktifkan ponselnya tadi, bagaimana bisa hal ini ia lupakan?
Aisss, sepertinya dia semakin tua sampai melupakan hal ini.
Setelah telepon itu berakhir, Axila juga menonaktifkan ponselnya, dia tak ingin ada yang menghubungi nya seperti tadi.
"Lakukan tugas kalian..! Ambi posisi masing-masing dan jangan sampai lengah!.. Kita sedang berada di wilayah lawan, Paham?!" ujar Axila lagi.
"Paham!" balas yang lainnya.
"Dony!" ujar Axila.
"Ya, Capt!" balas Dony cepat.
"Kau sudah turun dari sana?" tanya Axila.
"Sudah, Capt!"
"Bagus! Segera susul kami dan ambil posisimu seperti yang sudah kita diskusikan tadi." ujar Axila lagi.
"Paham, Capt." balas Dony lewat headphone karena dia memang menggunakan handphone layaknya sedang mendengarkan musik padahal tidak.
Sebaliknya dengan yang lainnya, mereka menggunakan Earphone khusus yang dibagikan oleh Letkol Bobby dengan masing-masing dari mereka memegang 1 alat perekam video layaknya kamera kecil yang bergantung di kancing baju mereka.
Itu agar Letkol Bobby dan lainnya bisa menyaksikan aksi dan perjuangan mereka disana dengan mengandalkan mereka semua.
Jika di pelabuhan kota Nc Axila sedang melakukan tugasnya, berbeda dengan Levi yang saat ini baru saja turun dari jet pribadi milik nya.
"Tangkap mereka yang mengatas namakan "Black World" dan bawa mereka kemarkas kita!
Aku ingin bermain dengan mereka." ujar Levi dingin pada orang yang berada di pihak lain.
"Maaf, Lord. Tapi, sepertinya mereka akan terlibat dengan pihak berwajib sebelum kita dapat menangkap mereka." balas orang itu.
"Apa maksudmu?!" balas Levi dengan geram.
"Polisi sudah mencium keberadaan mereka, dan saat ini-"
__ADS_1
"Keparat!" bentak Levi penuh emosi.