
Tatapan tajam yang kemarin ia dapati dari gadis itu terus terbayang di ingatan nya, sama seperti beberapa Minggu yang lalu saat mereka tak sengaja bertemu di Mall.
Tatapan penuh kebencian yang membuat membuatnya merasa tak nyaman, dan merupakan hari terakhir ia bertemu dengan kekasihnya sebelum wanita itu menghilang dari pria ini.
"Dia berubah," gumam pria itu.
Bagaimana dia tak berfikir jika gadis itu berubah, dari tatapan dan ekspresi nya saja dia tahu, jika gadis itu tak suka dengan keberadaannya.
Apa lagi sikap gadis itu yang acuh tak acuh padanya, padahal mereka adalah mantan tunangan.
Yah... Apa yang bisa ia harapkan dari kata ''Mantan" itu?
Ia memikirkan lagi ucapan gadis itu kemarin.
"Aku tahu siapa saja yang ia layani sebelum ia melayani mu, b0doh!
Bahkan sekarang saja ia sedang memberikan servis terbaiknya untuk dua orang pria bule sekaligus."
"Memang itulah kenyataannya! Kau saja yang tak bisa melihat apa yang ia lakukan dibelakang mu!....
Matamu sudah dipenuhi oleh nafsu mu sendiri, kau tahu itu?....
Yang kau rasakan padanya bukanlah cinta melainkan nafsu, dasar pria b0doh!"
Sebenarnya, hilangnya Indri membuat Alex juga menjadi sedikit khawatir, terlebih wanita itu yang sudah bersamanya beberapa tahun belakangan ini.
Itulah mengapa ia nekat melabrak Axila kemarin setelah mengikuti gadis itu sampai di salah satu gedung perusahaan ternama itu.
Hilangnya Indri setelah mereka ribut di Mall waktu itu membuat Alex yakin jika Axila lah yang membuat gadis itu pergi, tapi ia sendiri tak tahu kemana wanitanya pergi.
Wanitanya?
Lebih tepat, wanita r4njangnya.
Alex akui, ia memang tak mempunyai rasa suka ataupun cinta pada wanita itu. Dan selalu tak bisa menahan nafsu bir4hinya saat bersama wanita itu.
Ketukan pintu membuat Alex kembali pada dunia nyata setelah berkelana sebentar dengan pikirannya sendiri.
"Masuk!"
Pintu terbuka, menampilkan sekretaris yang mempunyai wajah ayu tersebut.
"Permisi, Pak. Ini ada kiriman paket dari seseorang untuk Anda," ujar wanita itu.
"Paket? bawa kemari," balas Alex, membuat sekretaris nya mendekat lalu memberikan paket berupa map cokelat yang entah apa isinya.
"Kau boleh keluar. Lanjutkan pekerjaan mu,"
__ADS_1
"Baik, Pak. Saya permisi," wanita itu berlalu dari ruang kerja Alex membiarkan pria itu sendirian didalam ruang ber-AC.
Alex meraih map tersebut, merobek salah satu sisi lalu mengeluarkan isinya.
Matanya terbelalak saat melihat apa yang ia terima.
Disana, terpampang foto-foto Indri dengan beberapa orang pria. Wanita itu berada diantara pria-pria berjas rapi dan terlihat mahal, seperti orang-orang berdompet tebal.
Terlihat pula salah satu dari mereka memasukan tangan kedalam dress yang wanita itu kenakan, lebih tepatnya lagi adalah lingerie. Pakaian dengan bahan yang super tipis sehingga memperlihatkan lekukan tubuh seseorang, itulah pakaian yang saat itu dikenakan oleh Indri.
Berganti lagi pada foto-foto yang berbeda, tampak wanita yang selama ini menemaninya diatas ranjang sedang melayani seorang pria dengan tubuh tanpa sehelai benangpun.
Dan masih banyak lagi foto-foto yang diterimanya.
..............
di sisi lain, Axila tersennyum misterius. Ia sudah menebak, jika saat ini Alex pasti sedang melihat apa yang ia kirimkan.
Tentu saja paket tadi berasal dari Axila. Tidak, lebih tepatnya atas perintah Axila.
Mengapa?
Karena Axila meminta Levi untuk melakukannya, ia sendiri tak tahu dimana Levi membawa wanita itu.
Dengan senang dan tanpa berat hati pria itu menuruti permintaan Axila, menyuruh agar orangnya mengambil semua gambar itu lalu dikirimkan pada Alex di kantornya.
Untuk masalah Indri, Axila rasa tak perlu memikirkan wanita gil4 itu. Wanita itu memang sangat suka mencari perhatian pria-pria kaya dan gila akan belaian pria.
Bahkan jika berada disana saja, ia rasa Indri tak bisa bernafas dengan lancar. Ada banyak anak buah Levi yang selalu mengawasi, jika dia ingin melarikan diri, sepertinya itu akan mustahil.
Axila berjalan berdampingan dengan Jessica, mereka baru saja menyelesaikan mata kuliah pertama, dan akan berlanjut tiga puluh menit lagi untuk mata kuliah yang berikutnya.
"Nona Axila?"
Axila menghentikan langkahnya, melihat pemuda yang saat ini berada dihadapannya.
"Kau sudah kembali?" tanya Axila.
"Ya, aku tiba kemarin siang," balas pemuda itu, Exsel. Masih ingatkah dia? Si mahasiswa arsitektur yang bekerja untuk Axila, lebih tepatnya lagi dia yang bertanggung jawab atas renovasi hotel Axila di Korea Selatan.
Axila mengangguk, "bagaimana kabarmu?"
Exsel tersenyum, "Aku baik-baik saja, lalu kau dan adikmu?"
"Kami baik-baik saja," balas Axila.
Mereka berjalan bersama ke arah Kantin, namun dihentikan oleh suara bariton yang berada dibelakang mereka.
__ADS_1
"Nona Axila Remanov, tolong datang ke kantor saya," ujarnya sambil melewati mereka.
Jesi dan yang lainnya menatap Axila.
"Apa kau membuat masalah? kenapa kau dipanggil?" tanya Jessica khawatir.
"Tenanglah, aku akan baik-baik saja, kalian lanjutkan saja ke kantinnya, sampai bertemu di kelas nanti," Axila meninggalkan teman-temannya, berjalan kearah dimana ruang kerja Levi berada.
Tentu saja karena itu adalah perintah dari Levi, entah apa yang ia lakukan kali ini.
"Ada apa?" tanya Axila saat memasuki ruang kerja Levi, terlihat ada beberapa tumpuk kertas Dias meja pria itu yang sepertinya itu adalah tugas-tugas dari para mahasiswa.
Levi mengalihkan pandangannya pada gadis yang baru saja memasuki ruang kerjanya di kampus.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu? Kau mau membuatku terkejut? Sikapmu kurang sopan Axila," pria itu menegur sikap Axila yang terkesan santai ini.
"Bersikap sembrono adalah keahlian ku sejak dulu," jawab Axila santai, dia mendudukan bokongnya diatas kursi putar yang berada tepat didepan Levi.
Levi mengambil nafas yang dalam lalu menghembuskan nya dengan berat, "Axila, ini di kampus, dan aku saat ini adalah dosen mu,"
"Ah, kau benar. Jadi, ada apa bapak memanggil saya kemari?" Kini Axila duduk dengan menegakkan tubuhnya lalu menatap Levi dengan serius.
Belum juga Levi membuka suaranya, dering ponsel Axila mengalihkan perhatian keduanya.
Axila meraih ponselnya, dilihatnya Azka yang menghubungi nya.
"Ada apa?" tanya Axila tanpa mempedulikan Levi yang saat ini sedang bersamanya.
"Kakak, ini kakaknya Azka 'kan?"
Ini bukanlah suara milik adiknya, dan Axila sangat mengenal suara milik adiknya.
"Ya, ada apa? Mengapa ponsel Azka berada padamu?" tanya Axila.
"Kak, bisa kau datang ke rumah sakit XF? A-azka masuk rumah sakit," suara remaja yang sedang bicara terdengar takut dan khawatir.
"Apa yang terjadi?" Axila langsung berdiri dan akan pergi dari ruangan Levi, namun pria itu justru mencekal tangannya, ia ingin tahu apa yang terjadi sampai membuat gadis itu terlihat khawatir.
"A-aku tak bisa menjelaskannya, kata dokter harus ada walinya agar bisa dibicarakan,"
"Baiklah, aku kesana sekarang," Axila mengakhiri panggilan telepon itu lalu menatap Levi yang sedang penasaran.
"Apa yang terjadi?"
"Azka masuk rumah sakit, entah a apa yang terjadi padanya," balas Axila.
Levi langsung menyambar ponsel dan laptopnya, lalu menarik tangan Axila pergi dari sana.
__ADS_1
"Ayo, biar ku antar,"
Karena khawatir, ia tak mempersoalkan tangannya yang saat ini dipegang oleh Levi. Mereka berjalan keluar dari kampus dan tentunya mendapatkan perhatian semua orang.